Archive Bulanan: September 2009

Selamat Pagi …

Selamat pagi dari Gedung Sate, Bandung.

Dipotret dari tempat parkir yang sepi karena di sisi depan (sisi bagusnya) kayaknya rame orang. Ini hari Minggu. Biasanya di hari Minggu, lapangan Gasibu yang persis di depannya rame dengan orang yang berolah raga dan orang yang berjualan. Saya tidak berani lewat sana :) Pasti macet.

Selamat pagi …


Namoroka

Entah kenapa, saya punya banyak masalah dengan Firefox 3.5 di platform Microsoft Windows dan Mac OS X. Masalahnya beda-beda. Misalnya di Windows, Firefox 3.5 selalu hang kalau dipakai nge-tag di facebook. Kalau di Mac OS, masalahnya windownya sering hilang dari layar.

Sekarang saya pakai Namoroka, Firefox 3.6 alpha 1. Meskipun memang versinya masih alpha, tetapi kayaknya lebih stabil dari Firefox 3.5.


Problem with getrusage

We are trying to measure the amount of resources needed to run our program, written in C. Looking here and there, I found getrusage (2). So, yesterday I tried to write a simple code:


#include <stdio.h>
#include <errno.h>
#include <sys/resource.h>

int main(){
int y[100][100];
struct rusage *resource;
int x;

x = getrusage(0, resource);
printf("x = %d\n", x);
printf("errno = %d\n", errno);
return(0);
}

The result was not great. getrusage returned -1. According to the man page, non zero return value means it fails. The value of errno is 14.

What went wrong? Anybody?

Is there a better way to measure the amount of resources (memory, CPU, time) needed for a program? [Right now, I am looking at dtrace. Would it help?]


Kuliah yuk …

di suatu pagi yang masih dingin …


Inovasi Pendidikan

Ketika membaca sebuah bab dari sebuah buku tentang pendidikan (lupa namanya), ada sebuah pernyataan yang menggelitik.

Pemanfaatan teknologi informasi di dunia pendidikan justru terasa minim. Padahal dunia pendidikan ikut turut andil dalam pengembangan teknologi informasi.

Tadinya saya ingin menyanggah pernyataan di atas. Kan sudah banyak teknologi untuk e-learning dan sejenisnya. Ternyata di buku tersebut dibahas bahwa yang ada sekarang adalah teknologi untuk mempermudah akses saja, tanpa adanya inovasi di (teori dan teknik) pendidikannya sendiri. Nampaknya benar juga!

Akibat dari ini, mahasiswa menjadi dibanjiri (overloading) dengan informasi dan tidak menyisakan waktu untuk berpikir dan mengerti.


[berpikir sejenak ...]

Materi kuliah di-online-kan. (online, online, online … hi hi hi) Tetapi, ya sekedar itu saja. Isinya atau bentuknya tidak berubah. Itu seperti hanya memindahkan catatan di buku tulis kertas ke berkas (file) elektronik saja. Ini sama seperti kita memperlakukan (komputer dan) wordprocessor sebagai mesin ketik. hi hi hi. Tidak maksimal! Atau sama seperti membuat acara TV yang isinya adalah pembaca berita saja (mengambil pendekatan radio).

Wah … jadi apa yang inovasi apa yang bisa kita lakukan di bidang pendidikan dengan adanya teknologi informasi ini?


Efek Dari Seluler Di Indonesia

Kemarin terlibat sedikit diskusi tentang teknologi dan efeknya di Indonesia. Apakah sudah ada yang melakukan penelitian mengenai efek dari teknologi seluler (handphone) ke aspek sosial dan ekonomi di Indonesia?

  • Apakah seluler meningkatkan pendapatan (GDP) Indonesia? Seberapa besar? Apakah ada datanya?
  • Berapa lapang pekerjaan yang dihasilkan oleh aplikasi teknologi seluler di Indonesia? (Misal: pekerja di operator telekomunikasi, penjual voucher, dan seterusnya) Ini bisa dihitung dari jumlah pekerja dan jumlah uang yang beredar.
  • Apakah ada industri terkait yang menjadi lebih maju dengan adanya aplikasi seluluer di Indonesia?
  • Apakah seluler meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia? (Meskipun definisi dari “kualitas” itu bisa bervariasi, bisa finansial, spiritual, dan lain-lain.)
  • … dan pertanyaan-pertanyaan sejenis.

Menarik kalau ada yang mengkaji ini sebagai bagian dari thesis.


Mengapa Perlu Ranking Universitas?

Di berbagai mailing list dibahas mengenai ranking-ranking perguruan tinggi Indonesia dan dunia. Saya rasa di luar negeri topik ini juga merupakan topik yang menarik untuk dibahas. Saya sendiri mencoba mencerna, mengapa perguruan tinggi (universitas) perlu diranking ya? Apa manfaatnya? Apakah kalau rankingnya tinggi terus hasilnya lebih baik begitu? (Yang dimaksud hasil di sini juga apa?)

Setelah dipikir-pikir dan baca sana sini, akhirnya saya menyimpulkan bahwa ranking itu diperlukan untuk mendapatkan mahasiswa yang baik, mendapatkan talenta (pengajar, peneliti) yang bagus, dan mendapatkan dana (funding). Untuk sementara saya pikir tiga hal itu yang utama.

Saya coba elaborasi dalam konteks ITB, karena ini yang saya ketahui. Entah mungkin bisa digeneralisir atau tidak, saya tidak tahu. Mari …

Universitas yang memiliki ranking tinggi biasanya diminati oleh mahasiswa yang bagus, atau setidaknya oleh orang tua dari mahasiswa :) Orang tua mahasiswa tentunya ingin menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi yang bagus. Semakin tinggi ranking, biasanya semakin banyak yang berminat masuk ke perguruan tinggi tersebut. Hasilnya, seleksi menjadi semakin ketat (karena tempat terbatas) sehingga mahasiswa yang bagus-bagus lah yang akhirnya masuk ke perguruan tinggi tersebut. Hal ini nantinya akan membuat peguruan tinggi lebih bagus juga. Jadi ada semacam siklus positif yang saling memperkuat.

Efek lain dari hal ini adalah biaya masuk perguruan tinggi tersebut bisa menjadi semakin mahal. Permintaan tinggi, harga menjadi lebih tinggi. Namun untuk kasus ITB, ITB tidak bisa seenaknya menaikkan biaya masuk perguruan tinggi. Setidaknya, saya berharap bahwa ITB masih tetap waras untuk tidak menggunakan aji mumpung karena ini bisa menjadi bumerang. (Jika uang sekolah menjadi mahal, maka ada mahasiswa bagus yang tidak mampu yang tidak tertampung dan mereka akan lari ke perguruan tinggi lain. Ini menjadikan siklus negatif di ITB dan menjadikan siklus positif di tempat lain?)

Untuk aspek yang kedua, menggaet talenta. Yang ini saya tidak melihat dilakukan di ITB. Proses perekrutan dosen / staf / peneliti di ITB dilakukan secara pasif (atau boleh dibilang haphazard). Biasanya rekrutmen dilakukan dari dalam sendiri (inbreeding). Akibatnya, talenta-talenta yang bagus-bagus dan berada di luar ITB (dan berminat menjadi bagian ITB) tidak diserap. Jadi, ranking tinggi tidak berpengaruh dalam mendapatkan talenta.

Padahal, saya melihat bahwa aspek ini yang berpengaruh kepada “mesin” produksi atau proses di ITB. Justru ini – menarik talenta-talenta – merupakan aspek yang sangat penting. Dia bisa membuat ITB menjadi lebih baik baik dari segi proses maupun menarik funding (seperti yang akan saya uraikan di bawah ini).

Aspek yang ketiga, ranking untuk menarik pendanaan. Yang ini juga saya lihat tidak dilakukan atau dimanfaatkan oleh ITB. Pendanaan – dalam hal ini terkait dengan pendanaan penelitian, proyek, dan sejenisnya – berasal dari proposal dosen. Dalam hal ini yang dilihat biasanya adalah kredibilitas sang dosennya. Memang institusi juga dilihat, tetapi saat ini pengamatan saya menunjukkan bahwa peneliti / dosen lebih menentukan. Jadi, ranking tinggi masih tidak terlalu berpengaruh dalam mendapatkan funding.

Dari ini semua, bisa saya tarik kesimpulan bahwa ranking tinggi bagi ITB hanya dimanfaatkan untuk mendapatkan mahasiswa saja (dan kemungkinan uang masuk mahasiswa). Selebihnya, ranking itu tidak terlalu bermanfaat. Dia tidak memberikan perubahan (positif) kepada kampus. Sayang juga ya …


Katakan Dengan Gambar

A picture is worth a thousand words.

Demikianlah kutipan yang sering kita dengar. Nampaknya ada kebenaran di dalamnya. Meskipun saya juga bisa membaliknya dengan mengatakan yang “sebaliknya”.

Satu kata dapat menghasilkan seribu imajinasi.

Itulah sebabnya sebetulnya lebih asyik membaca buku novel daripada melihat hasil filmnya. Imajinasi yang ada di kepala kita berbeda sekali dengan yang ada di kepala pembaca lainnya.

Melenceng sudah topik pembicaraan :D

Saya sebetulnya ingin membahas gambar atau foto. Dalam tulisan sebelumnya saya sudah bercerita bahwa saya sedang keranjingan photoblogging, yaitu “menulis” blog dengan gambar.

Selain makin banyak memotret (apa saja), saya juga sekarang sedang senang bermain-main dengan efek  atau filter. Ada dua program yang sering saya gunakan, yaitu GIMP (Windows, Mac, Linux) dan Photoscape (windows). Kedua program tersebut memiliki banyak fitur filter. Salah satu filter yang sedang saya sukai adalah filter water painting, yang sayangnya hanya ada di Photoscape. Di GIMP hanya ada efek oil painting.

Contoh hasil efek tersebut antara lain di gambar ini:

Lumayanlah … :)

Sebetulnya saya ingin melakukan eksplorasi lagi yang lebih dalam. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, tapi ini membutuhkan waktu yang cukup banyak dan juga ketelatenan. Wah, harus ditunda. Sekarang percobaan baru sampai pada hal-hal yang sederhana saja.


Transistor: Semua Bermula Dari Ini

Perkembangan teknologi informasi tidak bisa dilepaskan dari penemuan transistor. Sebelum transistor yang ada adalah vacuum tubes seperti gambar di bawah ini. Bahkan komputer pertama pun dibuat dengan menggunakan komponen seperti ini.

[me holding a vacuum tube]

Bisa dibayangkan berapa besar ruangan yang dibutuhkan untuk membuat satu komputer ya? Listrik yang dibutuhkan pasti besar juga. Terus, panas yang dihasilkan pasti luar biasa.

Itulah sejarah ..


Nyam … nyam … nyam …

Sopan gak ya kalau bulan puasa posting makanan? hi hi hi …

Ini gambar bungkus Cokelat Monggo yang dibeli dari Yogyakarta. Cokelatnya enak, tidak terlalu manis. Atau bahkan mungkin agak pahit. Pokoknya enak aja. Awas… dilarang batal puasa karena cerita ini.

Untung yang diposting ini hanya bungkusnya saja, bukan sama isinya. Kalau ditampilkan dengan isinya, mungkin ada yang bisa batal puasanya. he he he …


Selamat Pagi

Sudah lama tidak mengucapkan selamat pagi di blog ini :)

Kebetulan beberapa hari yang lalu cuaca pagi di Bandung sedang bagus dan saya sempat memotret kota Bandung dengan latar belakang gunung. Gak tahu itu gunung apa (di Bandung Selatan?). Cerah ya …

Selamat pagi… semoga kecerahan hari ini membawa kebahagiaan bagi kita semua.


Blog Trend Sesaat?

Apakah blog hanya trend sesaat?

Jawabannya adalah TIDAAAKKK:) [mestinya pakai tanda seru dan hurufnya lebih besar lagi ya? Pokoknya untuk menunjukkan penekanan kata "tidak" itu. hi hi hi.]

Silahkan baca perjalanan blog selama 7 tahun di tulisan ini, “Then and Now, Seven Years of Blogging as Business“. Lihat juga peningkatan grafiknya yang masih terus naik.

Selamat nge-blog…


Apa Yang Dibutuhkan dari CERT

Dalam rangka lebih mengaktifkan dan mengoptimalkan ID-CERT, kami ingin bertanya kepada komunitas IT Indonesia;

Apa yang dibutuhkan dari ID-CERT?

Pertanyaan ini sejalan dengan RFC 2350, Expectations for Computer Security Incident Response. Semoga harapan yang ada dapat dipenuhi, dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya yang kami miliki.


Font Nokia E61i Terlalu Kecil

Font yang digunakan Nokie E61i saya ternyata terlalu kecil. Seringkali susah bagi saya untuk membaca SMS tanpa menggunakan kacamata (misalnya jika sedang berjalan). Setelah cari di sana-sini, ternyata memang ini masalah dan belum ada solusinya. Waaa … Tidak ada solusi (selain ganti hape).

Nampaknya desainer dari Nokia E61 ini anak-anak muda yang belum punya masalah dengan mata. hi hi hi. Kalau sudah di atas 40 tahun, baru kerasa susahnya baca karena harus pakai kacamata plus.


Sahur Nonton Apa?

Bagi yang memasang (menonton) TV sambil sahur;

acara apa yang Anda tonton?

Ingin tahu saja.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.