Archive Bulanan: November 2009

Upload-upload Foto

Seminggu lalu saya ke Jakarta Blues Festival. Tentu saja banyak foto yang saya ambil. Nah, sampai hari ini belum semuanya berhasil saya upload. Masalahnya saya harus kecilkan foto-foto itu sebelum diupload karena kita-kita masih fakir bandwidth.

Nah sekarang saya sedang upload-upload foto itu ke facebook dan picasaweb. (Disambi kerja. Apa gak kebalik ya? hi hi hi. Mana sih yang prioritas? Tapi kan ini weekend.) Mudah-mudahan selesai.


[before leaving the stage. see you next year. tentu saja menggunakan kaos wordpress!]


Masjid dan Ikan Asin

Masjid tempat saya Jum’atan – di Batan, jalan Taman Sari, Badnung – memiliki desain yang unik. Pas di bawah masjid adalah tempat makan karyawan. Ada tangga yang menghubungkan keduanya di sebelah kanan (dalam) masjid.

Ketika kita sedang asyik jumatan, kadang-kadang tercium bau makanan. Dan yang lebih serunya biasanya makanan mulai dipersiapkan menjelang jumatan usai … yaitu pas shalat dimulai.

Jadi … kadang pas sedang shalat tercium bau ikan asin. Hadoh … konsentrasi buyar. hi hi hi.


Backup Mac: Time Machine atau yang lain?

Pertama-tama harus saya akui dahulu bahwa saya jarang melakukan backup komputer saya, termasuk Macbook saya. Sekali-sekali memang saya backup Macbook saya dengan menggunakan Time Machine, tetapi lebih sering saya copy saja berkas atau folder yang ingin saya backup ke disk eksternal.

Nah, baru saja saya mau mem-backup Macbook ke disk eksternal (via USB) tetapi gagal karena disknya penuh. Dibutuhkan 93.1 GB tetapi yang tersedia hanya 33.2 GB. Hadoh.

Apakah saya lakukan backup manual saja? Files yang penting dikopi ke disk eksternal, gitu?

Beberapa waktu yang lalu saya membeli disk 1TB, WD Mybook. Dia datang dengan software untuk melakukan backup yang bisa jalan di Windows dan Mac. Saya akan menggunakan disk itu untuk mem-backup Macbook. Nah, sekarang pertanyaannya “strategi backup mana yang paling disarankan”?

  1. Menggunakan Time Machine
  2. Menggunakan software yang ada di Mybook
  3. Copy berkas dan folder yang dibutuhkan saja ke Mybook secara manual saja

Saran?


Plasticless (tanpa plastik)?

Beberapa waktu yang lalu saya melihat beberapa spanduk di kampus tentang ajakan untuk plasticless (tanpa plastik? atau mungkin less plastic? mengurangi penggunaan plastik karena tanpa pun kelihatannya susah atau tidak mungkin). Idenya sih bagus dan saya dukung sekali, tetapi … bagaimana caranya? Kalau hanya sekedar ide atau slogan, saya rasa kurang menggigit.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, misalnya menggunakan pembungkus kertas sebagai pengganti plastik. [foto akan saya pasang di sini.] Ada banyak kertas bekas yang lazim digunakan di Indonesia. (Tapi, tintanya – tinta printer – berbahaya gak ya?) Hanya saja ini tetap kurang populer.

Di luar negeri ada tempat yang menyediakan boks kardus sebagai pengganti tas plastik kresek. Atau, pembeli disarankan membawa tas belanjaan sendiri. Selain itu, untuk membeli buah-buahan dan tahu sumedang, misalnya, bisa digunakan bongsang. Tuh, kan banyak juga alternatifnya. Sekarang tinggal kita mau atau tidak.

Waktu ke New Delhi, India, beberapa tahun yang lalu saya melihat adanya program no plastic pada hari Senin (lupa tepatnya?). Saya sendiri tidak melihat apa yang terjadi di pasar, tetapi setidaknya idenya boleh juga. Mungkin kita buat kegiatan no plastic pada hari tertentu gitu


teaching gears …


Album baru: Transatlantic – the Whirlwind

Baru dapet album Transatlantic yang baru, the Whirlwind. Sekarang baru didengarkan. Asyik juga. Mereka tetap di jalur progressive rock.

Sementara ini baru satu putaran dengerinya. Asyiiikkk… tapi masih mencoba mencerna ceritanya – sementara ini dengerin musik, melodi, harmoni dulu aja. Musiknya tetap megah. Let me digest this one.


Tempat Memperbaiki Xbox

Xbox 360 milik anak saya rusak (lagi!). Ini sudah ke sekian kalinya (tiga kali?) dia rusak. Setelah diperbaiki biasanya hanya bertahan beberapa hari atau beberapa minggu.

Apakah ada saran tempat memperbaiki yang bagus? Kalau bisa di Bandung atau Jakarta.

Atau menyerah saja? Ganti ke PS3 atau sejenisnya?


Twitter

Saya memang jarang menggunakan twitter, tetapi kalau lagi mau meng-twit saya lebih sering menggunakan web. Padahal ada  banyak twitter client ya. Entah kenapa. Mungkin karena yang web itu cukup cepat dan simpel.

Di desktop saya ada TweetDeck dan di Mac Tweetie, tetapi tetap saja yang web lebih menyenangkan bagi saya. Atau, mungkin karena saya jarang nge-tweet saja. Jadi yang web memang cukup.

Bagaimana dengan Anda?


Buku Selanjutnya

Setelah menyelesaikan membaca buku Outliers-nya Gladwell, saya mulai mencari buku selanjutnya untuk dibaca. Ternyata … masih banyak buku yang bisa saya baca. Hadoh. Kok jadi lemes lagi.

Tapi … pikir-pikir sebetulnya seharusnya saya bersyukur karena ada bacaan. Bayangkan anak-anak yang nun jauh di pelosok sana yang tidak punya bahan bacaan. Kasihan sekali. (Terpengaruh oleh buku John Woods, yang keluar dari Microsoft untuk kemudian mengirimkan buku-buku ke berbagai tempat di pelosok dunia. Ini salah satu buku yang menunggu dibaca juga.)

Hmm… bagaimana memilih buku yang selanjutnya akan saya baca? Baca halaman depan dulu saja ya? Kalau menarik, terus. Kalau kurang menarik, simpan di dalam tumpukan lagi :) [Nah, makanya kalau buat buku bagian depannya harus menarik. Catet tuh!]


Bisnis Teknologi Informasi dan Komunikasi

Tadi pagi saya mengisi kuliah di Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM), di kelasnya pak Dwilarso. Topiknya adalah Bisnis Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT business). Apa peluang yang ada di sana?

Pemberitahuannya mendadak juga. Akibatnya saya tidak bisa mempersiapkan materi kuliah dengan sempurna. Kerangka apa yang saya bicarakan sudah saya upload ke slideshare:
http://www.slideshare.net/budi/bisnis-teknologi-informasi-dan-komunikasi

Selamat menikmati.


Google.co.id lambat

Entah ini perasaan saya atau beneran, setiap search ke google.co.id kok lambat banget aksesnya ya? Dia diam lamaaa sekali dengan layar putih. Grrr


Gembira Ria Coding: Fungsi Hash

Fungsi hash digunakan untuk membuat rangkuman (summary) dari rentetan data (pesan). Rangkuman ini bisa hanya berupa sebuah bit (biasanya disebut parity check) sampai rentetan bit (misalnya MD5, yang panjangnya 128 bit).

Fungsi hash dikategorikan sebagai fungsi satu arah karena diberikan keluaran sebuah fungsi hash kita tidak bisa menemukan data atau pesan aslinya. Jika Anda saya berikan rangkuman satu bit, “1″, apa pesan aslinya? :)

Ada banyak implementasi fungsi hash. Iseng-iseng saya buat sebuah fungsi hash sederhana yang pada prinsipnya dia menjumlahkan nilai kode ASCII dari data yang diberikan ke dia.

#! /usr/bin/perl
# fungsi hash sederhana - menambahkan nilai ASCII dari input
# BR - nov 2009

$modulus=65536; # modulus pembagi total


print "Masukkan sebuah pesan sederhana dan tekan return\n";
print "Pesan: ";
$pesan = <STDIN>;
chop($pesan); # hapus carriage return di akhir pesan
print $pesan . " panjang: " . length($pesan) . "\n";

$total=0;
for ($i=0; $i < length($pesan) ; $i++) {
   print "$i";
   $karakter = substr($pesan,$i,1);
   print " $karakter";
   $ascii = ord($karakter);
   print " $ascii";
   $total = $total + $ascii;
   $total = $total % $modulus;
   print " $total";
   print "\n";
}

Berikut ini contoh keluarannya.


macbook$ perl perl-hash-tambah.pl
Masukkan sebuah pesan sederhana dan tekan return
Pesan: BUDI
BUDI panjang: 4
0 B 66 66
1 U 85 151
2 D 68 219
3 I 73 292

Contoh di atas saya memasukkan empat karakter; “B”, “U”, “D”, “I”. Masing-masing dicari nilai ASCII-nya kemudian dijumlahkan. Hasilnya adalah 292.


Pesan: BUDI.
BUDI. panjang: 5
0 B 66 66
1 U 85 151
2 D 68 219
3 I 73 292
4 . 46 338

Kalau kita coba dengan masukan lain, yaitu menambahkan titik (.) di belakangnya, maka hasil hashnya adalah 338. Berbeda kan?

Coba sebutkan kelemahan dari program hash ini.

Link terkait: versi bahasa C ada di sini.


Blues Festival (part 3): Gugun & Blues Shelter

Setelah nonton Discus, kami jalan-jalan sejenak. Setelah skedul, kami putuskan untuk keluar dulu dari arena dan akan kembali malamnya setelah makan malam. Ini juga supaya saya beristirahat karena rencananya kami langsung pulang ke Bandung dan saya harus mengemudikan kendaraan.

Keluarlah kami dari tempat acara dengan diberikan dua karcis kembali. Langsung kami ke tempat istirahat dan tidur. Sebetulnya kami berencana akan kembali setelah maghrib, tetapi karena cape dan makan dulu akhirnya kami baru berangkat kembali jam 21 malam. Wah, banyak yang sudah kelewat. Yah sedapatnya aja lah.

Sesampai di tempat, kami langsung menuju stage biru yang berada di dalam. Banyak orang yang mulai keluar. Wah, pasti Gugun sudah selesai. :( Yah, gak papa lah. Dapat Jan Akerman juga tidak mengapa.

Di stage dua MC sedang mewawancara Gugun. Wah, lewat deh. Tapi … kok agak aneh. Seperti sedang pasang-pasang alat. Lho? Lho? Lho? Ternyata acaranya ditukar. Jan Akerman duluan baru Gugun. Horeee. Akhirnya bisa juga nonton Gugun.

Tidak berapa lama kemudian Gugun langsung memulai shownya. Gugun & the Blues Shelter terdiri dari tiga orang; Gugun, pemain bass dan pemain drums. Saya tidak tahu nama pemain bass dan pemain drumsnya. hi hi hi. Langsung luar biasa. Semuanya bermain dengan sangat hebat. Pokoknya Gugun luar biasalah. Kata orang, Gugun adalah Stevie Ray Vaughan-nya Indonesia.

[foto-foto dan komentar tambahan menyusul. Baru beberapa foto yang sempat saya upload ke sini: http://picasaweb.google.com/bungbr/GugunAndTheBluesShelter]

Setelah selesai Gugun, acara dilanjutkan dengan jam session. Para gitaris dibawa ke atas dan akan main bersama. Untuk mengisi acara mc mengajak penonton berdialog. Pas ngelihat saya, dia kaget dan ketawa. “malem mas,” katanya. Saya juga sebetulnya agak kaget sang mc bisa mengenali saya di antara kerumunan penonton di depan. “Tepuk tangan untuk doktor budi rahardjo dari ITB” katanya. Mampus dah. Untung tidak ada orang yang mengenali saya sehingga saya cuek aja. “Mau ikut manggung mas?” kata sang mc menggangu saya. Anak saya langsung ngakak. ha ha ha. Kurang ajar. Saya ketawa juga.

Jam session dimulai. [foto menyusul.] Tapi dari semua pemain yang ada, kayaknya memang Gugun yang paling menonjol (dalam hal skill dan performance).

Asyik. Jadi juga akhirnya nonton Gugun.

Secara keseluruhan, saya puas dengan acara Blues Festival ini. Selamat untuk penyelenggara acara. Tahun depan datang lagi ah.


Blues Festival (part 2): Discus

Waktu melihat skedul acara saya cukup kaget juga karena ada Discus. Wah, saya belum pernah lihat Discus manggung. Langsung saya bilang anak saya bahwa saya mau lihat itu. Pas kebetulan Discus main setelah Bad Boys, yang mau dilihat anak saya.

Begitu Bad Boys selesai, langsung panggung disiapkan untuk Discus. Di depan langsung muncul Eko Partitur dengan biola elektriknya. Terdengar suara yang aneh, seperti suara burung atau keheningan hutan. (Itu imajinasi saya tentunya.) Checksound dilakukan dengan memainkan biola listriknya yang dihubungkan ke (digital) delay sehingga bisa penuh seperti orchestra di tengah hutan. Orang-orang mulai berkerumun.

Kemudian muncul personil lainnya; Fadhil mencoba keyboard dan alat-alat lainnya (seperti angklung yang dibalik) dan lain-lainnya; Iwan Hasan (gitar), Kiki Caloh (bass), … dst. Langsung saya berdiri di depan pagar supaya dekat sekali.

Lagu pertama kalau tidak salah adalah Gambang Suling dimainkan dengan style progressive rock. Langsung saya suka. Kayaknya anak saya juga suka. Semua bermain bersih dan bagus (meskipun pada awal kayaknya keyboardnya Krisna gak bunyi). Pokoknya seru dan puas.

Musik yang dibawakan tentunya progressive rock. (Sebetulnya saya agak heran kenapa Discus main di Blues festival, tapi biarlah. Yang penting saya senang. Justru karena ada Discus saya puas dengan acara festival ini dan bakal datang lagi. Di akhir manggung Iwan Hasan bilang bahwa kalau ini – musik tradisional yang mereka bawakan – adalah bluesnya Indonesia. hi hi hi. Bener juga ya.) Beat-nya edun. Saya senang dengan beat dari drums dan bass-nya. Tentunya permainan keyboard, gitar, alat tiup, perkusi, vokal, juga sama serunya.

Bagi saya, munculnya Discus ini merupakan bahan pelajaran bagi anak saya. Dia bisa melihat musik progrock live dengan pemain-pemain yang mantap. Semuanya hebat mainnya. Bahkan Iwan Hasan nyanyi dengan terguling-guling (mau seperti Gabriel? hi hi hi) membuat anak saya tertawa. Saya juga senang sekali. Two thumbs up.

Untung sekali ada Discus sehingga saya puas sekali. Nggak rugi pergi ke acara ini. (Maklum saya kan senengnya progrock, hi hi hi.)

Oh ya, saya mengambil banyak foto. Baru sebagian saya upload di sini:
http://picasaweb.google.com/bungbr/DiscusBluesFestival. Link internet lambat, jadi baru setegahnya yang berhasil saya upload.


Blues Festival (part 1)

Anak saya mengajak saya menonton Jakarta International Blues Festival. Kebetulan waktu dan acaranya berdekatan dengan tempat saya memberikan presentasi. Saya memberikan presentasi jam 10 pagi di Balai Sidang Jakarta (Jakarta Convention Center), sementara acara Blues Festival itu di Istora Senayan mulai dari jam 12:30 siang. Pas banget. Jadi saya setuju.

Setelah acara presentasi saya selesai (plus makan siang dan shalat juga sudah selesai) maka kami pergi berjalan kaki menuju ke tempat acara. Masalahnya parkir mobil tadinya dekat JCC. Pagi hari tadi sepi, tapi pas siang sudah penuh sesak dengan mobil. Lebih mudah jalan.

Masuk ke tempat acara ternyata masih sepi. (Nantinya kami baru tahu bahwa band-band yang bagus mainnya baru malam hari.) Langsung kami menuju ke stage hitam (black stage), satu-satunya yang ada musiknya. Di sana sudah main satu band yang kami tidak tahu.

Penonton tidak banyak. Apalagi ini siang hari dan berpanas-panasan di luar. Yah lumayanlah untuk pemanasan ya. Sudah panas, masih dipanasin lagi.

Lama kelamaan penonton berkurang (berteduh?). Kami sendiri jalan-jalan melihat setup stand lain. Ternyata ada empat stand.

Setelah band itu selesai bermain, disambung lagi dengan band lain yang lagi-lagi kami tidak tahu namanya. Mereka berdandan hitam dan lebih berkesan metal dibandingkan blues.

Gitaris solonya memainkan gitar dengan melengking-lengking. Yah lumayanlah.

Kami perhatikan ternyata penotonnya berpindah ke stage merah. Kami juga bergeser ke sana. Ternyata di sana sudah bermain band “Bad Boys” dari Bandung. Saya tahu ini karena kebetulan kakaknya temennya anak saya (nah lho mbulet) bermain di band itu. Lucunya ternyata saya kenal juga dengan bapaknya, yang dosen Unpad. Kami akhrinya berkumpul di stage merah.

Bandnya lumayan juga, yaitu ada brass section-nya. Yang menarik bagi saya adalah permainan pemain basnya. Asyik. [Silahkan klik gambar di bawah ini untuk melihat ukuran yang lebih besar.]

[bersambung ke bagian selanjutnya]


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.