Di berbagai mailing list dibahas mengenai ranking-ranking perguruan tinggi Indonesia dan dunia. Saya rasa di luar negeri topik ini juga merupakan topik yang menarik untuk dibahas. Saya sendiri mencoba mencerna, mengapa perguruan tinggi (universitas) perlu diranking ya? Apa manfaatnya? Apakah kalau rankingnya tinggi terus hasilnya lebih baik begitu? (Yang dimaksud hasil di sini juga apa?)
Setelah dipikir-pikir dan baca sana sini, akhirnya saya menyimpulkan bahwa ranking itu diperlukan untuk mendapatkan mahasiswa yang baik, mendapatkan talenta (pengajar, peneliti) yang bagus, dan mendapatkan dana (funding). Untuk sementara saya pikir tiga hal itu yang utama.
Saya coba elaborasi dalam konteks ITB, karena ini yang saya ketahui. Entah mungkin bisa digeneralisir atau tidak, saya tidak tahu. Mari …
Universitas yang memiliki ranking tinggi biasanya diminati oleh mahasiswa yang bagus, atau setidaknya oleh orang tua dari mahasiswa
Orang tua mahasiswa tentunya ingin menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi yang bagus. Semakin tinggi ranking, biasanya semakin banyak yang berminat masuk ke perguruan tinggi tersebut. Hasilnya, seleksi menjadi semakin ketat (karena tempat terbatas) sehingga mahasiswa yang bagus-bagus lah yang akhirnya masuk ke perguruan tinggi tersebut. Hal ini nantinya akan membuat peguruan tinggi lebih bagus juga. Jadi ada semacam siklus positif yang saling memperkuat.
Efek lain dari hal ini adalah biaya masuk perguruan tinggi tersebut bisa menjadi semakin mahal. Permintaan tinggi, harga menjadi lebih tinggi. Namun untuk kasus ITB, ITB tidak bisa seenaknya menaikkan biaya masuk perguruan tinggi. Setidaknya, saya berharap bahwa ITB masih tetap waras untuk tidak menggunakan aji mumpung karena ini bisa menjadi bumerang. (Jika uang sekolah menjadi mahal, maka ada mahasiswa bagus yang tidak mampu yang tidak tertampung dan mereka akan lari ke perguruan tinggi lain. Ini menjadikan siklus negatif di ITB dan menjadikan siklus positif di tempat lain?)
Untuk aspek yang kedua, menggaet talenta. Yang ini saya tidak melihat dilakukan di ITB. Proses perekrutan dosen / staf / peneliti di ITB dilakukan secara pasif (atau boleh dibilang haphazard). Biasanya rekrutmen dilakukan dari dalam sendiri (inbreeding). Akibatnya, talenta-talenta yang bagus-bagus dan berada di luar ITB (dan berminat menjadi bagian ITB) tidak diserap. Jadi, ranking tinggi tidak berpengaruh dalam mendapatkan talenta.
Padahal, saya melihat bahwa aspek ini yang berpengaruh kepada “mesin” produksi atau proses di ITB. Justru ini – menarik talenta-talenta – merupakan aspek yang sangat penting. Dia bisa membuat ITB menjadi lebih baik baik dari segi proses maupun menarik funding (seperti yang akan saya uraikan di bawah ini).
Aspek yang ketiga, ranking untuk menarik pendanaan. Yang ini juga saya lihat tidak dilakukan atau dimanfaatkan oleh ITB. Pendanaan – dalam hal ini terkait dengan pendanaan penelitian, proyek, dan sejenisnya – berasal dari proposal dosen. Dalam hal ini yang dilihat biasanya adalah kredibilitas sang dosennya. Memang institusi juga dilihat, tetapi saat ini pengamatan saya menunjukkan bahwa peneliti / dosen lebih menentukan. Jadi, ranking tinggi masih tidak terlalu berpengaruh dalam mendapatkan funding.
Dari ini semua, bisa saya tarik kesimpulan bahwa ranking tinggi bagi ITB hanya dimanfaatkan untuk mendapatkan mahasiswa saja (dan kemungkinan uang masuk mahasiswa). Selebihnya, ranking itu tidak terlalu bermanfaat. Dia tidak memberikan perubahan (positif) kepada kampus. Sayang juga ya …