Berubahnya Pemahaman Terhadap Orisinal

Saya suka mengumpulkan kases sejak kecil. Saya tidak ingat kapan mulainya, yang saya ingat sejak SMP meskipun mungkin saja sebelum itu. Pada masa itu kaset merupakan distribusi musik yang paling utama setelah piringan hitam. Sebetulnya dari kualitas, piringan hitam jauh di atas kaset tetapi kemudahan untuk memproduksi dan distribusi yang menyebabkan kaset jauh lebih populer.

Jaman tahun itu, 1970an, distribusi lagu harus dalam bentuk fisik. Lagu memang bisa dikirimkan – atau lebih tepatnya didengarkan – secara non-fisik melalui radio, tetapi penjualannya masih melalui bentuk fisik. Akibatnya produk yang dihasilkan di Inggris atau Amerika akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai Indonesia. Selain itu harganya juga akan sangat mahal. Padahal penghasilan orang di Indonesia lebih rendah di bandingkan dengan orang di Inggris atau Amerika itu. Jadi, agak berat bagi seseorang untuk membeli kaset asli buatan Inggris atau Amerika.

Maka, kaset yang dijual di Indonesia merupakan hasil produksi dalam negeri. Bentuknya seperti gambar di bawah ini.

Sampul kaset dicetak sendiri. Cover art dari sampul belum menjadi perhatian. Perhatikan bahwa daftar lagu dicetak seadanya saja. Bahkan untuk kaset-kaset tahun-tahun sebelumnya, daftar lagu hanya diketikkan di atas kertas biasa dengan menggunakan mesin ketik!

Soal original atau bukan, sudah jelas bukan original. Soal hak cipta, bisa jadi ada kesepakatan dengan label yang aslinya atau bisa juga tidak karena pada waktu itu ada jasa untuk membuat album kompilasi sendiri. Kita tinggal memberikan daftar lagu yang diinginkan maka lagu tersebut akan direkamkan di kaset pilihan kita.

Pada masa itu teknologi musik digital belum ada. Yang ada adalah teknologi analog. Akibatnya duplikat akan menurun kualitasnya dibandingkan yang original. Namun pada waktu itu tidak terlalu masalah karena yang penting ada-nya dahulu.

Sekarang sudah berbeda. Kaset memang masih ada. Kualitas produksinya tentu lebih baik dari dahulu. Hanya saja sekarang sudah ada teknologi digital sehingga orang lebih banyak memilih format digital dibandingkan format analog ini. Ada banyak kemudahan dengan media digital; lagu bisa didengarkan secara acak, tidak harus berurutan. Selain itu penghargaan terhadap karya intelektual juga lebih bisa diterima dan menjadi mainstream.

Itu dunia musik. Dunia software juga begitu. Dulu distribusi software menggunakan disket. Internet juga belum terbuka untuk publik di Indonesia sehingga distribusi fisik masih merupakan hal yang utama. Akibatnya harga juga masih sangat mahal.
Sekarang sudah berbeda. Akses kepada software sudah menjadi semakin mudah. Tinggal download dari internet. Penghargaan kepada intellectual property juga semakin meningkat. Maka, penggunaan software yang 100% orisinal juga semakin menjadi norma.

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

16 Tanggapan to “Berubahnya Pemahaman Terhadap Orisinal”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 650 pengikut lainnya.