9 Summers 10 Autumns: resensi

Baru saja saya selesai membaca buku “9 Summers 10 Autumns” (atau saya sebut saja 9/10) karangan Iwan Setyawan. Buku ini saya beli beberapa hari yang lalu dan sekarang sudah tamat. Artinya buku ini saya sukai karena bisa mengalahkan kebosanan saya dalam membaca :)  Ada banyak buku, novel, yang menurut orang bagus-bagus tapi belum selesai saya baca.

Buku ini bercerita mengenai diri Iwan sendiri, sebuah otobiografi. Lucunya, di dalam buku ini Iwan becerita kepada seorang anak kecil yang mula-mula dia temui ketika dia dirampok di New York. Mengapa bercerita kepada anak kecil? Saya hanya bisa menduga-duga.

Bercerita kepada seorang anak kecil yang dekat kepada kita akan menghilangkan kesan arogan (menceritakan kehebatan kita) dan menghilangkan kesulitan bercerita mengenai hal-hal yang bersifat privat (yang sulit diungkapkan). Sebagai contoh, Iwan lebih mudah untuk mengatakan “Aku kangen bapak“, kepada anak kecil itu daripada dia langsung berkata kepada pembaca. Bagian “aku kangen bapak” merupakan bagian yang paling saya sukai dalam buku ini.

Ah, saya baru ingat. Saya ingin membuat otobiografi saya dan tidak pernah berhasil. Ada banyak hal yang sulit saya ceritakan. Mungkin menggunakan media anak kecil ini merupakan sebuah solusi? Entahlah. Penggunaan anak kecil ini juga mengingatkan saya akan film The Kid, yang dibintangi oleh Bruce Willis.

Enough about the kid. Mari kita diskusikan hal lain.

Cara Iwan bercerita berkesan seperti dia sudah sering menulis buku! Tidak terlalu bertele-tele tapi juga tidak kering. Ini berbeda dengan cara saya menulis yang terlalu to the point (dan akibatnya menjadi kering). ha! Lihat saja resensi ini untuk melihat cara saya menulis. ha lagi! Cara Iwan menulis mungkin yang membuat saya bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat, tetapi tidak terlalu buru-buru.

Buku ini membuat saya bersemangat untuk menulis buku lagi. Saya pikir riwayat hidup saya juga banyak yang menarik (dan bahkan lebih banyak yang bisa diceritakan). Saya tadinya berpikir bahwa kehidupan saya tidak menarik bagi orang lain, tetapi setelah membaca buku Iwan saya jadi banting setir. Banyak yang bisa saya ceritakan dari kehidupan saya. Hanya saja saya masih harus belajar untuk becerita.

Tentu saja bagi yang berharap buku ini memiliki ketegangan ala cerita action akan kecewa. Buku ini lebih kalem. Membaca buku ini seperti mendengarkan lagu-lagu opera yang dibawakan oleh Pavarotti daripada mendengarkan musik cadas band Kiss. Oh ya, dari cerita di buku ini saya jadi tahu bahwa Iwan memang menyukai teater dan opera. Bahkan teaterlah yang menjadi obat untuk mengatasi tekanan atas kemiskinan masa kecilnya.

Hal lain yang menarik bagi saya adalah saya menangkap kesan kesepian (loneliness) dalam kehidupan Iwan di Amerika. Ketika saya baru memulai hidup di Kanada, saya merasakan hal yang sama. Hal ini sukar untuk saya ceritakan kepada orang yang belum pernah mengalaminya. Kebanyakan orang tinggal di luar negeri untuk jangka waktu yang “singkat”, 2 atau 3 tahun. Bagi yang tinggal lebih lama, katakanlah 10 tahun, maka hal ini dapat dirasakan dan dimengerti.

Hmmm … sebetulnya tulisan ini berisi tentang resensi buku Iwan atau tentang diri saya sih? Hal yang menarik dari membaca buku atau mendengarkan musik adalah kita menjadikannya sebagai hal yang personal, yang menjadikan bagian dari sejarah kehidupan kita. Kita mengguratnya di sebuah titik dalam perjalanan waktu (time space). Apa artinya, that book made a dent in somebody’s life. Iwan, selamat atas keberhasilan ini.

Mengenai ceritanya? Ya tentang Iwan. Dia dilahirkan dari keluarga sopir yang di kota Batu, Jawa Timur, (kota Apel). Dengan keterbatasan yang ada, sangat sulit untuk diramalkan bahwa akhirnya dia bisa menjadi salah seorang manager di perusahaan raksasa di New York (The Big Apple). Bagaimana mungkin? Cerita tentang perjuangan dia dan keluarganya dapat menjadi insipirasi atau motivasi bagi para pembaca. Daripada saya menceritakan detailnya di sini, silahkan baca bukunya saja deh. Tentu saja lebih bagus ceritanya di sana :)

Nilai akhir? Bagi saya buku ini bernilai 4,5 dari skala maksimum 5. Mengapa tidak bernilai 5? Sebetulnya alasannya mungkin agak silly. Kalau saya berikan nilai 5, atau nilai maksimum, maka hal ini akan menjadi bumerang bagi Iwan. Dia akan mengalami stress untuk membuat buku lagi yang bisa mengalahkan buku ini. How do you top 5 out of 5? Akibatnya mungkin Iwan tidak mamu membuat buku lagi. Padahal kita semua menantikan buku berikutnya. Nah, kalau diberi nilai 4,5 kan berarti masih bisa buat buku yang nilainya 5. ha ha ha.

I take it back. Buku ini 5 / 5. Direkomendasikan.

Hmm… baru kepikiran. Kayaknya buku ini pantas juga diangkat ke layar lebar.

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

30 responses to “9 Summers 10 Autumns: resensi

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.839 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: