Archive Bulanan: Januari 2011

Membuat Buku Teks

Minggu lalu saya disodori surat yang isinya adalah permohonan untuk menerbitkan buku teks kuliah. Sudah lama – tahunan – saya ingin membuat buku teks untuk kuliah saya, tetapi nampaknya masih belum terlaksana. Hik hik hik.

Sekilas kelihatannya membuat buku itu mudah tetapi pada kenyataannya tidak mudah. Yang paling susah adalah komitmen menyediakan waktu untuk menulis. Selalu saja ada kegiatan lain yang lebih penting prioritasnya sehingga akhirnya menulis buku ini tidak selesai-selesai. Statusnya adalah draft terus :)

Tapi … saya masih tetap bersemangat bercita-cita untuk menulis buku teks kuliah ini. Harus jadi. Harus jadi. Harus jadi!


Memulai, hasil, dan perjalanan

Kebanyakan pertanyaan yang saya peroleh dari mahasiswa (ada juga yang umum, tetapi sebagian besar mahasiswa karena saya ketemunya banyak mahasiswa) adalah bagaimana saya memulai sehingga saya seperti sekarang.

Terus terang saya tidak tahu jawabannya. Jawaban yang paling gampang – dan mungkin yang paling benar juga – adalah takdir atau nasib. ha ha ha. Serius. Namun itu bukan berarti saya diam saja. Justru saya banyak berusaha sehingga akhirnya bisa memilih jalan yang ingin saya lalui dan tujuan yang ingin saya capai. Perlu saya tekankan kata BANYAK berusaha.

Kebanyakan orang hanya melihat hasil tanpa melihat proses yang dilalui. Kesimpulan saya dari membaca, belajar, dan dari pengalaman sendiri, adalah bahwa untuk mencapai hasil yang baik di bidang apa pun seseorang harus banyak berusaha. Banyak, banyak, dan banyak.

Saya ambil contoh blog ini. Mengapa blog ini populer? Jawaban saya hanya satu, karena saya memberikan banyak waktu, usaha, energi, effort, hati, and all that untuk blog ini. Bayangkan, saya menulis (hampir) setiap hari selama bertahun-tahun. Memangnya mudah? Silahkan dicoba. Coba menulis setiap hari, katakanlah … selama 3 tahun. Tidak mudah. Jika Anda sudah melakukannya selama 10 tahun, maka saya yakin blog Anda akan sangat hebat.

Demikian pula dalam hal mengajar, memberikan presentasi, menjalankan perusahaan, dan bahkan sampai kepada yang mungkin kita anggap main-main dan fun saja seperti makan-makan dan berolah-raga, semua saya lakukan dengan serius. Jangan salah, serius di sini bukan berarti tidak menyenangkan. Justru sebaliknya, sangat menyenangkan.

“Perjalanan” untuk mencapai tujuan ini yang lebih menarik. Bukan hasilnya. Apapun hasilnya tidak terlalu menarik dibandingkan perjalanannya. Sebagai contoh, untuk memberikan presentasi yang lamanya 15 menit atau 1 jam, dibutuhkan persiapan (“perjalanan”) berjam-jam dan bahkan bisa harian. Kalau “perjalanan” ini menyebalkan atau menjemukan, maka kita akan tersiksa selama berjam-jam hanya untuk kesenangan 15 menit. Harusnya tidak demikian, bukan? Semestinya perjalanannya juga menyenangkan bukan?

Kalau  boleh dirangkumkan, bagaimana memulainya? Jawaban saya adalah sama seperti iklan Nike; “just do it”. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah nikmati proses perjalanannya. Hasil akan menyusul sebagai akibat (consequences) saja.

Enjoy the ride (of your life) …


Foto-foto

Ok ini juga campur-campur waktu pengambilannya …


[roti buatan sendiri]

… wah ada banyak lainnya … upload lain kali atau di tempat lain aja ya …


ITpreneurship

Pagi tadi saya memberikan presentasi mengenai ITpreneurship, entrepreneurship berbasis IT, di Aula Barat kampus ITB. Acara ini merupakan bagian dari Arkavadia 2.0 yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa Informatika ITB.

Saya bercerita mengenai pengalaman saya sebagai entrepreneur. Tentu saja yang diceritakan bukan hanya sukanya saja tetapi juga dukanya, agar peserta seminar dapat belajar dari kesalahan saya. Materi presentasi dan foto (kalau ada), nanti menyusul ya. Yang penting saya cerita dulu.

Nah … sekarang saya mau istirohat sejenak dulu :) hi hi hi. Pertanyaan-pertanyaan nanti akan saya coba jawab ya. Sekarang belum sempat.

Update: materi presentasi sudah saya upload ke slideshare dan scribd. (Kalau saya pasang link ke scribd ini apa mengganggu Anda? misalnya jadi lebih lambat aksesnya. Sebaiknya embeded seperti ini atau dituliskan URL-nya saja?)


Foto hari ini

Nah, sekarang memang benar foto hari ini. Hari ini kegiatan dimulai dengan futsal di Parahyangan Plaza. Ini adalah kegiatan rutin kami setiap minggunya. (Sekarang ditambah dengan sepak bola, lapangan besar.)

[sebelum dan sesudah bermain]

Setelah selesai itu, sebagian ngopi dulu. Sebenarnya saya ingin ikutan, tapi kok cape sekali ya. Sebelum pulang ke rumah, mampir dulu ke Cihapit untuk beli Yamien :)   … Nah, ini dia fotonya sebelum dimakan :)

[sekarang setiap mau makan, potret dulu ... hi hi hi.]


Masih hasil foto-foto …


[jagung rebus]


[ s i g n a l s ]


Good morning, Bandung

The city is becoming, well …, crammed. But, we call it progress …


Foto Kemarin Dulu


Harus Membuat Koleksi Cliparts

Saya sedang memperbaiki materi (presentasi) kuliah saya. Di dalam materi tersebut saya ingin menampilkan beberapa gambar. Nah, sayangnya kalau saya ambil sembarang gambar (foto) dari internet maka akan susah bagi saya untuk mendistribusikan materi presentasi saya ini. Saya harus minta ijin dari pemiliki gambar / foto / cliparts tersebut. (Beberapa waktu yang lalu sudah ada yang memberitahu tentang koleksi cliparts yang bebas / free / creative commons.)

Sudah lama saya ingin membuat koleksi foto yang bisa saya gunakan sebagai bagian dari materi presentasi. Jadi nampaknya saya harus memulai membuat BR cliparts :)   Nah, ini jadi alasan untuk menggunakan DSLR secara lebih produktif :D he he he


Foto Kemarin


[Sampoerna Strategic Square, Jakarta]


Etika (or lack of) Dalam Bermilis

Barusan saya berhenti berlangganan (unsubscribe) sebuah milis karena di milis tersebut ternyata tidak ditegakkan etika. Ada beberapa hal yang saya keluhkan. Salah satunya adalah terlalu banyaknya tulisan yang OOT (out of topic) dan seharusnya bisa dilakukan melalui jalur pribadi. Contohnya adalah email-email yang satu baris (one liner) dan ditambah dengan top posting yang mengutip semua email yang dibalas.

Satu dua kali (tiga kali, empat kali) OOT tidak masalah, tapi kalau terus menerus? Repot euy. Mosok saya harus delete-delete semua. Ya ini sih sama dengan menghabiskan waktu dan lebih baik unsubscribe.

Berbeda dengan membaca web/blog yang bersifat pull (kita yang meminta info), milis bersifat push (dipaksakan ke kita). Administrator atau penjaga gawang dari milis seharusnya menegur untuk kepentingan bersama.

Saya kayaknya ingin menyalahkan kebiasaan ini kepada sebuah perangkat handphone (dan layananannya). hi hi hi. Gak perlu sebut nama ah. … [bukan nama sebenarnya] he he he. Ah bukanlah. Ini sih kepada faktor manusianya saja.

Kembali ke pokok permasalahan, yaitu etika bermilis. Milis adalah orang banyak, bukan sendirian. Nampaknya orang mulai tidak peduli dengan perasaan dan situasi orang lain. Hadoh … Tapi tetap harus ada yang mengingatkan, kan?

u n s u b s c r i b e .


Jury Duty

Hari saya bertugas untuk menjadi juri e-government award yang diselenggarakan oleh Warta Ekonomi. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun dan ini untuk yang ke-sekian (karena lupa ke berapanya – he he he) kalinya.

Bakalan duduk seharian (dan makan terusss …)… wah gak sehat nih …


Kuliah Pertama

Hari ini saya memberikan kuliah pertama untuk semester ini. Isinya tidak terlalu banyak, yaitu soal administratif perkuliahan dan cerita tentang diri saya (siapa dosennya ini – hi hi hi). Tentu saja saya menunjukkan blog ini. Belum tahu siapa yang merasa curious dan mengintip ke blog ini. Kuliahnya terpaksa tidak lama-lama karena saya harus ikutan company meeting.

Satu kuliah lagi, agak siangnya, terpaksa saya tunda untuk sementara. Wah, sudah harus memikirkan waktu untuk menggantikan kuliah yang sudah bolong ini. Hadoh.


Company Meeting

Hari ini kami (indocisc dan insan) melakukan company meeting. Suka duka perusahaan yang sudah lebih dari 10 tahun … Untungnya lebih banyak sukanya. Alhamdulillah …


Gaji?

Sedih juga melihat orang yang meributkan soal gajinya. Bisa dimengerti kalau gaji yang bersangkutan masih berkisar di UMR. Tapi kalau gajinya sudah lebih dari kebanyakan orang? Kenapa masih ribut juga?

Ada birokrat yang membandingkan gajinya dengan gaji pengusaha. Ya jelas beda. Kalau mau gaji besar seperti pengusaha yang sukses, ya jangan jadi birokrat. Oh ya, tapi perlu diingat, lebih banyak pengusaha yang gagal dibandingkan pengusaha yang sukses. Jadi ada risiko yang harus dihadapi oleh pengusaha. Demikian pula ada dosen (guru) yang juga membandingkan gajinya dengan pengusaha atau birokrat di kelas atas. Jika ingin kaya dengan harta, ya jangan jadi dosen atau guru dong.

Orang-orang yang sukses umumnya tidak memikirkan uang / gaji / penghasilan. Penghasilan ini merupakan by product.

Saya teringat perkataan Steve Jobs dalam sebuah dokumenter PBS, Triumph of the Nerds. Dia berkata:

“I was worth over a million dollars when I was twenty-three, and over ten million dollars when I was twenty-four, and over a hundred million dollars when I was twenty-five, and it wasn’t important, because I never did it for the money.”

Demikian pula kalau kita lihat orang-orang sukses lainnya. Mereka menjalankan tugasnya tanpa mempermasalahkan pendapatannya.

“Follow your passion. Do what you love, and the money will follow. Most people don’t believe it, but it’s true.” — Oprah Winfrey

Saya tidak mengatakan bahwa uang tidak penting, tentu saja ini penting, tetapi dia bukan segala-galanya. Gaji juga demikian. Yang cukup saja. Tidak usah mengiri kepada orang lain.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.