Archive Bulanan: April 2011

Kehidupan Mahasiswa Setelah Lulus

Siang ini saya diminta untuk memberikan talk show dengan topik “kehidupan mahasiswa setelah lulus”. Acara ini dilakukan di Himpunan Mahasiswa Elektro (HME). Pendengarnya adalah wisudawan dan orang tuanya. Hari ini adalah hari Wisuda ITB. Wah, bakalan rame kampus ya. (Mesti mikir jalan ke kampus dan parkirnya.)

Apa yang ingin saya bicarakan ya? Hmm… Saya akan bercerita tentang alternatif yang bisa dipilih, antara lain:

  1. melanjutkan ke S2 dan S3;
  2. bekerja (menjadi PNS, kerja di BUMN, perusahaan asing, start-up, di kampus menjadi peneliti);
  3. wiraswasta / entrepreneur;
  4. magang dulu.

Kira-kira itulah kerangkanya.

Permasalahan yang dihadapi adalah para orang tua dulu berharap bahwa anaknya menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena faktor kestabilan. Apakah sekarang masih demikian? Ada kemungkinan sudah berubah. Kita lihat saja. Saya berharap bahwa para wisudawan ini bisa mengejar passion mereka masing-masing.

Wish me luck … (sekarang saya berangkat futsal dulu).


Jum’atan dan ngantuk

Bagaimana agar kita tidak ngantuk ketika Jum’atan ya?

Jum’atan tadi saya senyum-senyum karena orang di sebelah saya tertidur. Mendengkur. Hi hi hi. Sebetulnya saya sendiri juga sedang berjuang keras untuk tetap terjaga.

Eh, kalau sampai tertidur seperti itu, batal tidak ya wudhunya?

Terus saya berpikir, kalau sampai iqomat dia masih tidur, terpaksa saya senggol ;)   Untungnya dia terbangun pas khotib membaca doa. Selalu begitu. Terbangun pas baca doa. Pas…


Logbook harus ditulis tangan

Di kampus, kami mendapatkan pendanaan untuk penelitian kami. Salah satu bagian dari pelaporan kegiatan penelitian adalah adanya buku catatan penelitian (logbook). Logbook ini digunakan untuk mencatat kegiatan penelitian.

Nah, ketika kami dievaluasi tahun lalu, saya meminta maaf karena belum sempat membuat berkas elektronik (MS Word doc) untuk buku catatan. Catatan kami masih dalam format corat-coret di buku. (Kami memang selalu mencatat kegiatan penelitian kami.) Sungguh terkejut saya karena justru logbook yang ditulis tangan yang dianggap sah. Hah???

Minggu lalu juga saya melihat peneliti lain terkejut ketika diminta untuk membuat logbook dengan tulisan tangan. (Saya tidak terkejut karena sudah tahu itu tahun lalu. he he he.)

Apakah memang logbook harus ditulis tangan? Mengapa masih harus ditulis tangan? Semestinya tidak harus ya? Kan sudah ada teknologi yang bisa digunakan untuk mencatat. Notebook bisa dibawa-bawa. Apalagi sekarang sudah ada tablet. Tinggal masukkan catatan penelitian ke blog. Gitu kan?


Proposal Dadakan

Kenapa ya kalau (calon) client minta proposal selalu dadakan; proposal harus masuk besok pagi. Ini seperti mereka tidak punya rencana begitu?

Yang repot adalah kita, yang membuat proposal. Memangnya mudah itu membuat proposal? Selain content-nya yang susah (karena disesuaikan dengan hal spesifik yang diminta oleh calon client),  memperkirakan harga juga tidak mudah. Belum lagi urusan layout dari proposalnya itu sendiri.

Hadoh …


Serangan Ulat

Baca berita bahwa sekarang sedang banyak serangan ulat. Di rumah juga demikian. Pohon-pohon dimakanin ulat.

Yang agak “menyeramkan” sebetulnya adalah pohon di depan rumah. Ada suara “kretek, kretek, kretek” begitu. Ini nampaknya suara daun yang dimakan oleh ulat. hi hi hi.

Pernah saya jalan di bawah pohon itu dan ada sesuatu yang jatuh di kepala saya. Langsung saya lari sambil mengusap-usap kepala.

Perlu dipotret gak ya ulatnya? Apalagi ulat bulu … hiii


Memilih Kata Dalam Tulisan

Sering saya terkagum-kagum atas pemilihan kata yang digunakan penulis di dalam bukunya. Kok bisa-bisanya memilih kata yang bagus-bagus. Kenapa saya tidak bisa ya?

Selain tidak bisa, saya juga merasakan keraguan dalam memilih kata. Saya merasa malu untuk memilih kata-kata yang berbunga. Itu seperti saya memakai gincu. Kenes. Hiii … seram. Lebih baik seperti ini ini saja, meskipun kalimat menjadi terlalu singkat, keras, dan kadang vulgar. I am a man, you know!

(atau ini hanya sekedar alasan?)


Tidak bisa menduga

Kadang saya menampilkan (upload) foto di blog/facebook/dan tempat lainnya tanpa pretensi apa-apa. Kadang respon yang saya dapat mengejutkan saya. Sebagai contoh, foto ini.

Foto ini saya ambil ketika saya sampai di kelas lebih pagi dari mahasiswa saya. Kuliah saya ini dimulai jam 7 dan saya datang sebelum jam 7. Iseng-iseng, saya jepret saja. Kemudian foto ini saya upload ke facebook. Ternyata banyak yang komentar. Hmm… Padahal saya tadinya menduga bahwa foto ini akan dilewati saja. Paling banter di-like beberapa orang saja. :)

Suasana yang kelabu dan bahkan agak spooky lah yang membuat orang berkomentar. Eh, jangan-jangan memang beneran spooky. Hiii jadi serem.

Selain ini ada beberapa kejadian yang mirip juga. Ada foto atau tulisan yang kemudian banyak diskusinya. Padahal saya tidak menduga hal itu. But, unpredictable is so nice …


Foto hari ini

Lucu …
saya potret di acara pameran mahasiswa Desain, FSRD, ITB.

Harusnya makin banyak mainan yang seperti ini ya?


9 Summers 10 Autumns: resensi

Baru saja saya selesai membaca buku “9 Summers 10 Autumns” (atau saya sebut saja 9/10) karangan Iwan Setyawan. Buku ini saya beli beberapa hari yang lalu dan sekarang sudah tamat. Artinya buku ini saya sukai karena bisa mengalahkan kebosanan saya dalam membaca :)   Ada banyak buku, novel, yang menurut orang bagus-bagus tapi belum selesai saya baca.

Buku ini bercerita mengenai diri Iwan sendiri, sebuah otobiografi. Lucunya, di dalam buku ini Iwan becerita kepada seorang anak kecil yang mula-mula dia temui ketika dia dirampok di New York. Mengapa bercerita kepada anak kecil? Saya hanya bisa menduga-duga.

Bercerita kepada seorang anak kecil yang dekat kepada kita akan menghilangkan kesan arogan (menceritakan kehebatan kita) dan menghilangkan kesulitan bercerita mengenai hal-hal yang bersifat privat (yang sulit diungkapkan). Sebagai contoh, Iwan lebih mudah untuk mengatakan “Aku kangen bapak“, kepada anak kecil itu daripada dia langsung berkata kepada pembaca. Bagian “aku kangen bapak” merupakan bagian yang paling saya sukai dalam buku ini.

Ah, saya baru ingat. Saya ingin membuat otobiografi saya dan tidak pernah berhasil. Ada banyak hal yang sulit saya ceritakan. Mungkin menggunakan media anak kecil ini merupakan sebuah solusi? Entahlah. Penggunaan anak kecil ini juga mengingatkan saya akan film The Kid, yang dibintangi oleh Bruce Willis.

Enough about the kid. Mari kita diskusikan hal lain.

Cara Iwan bercerita berkesan seperti dia sudah sering menulis buku! Tidak terlalu bertele-tele tapi juga tidak kering. Ini berbeda dengan cara saya menulis yang terlalu to the point (dan akibatnya menjadi kering). ha! Lihat saja resensi ini untuk melihat cara saya menulis. ha lagi! Cara Iwan menulis mungkin yang membuat saya bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat, tetapi tidak terlalu buru-buru.

Buku ini membuat saya bersemangat untuk menulis buku lagi. Saya pikir riwayat hidup saya juga banyak yang menarik (dan bahkan lebih banyak yang bisa diceritakan). Saya tadinya berpikir bahwa kehidupan saya tidak menarik bagi orang lain, tetapi setelah membaca buku Iwan saya jadi banting setir. Banyak yang bisa saya ceritakan dari kehidupan saya. Hanya saja saya masih harus belajar untuk becerita.

Tentu saja bagi yang berharap buku ini memiliki ketegangan ala cerita action akan kecewa. Buku ini lebih kalem. Membaca buku ini seperti mendengarkan lagu-lagu opera yang dibawakan oleh Pavarotti daripada mendengarkan musik cadas band Kiss. Oh ya, dari cerita di buku ini saya jadi tahu bahwa Iwan memang menyukai teater dan opera. Bahkan teaterlah yang menjadi obat untuk mengatasi tekanan atas kemiskinan masa kecilnya.

Hal lain yang menarik bagi saya adalah saya menangkap kesan kesepian (loneliness) dalam kehidupan Iwan di Amerika. Ketika saya baru memulai hidup di Kanada, saya merasakan hal yang sama. Hal ini sukar untuk saya ceritakan kepada orang yang belum pernah mengalaminya. Kebanyakan orang tinggal di luar negeri untuk jangka waktu yang “singkat”, 2 atau 3 tahun. Bagi yang tinggal lebih lama, katakanlah 10 tahun, maka hal ini dapat dirasakan dan dimengerti.

Hmmm … sebetulnya tulisan ini berisi tentang resensi buku Iwan atau tentang diri saya sih? Hal yang menarik dari membaca buku atau mendengarkan musik adalah kita menjadikannya sebagai hal yang personal, yang menjadikan bagian dari sejarah kehidupan kita. Kita mengguratnya di sebuah titik dalam perjalanan waktu (time space). Apa artinya, that book made a dent in somebody’s life. Iwan, selamat atas keberhasilan ini.

Mengenai ceritanya? Ya tentang Iwan. Dia dilahirkan dari keluarga sopir yang di kota Batu, Jawa Timur, (kota Apel). Dengan keterbatasan yang ada, sangat sulit untuk diramalkan bahwa akhirnya dia bisa menjadi salah seorang manager di perusahaan raksasa di New York (The Big Apple). Bagaimana mungkin? Cerita tentang perjuangan dia dan keluarganya dapat menjadi insipirasi atau motivasi bagi para pembaca. Daripada saya menceritakan detailnya di sini, silahkan baca bukunya saja deh. Tentu saja lebih bagus ceritanya di sana :)

Nilai akhir? Bagi saya buku ini bernilai 4,5 dari skala maksimum 5. Mengapa tidak bernilai 5? Sebetulnya alasannya mungkin agak silly. Kalau saya berikan nilai 5, atau nilai maksimum, maka hal ini akan menjadi bumerang bagi Iwan. Dia akan mengalami stress untuk membuat buku lagi yang bisa mengalahkan buku ini. How do you top 5 out of 5? Akibatnya mungkin Iwan tidak mamu membuat buku lagi. Padahal kita semua menantikan buku berikutnya. Nah, kalau diberi nilai 4,5 kan berarti masih bisa buat buku yang nilainya 5. ha ha ha.

I take it back. Buku ini 5 / 5. Direkomendasikan.

Hmm… baru kepikiran. Kayaknya buku ini pantas juga diangkat ke layar lebar.


Tablet makin populer

Saya perhatikan bahwa perangkat tablet (iPad, Galaxy tab, dan teman-temannya) mulai populer di Indonesia. Saya mulai melihat banyak orang yang menggunakannya di tempat terbuka (public places). Apa yang membuatnya makin populer? Apakah dia bisa mengalahkan netbook, misalnya? Berikut ini ada beberapa pendapat saya.

Yang pertama, tablet ini langsung on. Begitu dinyalakan dia langsung siap digunakan tanpa harus menunggu proses booting yang harus dilakukan dengan menggunakan netbook / notebook / komputer. Kebayang oleh saya kalau kita sedang diskusi kemudian dibutuhkan sebuah referensi tertentu. Kalau menggunakan notebook (yang tadinya dimatikan) maka kita harus menyalakannya dahulu dan menunggu. Keburu sudah tidak mood lagi atau diskusi sudah terus berjalan ke mana. Langsung on ini yang membuat tablet (dan handphone) menjadi platform yang menarik.

Yang kedua, tablet lebih ringkas dan ringan dibandingkan dengan netbook. Sebetulnya tablet devices kan sudah ada cukup lama, tetapi versi-versi terdahulu masih sangat berat (karena sebetulnya dia adalah notebook yang menggunakan layar sentuh saja).

Yang ketiga, layar tablet lebih lebar dibandingkan dengan handphone. Ini sangat dibutuhkan jika kita banyak membaca dokumen (paper, buku, dan seterusnya). Jadi, meskipun handphone lebih ringan, dia terlalu kecil untuk digunakan membaca dokumen yang panjang.

Yang keempat, aplikasi untuk tablet ini sudah mulai banyak. Ternyata keberadaan aplikasi ini penting. Buat apa punya platform (device) yang bagus tapi tidak ada aplikasinya? (Perhatikan ada tablet yang mungkin terbatas aplikasinya.)

Aplikasi yang saya lihat banyak digunakan oleh adalah pembaca dokumen (yang umumnya dalam format PDF). Saya melihat orang menggunakan tablet untuk membawa koleksi buku referensi (tidak mungkin membawa-bawa 10 buku referensi dalam format fisik),  makalah, atau tugas baca. Ketika dibutuhkan, langsung dinyalakan dan dicari. Saya melihat ini menjadi daya tarik bagi mahasiswa, peneliti, dan orang-orang yang harus sering melihat ke referensi. Seperti yang sudah saya utarakan, hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan notebook tetapi tablet lebih praktis.

Saya melihat banyak aplikasi lainnya di Indonesia. Seorang kawan mengeluh karena anaknya (yang masih di SD) harus membawa banyak buku pelajaran di tasnya sehingga tasnya menjadi sangat besar dan berat. Kasihan. Kata gurunya bukunya harus dibawa. Nah, kalau dengan menggunakan tablet kan hanya cukup bawa satu tablet saja. Tas bisa menjadi lebih ringan. Masalahnya, apakah sekolah memperbolehkan hal ini?


Pola Akses Internet Yang Bursty

Saya perhatikan, berdasarkan komentar yang ada di blog ini dan cara saya mengakses internet, bahwa pola kita mengakses internet tidak teratur (tidak konstan) alias bursty. Contohnya adalah kita membalas email, menuliskan komentar, menuliskan status, dan membalas status dalam satu satuan waktu tertentu. Semuanya diborong. Kemudian kita “hilang” lagi dari internet. Kemudian setelah jeda waktu tertentu kita kembali sibuk lagi berinternet secara borongan. Jadi tidak smooth begitu, tapi bursty.

Begitu ya?

[Update]
Ada yang bertanya-tanya mengapa topik ini saya angkat? Topik ini terkait dengan perencanaan sistem, capacity planning. Sebagai contoh, kalau kita hanya menyediakan 1 server dan link 128 kBps dan aksesnya bursty, maka pada saat terjadi burst access (ada puluhan ribu orang akses secara bersamaan) sistem kita kehabisan sumber daya tetapi pada saat lain tidak ada yang mengakses (sehingga sistem terlihat berlebihan). Untuk merencana dengan menggunakan metodologi “jaman dahulu” (yang sangat mengandalkan kepada statistik) kemungkinan tidak cocok lagi.


Foto hari ini

Ini foto lapangan bola PPI pagi ini. Cerah tapi anginnya luar biasa besarnya.

Sekarang tinggal capenya ..


Pelajaran Manggung

Baru saja saya selesai manggung dengan BanDos (Band Dosen ITB) di acara Beatles Night, di cafe Dacosta, hotel Bumi Sawunggaling, Bandung. Nah, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik (lessons learned).

Yang pertama adalah sound system. Sound system yang digunakan tidak terlalu bagus. Pas-pasan gitu. Soundnya kurang jernih. Kami sendiri terpaksa membawa ampli untuk keyboard dan bass karena yang disediakan kayaknya kurang nendang :)   Tapi ini soal selera dan budget :)

Yang kedua adalah soal susunan lagu. Lebih dari seminggu sebelum acara ini berlangsung saya sudah memberikan daftar lagu kepada panitia pengelola. Tujuannya adalah agar lagu-lagu yang kami bawakan tidak bentrok / sama dengan lagu yang dibawakan oleh band lain. Jadi, bagi-bagi gitu. Kami tampil nomor dua. Betapa kagetnya saya ketika lagu yang dibawakan adalah lagu yang ingin kami nyanyikan. Bahkan ada 3 lagu yang sama; (1) Let it be, (2) Yesterday, (3) I saw her standing there. Saya protes ke panitia. Kalau tahu sama, ya kami bisa ganti lagu lain. Yang kasihan kan penonton, bosan mendengarkan lagu yang sama dibawakan oleh beberapa band.

Yang ketiga adalah soal kerja keras. Untuk main 9 lagu saja kami harus berlatih 3 kali, masing-masing sekitar 4 sampai dengan 5 jam. Itu di luar persiapan masing-masing, seperti misalnya mempersiapkan chord, lirik, dan latihan sendiri. Banyak orang yang mengira bahwa hal ini mudah. Tinggal tampil saja. Oh, tidak begitu.

Ada banyak hal yang lain, tapi saya sudah ngantuk. hi hi hi. Ini sudah jam 11 malam dan saya sudah capek seharian mempersiapkan diri untuk acara ini. (Kami tadi pagi latihan jam 11 pagi. Saya sendiri mulai dari jam 10. So, lebih dari 12 jam sudah.) Lain kali lagi akan kita bahas.

Oh ya, play list kami:

  1. Hey Jude
  2. Imagine
  3. Blackbird
  4. This boy
  5. The Long and Winding Road
  6. Here, there, and everywhere
  7. Something
  8. Yesterday
  9. I saw her standing there

Seharusnya ada satu lagu lagi yang tidak kami bawakan karena sudah dibawakan oleh band lain, yaitu Let it be. Band lain juga sudah membawakan Yesterday dan I saw her standing there, tapi ini tetap kami bawakan.

Maju terus …  Oh ya, kami senang bisa manggung di Cafe Dacosta. Mudah-mudahan bisa rutin.


Selamat pagi …

[dipotret beberapa menit lalu, 20 meter dari rumah]


Diajarkan Yang Buruk: mengemudi di Bandung

Saya perhatikan di jalan tol (Bandung – Jakarta), pengemudi Bandung (berdasarkan plat nomornya) kadang rada ngaco nyetirnya. Tidak semua pengemudi dari Bandung, mungkin sebagian kecil sih. Yang saya sebut ngaco adalah mereka mengemudi tidak pada jalurnya. Garis jalur tidak diperhatkkan.

Setelah saya pikir-pikir ini mungkin karena didikan di Bandung. Banyak jalan di Bandung yang tidak diberi marka untuk membedakan jalur. Jadi pengemudi bebas mau di sebelah mana saja, selama bisa ya oke saja. Gitu? Ini didikan yang buruk ya …


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.