Archive Bulanan: Maret 2011

Perlukah Software Diproteksi

Salah seorang mahasiswa bimbingan saya baru menyelesaikan tugas akhirnya. Topiknya adalah seputar proteksi software dengan memperhatikan perangkat keras yang digunakan oleh software tersebut. Dia membuat program yang mengambil data dari komputer (misalnya, identitas CPU, MAC address dari ethernet card yang digunakan, dan sejenisnya) kemudian mengirimkan data tersebut ke pembuat software (aplikasi) untuk dibuatkan license key. Kunci ini kemudian diberikan bersama dengan software. Sistemnya agak sedikit rumit.

Pertanyaannya adalah perlukah kita melakukan hal ini semua? Kenapa kok jadi ribet begini? Alasan utamanya adalah agar pengguna menggunakan software yang 100% original. Itu saja bukan? Kalau semua pengguna jujur dan baik-baik, mungkin penelitian ini tidak perlu dilakukan.

Akibat dari proteksi semacam ini sebetulnya ada kerepotan tambahan bagi pengguna atau orang yang mengurusi software di perusahaan (misalnya aplikasi tersebut digunakan secara luas di perusahaan). Sebagai contoh, jika ethernet card dari komputer yang digunakan rusak dan digantikan dengan card yang lain maka MAC address-nya berbeda. Akibatnya software tidak dapat digunakan di komputer tersebut karena sistem proteksi lisensinya akan mengatakan bahwa software digunakan di komputer lain yang tidak terlisensi. Pengguna harus menjalankan program tertentu (untuk mendeteksi hardware yang baru), kemudian mengirimkan hasilnya ke pembuat software untuk dibuatkan lisensi yang baru. Repot jika proses ini tidak berjalan secara cepat. Misalnya proses ini berjalan beberapa hari, maka software tidak dapat digunakan selama itu.

Yang paling elegan adalah kalau pengguna baik-baik dan mau membeli software 100% original sehingga kita semua tidak perlu direpotkan dengan hal seperti ini. Mau kah kita? Mestinya mau ya. Sementara itu nampaknya penelitian proteksi software masih harus terus berlangsung.




angin

… ada desau angin di luar
… bunyi bambu beradu, seperti angklung
… itu hiasan gantungan di beranda tetangga

Angin membawa malam, menuju pagi
menghadirkan kantuk yang kutunggu-tunggu

… ada desau angin di luar
… kutarik selimut
… agak kantuk tak pergi dibawa angin

[... z z z Z Z Z ...]


Kelakuan Di Jalan Raya

Kesal juga melihat kelakuan beberapa orang supir mobil yang ugal-ugalan di jalan raya. Sudah mepet bener mobilnya, terus pakai kasih-kasih lampu segala. Grrr … Mau dilawan juga percuma. Lah wong gak pake otak, gimana ngelawannya. Ya dipersilahkan saja deh. Males …


Masa depan yang belum jelas


Siapa Netizen Indonesia?

Internet menghilangkan batas ruang. Ini membuat kita menjadi kebingungan.

Sebagai contoh, saat ini kami sedang melakukan penelitian terkait dengan internet dengan sumber data orang Indonesia. Nah, salah satu masalah yang kami hadapi adalah definisi dari “orang Indonesia” atau warga net Indonesia?

  • Orang yang mengakses internet dengan menggunakan IP Indonesia?
  • Orang yang secara fisik tinggal di Indonesia? (dibuktikan dengan lokasi longitude latitude)
  • Orang yang ketika mendaftarkan di sebuah layanan menyatakan dirinya berasal dari Indonesia?
  • Orang yang secara warga negara adalah Indonesia? (bagaimana mengetahui hal ini dari identitas internetnya?)
  • Orang yang menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi?
  • Orang yang tertarik dengan topik-topik yang terkait dengan Indonesia?
  • … [apa lagi ya?]

Pendefinisian ini cukup penting. Sebagai contoh kalau kita ingin mengetahui bagaimana pendapat “orang Indonesia” tentang topik PSSI, misalnya, maka suara siapa saja yang bisa kita dengarkan?

Pusing kan …


There is hope

Satu hal yang sama dari semua presenter di acara TEDx Bandung kemarin adalah adanya semangat untuk membangun Indonesia. Adanya kepercayaan bahwa Indonesia akan lebih baik dari sekarang. Bahwa Indonesia perlahan akan bangkit, berdiri, dan meloncat.

Yes, there is hope (for Indonesia)

[can you find it?]


Seharian Urusan TEDx Bandung

Hari Minggu pagi 27 Maret 2011, dari jam 7:30 pagi, saya sudah beradai di Saung Mang Udjo untuk ikut berpartisipasi sebagai pembicara di acara TEDx Bandung. Setelah acaranya selesai, beberapa pembicara dan kawan-kawan ngumpul di Toko You untuk after the party. Ngobrol soal start-up dan lain-lain.

Nah sekarang saya sudah sampai rumah. Mau istirahat sebentar sebelum menuliskan bits and pieces dari apa yang saya temui di sana. Sekarang laporan dulu :)

Link terkait

  1. Doodling tentang sesi saya oleh bu Tita
  2. Potret dari peserta
  3. Potret dari peserta
  4. Potret pembicara dan panitia oleh bu Tita

foto hari ini

[ini sebetulnya foto minggu lalu, tapi baru ditampilkan hari ini.]

Russian Earl Grey. Dipotret di Clarke Quay, Singapore.


earth hour 2011

Katanya hari ini (Sabtu, 26 Maret 2011) ada kegiatan earth hour 2011. Kita matikan listrik jam 8:30 malam (sampai jam berapa?). Tadi lihat iklan di TV.

Ada yang mau ikutan? Kita coba yuuukkk … matikan (hampir) semua listrik di rumah yuk.


Hemat Sumber Daya Komputasi

Sebagai seorang yang besar dengan lingkungan komputasi yang terbatas (limited computing resources), saya selalu berusaha hemat dengan penggunaan apa saja yang terkait dengannya. Misalnya kalau tidak perlu download ya tidak download. Gak iseng gitu. Jadi saya sering merasa terganggu dengan orang yang gampang klik di sini dan di sana, meskipun saya tahu bahwa aksesnya gratis atau murah. Mengapa tidak dihemat? Siapa tahu ada yang lebih membutuhkan bandwidth itu.

Saya masih sering tidak berani membuka link YouTube karena sudah kebayang besarnya data yang harus disedot. Bahkan, barusan ada update di komputer yang besarnya hanya 1 MB tapi saya sudah terkejut dulu. Wah 1 MB. Padahal update untuk ukuran itu sangat cepat :)   Masih terkaget-kaget :)

Selain urusan jaringan, saya juga terbiasa menutup aplikasi-aplikasi yang tidak dibutuhkan untuk menghemat memori dan CPU di komputer saya :)   Demikian pula tab di browser biasanya saya buka sehemat mungkin (dengan asumsi saya bahwa setiap tab pasti makan memori) Maklum, dulu komputer saya hanya punya memori dengan ukuran Kilo Bytes, bukan Giga Bytes. hi hi hi. Jadi masih serem saja melihat aplikasi tidak perlu mengganjal di memori.


apt di belakang proxy: masalah

Baru saja saya mencoba update Ubuntu melalui jaringan yang berada di belakang proxy yang membutuhkan userid dan password. Akses internet di ITB harus menggunakan proxy seperti itu.

Menurut berbagai dokumen yang saya baca, caranya ada dua cara;

  1. mengubah konfigurasi (/etc/apt/apt.conf)
  2. membuat environment variabel http_proxy

Saya sudah coba keduanya, tetapi ternyata masih masalah. Format untuk memasukkan data userid dan password di proxy adalah “http://userid:password@alamat.proxy:port”. Nah kalau saya coba seperti itu dia punya masalah. Seolah-olah “password” merupakan bagian dari hostname. Jadi dia tidak bisa menemukan host “password@alamat.proxy”. Ya tentu saja dong :)

Saya coba eksperimen dengan alamat dari port saja juga masalah. Jadi kalau saya coba “http://alamat.proxy:port” dan kebetulan portnya adalah 8080 maka dia marah karena tidak menemukan “alamat.proxy:8080:80″. Kok ditambahkan angka 80 lagi di belakangnya ya?

Masih ngoprek …


Pro Kontra Bimbel (Bimbingan Belajar)

Di milis dosen sedang ramai dibicarakan mengenai pro dan kontra bimbel (bimbingan belajar). Yang menarik adalah saat ini ada bimbingan belajar untuk mahasiswa TPB ITB. Wah. Kalau jaman dulu kayaknya tidak ada bimbel TPB, tapi ada bimbel di level SMA.

Waktu jaman saya SMA dulu bimbel atau bimbingan tes untuk masuk ke perguruan tinggi sudah menjamur. Saya juga termasuk yang ikutan bimbel karena saran dari orang tua. Saya sendiri mengikuti bimbel untuk mengetahui apa sih isinya. Nanti dianggap sok jago kalau gak ikutan bimbel. Akhirnya memang saya lebih banyak tidur di tempat bimbel. he he he.

Apa manfaat yang saya peroleh dari Bimbel? Kalau untuk menambah materi / ilmu pengetahuan, rasanya tidak, tapi saya mendapatkan beberapa manfaat. Pertama, saya mengikuti bimbel Saut Santosa (atau Sentosa? atau Santoso? lupa namanya hi hi hi). Nah pak Santosa ini lucu banget. Dia mengajar Fisika. Satu-satunya guru yang membuat saya melek karena teknik ngajarnya lucu. Kadang teriak. Kadang mengagetkan siswa. Menulis di papan tulis juga lucu. Jadinya … saya meniru cara dia mengajar. Fun.

Kedua, bimbel memberi tempat bagi saya untuk menguji. Try out. Testing. Analoginya begini. Kalau saya jagoan main badminton (atau pingpong, catur, atau olah raga lainnya), saya kan membutuhkan laga tanding sebelum maju ke pertandingan tingkat nasional. Tentu saja saya bisa belajar sendiri, tapi suasana laga pertandingan (lengkap dengan stress dan seterusnya) tidak akan terjadi kalau kita belajar sendiri. Jadi itulah yang saya cari.

Selain dari itu … ya manfaatnya bisa tidur di kelas. ha ha ha.

Kembali ke masalah bimbel. Perlu atau tidak? Manfaat atau tidak? Jawaban saya adalah … tergantung. Jika kita berharap bahwa siswa akan mendapatkan ilmu / bimbingan untuk meningkatkan content-nya, menurut saya mungkin tidak terlalu. (Kecuali ada beberapa kasus yang memang bisa dilakukan untuk bimbingan yang sifatnya privat.) Jadi bimbel bukanlah pengganti guru/dosen di sekolah/kampus. Jika yang ini tujuannya, salah besar … (Kecuali memang guru / dosen sudah kacau!)

Kalau tujuan bimbel ini untuk mempersiapkan untuk tes, ya ini bisa dicapai.

BTW, masalah bimbel ini tidak saja di Indonesia kok. Di negara terdekat kita, Singapura, ada tutor juga kok. Lihat saja situs tutor portal mereka. :-)


mau?


Presentasi hari ini

Hari ini saya memberikan presentasi tentang cloud computing di IT Telkom. Presentasi lumayan lancar.

Materi presentasinya hanya merupakan update dari materi presentasi yang dulu pernah saya presentasikan. Sebetulnya ada hal-hal yang bisa dielaborasi lebih lanjut, seperti misalnya masalah terbenturnya cloud computing dengan masalah regulasi. Tapi ini mungkin membutuhkan pembahasan terpisah. Mungkin nanti bisa saya mulai diskusinya di blog ini. Sementara ini masih ada kerjaan yang harus dibereskan. Sekarang belum sempat … woro-woro dulu aja :)


Mau?

Menu makan siang di Qiji (Bugis, Singapura): Laksa, popiah (lumpia basah), milk tea, bandung


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.