Beberapa tahun yang lalu ada perdebatan apakah perlu kampus membeli lisensi produk Microsoft. (Maaf, terpaksa menyebut nama. Biar jelas dan gak muter-muter.) Situasinya seperti ini. Banyak mahasiswa yang menggunakan sistem operasi Microsoft Windows dan menggunakan Microsoft Office untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Tentu saja yang namanya mahasiswa budgetnya terbatas. Walhasil, jarang yang membeli produk asli.
Kemudian produk free software dan open source mulai muncul. Ada sebagian civitas kampus yang mulai menggunakan freeBSD dan Linux sebagai basis dari sistem operasi komputernya. OpenOffice menjadi pilihan untuk melakukan wordprocessing dan presentasi. Namun, sebagian besar masih tetap menggunakan produk Microsoft seperti sebelumnya. Tentu saja tetap dengan bukan produk aslinya. He he he. Perubahan tidak bisa terjadi dengan cepat, kecuali revolusi kali ya?
Bagaimana menyikapi hal ini? Akan sulit juga bagi mahasiswa, dosen, peneliti di kampus untuk mendaftarkan karya mereka sebagai bagian dari intellectual property jika tools yang digunakan untuk menghasilkannya melanggar intellectual property ☺. Masih ingat cerita saya tentang hukum karma bajakan? He he he.
Untuk meminta semua membeli produk asli pada waktu itu nampaknya belum memungkinkan. Salah satu solusi yang bisa diambil adalah mengambil campus agreement, yaitu kampus yang membeli lisensinya untuk civitasnya. Civitas kemudian dapat menggunakan produk berlisensi ini untuk keperluan tugas-tugas di kampus secara legal.
Ternyata pendekatan ini mendapat banyak tantangan karena banyak yang menduga-duga. Misalnya ada tuduhan bahwa kampus tidak pro open source, atau mencekoki mahasiswa dengan satu produk tertentu, dan sejenisnya. Menurut saya apa yang diberikan oleh campus agreement adalah pilihan (choice). Civitas dapat memilih platform dan produk yang dia sukai tanpa perlu melanggar hukum. Mau meggunakan free software dan open source bisa. Mau menggunakan produk 100% original juga bisa. Kesemuanya legal.
Sekarang saya tidak takut membawa MacBook saya kemana-mana karena Office yang saya gunakan – Microsoft Office dan OpenOffice – legal. (Ada stiker di MacBook saya yang menunjukkan lisensi ini. Foto menyusul.)
Bagaimana dengan Anda?


Desember 6th, 2010 at 11:16 am
Mengapa M$ Indonesia tidak buat aturan yg sama dengan negara tetangganya, mis. Singapura.
Di sini asalkan dapat menunjukkan kartu pelajar/mhs, ya pasti dapat produk2 tsb dgn harga khusus.
Lagi2 apa kartu pelajar itu bisa disahkan keasliannya, dpt dicek online alias satu orang hanya punya satu, itu urusan berbeda ya pak
Desember 6th, 2010 at 11:50 am
bukannya disini sudah dijual juga khusus untuk microsoft office student… 800 ribu untuk 3 komputer….. lumayan murah juga untuk paket office… CMIIW….
Desember 6th, 2010 at 12:18 pm
Berbicara tentang bajak-membajak, saya jadi teringat pernah diminta untuk menginstalkan OS di kantor polisi di kampung saya. Ya…tentu saja yang saya pakai untuk menginstal komputer disitu adalah software bajakan ha ha ha. Tapi para polisi disitu oke-oke saja asal komputernya bisa jalan. Saya tidak tahu, apakah mereka sudah tahu tentang Undang-undang Hak Cipta ataukah memang mereka tidak mengerti komputer sama sekali. Tapi dugaan saya yang kedua, yaitu mereka tidak tahu komputer sama sekali. “Ah…peduli amat sama microsoft, mereka nggak pernah perduli dengan polisi di daerah-daerah yg jauh dari kota”pikir saya saat itu. Lah…kalo saya pakai open source apa polisinya nggak tambah mumet ha ha ha.Jadi, untuk situasi tertentu bolehlah menggunakan produk bajakan asal tidak ditujukan untuk keperluan komersil. Bagaimana Pak Budi?
Desember 6th, 2010 at 12:25 pm
Edisi student sudah ada kok di Indonesia. Malah saya beli di Indonesia karena lebih murah daripada di Singapore (Rp 465.000 vs S$138).
Soal penunjukan kartu pelajar, di Singapura tidak diminta kok, sudah sering soalnya teman teman saya beli ini juga dan mendaftarkannya online.
Tapi tetap saja Campus Agreement dan Student Edition beda. Student Edition tidak mendapatkan Access, Project dan Visio, sementara Campus Agreement bisa (tergantung dealnya). Dan juga harga per seat Campus Agreement lebih murah daripada Student Edition.
Soal bahwa Campus Agreement itu anti semangat open source, tadinya saya juga berpendapat begitu. Tapi analisa Pak Budi itu benar dan membuka perspektif baru. Yg penting legal, dan keputusan untuk Open atau Closed Source itu ada di tangan pengguna. Kampus hanya memfasilitasi kalo mau ambil dari Microsoft, be legal and cheap.
Saya sendiri juga bisa menggunakan MS office dengan legal dan cheap, tapi lebih suka pakai Open Office, karena OS saya Linux.
Desember 6th, 2010 at 2:01 pm
memang awalnya pilihan, tapi kalo dilihat lebih jauh lagi, buat yang agak-agak pragmatis biasanya cenderung milih Office, soalnya “kan sudah dibelikan kampus”. untuk kedepan malah tidak menumbuhkan pola pikir yang platform independent.
Desember 6th, 2010 at 4:30 pm
kalau ujungnya pilihan, pilihan untuk membajak termasuk dalam opsi ngga ya? dengan pilihan ini harusnya konsisten kalau karyanya dibajak lagi, yang penting ada penghargaan (acknowledge) terhadap pihak yang dirujuk
Desember 6th, 2010 at 5:01 pm
jangan lupa buka blogku ya….
Desember 6th, 2010 at 5:03 pm
Di Komputer saya juga ada stiker birunya, Pak. Dulu saya memakai OS dan software opensource (Ubuntu), tetapi karena harga stikernya (baca: lisensi) terjangkau, akhirnya saya beralih menggunakan Windows & office.
Desember 6th, 2010 at 6:59 pm
Saya juga perduli legal dan tidak legal, pak.
Di kantor, berhubung dari campus agreement, dan dapat ‘jatah’ Microsoft software. Saya pakai itu.
Namun di rumah, saya pakai Ubuntu saja. Begitu juga tools word processingnya, OpenOffice. Itu tidak lain, microsoft masih belum terjangkau bagi saya. hehehe
Desember 6th, 2010 at 8:48 pm
@Dedy: baru tahu saya beli student edition sw itu tidak perlu dilihatkan kartu pelajar resmi.
Berarti siapa saja bisa beli, termasuk teman2mu itu
Desember 6th, 2010 at 9:03 pm
Saat ini agak repot pak debat masalah Opensource, malah kayaknya sudah nggak relevan. Beberapa teknologi yang sukses itu justru yang bukan opensource. Kalau saya pakai Blackberry atau iPhone/iPad, saya nggak mendukung opensource kah? Angry Birds itu nggak opensource loh
Lagipula, saat ini yang sering dibahas hanyalah “tools” nya, bukan metodologi, bukan bikin problem definition dan bagaimana menyelesaikan masalah dengan keadaan nyata di sekitar kita. Lebih gampang debat di tools sih, sebab nggak ada habisnya. Kalau ditanya masalah problem real nya, barulah bengong, sebab saya yakin cuma orang2 spt Pak BR aja dan segelintir lainnya yang faham, sisanya penggembira aja.
Desember 6th, 2010 at 10:28 pm
[...] kalau sekarang sudah ada campus agreement. Jadi mungkin kasus di atas bisa tidak terjadi karena adanya alternatif lisensi yang murah untuk [...]
Desember 7th, 2010 at 9:26 am
klw prekonomian menengah ke atas sih. Munkin t mdah lw cman pke software asli. Tp lw orgna biasa2 aja. Gmana? Repot donk klw OS rusak. Mw ratusan rbu dkeluarin dri kocek. Apalg orgna gx prgi kmana-mana.
Desember 7th, 2010 at 10:01 pm
Campus Agreement adalah hal yang beradab. Open Source juga tidak kalah bermartabat. Yang penting jangan jadi maling intelektual.
Saya cuma tahu, open source lebih memberi keleluasaan untuk berkreasi dan mencerdaskan. Pak Onno sendiri bilang open source memiliki dimensi NASIONALISME.
Desember 9th, 2010 at 10:01 am
sekali bajaknaa tetep bajakan
hahahaaha
Desember 9th, 2010 at 10:58 am
Foto stikernya manna…??
Desember 9th, 2010 at 12:00 pm
betul, memperluas pilihan-pilihan. Selanjutnya.. terserah Anda. Yang penting gak bajakan. Bikin malu bangsa.
Desember 9th, 2010 at 12:03 pm
Hore…
Saya pakai solusi open source. Murah-meriyah dan tetap legal…
Desember 10th, 2010 at 12:23 am
mo beli yang asli mahal, ngga kebeli