Ah bukan …
Selamat pagi …
Beberapa waktu yang lalu saya melihat mahasiswa (ITB) menggelar aksi di depan kampus. Salah satu spanduk yang mereka buat bertuliskan:
Selamat datang putra putri Indonesia
terbaikterkaya
Saya mencoba memahami bahwa mereka ingin membuat sebuah sindiran akan mahalnya uang masuk ITB. Terlepas dari itu, saya merasa bahwa ada semacam pandangan bahwa kaya itu “memalukan”, “dosa”, dan sejenisnya. Akibatnya orang malu dan yang kaya kemudian “dihukum” (penalized) karena kekayaannya.
Sebagai contoh, perguruan tinggi menerapkan diskriminasi terhadap mahasiswa yang orang tuanya kaya dengan meminta bayaran yang lebih mahal. Bagi saya ini agak aneh. Semestinya tidak ada beda antara kaya dan miskin dalam pendidikan bukan? Kenapa kok jadi ruwet begini?
Contoh lain. Ada undang-undang yang mengharuskan perguruan tinggi menerima 20% mahasiswa berasal dari yang kurang mampu. Ini bagaimana mengujinya? Apa nanti ada perlombaan miskin-miskinan? Kemudian akan muncul jual beli surat miskin. (Justru orang yang memang tidak mampu beneran, biasanya memiliki harga diri untuk mengaku-aku miskin.) Mengapa ini dibebankan kepada perguruan tinggi? Bukankah ini seharusnya merupakan tanggung jawab dari pemerintah??? Seharusnya yang ada adalah hal kebalikannya, yaitu pemerintah memberikan beasiswa / subsidi kepada yang tidak mampu. Bukannya lepas tangan dan kemudian mengharuskan pihak lain yang menyelesaikan masalah ini.
Kembali ke topik, apakah kaya itu dosa?
Bagi yang ingin mendengar dan melihat saya melawak soal the Future of Digital Entertainment in Indonesia, bisa lihat di YouTube. Ini adalah presentasi saya di acara TEDx Bandung. Silahken …
Pas hari Minggu, senar gitar putus. Sudah waktunya untuk mengganti senar gitar.
Kendorin senar dan lepas senar-senarnya. Sesekali ujung senar yang tajam nancep ke jari. Lumayan sakit juga. Setelah itu gitar dibersihkan (dilap-lap). Mumpung senarnya sedang tidak ada.
Menyiapkan senar baru. Pakai yang light saja supaya jari tidak terlalu berat
Beres … Senin bisa dipakai. Ternyata sekedar untuk mengganti senar gitar membutuhkan kesabaran.
Beberapa hari yang lalu saya menulis dan ballpointnya habis isinya. Wah. Jarang saya menggunakan ballpoint sampai habis isinya. Biasanya sebelum habis isinya, ballpointnya sudah keburu hilang. he he he.
Nah, sekarang ballpoint ini enaknya dibuang atau dibelikan isinya saja ya? Hmmm…
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda menggunakan ballpoint sampai habis?
Sebetulnya ini bukan foto sarapan pagi saya hari ini. he he he. Hari ini hanya sarapan roti dan teh saja. Sarapan pagi Anda hari ini apa?
Selamat pagi …
Kemarin saya merasa tidak kreatif. Ceritanya, diberikan sebuah kegiatan / program kerja dengan aktifitas tertentu, kami harus mencari kode nama untuk kegiatan tersebut. Ternyata susah juga dan akhirnya kode nama yang dihasilkan kurang bagus. Saya merasa tidak kreatif. Mosok begitu saja tidak bisa?
Itu seperti kalau kita ditanya, coba buat daftar 30 topik yang bisa dibuatkan tulisannya di blog. (Jadi bisa satu topik setiap hari.) Ternyata tidak mudah. Coba deh. Ini bisa kita jadikan latihan. Ternyata (menjadi) kreatif itu tidak mudah ya?
Beberapa hari yang lalu saya memberikan kuliah tentang “Kreatifitas dan Inovasi di Bisnis Digital”. Saya mencoba menjelaskan apa itu teknologi digital. Contoh yang saya ambil adalah dari dunia musik.
Dahulu industri musik dimulai dengan penjualan piringan hitam (vinyl records), yang notabene adalah teknologi analog. Kemudian muncul kaset, yang meskipun masih analog dan memiliki kualitas lebih buruk daripada piringan hitam tetapi menguasai pasar karena murahnya biaya reproduksi. Kemudian muncullah teknologi digital dengan compact disc (CD). Maka mulai terjadi perubahan industri musik. Terlebih lagi setelah muncul teknologi CD RW. Tambah lagi, muncul MP3 dan internet. Maka semakin menarik peta industri musik.
Agar mahasiswa paham tentang apa itu piringan hitam, maka saya bawa salah satu koleksi saya ke kelas untuk show and tell. Maka terjadilah potret ini, “(Phil) Collins Goes To School“.
Sayang sekali pemutar piringan hitam saya rusak jarumnya. Kayaknya mesti cari tempat untuk memperbaikinya di Bandung ya? Saya ingin menunjukkan (memperdengarkan) suara piringan hitam yang jauh lebih baik daripada CD sekalipun.
Oh ya, efek dari teknologi informasi tidak hanya muncul di industri musik saja tetapi juga di dunia perfilman (video), dan nantinya juga buku (penerbitan). Selamat datang teknologi digital …
Sering di pagi hari, saya lihat mahasiswa membawa box (tupperware?) besar berisi donat. Kayaknya ini untuk mahasiswa sarapan ya? Yang belum sempat sarapan di rumah bisa beli donat gitu? Nanti gantian yang bertugas membawa donat. Apa gitu?
Memang susah sekali mencari sarapan yang sehat di pagi hari di kampus. Tapi kan mahasiswa masih muda ya. Jadi boleh sedikit ngaco pola hidupnya.
Bagaimana menurut Anda?
Saya masih terus mencari program twitter yang terbaik. Hasil search di menunjukkan review yang ada sudah kuno semua. Apakah memang tidak ada client twitter yang baru? Atau memang program-program lama masih yang terbaik?
Program twitter yang paling sering saya gunakan (artinya yang terbaik menurut saya sementara ini) adalah seesmic.com. Sebetulnya seesmic punya program yang bisa dijalankan di desktop (dengan menggunakan Adobe AIR), tetapi saya lebih suka mengakses seesmic dengan menggunakan browser.
Hal yang positif dari web-based seesmic ini menurut saya:
Saya juga sudah mencoba twitter.com (tentu saja), hootsuite, dan lain-lain, tetapi tetap yang paling sering saya pakai adalah seesmic.com ini. Silahkan dicoba.
Setelah dua hari kemarin sibuk-suribuk, hari ini kesibukan saya berlanjut. Hari ini saya ada rapat (tentang nama domain) di Kominfo, yang artinya saya harus ke Jakarta. Sebetulnya saya agak malas pergi ke Jakarta untuk satu urusan ini saja, tetapi untuk menghargai rekan-rekan di Kominfo saya akan hadir.
Acaranya jam 9 pagi. Hadoh. Jakarta tuh macetnya minta ampun. Berarti saya harus berangkat jam berapa? Saya putuskan untuk berangkat jam 4 pagi. Artinya, saya harus bangun maksimal jam 3:15 pagi. Maka jam segitulah saya dibangunkan oleh alarm. Males-malesan. Agar saya tersadar, saya setel TV. Eh, ternyata sedang ada pertandingan Barca vs. Real Madrid. Langsung mata terbuka mencrang. he he he.
Jam 4 saya meluncur dari rumah. Start early, again. Well, alright …
Sampai di Jakarta sekitar jam 8:15. Maklum, macet dari mulai pondok gede sampai jalan tol dalam kota. Akhirnya saya putuskan untuk ngopi dulu di Starbucks yang dekat Sarinah. Maka tulisan ini saya ketikkan sambil nyeruput kopi di situ. Bentar lagi mau off. Kayaknya mobil saya tinggal di parkiran Sarinah saja. Saya mau naik ojek ke Kominfo.
Beberes … off …
Hari ini tampaknya kami akan manggung lagi, melanjutkan yang kemarin. Kemarin itu sebetulnya kami sudah menyiapkan 10 lagu, tetapi yang sempat dimainkan hanya 5 lagu. Kasihan penyanyi yang belum kebagian ya? hi hi hi. Hari ini nampaknya hanya 5 lagu juga nih.
Anyway, sebelum manggung saya masih harus ngajar dua kelas dulu. Tadi pagi sudah ngajar kelas security dan sebentar lagi bimbingan terus dilanjutkan dengan mengajar di SBM (Sekolah Bisnis dan Management). Topik yang akan saya sampaikan adalah “kreatifitas dan inovasi dalam bisnis digital”. Semalam saya membuat materi presentasinya sampai jam 1 pagi. hi hi hi.
It’s going to be a busy day. Jreng!
Sebelum mengajar pagi (siang) ini, BanDos (Band Dosen) manggung dulu di Aula Timur. Sayang sekali waktunya mepet, 30 menit saja. Kami hanya sempat memainkan 5 lagu saja. Wah! Padahal tadinya kami sudah menyiapkan 10 lagu. Hadoh. Lain kali mudah-mudahan dapat kesempatan yang lebih lama
Jreng!
[Setelah itu simpan gitar, masuk ke kelas, mengajar
]
Entah kenapa, dalam 2 minggu terakhir ini saya mendapat banyak permintaan untuk memberikan presentasi. Mungkin saat ini sudah ada 7 sampai 10 buah permintaan. Kenapa ya kok tiba-tiba?
Dugaan sementara saat ini adalah budget dari berbagai instansi sudah mulai turun sehingga mereka mulai bisa mengeksekusi program kegiatan mereka, yang mana salah satunya adalah menyelenggarakan acara seminar atau sejenisnya. Apa ini ya?
Sementara itu terpaksa beberapa saya tolak karena waktunya bentrok dan/atau saya tidak sanggup untuk membuat materi presentasinya. Presentasi kan nggak sekedar nongol saja. Harus ada persiapan. Itu yang saya tidak sanggup. Sementara itu keep them (the request) coming