Archive Bulanan: Februari 2010

Komitmen Menulis

Terus terang saat ini saya sedang buru-buru menulis. Saya punya komitmen untuk menulis setiap hari. Beberapa hari yang lalu saya langgar komitmen ini dengan tidak menulis. Nah, hari ini juga demikian.

Alasannya yang saya pakai bisa dibilang klasik, yaitu tidak sempat. hi hi hi. Tapi, alasan saya ini bukan mengada-ada. Bayangkan, saya sudah terbangun dari jam 3:30 pagi dan terus up sampai sekarang, 23:40 malam. Dua puluh menit lagi ada hari lewat tanpa posting :) Jadi saya harus posting dulu. Cerita tentang kesibukan akan menyusul.

Tadi sempat mengantuk ketika sedang berlangsung meeting. Setelah dihajar dengan secangkir kopi, mata bisa terbuka. Bahkan sekarang saya jadi tidak ngantuk. Wah gawat. Besok harus bangun pagi lagi. Tidur ah … mosok mau gak tidur 24 jam! Hadoh.


Di balik itu semua …

Di tengah-tengah kesibukan kemarin, saya sempat diskusi dengan Johar dan Aie tentang berbagai hal; tentang perkembangan internet di Indonesia, tentang (current and upcoming) data center mereka yang bakalan lucu (tunggu beritanya deh …), tentang akan adanya tempat manggung bagi saya di dunia nyata dan cyber (700 m2 dan high speed internet) di mana saya bisa ngoceh apa saja atau main musik, tentang hal-hal lain yang off the record. hi hi hi. Pokoknya dunia internet di Indonesia itu seru. (Atau orangnya yang gila-gila ya?)

Kalau udah ngerumpi seperti ini ingin cerita ke banyak orang tapi belum bisa atau gak bisa. Soalnya nanti banyak orang yang tersinggung. Soalnya ada orang ketahuan ngaconya, misalnya. Atau ada produk / layanan yang akan diluncurkan (yang mana harus nunggu pres rilis dulu).

ternyata di balik itu semua …


Hyundai i10

Kemarin saya mengendarai mobil Hyundai i10 bolak balik Jakarta Bandung. Mobil i10 ini termasuk kecil ukurannya. Jadi, pada awalnya saya khawatir mobil ini akan melayang atau kurang nyaman dikendarai di jalan tol. Ternyata … mantap.

Di jalan tol mobil stabil dan tidak melayang. Kalau istilahnya dalam bahasa Sunda adalah “nagen“.

Kecepatan bisa tinggi juga. Saya hanya mencoba sampai 130-an dengan rata-rata 100 km/jam. Sebetulnya bisa lebih cepat tetapi tidak saya coba saja. Hanya saja akselerasinya memang tidak begitu hebat. Maklum, ini kan seharusnya menjadi city car saja.

Begitu ceritanya … [karena sibuk sekali kemarin, saya tidak sempat menuliskan berbagai hal yang menarik. Next time.]


Telekonferensi dan RUPS

Tadi pagi saya menjadi oponen sidang S3 seorang mahasiswa Fakultas Hukum Unpad. Topik yang dibahas adalah seputar status hukum dari penggunaan telekonferensi dan RUPS untuk pemegang saham yang berada di luar Indonesia. Ada banyak hal yang bisa diuraikan di sini, tapi terus terang saya sedang diburu-buru oleh banyak kerjaan (khususnya memeriksa tugas mahasiswa) sehingga belum sempat menuliskan berbagai aspek dari ini. Yang utama adalah seperti ini.

Telekonferensi dapat digunakan dalam RUPS. Hanya ada masalah interpretasi. Saat ini pemahaman yang ada adalah meskipun pesertanya boleh menggunakan telekonferensi, tetapi dia masih harus berada di Indonesia. Jadi masih sangat terpasung.

Ada penafsiran lain bahwa yang penting adalah lokasi dari RUPS berada di tempat perusahaan terdaftar atau tempat bursa di mana perusahaan terdaftar (untuk perusahaan terbuka). Peserta yang menggunakan telekonferensi dapat berada di mana saja, termasuk di luar Indonesia.

Seru juga ya.


Data Mengenai Penetrasi Broadband di Indonesia

Baru saja saya selesai mengikuti sebuah diskusi internal tentang kajian yang terkait dengan layanan broadband di Indonesia, misalnya mengenai bisnis yang terkait dengannya. Salah satu pertanyaan yang mengganjal bagi saya adalah data mengenai penetrasi broadband di Indonesia. Siapa yang punya data ini ya?

Kemungkinan data ini ada di penyedia layanan broadband, seperti Tekom (speedy) dan ISP lainnya, atau operator 3G ya? Ada yang punya? Bagi dong.


Tanpa Digital Rights Management

Membaca cerita di URL ini diceritakan opini dari Steve Jobs yang mana dia tidak setuju dengan penggunaan Digital Rights Management (DRM) untuk memproteksi lagu. Itulah pegangan yang diambil Apple dalam mengembangkan dan menjalankan iTunes.

Kalau mau gagah-gagahan, sebetulnya sebelum Steve Jobs, saya sudah mengatakan hal yang sama. Ketika kami memulai Digital Beat Store (sekitar tahun 2006), salah satu hal yang harus kami putuskan adalah sikap terhadap DRM. Saya katakan bahwa penggunaan DRM tidak cocok. Banyak pihak, misalnya label, yang mempertanyakan hal ini. Saya coba jelaskan panjang lebar tetapi nampaknya saya masih belum lugas dalam menjelaskannya.

Fast forward. Tahun 2010. Minggu lalu saya diwawancari oleh mas Wendi dari majalah Rolling Stone tentang musik digital. Salah satu pertanyaannya adalah mengenai DRM ini. Saya katakan bahwa penggunaan DRM tidak manfaat bagi para artis. (Mungkin nanti mas Wendi yang akan menuliskannya. Kita tunggu saja. Kalau gak ada, ya nanti saya yang akan menuliskan.)

Let’s move on. Kok masih stuck dengan urusan DRM sih?


Atensi Dalam Rapat

Berapa lama atensi kita dapat bertahan dalam sebuah rapat?

Ini pertanyaan yang menarik bagi saya karena rapat yang saya ikuti sering berlangsung sangat lama. Saya tidak suka rapat yang bertele-tele dan muter-muter, tetapi ada kalanya memang rapat membutuhkan waktu yang lama.

Seperti rapat yang baru kami selesaikan, waktu yang digunakannya cukup lama. Kalau ditotal-total bisa mencapai 12 jam! Tentu saja ini diselingi dengan istirahat, sholat, dan makan. Bahkan pemain atau peserta rapatnya juga berganti (meskipun ada yang tetap).

Yang menarik bagi saya adalah bagaimana membuat kita tetap bisa bersemangat dan fokus dalam rapat ini. Ketika rasa kantuk menyerang (tadi), langsung saya hajar dengan kopi. hi hi hi. (Akibatnya sekarang jadi tidak ngantuk meskipun waktu hampir mendekati jam 12 malam.)

Meskipun kopi bisa membantu, tapi dibutuhkan kemampuan lain untuk menjaga atensi. Bisa saja kopi membuat kita tidak ngantuk tetapi pikiran melayang kemana-mana, kita tidak bisa fokus. Kalau itu yang terjadi, ya percuma saja minum kopi.

Kayaknya kondisi saya sih lumayanlah, tapi ada yang sudah tidak bisa fokus di akhir pertemuan. hi hi hi. Perlu belajar meningkatkan stamina untuk mengikuti rapat.


Antara Teaching dan Research University

Di tulisan terdahulu saya menyampaikan polling apakah sebaiknya ITB menjadi research university atau tetap sebagai teching university. Ada yang bertanya, apa bedanya?

Begini. Idealnya sih bisa dua-duanya tetapi pada kenyataannya tidak bisa. Jika kita ingin sebagai teaching university, maka kita perbanyak mahasiswa S1. Waktu dosen-dosen kita habiskan untuk mengajarkan mata kuliah dasar. Produk akhirnya adalah mahasiswa.

Sementara itu jika kita ingin mengarah kepada research university maka akan kita perbanyak S2 dan S3. Produk utamanya adalah penelitian. Dosen masih juga mengajar S1, S3, dan S3 tetapi ada porsi waktu yang lebih besar ke penelitian.

ITB seperti apa? Nah, saat ini ada dosen yang harus mengajar lebih dari 12 SKS. Artinya dia harus mengajar lebih dari 3 kelas. Bahkan ada yang setiap hari mengajar! Mana sempat dia melakukan penelitian. Mengajar membutuhkan persiapan (sebelum mengajar), komitmen mengajar, menilai, memberikan ujian. Memangnya mengajar tidak butuh waktu?

Begitulah mengapa pusing memilih antara teaching dan research university.


Perlukah ITB Menjadi Research University?


(Bau) Masakan

Setelah mendapatkan bau masakan di shalat Jum’at, sekarang saya (dan mahasiswa saya) kebagian berkah bau masakan lagi. Kuliah saya yang jam 11 (berakhir jam 12), tepat di samping kantin. Jadi pas mengajar … tercium bau masakan. Hadoh!

Wah, saya harus berjuang keras agar mahasiswa bisa berkonsentrasi kepada kuliah bukan memikirkan perut yang keroncongan. Untung kuliah ini hanya satu jam sehingga masih memungkinkan untuk bertahan. Gak kebayang kalau kuliahnya dua jam … dan melewati makan siang pula! Dosen dan murid sama-sama pusing melawan bau masakan.

Hmm…. sedaaap … Hus … kembali ke materi kuliah ah


Soal SDM

Di sebuah milis didiskusikan mengenai kesulitan untuk mendapatkan SDM (sumber daya manusia) yang bagus. Banyaknya sekolahan dan perguruan tinggi ternyata tidak menjamin kita dapat memperoleh SDM yang bagus. Duh…

Dengan sangat menyesal saya bisa mengkonfirmasi kondisi ini, susah mendapatkan SDM yang bagus.

Kenapa ya?


Kata-kata

Berikut ini adalah kata-kata yang ada di kepala saya. Campur aduk.

merah, putih, cokelat, ngantuk, dokumen, baca, tulis, buku, kurikulum, peta, batre, UPS, adaptor, LED, devices, electronics, security, ethics, joke, SDM, pusing, musik, band, organisasi, …


Mail-Based Archive Server

Di kelas, saya menugaskan mahasiswa untuk memiliki blog. Tugas-tugas harus dituliskan di blog. Nanti saya tinggal blogwalking ke blog-blog tersebut. Masalahnya adalah bagaimana mengumpulkan daftar blog mahasiswa tersebut?

Dahulu saya mengedarkan kertas dimana mahasiswa menuliskan URL mereka di kertas tersebut. Sayangnya ada banyak yang tulisan tangannya tidak terbaca. Akibatnya banyak yang salah. Selain itu, bagi saya mengetikkan tulisan tersebut ke sebuah daftar membutuhkan waktu yang cukup lama.

Solusi yang saya ambil saat ini adalah mahasiswa saya minta untuk mengirimkan alamat (URL) blog mereka ke email. Saya minta mereka mengirimkan email dengan Subyek: KODE-NOMOR-KULIAH. Di dalam (body) email, saya meminta mereka menuliskan datanya dengan format berikut:

NIM, Nama Mahasiswa, URL

Nanti tinggal saya simpan semuanya dalam sebuah berkas teks. Kemudian berkas teks tersebut bisa saya baca (import) ke program spreadsheet.

Sementara ini proses ini masih ok meskipun masih melelahkan. Bayangkan, kelas saya pesertanya lebih dari 80 orang. Jadi, saya harus membuka 80 email dan melakukan copy-and-paste sebanyak itu. Tak apa lah. Masih bisa tertangani.

Sebetulnya saya terpikir untuk membuat sebuah program yang menerima (membaca) email dan kemudian melakukan pemroses (parsing) terhada body email.  Dalam kasus di atas, program langsung dapat memilah isinya kemudian menambahkan isinya tersebut ke dalam sebuah berkas. Kalau perlu, program juga membuat email balasan kepada pengirim (mahasiswa) bahwa email sudah diterima dan sudah diproses.

Dahulu sekali … mungkin di tahun 1988, saya pernah membuat program seperti ini yang dikenal dengan istilah mail-based archive server (MBAS). Program tersebut saya beri nama bserver. Maklum agak narsis namanya. hi hi hi.

Program bserver saya membaca email dan mengirimkan berkas yang diminta oleh pengirim email. Maklum jaman dulu itu internet sangat lambat. Jadi download program dilakukan melalui email :)

Ah … nanti aja ah. Sekarang belum sempat ngoprek lagi.


Lupa …

Tadi ada perasaan mau menuliskan sesuatu. “Add New Post” sudah dibuka tetapi tidak sempat menulis karena terpotong ini dan itu dan shalat Maghrib. Setelah selesai shalat, lihat monitor … terus jadi mikir, tadi mau nulis apa ya? Lupa. he he he.

[setelah buka email ...]

aha teringat! mau ditulis sebentar lagi …


Perpanjang Keanggotaan IEEE

Setelah terlupa cukup lama, lebih dari 1 bulan, akhirnya saya berhasil memperpanjang keanggotaan IEEE saya. Tadi pagi ada email dari mereka yang menyatakan bahwa keanggotaan saya sudah past due. Langsung cepat-cepat saya perpanjang. Mumpung ingat.

Saya suka dan bangga dengan keanggotaan saya di IEEE. Bacaan (majalah dan journal) dari mereka bagus-bagus. Apa lagi di dunia akademik journal mereka termasuk yang kelas papan atas. Pokoknya bisa dibilang elit lah. Sayangnya di Indonesia keanggotaan IEEE masih belum banyak.

Mudah-mudahan keterlambatan ini tidak mengganggu pengiriman majalah merkea. Biasanya sih mereka masih kirim majalah meskipun keanggotaan saya sudah habis :)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.