Archive Bulanan: September 2009

Halal bi halal …

Hari ini, kami (group indocisc dan insan infonesia) mengadakan acara halal bi halal lebaran. (Istilahnya gak tepat ya? tapi tidak mengapa.) Berikut ini beberapa foto dari acara tersebut.

Berpotret bersama setelah acara dibuka … Banyak juga ya? Setelah ini berdatangan juga rombongan tamu yang lain. Sayangnya rombongan berikutnya (yang mungkin jumlahnya sama besarnya?) tidak sempat terpotret.

Masih berpotret tetapi diambil oleh Syarief (aiep) dari atas.

Makanan jelas banyak, mulai dari yang ini …

sampai kambing guling

Masih banyak foto-foto yang lain. Nanti saya tampilkan secara berkala saja.

Untuk sementara ini kami hanya bisa bersyukur bahwa kami masih bisa menikmati kumpul-kumpul bersama (makan-makan tentunya) dan tempat kerja kami masih bisa bertahan di tengah-tengah krisis yang melanda banyak tempat. Alhamdulillah.


Main Sudoku Yuk?

Foto dinding perpustakaan pusat ITB. Menantang untuk dijadikan tempat main sudoku :)


Pakar?

Apa definisi dari pakar ya? Maksudthnyah itu kapan seseorang itu disebut pakar?

  • Apakah jika seseorang tersebut memiliki latar belakang pendidikan di bidang itu?
  • Apakah jika seseorang telah memiliki skill di bidang itu? (Dibuktikan dengan apa? Sertifikat?)
  • Apakah jika seseorang telah memiliki kontribusi di bidang itu? (Sejauh mana kontribusinya?)
  • Apakah jika seseorang telah memberikan komentar di bidang itu? Pokoknya setelah dia dikutip, maka dia bisa disebut pakar.

Jangan Mau?

Yang ini BUKAN minuman :)


Mau?


Mau?


Mau?


Kembali

Waktunya libur sudah habis. Besok kita mulai kembali ke sekolah atau ke tempat bekerja. Waaahhh… Padahal masih banyak yang ingin dikerjakan ketika liburan ya?

Saya ingin membaca buku, artikel, makalah, dan banyak lagi yang ingin dibaca. Kemarin hanya bisa menyelesaikan satu buku saja. Untung bukunya bagus. Selain itu sebetulnya saya ingin ngoprek Linux lagi, koding lagi, dan meningkatkan skill komputer lagi. Sayangnya waktunya sudah habis.

Tidak menyesal juga sih karena banyak istirahat. :) Itu penting juga kan?

Goodbye holiday, welcome school (work). Siap kembali bekerja?


Maritime-based Industry and Services

Membaca di berbagai milis (karena tidak punya akses kepada sumber aslinya), katanya Indonesia akan diarahkan ke “maritime-based Industry and Services“. Hmm…

Saya tidak antipati terhadap topik atau tema tersebut, bahkan cenderung setuju. Hanya saja saya kok melihatnya ini seperti sesuatu yang dibuat untuk jangka pendek dan tidak berakar. Masih ingat “visit Indonesia 2008?” (eh atau 2009). Kemana kelanjutannya ya?

Dahulu di jaman Gus Dur pun ada inisiatif untuk mengoptimalkan “kelautan”. Apakah ini hanya sebuah nama yang sama dengan inisiatif dahulu? Saya justru lebih senang kalau ini memang kelanjutan dari yang dahulu. Ada kesinambungan gitu.

Mau tanya, siapa champions kita (jagoan kita) di dunia “maritime-based Industry and Services“?


Learning Experience

Belajar dan mengajar itu ternyata tidak statis. Kalau dahulu mungkin model belajarnya (setidaknya yang saya kenal) adalah satu arah. Guru atau dosen menjelaskan dan (maha)siswa berusaha keras untuk mengerti. Kalau siswa belum mengerti maka dia harus mencari tahu sendiri dengan berbagai cara, seperti les, kursus, bimbingan, dan belajar sendiri.

Sekarang nampaknya metoda satu arah ini memang masih digunakan. Hanya saja saya melihat antusiasme yang menurun di siswa. Mungkin sebetulnya belajar (learning) di sekolah atau perguruan tinggi itu tidak penting. Yang penting adalah secarik kertas ijazah saja.

Pertanyaannya adalah bagaimana membuat proses ajar mengajar menjadi menarik? Katanya sih kita mencari learning experience yang pas. Kata kuncinya adalah experience.

Mungkin hal ini disamakan dengan minum kopi ya? Minum kopi bisa di kantin tetapi bisa juga di kafe. Apa yang membedakan minum kopi di kantin dan di kedai Starbucks, misalnya? Experience itulah. Lebih menyenangkan ngopi di Starbucks daripada di kantin. (Tapi bisa jadi ngopi di warung lebih seru lagi, karena … lagi-lagi experience-nya.)

Nah, learning experience apa yang kita inginkan agar siswa tertarik untuk belajar? Bukan sekedar belajar topik pelajarannya saja, tetapi tertarik untuk selalu belajar seumur hidup.

Hmmm …. apa ya? (Asal hasilnya jangan jadi mahal seperti Starbucks aja. he he he.)


Koneng

Ketika beli, warnanya hanya ada yang kuning stabilo atau ungu. Gak ada yang beres :) Dulu pernah dapat yang putih tetapi sudah rusak. Yah, sekarang norak dulu deh.


Ada Dari Tiada

Proses penciptaan berbagai karya kreatif terkait dengan membuat sesuatu dari yang sebelumnya tidak ada. Sebagai contoh, kanvas yang tadinya kosong kemudian berisi lukisan yang mengesankan. Kertas yang kosong berisi goresan pena. Alunan lagu mengisi kesunyian. Disk yang kosong menjadi berisi download-an. hi hi hi. Yang terakhir ini mungkin tidak termasuk. Maksa.

Pada prinsipnya, ada proses penciptaan dari yang tiada menjadi ada. Kok menjadi seperti Tuhan ya? Mungkin justru inilah daya tariknya?

Tapi, sebetulnya apakah benar demikian? Ada dari tiada? Apakah tidak mungkin bahwa ide (yang kemudian menjadi karya itu) sebetulnya sudah ada. Sang artis / penulis, sebetulnya hanya menangkap ide tersebut atau bahkan hanya sebagai pipa saluran saja. Ide itu sendiri sebetulnya memiliki diri. Dia melayang ke sana ke mari mencari channel untuk menjelma menjadi karya. Jadi sebetulnya dia sudah ada, bukan tiada.

Hmm…

[pagi-pagi sudah mikir ya? hi hi hi ...]

Selamat pagi …


Mau?


[ditemui di bugis street]


Kumpulan Kertas

Mau diapakan tumpukan kertas di ruang kerja?

Kadang kesal juga melihat tumpukan kertas di ruang kerja. Setiap hari makin bertambah saja gunungannya, bukan berkurang. Duuuhhh…

Barusan mencoba beberes lagi. Ah, ternyata hanya bisa mengurangi beberapa lembar kertas saja. Keranjang sampah nyengir tertawa. Sialan!

Soalnya ketika selembar kertas diambil, isinya artikel yang sangat menarik entah dari mana sumbernya (jurnal? majalah?). Mau dibuang, sayang. Takut nanti dicari. (Padahal kertas tersebut sudah hampir satu tahun tidak disentuh.) Kayaknya banyak sekali artikel yang sangat menarik ya?

Mengumpulkan “sampah tulisan” ini kayaknya penyakit, ya? Semacam OCD (obsesive compulsive disorder) gitu? hi hi hi. Duh… (cari temen yang punya penyakit sama – ha ha ha).

Maunya sih artikel tersebut dibaca sekali, terus bisa teringat. Selain itu sumbernya bisa dikenali dan jika dibutuhkan, artikelnya bisa ditemukan kembali.

Selain artikel-artikel, ada juga catatan atau notes saya. Gambar di samping ini menunjukkan contoh notes saya yang saya tulis di buku. Sebetulnya isi dari catatan itu mungkin sudah tidak penting lagi, tetapi sejarahnya itu lho. Maksudnya, menarik juga melihat catatan itu.

Sebagai contoh, tadi saya melihat catatan yang saya buat tanggal 17 September 2008, satu tahun yang lalu. Catatan itu berisi poin yang akan saya berikan di kuliah minggu itu. Kebetulan, semester ini saya mengajar kuliah yang sama. Wah, menarik sekali mengikuti pola pikir saya saat itu.

Yang seperti ini sayang juga kalau dibuang, tetapi dia memenuhi tumpukan saja. Jadi, gimana ya?


Review Buku: How the Mighty Fall

Baru saja saya selesai membaca buku “How the Mighty Fall” karangan Jim Collins. Dia ini yang juga membuat buku “Good to Great“.

Buku ini membahas tentang bagaimana sebuah perusahaan yang tadinya besar sekarang hilang tidak berbekas (gulung tikar) atau menjadi sangat kecil sekali. Pernah dengar yang namanya Circuit City atau Zenith? Ini adalah contoh perusahaan yang tadinya besar tetapi kemudian mati.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apakah ada tanda-tandanya? Apakah memang ada tandanya? Bagaimana menyikapi hal ini?

Bagus sekali pembahasannya; to the point dan dengan data yang lengkap. Maklum, Jim dan kawan-kawan ini kan memiliki data dari penelitian untuk buku sebelumnya. Dia memformulasikan fase-fase (stage) perusahaan yang mau ambruk itu:

  1. hubris born of success (maksudnya arogan);
  2. undisciplined pursuit of more (maksudnya mencoba berbagai hal yang gak penting);
  3. denial of risk and peril (tidak mau mengakui adanya masalah di dalam, menyalahkan orang lain atau lingkungan);
  4. grasping for salvation (kelabakan mencari solusi);
  5. capitulation to irrelevance or death (terlambat dan akhirnya menjadi tidak penting atau mati).

Membaca buku ini jadi serem juga. Gloomy. Tapi memang harus dipelajari. Langsung ke-ide-an untuk mengaplikasikan ini di lingkungan tempat saya berada.

Kesimpulannya: buku ini bagus (wajib?) untuk dibaca bagi yang memimpin perusahaan atau organisasi! Recommended.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.