Baru saja ujian online kelas saya selesai. Di tulisan terdahulu saya mengatakan bahwa UTS kelas security saya akan dilakukan secara online dengan menggunakan sistem moodle, yang dikenal dengan nama blended learning.
Berikut ini catatan beberapa hal yang kami alami.
Yang pertama, karena jumlah mahasiswa saya sangat besar (110 orang) maka kelas harus dipecah di tiga (3) lab komputer. Repotnya lab komputernya terpecah di dua lantai. Jadi, ketika awal-awal mulai UTS saya harus melakukan kordinasi di ketiga lab tersebut. Artinya saya harus naik turun tangga berkali-kali! Pegel linu rek.
Mungkin di kemudian hari peserta ujian tidak harus secara fisik berada di ruang yang sama. Selama mereka bisa mengakses situs ujian seharusnya sudah cukup. Masalahnya memang daftar hadir masih harus diisi secara manual. (Kapan daftar hadir online bisa dianggap sebagai hal yang resmi ya?)
Yang kedua, dan yang paling penting, ternyata server yang digunakan untuk ujian tidak sanggup melayani jumlah mahasiswa yang banyak. Belum apa-apa, baru mahasiswa login, server sudah terkapar. Nampaknya web servernya yang tewas. (Mungkin Arif bisa komentar lebih banyak soal ini?) Selain web servernya (apache), databasenya juga sempat kacau. (Error message di layar menunjukkan bahwa databasenya bermasalah.)
Selama proses ujian server berkali-kali tidak dapat diakses. (Berkali-kali ini maksudnya banyaaakkk … mungkin belasan kali?) Untungnya dari awal sudah saya tekankan bahwa ini adalah eksperimen dan mahasiswa nampaknya juga sedang dalam mood untuk coba-coba. Kalau tidak demikian, pasti mahasiswa sudah bete menunggu server up kembali. Pas mau submit jawaban, server tidak bisa diakses! Hadoh.
Jadi, ujian yang seharusnya bisa dilaksanakan hanya belasan menit (atau maksimal 30 menit) menjadi lebih dari 1 jam. Ini harus diperhitungkan ketika kita memberikan ujian online.
Kapasitas jaringan tidak menjadi masalah di kampus ini karena backbone kami sudah menggunakan fiber optic. Namun faktor jaringan harus diperhatikan jika mahasiswa diperkenankan akses melalui jarak jauh. Tadi pagi, sebelum ujian dimulai, saya ingin melakukan update terhadap soal tetapi tidak bisa mengakses server dari rumah. Server bisa diakses tetapi lamaaa sekali. Satu tampilan mungkin membutuhkan waktu lebih dari 5 menit. Ini akan menjadi masalah kalau ujian benar-benar dilakukan secara jarak jauh.
Berikutnya adalah urusan ujiannya itu sendiri. Tadinya ujian mau saya batasi hanya boleh dilakukan satu kali. Ada setingan untuk mengubah “attempt” untuk ujian. Nah, kalau saya batasi hanya satu kali dan kemudian server loyo (sehingga koneksi terputus dan mahasiswa harus mengulangi kembali), maka mampuslah mahasiswa karena dia tidak bisa mengulang ujian. Untungnya saya set attempt boleh dilakukan tanpa batas (unlimited).
Diijinkannya mahasiswa untuk mencoba mengulangi ujian ternyata membawa dampak. Setelah mereka mencoba yang pertama, maka akan ada hasil (nilai) secara langsung. Mahasiswa kemudian bisa mengulang dan diberitahu mana jawaban yang salah sehingga mereka bisa melakukan koreksi. Memang ada setingan agar nilai atau tanda mana yang salah dan benar tidak ditampilkan sehingga ketika mereka mencoba kembali mereka masih harus memikirkan jawaban mereka.
Untuk kasus ujian, idelanya mereka hanya boleh mencoba satu kali. [Bravo untuk Anda yang hanya mencoba satu kali.] Untuk belajar (mungkin quiz) mereka memang diperkenankan untuk mencoba berkali-kali dan diberitahu mana yang salah sehingga mereka bisa mengetahui jawaban yang benarnya. Mereka menjadi belajar. Bukankah itu tujuannya?
Diperkenankannya mencoba ujian beberapa kali merepotkan penilaian. Sementara ini memang saya mengambil nilai yang paling besar saja. Mungkin di kemudian hari, jika masih diperkenankan lebih dari satu kali, harus dicari algoritma penilaian yang lebih baik.
Ujian ini semestinya adalah ujian tertutup. Mereka hanya diperkenankan akses ke situs blended learning. Masalahnya, saya tidak membatasi mereka secara teknis. Kalau mau, bisa saja mereka menggunakan Google untuk mencari jawabannya. Namun ada masalah lain, yaitu bahan kuliah saya juga tersedia di situs blended learning. Artinya mereka bisa juga melihat materi kuliah secara online. Yang ini lebih susah dibatasi lagi karena hostnya sama dengan host tempat ujiannya
Ya semuanya memang berpulang kepada mahasiswanya. Saya senang banyak mahasiswa saya yang masih punya idealisme. Ini harus tetap dipupuk dan juga didukung.
Yang terakhir dan yang sangat spesifik ke sistem yang kami gunakan (dan situasi yang dihadapi) adalah soal setingan ujian (quiz). Mahasiswa bisa melakukan “submit” untuk setiap jawaban yang sudah dipilih, tetapi kalau ini dilakukan maka proses submit akan menghubungkan browser ke web server dan kemudian melangkah ke pertanyaan berikutnya. Masalahnya, ini akan membebani server. Jadi saya menyarankan kepada mahasiswa untuk menjawab soal semua baru submit sekalian satu halaman sekaligus. (Ini pun masih bermasalah dengan beban server. hi hi hi.)
Demikian pengalaman ujian online yang baru saja kami lalui. Secara umum masih ada banyak kendala untuk melakukan ujian online. Nampaknya saya masih harus memberikan UTS/quiz tambahan
Mungkin konvensional saja? booo… Ah pakai versi online lagi saja ah.