Archive Bulanan: Januari 2011

Menyoal Server RIM di Indonesia

[Busyet dah. I opened up a can of worm :) Kepalang tanggung. Bahas sekalian deh soal ini.]

Baiklah. Sekarang saya akan bahas soal permintaan (atau pemaksaan?) Research In Motion (RIM) untuk memasang server di Indonesia. Apa alasannya?

Alasan yang paling sering muncul adalah agar pemerintah Indonesia bisa menyadap komunikasi orang yang menggunakan BlackBerry. Saya sebetulnya cukup heran juga banyak yang setuju. Sebagai warga negara, semestinya kita harus mengingatkan pemerintah akan hak-hak kita (sebagai warga negara dan netizen); bahwa pemerintah tidak bisa semena-mena melakukan penyadapan.

Jika rekan-rekan membaca sejarah tentang munculnya PGP (pretty good privacy) dan juga buku-buku seperti cypherpunk, maka bisa kita lihat bahwa gerakan yang mereka lakukan adalah mempertahankan hak warga negara dari perbuatan semena-mena dari pemerintah. (Dalam hal ini adalah warga Amerika terhadap pemerintah Amerika.) Mereka kemudian menciptakan berbagai sistem pengamanan dan produk kriptografi yang menyulitkan pemerintah untuk melakukan tindakan penyadapan.

Bagaimana jika pemerintah benar-benar membutuhkan data komunikasi seseorang, misalnya untuk menangani kasus terorisme atau korupsi? Ada mekanisme yang disebut lawful interception. Ini banyak dilakukan untuk memerangi terorisme, narkoba, dan korupsi, hal-hal yang sejenisnya. Secara singkatnya, pemerintah – dalam hal ini penyidik yang sudah mendapatkan mandat untuk melakukan penyidikan kasus tertentu – dapat mengirimkan permohonan kepada penyedia jasa untuk mendapatkan data komunikasi tertentu. Umumnya penyedia jasa akan mentaati hal ini. (Catatan: hal ini sudah lazim dilakukan oleh penegak hukum di seluruh dunia, temasuk oleh penegak hukum di Indonesia.)

Jadi, server ada di mana pun, di luar negeri dan di Indonesia tetap bisa dilakukan lawful interception. Kalau Anda berniat jahat, data Anda akan dapat diungkapkan. Jadi gak perlu berbuat jahat ya? :)

Kalau tujuannya adalah untuk unlawful interception … nah, mosok yang kayak gitu harus kita dukung?

Oh ya, ada banyak cara untuk mendapatkan data komunikasi. Ada physical security dan  social engineering :)   Yang ini nampaknya lebih mudah daripada melakukan cracking encryption. Belum lagi ada pendekatan dukun :) . Buktinya penegak hukum di Indonesia lebih cepat dalam menangkap penjahat daripada penegak hukum di luar negeri. he he he.

Alasan yang kedua yang sering juga digunakan mengapa RIM harus memasang server di Indonesia adalah agar kita kebagian bisnisnya, kebagian ilmunya, kebagian … pokoknya kebagian deh. Untuk yang ini saya sendiri masih pro dan kontra. Soalnya sebenarnya kita-kita ini sudah pinter ngurusin server-server kok :) Technically kita sudah jago. Gak perlu ada server RIM juga kita sudah tahu cara menjalankan data center :)

Nah, soal kebagian bisnisnya … kok rasanya vulgar banget :) Begitu tahu mereka untung, lantas kita mau dapet bagian. Emangnya kalau mereka gak untung kita mau nombokin? Soalnya sebentar lagi juga layanan mereka tidak terlalu dominan lagi kok. Lantas apa nanti kalau pelanggan mereka pindah ke teknologi, device, dan layanan lain dan kemudian RIM mulain merosot … kita mau nombokin? Ya gak lah. Kesannya kalau untung minta bagian, kalau rugi gak mau ikutan. Hadoh…


Mau? Kaastengels


Salah (dalam menyalahkan RIM/BlackBerry)

Tadinya saya mau diam saja mengenai soal perseteruan antara Pemerintah dan Research In Motion (RIM), perusahaan yang mengembangkan BlackBerry. Tapi nampaknya saya harus beropini karena kelihatannya kok makin “lucu” (baca: memalukan).

Singkatnya; menurut saya adalah salah jika Pemerintah menuntut RIM untuk membayar ini dan itu. Kesannya kok Pemerintah menjadi tukang palak (preman).

Mari kita lihat dulu struktur operasional dan bisnis dari layanan BlackBerry yang diberikan oleh RIM ini. Secara umum, gambarannya adalah seperti ini. (Maaf, gambar saya ini terlalu sederhana karena saya belum sempat untuk membuatnya dalam bentuk yang lebih menarik. Any takers?)

Di sebelah kiri adalah pengguna yang menggunakan perangkat BlackBerry. Pengguna berlangganan layanan komunikasi (telepon, akses internet, dan seterusnya) melalui operator. Dalam hal ini operator adalah operator seluler. Operator ini memiliki beberapa layanan (aplikasi), yang mana salah satunya adalah layanan BBM (dan kawan-kawannya) yang diberikan oleh RIM. Pelanggan tidak langsung berhadapan dengan RIM tetapi melalui operator.

Nah, sekarang katakanlah RIM dan operator seluler memiliki kerjasama yang mengatakan bahwa untuk setiap pelanggan RIM mendapatkan $7/bulan. Terserah kepada operator untuk menjualnya kepada pengguna. Operator bisa saja menujalnya dengan harga Rp. 300 ribu/bulan atau Rp 90.000/bulan. Pada kenyataannya para operator ini banting harga. Harga yang terendah yang dia pakai.

Lucunya … sekarang kita (siapa kita di sini? Pemerintah? Operator?) marah-marah ke RIM dengan mengatakan bahwa RIM untung banyak sementara operator rugi. Boleh saya tertawa sebentar? Atau, mungkin ada baiknya saya menangis saja?

Apa salahnya RIM? Dia kan sudah dari awal menetapkan harganya. Lah salah operatornya jika mereka menjual dengan harga bantingan. Mengapa kok ini dipermasalahkan? Jika ini bisnis yang merugi bagi operator, mengapa dipertahankan? Apakah para pimpinan operator ini tidak dipanggil oleh BoD karena decision mereka yang salah? Jika ini memang untuk menarik customer, ya jangan merengek-rengek. Malu.

Oh ya, jika memang RIM tetap mau dipermasalahkan, bagaimana juga dengan layanan aplikasi yang lain? Di sebelah kanan ada banyak aplikasi yang berbayar; misalnya di luar negeri ada  amazon, flickr, blog yang berbayar, dan seterusnya. Oh ya, ada juga layanan iTunes. Nanti dengan semakin populernya iPad (dan tentunya iPhone) jangan-jangan Apple juga ditekan seperti RIM ini. Belum lagi ada aplikasi internet banking, transaksi saham, jual beli, e-commerce, dan sebentar lagi e-procurement. Apa nanti mereka juga akan ditekan seperti RIM karena mereka juga mengambil keuntungan? Belum lagi nanti ada banyak layanan cloud computing.

Jika memang mau dipermasakahkan, maka permasalahkan operatornya, bukan RIM.

Semoga tulisan ini dapat memberikan pencerahan.


Foto kemarin

Selamat pagi


Mau?


[nasi tim ayam]


Apa Yang Salah (part 2)

Can you see what figures these are? I can’t!
Gambar apakah ini?

Nampaknya ini adalah gambar-gambar yang diperoleh dari copy-and-paste dari dokumen PDF yang kualitasnya buruk? Jika kualitas gambar buruk, lebih baik tidak usah ditampilkan. Percuma.


Apa yang salah?

Ada yang tahu apa yang salah dalam pekerjaan mahasiswa berikut ini? Ini potret dari makalah mahasiswa sungguhan dan kebetulan ini adalah materi kuliah saya. Hadoh.

Bagaimana dengan tulisan Anda?

Jadi tadi pagi saya terpaksa menjelaskan berbagai hal – terutama soal penulisan dan penggunaan referensi – di kelas. Mudah-mudahan hasil perbaikan mereka jauh lebih baik dari kondisi sekarang.


Prioritas ICT?

Masih menyambung soal ribut-ribut BlackBerry / RIM dan pornografi, kemarin saya diwawancara via handpon. Seperti biasa, sinyal handpon di tempat saya tidak bagus. Akibatnya pembicaraan sering harus diulang-ulang dan putus-nyambung. Yang mewawancara dan saya stress sendiri dalam pembicaraan.

Saya bilang ke yang mewawancara; “yang seperti ini (kualitas komunikasi) seharusnya lebih menjadi fokus kita bersama”. Sayang sekali yang seperti ini kayaknya tidak didengar. Ataupun kalau didengar, diabaikan.

Masih ada hal lain yang seharusnya menjadi prioritas; (1) jangkauan yang lebih luas, (2) harga yang lebih murah. Di tempat saya, yang notabene kabupaten dekat kota Bandung, alternatif akses internet secara wired saja hanya ada satu (sp****). Itupun kualitasnya buruk sehingga terpaksa saya berhenti berlangganan. Kebayang oleh saya daerah lain yang jauh dari kota. Ini betul-betul masalah digital divide, kesenjangan digital.

Di Jakarta banyak sudah berseliweran kabel serat optik dan tentunya kabel tembaga. Setelah itu operator juga berebut ijin untuk wireless (3G, WiMAX, LTE, dan seterusnya). Padahal alternatif akses telekomunikasi sudah banyak. Harga juga murah. Ini benar-benar melebarkan kesenjangan digital di Indonesia. Setelah ada itu semua, masih ribut juga di sana (Jakarta). Di daerah? Ya terima apa adanya saja deh. Ya memang bisa dimengerti karena pengambil keputusan tinggalnya di Jakarta.

[/keluh kesah]


Iseng Coding Perl

Ceritanya saya mendapatkan email yang isinya adalah berbagai berita tetapi terformat dalam satu baris yang sangat panjaaannnggg …. Potongannya seperti ini:

1 ) Tertibkan Anggaran, BPK Minta Mendiknas Kontrol Pejabat Eselon I http://us.detiknews.com/read/2011/01/10/223052/1543626/10/tertibkan-anggaran-bpk-minta-mendiknas-kontrol-pejabat-eselon-i?n991103605 Senin, 10/01/2011 22:30 WIB Jakarta – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengapresiasi langkah Mendiknas M Nuh yang akan mengecek anggaran Rp 2,3 triliun yang tidak jelas penggunaannya. … …dst 2 ) Upss…. Kemdiknas Bantah Temuan BPK! http://edukasi.kompas.com/read/2011/01/10/18271811/Upss…..Kemdiknas.Bantah.Temuan.BPK. Senin, 10 Januari 2011 | 18:27 WIB JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Pendidikan Nasional membantah temuan Badan Pemeriksa Keuangan tentang kasus pengadaan tanah untuk kompleks Sekolah Indonesia … dst 3 ) Restrukturisasi Kemendiknas Dijanjikan Tuntas Pekan Ini http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/11/01/10/157533-restrukturisasi-kemendiknas-dijanjikan-tuntas-pekan-ini Senin, 10 Januari 2011, 09:43 WIB REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Reformasi birokrasi Kementerian Pendidikan Nasional rencananya rampung minggu ini. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan Nasional,…

Kalimat itu merupakan gabungan dari berbagai berita, yang dalam hal ini ada sekitar 12 atau 13 berita. Membacanya menjadi males.

Jadi kepikiran untuk membuat sebuah skrip singkat yang memisahkan berita-berita tersebut menjadi beberapa paragraf. Hmm… ini ide bagus untuk diversion sejenak.

Idenya adalah untuk setiap “1 )” atau “2 )” dan seterusnya ditambahkan dua return sebelum angkanya. Jadi “\n\n 1)” atau “\n\n 2)”, dan seterusnya. Jadilah skripnya seperti ini:

while (<>) {
   $_ =~ s/(\d+)\s+\)/\n\n$1 \)/g;
   print $_;
}

Hasilnya? Ya kira-kira seperti di bawah ini. Lebih mudah dibacanya kan?

1 ) Tertibkan Anggaran, BPK Minta Mendiknas Kontrol Pejabat Eselon I http://us.detiknews.com/read/2011/01/10/223052/1543626/10/tertibkan-anggaran-bpk-minta-mendiknas-kontrol-pejabat-eselon-i?n991103605 Senin, 10/01/2011 22:30 WIB Jakarta – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengapresiasi langkah Mendiknas M Nuh yang akan mengecek anggaran Rp 2,3 triliun yang tidak jelas penggunaannya. … …dst

2 ) Upss…. Kemdiknas Bantah Temuan BPK! http://edukasi.kompas.com/read/2011/01/10/18271811/Upss…..Kemdiknas.Bantah.Temuan.BPK. Senin, 10 Januari 2011 | 18:27 WIB JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Pendidikan Nasional membantah temuan Badan Pemeriksa Keuangan tentang kasus pengadaan tanah untuk kompleks Sekolah Indonesia … dst

3 ) Restrukturisasi Kemendiknas Dijanjikan Tuntas Pekan Ini http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/11/01/10/157533-restrukturisasi-kemendiknas-dijanjikan-tuntas-pekan-ini Senin, 10 Januari 2011, 09:43 WIB REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Reformasi birokrasi Kementerian Pendidikan Nasional rencananya rampung minggu ini. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan Nasional,…


Email yang lebih beretika

Salah satu hal yang menyebalkan bagi saya adalah kalau terima email (misalnya dari mailing list) yang email lamanya tidak dihapus. Kalau istilah dahulu ini disebut “top posting”. Reply dari email menyertakan email sebelumnya, dan email sebelumnya, dan email sebelumnya, … dan seterusnya. Akhirnya email menjadi terlalu panjang dan menyebalkan untuk dilihat. (Belum lagi dia menghabiskan bandwidth dan biaya.)

Salah satu offender yang cukup besar adalah BlackBerry. Email yang di-reply dari BlackBerry biasanya melakukan hal di atas, top posting. Gak beretika. Grrr…

Nah, untungnya ternyata ada aplikasi yang bisa digunakan untuk mengedit email sehingga beretika. Ini URL-nya: http://www.bberryapp.com/blackberryapplications/forwardreply/


Masalah Penulisan dan Penggunaan Referensi

Kemarin saya menyelesaikan penilaian terhadap makalah-makalah mahasiswa kuliah S2 saya. Total ada 92 mahasiswa yang terdaftar. Sebetulnya belum semua saya nilai karena yang mengumpulkan minggu lalu, ada sekitar belasan makalah, baru akan saya periksa hari ini.

Dari makalah yang sudah saya periksa, hanya ada belasan yang langsung lolos dan bisa saya beri nilai A. Sisanya terpaksa saya beri nilai T dan harus diperbaiki oleh mahasiswa yang bersangkutan.

Ada beberapa masalah yang muncul, tetapi yang paling dominan adalah kesalahan dalam penulisan dan penggunaan referensi. Sebagian besar tidak tahu cara menggunakan referensi. Di dalam artikel yang ditulis, tidak ada satupun menyebut sumber dari referensi dan tiba-tiba di bagian referensi (daftar pustaka, bibliografi, dan sejenisnya) muncul daftar referensinya. Kapan mereka digunakan? Di bagian mana di teks mereka digunakan?

Jika dikejar lebih jauh, sebetulnya mereka bisa terkena kasus yang lebih berat seperti dianggap sebagai plagiat karena tidak memberikan atribusi (penghargaan, acknowledgement) kepada orang yang mereka kutip. Pada bagain tulisan ada opini, pendapat, hasil penelitian dari para peneliti lainnya tetapi tidak ada catatan yang menunjukkan sumbernya. Ini masalah besar dalam penulisan karya ilmiah.

Penulisan referensi juga sebagian besar salah. Mahasiswa seenaknya saja menulis referensi. Sebagai contoh, ada yang menulis seperti ini:

Budi Rahardjo, Kriptografi.

Lah, itu referensi apa? Buku? Makalah? Artikel? Bisa diperoleh dari mana? Dan masih banyak pertanyaan yang sejenis. Nampaknya mahasiswa belum paham bahwa referensi itu harus bisa ditelusuri ulang oleh pembaca. Pembaca harus diberi informasi yang cukup untuk mendapatkan referensi tersebut. Ini belum soal tata cara penulisannya; mana yang ditampilkan dahuluan, mana yang harus dicetak miring, dan seterusnya.

Di kelas sudah saya beritahukan hal ini secara spesifik, tetapi nampaknya tidak banyak yang menyimak :( (  Ya untuk sementara ini mereka saya beri nilai T. Ini untuk memberi kesempatan mereka memperbaiki dan belajar bagaimana sebaiknya menggunakan referensi. Alternatif lain, saya beri nilai tidak lulus atau nilai yang buruk, C.

Bagi mahasiswa saya yang membaca ini, silahkan menghubungi bu Yati / mbak Meisa untuk informasi selanjutnya. Saya sedang membuat tabel mahasiswa dan hal-hal yang perlu diperbaiki. (Banyak yang harus dikerjakan.) Ada kemungkinan juga saya akan kumpulkan mahasiswa (yang kebetulan sudah ada di Bandung) untuk dibriefing. Bagi yang masih berada di luar kota nanti bisa melihat postingan tabel itu. Sementara itu Anda bisa memperbaiki makalah Anda.


Gadget apa yang Anda inginkan?

Di tahun 2011 ini, gadget elektronik apa yang Anda inginkan? Sebutkan tiga (3) ya.

Kalau saya apa ya? Hmm…

  1. Komputer desktop yang lebih cepat dengan layar yang lebar dan disk yang besar :) [Ini termasuk gadget gak ya? Soalnya kan ukurannya besar. hi hi hi.]
  2. MP3 player, iPod dengan storage yang paling besar. Mau iPod karena sementara ini kualitas suaranya yang paling bagus. Storage yang besar supaya semua lagu saya bisa masuk ke situ. Bukan 1000 songs in a pocket tapi 100.000 songs in a pocket? :)   Soalnya males milih-milih lagu mana yang mau dimasukkan ke MP3 player. Slogan iPod classic sekarang adalah “your top 40.000“. Cukup lah. [Langsung browsing ke situs Apple. Ngiler...]
  3. Car stereo yang bisa pakai USB. Yang ini terlalu sederhana permintaannya ya? Masalahnya yang sekarang ada di mobil suaranya pas-pasan, bawaan dari mobilnya saja.

Wah hanya boleh tiga ya? Kalau boleh nambah sih …


Foto kemarin dulu: Buang sampah pada tempatnya

Mari buang sampah pada tempatnya …

Selamt pagi …


Mau?

Ini foto Burger Ramly yang saya temukan di Clementi, Singapura. Dulu rasanya susah banget menemukan burger ini. Dulu juga nemunya di Clementi tapi di pasar malamnya. Sekarang ini bentuknya seperti food stall lainnya.

Bedanya yang ini dengan burger yang lain adalah burgernya dibungkus oleh telur dadar sehingga tetap lembut, moist. Mau?


Soal BlackBerry dan RIM

Belakangan ini (dan sudah beberapa kali) ada “keributan” soal regulasi yang terkait dengan BlackBerry dan pengembangnya RIM. Saya sendiri tidak terlalu mengamati keributan ini karena (1) saya tidak punya BlackBerry dan tidak ingin punya :) dan (2) sebentara lagi BlackBerry akan turun popularitasnya.

Yang menarik dari layanan BlackBerry adalah BBM dan push email. Sementara itu saya tidak membutuhkan keduanya. BBM bahkan bagi saya dapat menjadi sebuah gangguan (distraction). Masih ada SMS untuk berkomunikasi. Bahkan adanya biaya untuk SMS (meskipun sudah sangat murah) sedikit banyak mengurangi terjadinya spim/spam pesan yang tidak perlu.

Push email pun tidak saya butuhkan karena saya terlalu banyak menerima email. Bisa jadi lebih dari 100 email yang saya terlima. Kalau ditambah dengan email dari milis-milis dan spam, mungkin setiap harinya ada lebih dari 500 email. Mau di-push? he he he. Maboklah. Jadi push email juga tidak saya butuhkan.

Untuk hal yang kedua, soal penurunan popularitas BlackBerry, ada beberapa faktor. Handphone yang mirip BlackBerry sudah terlalu banyak sehingga dia tidak modis lagi. Kalau dulu mungkin orang bisa gaya dnegan menggunakan BlackBerry. Sekarang … tidak lagi :)   Itu kalau dilihat BlackBerry sebagai lifestyle. Sekarang orang malah sedang demen Android, Apple iPad, Galaxy tab, (yang kedua terakhir ini mungkin gak nyambung dengan telepon – tapi kita sedang bicara lifestyle) dan mungkin sebentara lagi WinPhone 7 (iPhone baru kok kurang greget kayaknya).

Maka, apa lagi yang menarik dari BlackBerry? (Sebetulnya ada sih, but I am not telling you. ha ha ha.) Popularitas mereka akan anjlok.

Masih ada yang ingat Communicator? Sekarang pada disimpan di mana ya? :) hi hi hi. Padahal dahulu orang-orang demikian fanatiknya dengan communicator ini.

Jadi … daripada kita ribut-ribut soal regulasi BB dan RIM, lebih baik kita habiskan energi untuk belajar dari pengalaman ini. Apa pelajaran yang bisa kita peroleh? Lesson(s) learned? Ini bisa kita lihat dari kacamata teknologi, bisnis, regulasi, dan kultur. Siapa yang mau mulai?

Biarlah BB dan RIM jika mereka memang tidak mau hadir di Indonesia secara korporat dan support. (Bahkan yang mengamati soal BB di Indonesia pun tempatnya di Singapura. weee.) Silahkan rugi sendiri. Padahal kalau mereka hadir di Indonesia, mereka bisa melakukan inovasi-inovasi yang khas Indonesia. Ya sudahlah. Gak usah dukung mereka saja :)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.