Tadi pagi saya ikut bagian dari acara Ganesha Film Festival. Saya ikut diskusi di Focus Group Discussion. Sebetulnya saya diminta untuk memberikan opini tentang teknologi yang terkait dengan produksi film, tetapi diskusi mengarah ke hal-hal lain seperti distribusi.
Saya jadi ingat “topi” saya yang lain, yaitu yang terkait dengan penjualan atau distribusi musik digital. Saya pikir topik ini lebih relevan dengan yang datang, yaitu para pembuat film indie.
Ceritanya panjang, tetapi saya buat rangkumannya saja ya.
Yang pertama, saya mengajak pala pembuat film ini untuk memperhatikan masa depan distribusi film yang bernuansa teknologi. Semestinya kita bisa belajar dari kesalahan dan benarnya kita dalam mendistribusikan musik dalam bentuk digital. Jangan terpaku dengan bioskop sebagai outlet. Masih banyak outlet lain seperti youtube
Dunianya sekarang sudah bukan dunia MTV lagi tetapi sudah dunia YouTube.
Yang kedua adalah untuk mestikan keinginan diri kita sendiri. Apakah kita ingin menghasilkan karya yang merupakan bagian dari industri atau kita ingin lebih mengutamakan aspek seninya. (Biarlah saya menggunakan dikotomi ini.) Apa yang diinginkan? Popularitas? Uang (sebagai pengganti ongkos produksi)? Atau lebih ke aspek penyampaian pesan? Budaya? Perbedaan ini akan menentukan strategi.
Yang ketiga, pasti akan ada kebutuhan peralatan (teknologi) yang terkait dengan pembuatan film. Ya, peralatan ini memang dibutuhkan. Ada yang murah dan ada yang mahal, tetapi saya tidak ingin agar mereka menjadi cengeng dan berkeluh kesah dengan harus bayar ini dan itu untuk menyewa peralatan. Ada banyak jalan yang harus ditempuh. Misalnya shared resources, ajak-ajak orang (kelompok) yang suka teknologi untuk menggeluti teknologi film. Di luar negeri juga begitu
Yang keempat, … selamat berkreasi. Produktif!

