Saya ingin tahu cara memberi nilai ujian yang baik itu seperti apa ya? Kalau ada guru, dosen, pengajar, pemberi nilai di sini, mohon opini.
Berapa nilai yang Anda berikan untuk kasus di bawah ini.
- Rumus yang sudah digunakan akan tetapi ketika mahasiswa menghitung dia teledor sehingga salah hitung. Hasilnya menjadi salah.
- Ada rumus yang salah di bagian akhir dari penyelesaian soal. (Awalnya sudah benar) Tentu saja hasilnya menjadi salah.
- Argumentasi atau alasannya salah tetapi hasilnya benar. Misalnya saya meminta jawaban dan alasannya. (Ada beberapa soal yang meskipun alasannya salah, jawabannya benar. Tapi artinya sebetulnya dia tidak mengerti.)
Bagaimana menurut Anda?
Ada dosen saya yg selalu bilang kalau masukin angka itu terakhir. Yang penting “nurunin” rumus utk problem solving nya bener. Kalau ternyata rumusnya dah bener tp ngitungnya salah, paling dikurangin dikit. Saya malah pernah ngejawabnya ga selesai (habis waktu) tapi arahnya udah bener, masih dianggap bener.
klo salah ya salah … benar ya benar … gak ada kompromi :p
Ternyata Ngaji juga sulit. Ngaji alias ngarang biji
Tetapi jangan lupa memberikan penilaian afektif disamping kemampuan kognitif tsb.
dosen saya membuat soal beserta bobot penilaiannya. soal 1= 50%, soal 2=20%, soal 3,4,5=10%
NIlai yang diberikan bukan hanya dari jawaban akhir saja namun dari langkah2 dan analisa perhitungannya. teledor dalam penghitungan merupakan salah satu kesalahan dan itu mengurangi pembobotan penilaian.
Rumus benar, tapi ngintungna salah dapet 60 %,
hasil benar tapi alasan salah harusnya salah
alasan benar tapi hasilna salah masih bisa di kasih point
gitu aja sih dari saya
Pertanyaan kok serius banget sih? Kadang saya justru bertanya, bagaimana caranya siswa mendapat nilai. Sewaktu pendidikan hanya mengajarkan tentang keseragaman–termasuk jawaban ujian, apa tidak bingung tuh yang menjadi guru atau dosen?
Kasih E semua saja Pak. Biar lebih teliti lagi. Kalau salah hitung dalam merancang pesawat terbang, fatal akibatnya kan? Mahasiswa harus lulus ketelitian dan pemahaman, mumpung masih bisa ngulang semester depan. Hehe…
Di Singapura, mau jalan lompat belok kiri kanan maju mundur yg penting … kertas corat-coretnya dikumpulkan dan … kebenaran bergantung hasil akhir.
Jika hasil akhir benar, corat coret nya akan diperiksa, apa benar mendukung hasil tsb, dan bukannya hasil akhir yg jatuh dari langit.
Jika hasil akhir salah, nilai nol, corat coret diabaikan saja.
Gimana nggak stres anak sekolah di sini, termasuk guru/dosen nya juga stres mencoba mengerti alur corat moret si murid
saya setuju dengan @adipati : jadi nilai akhirnya tergantung dari jumlah bobot. memang sih salah harus salah, benar harus benar, kadang2 mhs suka stress atau panik,dll itu yg bikin jawaban kadang teledor. dan ujian ga bisa di ulang… kecuali ada remedial..
Sebenarnya nggak fair juga kalau cuman menilai hasil akhir saja pak.
Pengalaman pernah ujian ttg merancang filter digital dan responsnya yang mengandalkan itung-itungan banyak angka, kayak statistik. Karena cuman punya kalkulator jadul, tidak bisa menyimpan fungsi/rumus dan angka hasil hitungan sebelumnya, ya waktu ujian habis untuk masukin angka satu-demi satu ke dalam fungsi, bolak balik lagi. Keluar nilai ‘C’. Salah saya juga sih, nggak pinjem kalkulator canggih dulu
yang penting caranya / rumusnya pak
wah untung aja saya sekolahnya ngambil ilmu sosial & bukan di ilmu pasti. jadi saya nggak bikin pak / bu dosen bingung waktu mau ngasih nilai