Saat ini saya sedang mengikuti diskusi (di mailing list internal dosen) yang topiknya terkait dengan dosen dan publikasi (hasil penelitian). Ada beberapa hal yang muncul.
- KPI (key performance index) yang sering digunakan untuk mengukur kinerja dosen adalah jumlah publikasi. Mengapa KPI-nya ini?
- Publikasi yang dihasilkan oleh dosen sebagian besar berakhir hanya sebagai makalah saja, tidak menjadi produk dan industri yang kemudian bisa mendukung perekonomian. Padahal pendidikan dosen ini banyak yang dibiayai oleh negara.
- Jumlah publikasi (yang hanya sekedar makalah pun) pada jurnal yang terakreditasi tidak banyak. Jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan negara jiran sekalipun.
Hadoh
( Bagaimana menurut Anda? Kita harus mulai benahi dari mana ya?


Desember 31st, 2010 at 9:05 am
perbaiki dulu parameter yang dijadikan KPI, untuk urusan publikasi itu nomor sekian yang penting seberapa besar manfaat yang diberikan oleh produk dosen tersebut, (apakah mengubah paradigma, membuat sesuatu yang awalnya tidak bisa menjadi bisa, meningkatkan efektifitas), dalam lomba karya ilmiah seperti GEMASTIK atau PIMNAS pun para juri(yang mungkin sebagian besar dosen) juga memakai parameter seperti itu dalam menentukan pemenang
Desember 31st, 2010 at 9:30 am
salam kenal pak
Desember 31st, 2010 at 10:19 am
benar apa yg di bilang mas kharisma pak, parameter di jadikan KPI merupakan landasan untuk semuanya. Kalau parameternya jelas, Insya Allah proses-proses selanjutnya bisa di benahi ..
Desember 31st, 2010 at 10:22 am
benar apa yg di bilang mas kharisma pak, parameter yang di jadikan KPI, merupakan landasan untuk semuanya. Kalau parameternya jelas, Insya Allah proses-proses selanjutnya bisa di benahi ..
Desember 31st, 2010 at 10:38 am
publikasi itu baik Pak, tapi esensi publikasi itu adanya interaksi, respon, follow up. kalau tidak ada follow-up, walaupun dicantumkan di jurnal internasional sekalipun juga percuma. tapi follow up ini sifatnya selera orang lain, kalau dijadikan KPI sayang juga. misalnya ada topik yang belum/sudah tidak populer tapi sebagai kegiatan penelitian sebetulnya masih valid, kalau diabaikan sayang juga.
saya pikir sistem publikasi ilmiah yang eksklusif itu sudah kuno. jaman dulu mungkin komunikasinya masih via snail mail/jurnal cetak yang perlu waktu lama untuk menseleksi dan mengekstrak manfaat dari suatu publikasi. padahal yang penting dari publikasi itu kan pembentukan komunitas ilmiah Pak. jadi semakin cepat ada yang menanggapi dan berkolaborasi maka harusnya semakin bagus dan Indonesia punya potensi besar di sini (gotong-royong). daripada orang yang banyak disuruh bikin topik penelitian yang berbeda-beda, lebih baik kalau disatukan (antar lab, antar disiplin, antar universitas, antar negara). klo sistem meritokrasi yang dipakai kayak jaman kerajaan yang berujung pada kompetisi atau cepet-cepetan justru malah menghambat percepatan akumulasi pengetahuan dan lebih tidak efisien.
Lagipula, Indonesia negara yang luas. kalo dibanding negara-negara kecil di eropa, konferensi nasional di Indonesia setara konferensi internasional di sana.
Desember 31st, 2010 at 2:00 pm
@Peb memang bagaimana sih mekanisme interaksi jurnal ilmiah? Apakah dengan menulis jurnal lanjutan dengan topik yang sama?
Desember 31st, 2010 at 5:25 pm
membngkitkan minta meneliti dari dosen dan tambah wawasan cara publikasi hasil penelitian
Desember 31st, 2010 at 6:46 pm
Alasannya (mungkin) : Produktivitas yg utama, kualitas (kebermanfaatan) sudah dianggap memenuhi krn yg nulis dosen ITB
Desember 31st, 2010 at 10:21 pm
Pak Budi,
Kalau di ITB dan di universitas lainnya, apa sich yg menjadi *insentif* bagi para dosen untuk melakukan riset dan publikasi?
Juga, setahu saya, bukan hanya jumlah publikasi tetapi juga jumlah *citation* (ie. berapa paper lainnya yg me-referensi paper kita). Itu sebabnya ada Science Citation Index dan sistim SCI-database.
Salam
[TH]
Januari 1st, 2011 at 3:40 pm
Memang benar, setiap dosen memang harus menghasilkan produk-produk inovatif untuk kemajuan tanah air ini
Januari 1st, 2011 at 10:38 pm
Seru neh blog nya CTL+D dulu y wkowkw
Bagi yang mo tukeran link diblog ku boleh kok
Caranya masuk ke shotbox dan komen disana
Thanks y
Januari 2nd, 2011 at 2:19 am
Saya setuju dengan Om Thomas Hardjono, jangan asal paper international karena banyak yang international tapi kacangan. Negara tetangga sering tuh bikin international conference, kolaborasi dengan IEEE dan ACM, tapi kualitasnya kayaknya ga terlalu bagus. Mungkin untuk IEEE, yang hampir pasti bagus jurnal-nya ya, kalo conference-nya mungkin kurang. Untuk mengukur kualitas jurnal, biasanya dilihat impact-factornya, semakin tinggi semakin bagus. Achievement paling besar tentu kalo bisa publish di journal Nature atau Science kali ya, itu dua jurnal dengan impact-factor paling tinggi (50an). Aku ga tau ada orang Indo ga yang pernah publish di Science dan Nature. Selevel dibawahnya itu ada beberapa diantaranya New England Journal of Medicine, JAMIA, JAMA (10an), dan mungkin punya IEEE atau ACM (journal bukan paper conference) ya. Selain itu, sepertinya sih kelas kacangan.
Januari 2nd, 2011 at 6:06 am
kalo di tempat saya KPI itu Key Performance Indicator..
Januari 3rd, 2011 at 9:14 pm
klo pengalaman jd mahasiswa,,
umumnya dosen2 saya itu jarang nulis..
atau susah kalo suruh nulis,, maka kayaknya yg penting disadarkan untuk bisa nulis tiap hari dulu deh Kang…
Januari 7th, 2011 at 10:16 pm
Pak Budi,
Paper itu ibarat medali bagi seorang atlet. Jadi seharusnya dosen2 yg menghasilkan paper2 mendapat insentif. Tentu saja paper2 tersebut harus dipublish di conference atau journal yg bermutu, high quality. Bukan sembarang conference/journal.
Di universitas2 di Eropa, produksi paper itu adalah salah satu pemasukan dana. Pemerintah akan memberikan uang berdasarkan kualitas papernya. Kalo 1 paper diterima di IEEE transaction misalnya, akan dapat sekitar 30 ribu euro. Uang ini ditransfer ke department/group yg menghasilkan paper tersebut.
Juni 19th, 2011 at 12:39 pm
Banyak yang memakai KPI dari jumlah publikasi, karena mengukur jumlah lebih mudah dibanding mengukur seberapa besar manfaat yang diberikan oleh paper. Saya setuju dg Pak Thomas Hardjono, .jumlah *citation* (ie. berapa paper lainnya yg me-referensi paper kita), dijadikan unsur utama KPI
Saya iri dengan yg dikatakan oleh:Detu:”… Di universitas2 di Eropa, produksi paper itu adalah salah satu pemasukan dana. Pemerintah akan memberikan uang berdasarkan kualitas papernya. Kalo 1 paper diterima di IEEE transaction misalnya, akan dapat sekitar 30 ribu euro. Uang ini ditransfer ke department/group yg menghasilkan paper tersebut……”