Archive Bulanan: Februari 2010

Distribusi Produk Digital

Tadi pagi saya ikut bagian dari acara Ganesha Film Festival. Saya ikut diskusi di Focus Group Discussion. Sebetulnya saya diminta untuk memberikan opini tentang teknologi yang terkait dengan produksi film, tetapi diskusi mengarah ke hal-hal lain seperti distribusi.

Saya jadi ingat “topi” saya yang lain, yaitu yang terkait dengan penjualan atau distribusi musik digital. Saya pikir topik ini lebih relevan dengan yang datang, yaitu para pembuat film indie.

Ceritanya panjang, tetapi saya buat rangkumannya saja ya.

Yang pertama, saya mengajak pala pembuat film ini untuk memperhatikan masa depan distribusi film yang bernuansa teknologi. Semestinya kita bisa belajar dari kesalahan dan benarnya kita dalam mendistribusikan musik dalam bentuk digital. Jangan terpaku dengan bioskop sebagai outlet. Masih banyak outlet lain seperti youtube :) Dunianya sekarang sudah bukan dunia MTV lagi tetapi sudah dunia YouTube.

Yang kedua adalah untuk mestikan keinginan diri kita sendiri. Apakah kita ingin menghasilkan karya yang merupakan bagian dari industri atau kita ingin lebih mengutamakan aspek seninya. (Biarlah saya menggunakan dikotomi ini.) Apa yang diinginkan? Popularitas? Uang (sebagai pengganti ongkos produksi)? Atau lebih ke aspek penyampaian pesan? Budaya? Perbedaan ini akan menentukan strategi.

Yang ketiga, pasti akan ada kebutuhan peralatan (teknologi) yang  terkait dengan pembuatan film. Ya, peralatan ini memang dibutuhkan. Ada yang murah dan ada yang mahal, tetapi saya tidak ingin agar mereka menjadi cengeng dan berkeluh kesah dengan harus bayar ini dan itu untuk menyewa peralatan. Ada banyak jalan yang harus ditempuh. Misalnya shared resources, ajak-ajak orang (kelompok) yang suka teknologi untuk menggeluti teknologi film. Di luar negeri juga begitu :)

Yang keempat, … selamat berkreasi. Produktif!


Reuni

Kemarin pagi saya reunian dengan temen-temen SD. Sudah lebih dari 30 tahun kami tidak berjumpa. Kami ketemu di Black Canyon Coffee, PvJ, Bandung. Oh ya, SD-nya adalah SD Moestopo yang dulunya di jl. Dago, Bandung.

Yang datang tidak banyak, 9 orang. Satu angkatan kami memang hanya 25 orang (atau 21 orang?). Kemarin targetnya sih 10 orang tetapi ternyata ada beberapa yang nyangkut di kerjaan (dan ada yang gak ada kabar padahal sudah janji mau datang).

Senang juga ketemu teman lama yang Alhamdulillah sehat-sehat dan baik-abik. Ternyata didikan disiplin paman Profesor (Moestopo) cukup ampuh.


Social Engineering Butuh Waktu

Sedang memeriksa tugas mahasiswa yang terkait dengan social engineering. Tugasnya yaitu mencari sebuah informasi yang dianggap privat (tetapi tidak terlalu rahasia).

Ternyata upaya melakukan social engineering membutuhkan kesabaran dan waktu. Bagi yang tidak sabar dan terburu-buru, hasilnya kemungkinan besar adalah gagal atau tidak berhasil. Hampir semua tidak berhasil mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Tidak mengapa.

Yang saya perhatikan dari tugas ini bukan hasilnya tetapi ide dan proses yang dilakukan oleh mahasiswa. Menarik. Banyak pelajaran yang dapat diperoleh dari sana.


Various objects @ home


Seminar Next eBanking Security

Hari Kamis lalu, saya terpaksa tidak memberikan kuliah karena sudah berjanji mengisi acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa di Institut Teknologi Telkom. Apa boleh buat. Kuliah nanti harus ganti kelas, tapi tidak apa-apa toh di sini saya juga mengajar mahasiswa (beda kampus saja :) )

Topik yang didiskusikan pada acara ini adalah the Next eBanking Security. Isinya adalah sedikit tentang dasar security dan kemudian saya bercerita tentang permasalahan security ke depan, yaitu akan lebih banyak ke arah application and database security.

Acara dibuka jam 10 oleh pak Yudha Purwanto.

Setelah dibuka, ada home band segala.

Setelah itu pembicara diundang naik ke panggung. Beginilah pandangan dari panggung.

Materi presentasi saya permak dulu ya sebelum saya upload ke slideshare. (Nanti kalau sudah saya upload akan saya buatkan tautannya di sini.)


Mau?


Good Morning …

Selamat pagi …


Masalah Backup

Baru saja saya mau membackup Macbook saya via Time Machine. Ternyata gagal karena dia membutuhkan 100-an GB, sementara hardisk eksternal saya hanya kosong 40 GB. Hadoh :(

Kemudian di komputer desktop saya hardisknya juga sudah menipis (yang kosong tinggal 1 GB – lebih kecil dari flashdisk :) ) Nampaknya file-file yang jarang saya pakai akan saya simpan di eksternal disk (1 TB – yang tinggal sisa 100GB) dan yang terpasang di komputer akan saya hapus. Artinya, saya tidak punya backup. Berkas tersebut hanya ada satu buah di eksternal disk yang seharusnya jadi backup. Jadi, ini backup yang sebetulnya bukan backup (tetapi operasional). Hadoh lagi.

Nampaknya harus beli disk eksternal lagi …


Twitter Lebih Satu Arah

Entah kenapa saya merasa lebih ringan dalam menuliskan apa yang di kepala (unek-unek gak penting) di twitter. Saya merasa bahwa twitter lebih satu arah dibandingkan dengan facebook sehingga saya tidak dibanjiri dengan komentar :) Meskipun di twitter bisa juga kita memberikan komentar (dengan Reply) tetapi dia tidak didesain untuk diskusi. Jadinya, saya merasa lebih lepas dalam melemparkan sebuah celetukan.

[... belum selesai ...]


Susah Banget Sih …

Susah banget sih mau posting. Masalahnya adalah waktu yang tidak pas.

Ini … nekad posting di atas panggung :) hi h hi. Pas menunggu giliran presentasi, sambil mendengarkan presentasi, saya online saja. Multi tasking. Salah satunya adalah menuliskan posting ini.

Ya gak bisa serius banget karena berubah konteks dengan cepat. (Fast switching context.) Dari menyimak ke menulis harus dalam orde milidetik. hi hi hi.


Phew …

Hari ini cukup melelahkan juga. Kegiatan pagi ini resminya dimulai dengan mengajar jam 7 pagi. Artinya saya harus berangkat dari rumah jam 6 pagi dan persiapan tentunya lebih pagi lagi. Sebetulnya pagi tidak mengapa sih karena saya juga sudah terbiasa bangun pagi. Hanya saja tadi malam saya pulang sudah larut malam karena ada latihan band dulu :) Pagi jadi terasa masih cape.

Untuk kelas pagi ini saya bawa speakers dari rumah. Karena terburu-buru, speakers tidak sempat saya masukkan ke dalam tas travelling. Sayang saya tidak punya perangkat speakers yang portable yang bisa saya bawa-bawa untuk mengajar. Yang saya maksud dengan portable itu sudah  termasuk kotak untuk membawanya sehingga tidak pagujud (istilah sunda).

Saya lupa memotret konfigurasi perangkat mengajar saya :)

Siangnya saya juga mengajar kuliah lagi. Pokoknya seharian ini urusannya adalah urusan ajar mengajar.

Nah, sekarang urusan cape :) … Mesti baca dokumen untuk meeting besok. Mana hari Kamis harus memberikan presentasi (lagi! that’s the story of my life – from presentations to presentations). Materinya? Tentu saja belum dibuat. Karena besok meeting dan latihan band (dengan band satunya lagi), maka malam ini materi presentasi harus selesai. Duh.

Bentar … tarik nafas dulu sebelum mulai bekerja lagi.


Pemahaman Tentang Email

Ternyata masih banyak yang belum paham tentang email. Suatu saat saya ditanya alamat email, kemudian saya sebutkan alamat email saya. Yang nanya kemudian bertanya kembali, “huruf kecil semua, pak?” Hadoh.

Sebetulnya dia tidak terlalu salah menanyakan hal tersebut. Sekarang saya ganti pertanyaannya: “apakah alamat email itu case sensitive?”

Secara RFC (2821?), bagian lokal dari alamat email adalah case sensitive. Sementara bagian dari domain adalah case insensitive. Namun, untuk menjaga inteoperability maka umumnya implementasi dari sistem email adalah case insensitive. Jadi, bisa dikatakan bahwa pada kenyataannya alamat email tidak bergantung kepada huruf besar atau kecilnya. Sepakat? (Jadi jangan tanya apakah emailnya huruf kecil atau huruf besar. hi hi hi.)

Pertanyaan selanjutnya. Di bawah ini, mana yang merupakan alamat email yang buruk (bad email address):

  1. my_email@alamat.co.id
  2. 123.456@alamat.co.id
  3. my email@alamat.co.id
  4. MYEMAIL@alamat.co.id
  5. My_Email@alamat.co.id

Blog Alat Ukur Kesibukan

Melihat statistik blog ini, saya bisa menyimpulkan (atau masih dalam tahap hipotesa?) bahwa ketika grafiknya menurun atau sedikit orang yang akses artinya saya sibuk. Ketika saya sibuk, saya tidak bisa menuliskan artikel di blog ini. Jika tidak ada artikel baru, orang menjadi berkurang yang datang.

sibuk > tidak nulis blog > berkurang pengunjung > statistik akses rendah

Entah teorinya apa, tapi faktanya seperti itu. hi hi hi.

Ada lagi ciri yang lain. Ketika saya sedang sibuk, tulisannya singkat-singkat atau hanya foto saja. Ini juga sebetulnya bergantung kepada kecepatan akses internet yang saya miliki pada saat itu. Tapi rasanya faktor yang paling mempengaruhi memang kesibukan.

Bagaimana dengan Anda? Apakah polanya sama?


Kusut

Beginilah situasi meja kerja. Gak tahu apakah perlu dibereskan dulu baru kerja? Aaahhh gak usah. Biarin aja seperti itu. hi hi hi.


It’s Sunday

Yeah, yeah, yeah …

Take a break … (I wish …)

Done re-wiring LAN because my ISP went down.
Their wireless access point was hit by lightning and it  takes 1 day to fix it. Which means no internet access from that ISP. Luckily we have another ISP (speedy). So, I had to rewire the LAN so that I have access internet through speedy. Minor things, but must be done.

Joggin’ and takin’ care of cars.

Helped kid installed Ubuntu on his desktop. (Still don’t know how to activate compiz :) Will do that later.)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.