Udah lama gak keluh kesah di blog. hi hi hi. Mau keluh kesah ah
tapi nanti ya. Sekarang lagi sibuk dengan banyak urusan. Keluh kesah aja sampe gak sempat.
Kalau gitu mendingan banyak kesibukan saja biar lupa keluh kesah?
Udah lama gak keluh kesah di blog. hi hi hi. Mau keluh kesah ah
tapi nanti ya. Sekarang lagi sibuk dengan banyak urusan. Keluh kesah aja sampe gak sempat.
Kalau gitu mendingan banyak kesibukan saja biar lupa keluh kesah?
Hari Kamis lalu saya mendapat SMS undangan untuk ikut bergabung di acara yang mendiskusikan (menjaring?) calon rektor ITB. Acaranya berlangsung di Hotel Sawunggaling, di jalan Sawunggaling, Bandung, jam 16:00 sampai jam 18:00.
Lepas dari mengajar saya ke sana. Sudah ada banyak orang yang hadir. Saya sebenarnya hanya punya waktu sebentar, tetapi karena sungkan dengan bu Yani Panigoro (sebagai ketua MWA, yang punya acara) maka saya tinggal sampai acaranya selesai (sebelum jam 18.0).
Bu Yani, pak Djoko, dan pak Hasanudin kemudian memulai acaranya. Pada intinya mereka mencoba mengajak beberapa dosen untuk maju menjadi calon rektor ITB. Pada akhirnya ada lebih dari 10 orang yang berhasil (dipaksa? hi hi hi) untuk maju. Berikut ini adalah snapshotnya:
Ada yang mengenali wajah-wajah ini?
Secara resmi mereka belum terdaftar. Mereka harus memasukkan pendaftaran (via situs web). Kita tunggu juga calon-calon lain yang berasal dari luar ITB. Silahkan …
Informasi mengenai pemilihan rektor ITB yang lebih resmi dan formal bisa dilihat di situs rektorkita.itb.ac.id. Di sana juga bisa dilakukan pendaftaran. Semoga ITB bisa memperoleh rektor yang bagus sesuai dengan harapan kita semua. Terbaik!
Minggu lalu saya dikejutkan dengan adanya facebook friend request dari Krishna Balagita. Kejutannya adalah karena Krishna ini adalah ex pemain keyboard dari Ada Band. Anda tahu sendiri lah saya fans dari Ada Band
Tentu saja pertama-tama saya tidak percaya. Banyak orang yang menyaru jadi orang lain. Jangan-kangan ini Krishna palsu. hi hi hi. Setelah bertukar beberapa informasi lewat japri, saya lebih yakin bahwa ini adalah Krishna yang asli. Yang menarik adalah Krishna ramah. Kapan-kapan kopi darat ah.
Kemudian saya mengunjung blog-blognya mas Krishna. Wah banyak banget. Gak kalah banyak dengan punya saya kali ya? hi hi hi. Ternyata mas Krishna ini agak techie juga. Tulisannya malah lebih teknis dari tulisan di blog saya. Halah.
Kapan buat karya lagi mas? Kasih tahu kita-kita ya.
SIlahkan kunjungi blog mas Krishna di sini.
Hari ini saya naik kereta api. Di beberapa titik (saya tidak mengamati terus menerus), saya tidak mendapatkan sinyal. [Lihat foto layar handphone saya.]
Untuk kasus pagi ini, saya bisa mengerti karena beberapa titik yang saya lalui itu masih banyak yang berupa hutan(?). Tetapi semestinya hal ini tidak bisa ditolerir ya? Bahkan di daerah-daerah, seharusnya sinyal seluler ada dan besar. (USO anybody?)
Untuk kasus saya, sinyal operator saya “kebetulan” cukup parah di tempat tinggal saya dan di kantor saya. Walhasil banyak orang yang ngamuk karena sulit menghubungi saya. Dikiranya saya mematikan handphone atau tidak mau menerima panggilan. Padahal emang …
Gak ding. Padahal sinyal dari operator yang terbatas.
Akibat dari ini, batre handphone saya cepat habis. Setidaknya setiap hari saya harus mengisi batre handphone saya.
Saya masih ingat. Kalau di Singapura, handphone yang sama bisa bertahan dua atau tiga hari. Coverage dari sinyal operator seluler di sana sangat bagus. Termasuk di MRT yang masuk ke bawah tanah, sinyalnya tetap bagus
Memang bisa dimaklumi bahwa Singapura ukurannya kecil, but still…
Anyway … ngecharge hape dulu ah …
Lupa … lupa … lupa … (silahkan ambil suara sendiri-sendiri – samakan nadanya) he he he.
Tadi ada ide yang ingin dituliskan. Karena berada di jalan (tepatnya di atas kereta api), saya mencoba membuka akses 3G. Sayangnya tidak dapat sinyal untuk tiga operator. Hmmm… Kemudian saya memilih untuk membaca dan makan (apa lagi selain makan? hi hi hi).
Akibatnya … jadi lupa tadi mau menulis apa. Mestinya tadi dicatat ya?
Sebetulnya ada satu topik yang sudah keinget mau ditulis (halo Krishna Balagita) tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama menulisnya. Sementara ini saya masih berada di kereta api dengan koneksi 3G yang saya tidak tahu apakah akan stabil atau tidak. (Akhirnya berhasil terhubung dengan layanan 3G im2 broom.)
Stress juga menulis diburu-buru dengan kondisi seperti ini. hi hi hi. Nanti deh tulisannya. Sekarang hanya mau cerita tentang … lupa
Kemarin saya ketemu dengan seorang bapak tua yang sedang berolahraga jalan kaki di kampus. Ngobrol sedikit. Saya tanya apakah dia rutin berolahraga seperti ini. Dia menjawab bahwa dia tidak dipaksa untuk berolahraga. Itu pilihan dia. Kadang berolahraga, kadang tidak. Kemudian dia berkata:
“hidup ini harus bergairah, baik itu dalam persetujuan maupun pemberontakan“
Wow bagus sekali.
Kemudian dia berkata bahwa hidup ini adalah pilihan. Tuhan menunjukkan jalan dan kita memilih (untuk setuju atau memberontak).
[morning @ ITB - br, july 2009]
Selamat pagi semuanya … selamat beraktifitas hari ini. Semoga sukses, membawa barokah, dan direstui olehNya.
Sukses!
Banyak waktu saya habiskan untuk mengelola kuliah-kuliah yang saya ajarkan. Ada banyak hal yang harus saya lakukan manual, yang sebenarnya dapat diotomatisasi dengan sebuah sistem pengelolaan kuliah. Saya belum mencari secara ekstensif apa yang ada saat ini, tetapi saya sudah mencoba beberapa sistem (berbasis moodle, joomla, dan kawan-kawan). Sayangnya saya belum menemukan yang cocok dengan kebutuhan saya.
Saya tahu sistem yang saya sebutkan di atas bisa dikembangkan untuk mendukung kebutuhan saya, namun saya belum memiliki waktu untuk ngoprek. Untuk itu saya buatkan daftar kebutuhan (requirement) saya. Siapa tahu ada yang bisa mengembangkan sistem yang saya butuhkan.
Tulisan ini akan saya perbaharui secara berkala.
Daftar kebutuhan (belum disusun secara prioritas).
Multi kuliah. Dalam satu saat biasanya saya mengajar dua (2) mata kuliah. Jadi sistem harus bisa digunakan untuk banyak mata kuliah sekaligus. Yang ini dugaan saya tidak terlalu sulit untuk diimplementasikan.
Kuliah sebelumnya (sejarah, history, multi years). Dalam sebuah kuliah saya, saya memberikan tugas kepada mahasiswa untuk membuat makalah. Topik makalah bebas tetapi tidak boleh topik yang sudah pernah dibahas pada kuliah-kuliah sebelumnya. Nah, mahasiswa harus dapat melihat kuliah sebelumnya (semester sebelumnya, tahun sebelumnya). Dalam kasus saya, saya terus yang mengajar kuliah tersebut sehingga mungkin tidak terlalu sulit mengimplementasikannya. Yang sulit adalah apabila dosennya berganti. (Hak, rights, untuk mengubah kuliah sebelumnya mungkin ada di dosen yang lama.)
Daftar mahasiswa. Sistem harus dapat menyediakan daftar mahasiswa. Saya mewajibkan mahasiswa menggunakan blog untuk menuliskan sebagian dari tugasnya. Jadi daftar mahasiswa ini harus dilengkapi dengan email dan blog dari mahasiswa yang bersangkutan. Blog dapat disediakan oleh sistem atau menggunakan blog dari layanan lain di luar sistem. Mahasiswa harus bisa memasukkan daftar blog dan emailnya ke dalam sistem.
Account mahasiswa. Mahasiswa diberikan account untuk memberikan informasi mengenai dirinya (alamat email. blog, dll.) serta nantinya digunakan untuk mengirimkan (submit) tugas.
Tempat materi kuliah. Materi kuliah saya berbentuk berkas elektronik (presentasi, tulisan, dll.). Harus ada tempat untuk menyimpan berkas-berkas tersebut dan mahasiswa boleh mengambilnya. Ada mekanisme untuk mengurutkan materi kuliah (sesuai dengan urutan perkuliahan). [Fitur ini mudah diimplementasikan]
Sistem Penilaian. Dalam perkuliahan – selain UTS, UAS, quiz – saya juga memberikan tugas pekerjaan rumah yang kadang dibuat dalam bentuk tulisan di blog dan kadang dibuat dalam bentuk tercetak (hardcopy). Sistem harus mampu mencatat dan mengelola nilai yang dimasukkan secara manual ataupun langsung mengambil dari tugas yang online.
Bobot dari masing-masing ujian harus dapat diset secara manual. Nilai akhir bisa ditentukan secara otomatis (menggunakan fitur what-if dengan data batas nilai untuk A, AB, B, …, dst.) atau manual.
Kadang ada mahasiswa harus mengambil ujian tambahan (remedial). Sistem harus bisa mengakomodasi hal ini.
Masih terkait dengan penilaian, salah satu yang membuat saya repot adalah ketika saya menilai tugas dalam bentuk blog. Seharusnya ada mekanisme yang memudahkan saya dalam menilai. Misalnya, untuk PR ke 3 mahasiswa saya minta untuk menuliskan tugasnya di blog. Mahasiswa kemudian mengirimkan (submit) alamat blog (URL) ke daftar penyerahan tugas ke 3. Saya tinggal melihat daftar tugas ke-3 tersebut siapa-siapa yang sudah mengirimkan tugas dan sekaligus tinggal klik saya dibawa ke blog mahasiswa. Kemudian saya tinggal klik untuk mengatakan bahwa tugas sudah sesuai. (Misalnya nilainya hanya pass/fail saja.) Saat ini hal ini saya lakukan secara manual dan menghabiskan banyak waktu.
Di bawah ini adalah kebutuhan yang sifatnya tidak wajib (optional).
Blog. Sistem bisa menyediakan layanan blog. Bisa juga blog menggunakan layanan lain tetapi setidaknya sistem dapat membuat link antara mahasiswa dengan blognya. Bagusnya jika sistem menyediakan layanan blog adalah semuanya menjadi terintegrasi. Jeleknya, mahasiswa mungkin sudah lebih terbiasa dengan blog yang dia gunakan di tempat lain.
Ternyata tinta pilpres yang ada di tempat saya mudah luntur. Saya tidak sadar dia meleber ke mana-mana. Baru tadi pagi lihat di keyboard, ternyata ada bekasnya.
[keyboardnya juga udah kotor. harus dibersihkan lagi ya? atau beli lagi aja?]
Ternyata di wastafel juga ada bekasnya. Di baju kaos juga kayaknya ada. Hadoh!
Dulu sempat pernah heboh soal tinta pemilu ini. Ini apa masih sama dengan tinta yang dulu ya? Atau beda lagi?
Membaca beberapa email terakhir, topiknya berat semua. Ada topik tentang politik, pemilu, dan seterusnya. Saya tidak mengerti isi tulisannya. Banyak yang terlalu panjang tulisannya dan sulit saya mengerti. Atau mungkin karena saya tidak tertarik dan tidak berusaha untuk mengerti?
Ada juga topik yang membahas tentang perjokian di ujian saringan masuk ke perguruan tinggi yang dilakukan oleh mahasiswa ITB. Pembahasannya mengerikan. Complicated.
Can’t we have simpler topics?