Menulis di blog ternyata mengerikan juga. Salah nulis bisa dituntut di pengadilan. Duh.
Apa kita balik ke nulis di buku kertas konvensional saja?
Ketika minat menulis mulai naik, kita harus berhadapan dengan ini.
Komentar?
3 Juni 2009 oleh Budi Rahardjo
Menulis di blog ternyata mengerikan juga. Salah nulis bisa dituntut di pengadilan. Duh.
Apa kita balik ke nulis di buku kertas konvensional saja?
Ketika minat menulis mulai naik, kita harus berhadapan dengan ini.
Komentar?
pemerintah membuat aturan yang aneh2.Btw, gimana kalo pak Budi menulis ttg aturan pemerintah ttg blog, supaya para blogger paham dan gak salah nulis
bukti betapa UU ITE punya celah untuk diselewengkan untuk membungkam musuh/pihak yang tidak disukai. sayang media televisi kurang mem-blow up kasus ini. prihatin saya dengan kasusnya Prita ini. saatnya para blogger angkat bicara Pak…..
Ya, sekarang peraturan di Indonesia semakain aneh. Klo pendapat saya, lebih hati-hati dalam mempublish tulisan melalui media internet. klo ada kata yang menyinggung bisa jadi masalah. Contoh kasus Ibu prita dengan rumah sakit Omni International..
So, buat blogger, Hati-hati aja klo mw memposting tulisan.
Herannya… kok malah ada pendapat blogger yang harus hati-hati menulis tulisan? Kalau tulisannya memang fakta dan bisa dipertanggungjawabkan, kenapa malah harus takut? Wah apa bedanya sekarang dengan jaman Orba dulu ketika kebebasan bicara dibungkam?
Hhhh… kok saya malah jadi lebih sebal dengan yang menyarankan blogger untuk lebih hati-hati dalam memposting tulisan? Kok malah membenarkan tindakan represif pihak-pihak yang ‘tersinggung’ dengan kebenaran…
kasus bu prita bukan karena blog. kasus erik juga bukan karena blog. dua kasus tersebut karena email. negara tidak berhak menuntut warganya karena mengirim email kepada klien/teman. apakah negara berhak menuntut saya karena saya mengirim surat ke pacar saya? ke orang tua saya? yang berhak menuntut hanya orang yang menerima email tersebut. itupun mesti dibuktikan si penerima merasa terteror atau terganggu.
*siap-siap menuju pemerintahan yang represif
Katanya mau go green, lha kok malah mau balik maning di kertas konvensional.
Mas Budi sih, nggak jadi anggota DPR. Kan lumayan kita bisa punya anggota DPR yang paham IT beneran, dan membuat UU yang lebih sehat.
BEBASKAN IBU PRITA!!!!
bener gak ttg kasus ini pak?
Benar avianto.
UU ITE mensyaratkan tulisan yang bertanggung jawab.
Menjadi takut setelah terbiasa menulis blog sepertinya kok jadi takut bertanggung jawab.
Yah pilihannya apakah mau kembali menjadi pengecut seperti di jaman orba dulu, atau fight. Kalau saya pilih fight deh walau cuman lewat blog. Boikot RS Omni dari berobat, jangan jadikan RS Omni sebagai klien/konsumen/partner dsb.
sudah bukan hanya “Mulutmu Harimaumu” ternyata..
“Tulisanmu Harimaumu” juga…
@hawe.
Sudah sejak jaman negeri 1001 dongeng terkenal bahwa pena itu lebih tajam daripada pedang.
Nulis di media konvensional lebih aman? Tidak juga.. Lihat saja kasus Duta Pertiwi versus Fifi Tanang
Sebaiknya, ditegur dulu, diperingatkan dulu, dan pakai tulisan juga… Bukankah tulisan juga harus dilawan dengan tulisan, bukan dengan bahasa kekuasaan. Jadi, tidak serta-merta dituntut. Salam.
Mengerikan…!
Indonesiaku, jangan Kau semakin terpuruk…!
Itu artiny: Penegak hukum buta dg UU pokok pers. Kata2 hrz d balas atw d konfirmasi lwt kata2 juga.
Kalo gitu carany, ber arti dah kembali ke jaman orba. nugrozasi.wordpress.com
masih ada aja,,,
orang yg men-”judge” pendapat orang…
waks… bahaya tuh….
tapi. klo yang ditulis adalah kenyataan gimana??
nulis di blog? ini soal ibu Prita? bukannya dia gak nulis di blog?
he.. he.. he.., kalo bagi2 ilmu, ngapain takut pak?
ntar dituntut juga…, dituntut masuk surga karena amalan ikut mencerdaskan orang lain
ya selama ngga melanggar TOS, seharusnya ngga masalah.
jadi menurut pak BR sendiri bagaimana dg adanya isu tsb
Ngono yo ngono, tapi ojo ngono. Pret.
kalo benar2 salah tulis mungkin jadi bisa dituntut…
tapi kalo yang ditulis benar dan ada bukti masa iya terus jadi takut nulis… kalo dituntut ya tuntut baliklah… orang bukti2nya kuat….
@avianto: hati-hati tetap perlu mas… mempertimbangkan keberadaan bukti kan termasuk kehati-hatian…
Sejak awal uuite bisa menyebabkan multi tafsir.
Jadi, jika seperti ini, seharusnya ada tambahan penjelasannya…..
hehehehe habisnya yang jadi pakar IT waktu RUU IT itu dibuat di DPR bukan Mas Budi sich. Itu lho sang “pakar IT” yang sering dijadikan referensi wartawan dan sering nongol di tipi.. hahahaha
apa kita harus ikut2an menghina yaaaaa, biar masuk penjara rame2 dan penjaranya penuh dengan blogger bisa masuk guinnes book of recocrd (slah tulis gak?) hehehehe 5af..
kalo nulis di blog dipasung juga, indonesia udah lebih parah dibanding china!
lama-lama jadinya nulis blog musti pake anonim dong?
saya baru ngeh setelah benar-benar baca kasusnya.
Kalo di USA, dokter malpraktek itu bisa dituntut habis-habisan lho dengan pasiennya. Berbeda yah dengan di Indo. Sedikit protes, langsung dipenjara.
kalo nulis blognya di area umum atau hot spot gitu emang bisa kena lacak juga? ini negara emang paling aneh.. apa ga takut yang nuntut di tinggal pelanggan ya?
indonesia ga akan berkembang kalo kaya gini caranya mau ngebuat bangsa yang pasif kali ini mah.. bener2 ga setuju gue sih sama UUD ITE dari jaman dulu maen kekuasaan aja bisanya.. lagian aturan yang bagaimana juga bener2 gak jelas orang ngomong / ngasih komentar mah biasa kan.. kaya lagi ngobrol2 gt.. kenapa dilarang2 mending di tutup aja internet di indonesia gak ada provider lagi soalnya gak mungkin wong namanya dunia inet di batasin mah.. ada2 aja.. ( tar gue ngomong gini salah juga.. cape deh..)
saya rasa jaksa ama hakimnya msh blm tau msalh IT coba liat..jaksa ama hakim rata2 lulusan Mhum atau SH mana ngerti dia yg namanya IT akirnya ya kayak gini masyarakat yg jd korbat
Wah makan lagi …. asyik deh…
yang pasti, jaksa ama hakimnya nggak bakalan dapat upah dari OMNI. lihat saja kemaren di tivi, kejagung juga komentar bahwa bawahannya belum profesional. dalam hal ini, profesional dan nggak profesional tergantung duit yang pegang setir.
tulisannya menarik sekali tapi sarannya kurang ekstrim…jangan kembali ke buku kertas konvensional…kembali aja ke simbol2 di dinding goa sekalian! hehehe….
kami segenap staf kelurahan gembirakata, kelurahan paling tertinggal se-kabupaten blogspot, mengucapkan belasungkawa atas semakin mundurnya negeri ini…