Mungkin sepatunya dipakai main Winning Eleven atau PES ya? he he he
Archive Bulanan: Juni 2011
Shalat 50 waktu
Gak kebayang kalau harus shalat 50 waktu ya? Untungnya waktu isra mi’raj, nabi Muhammad (saw) diberitahu agar minta keringanan. Phew …
Membuat Layanan Yang Ramai Dikunjungi
Minggu lalu, ketika memberikan presentasi di depan anak-anak SMK, saya ditanya kalau mau buat layanan web apa yang bisa ramai dikunjungi.
Saya rasa ini pendekatan yang kurang tepat (baca: salah – he he he). Kita tidak membuat sesuatu hanya untuk orang lain, tetapi untuk kebutuhan diri sendiri. Kata orang-orang, (our) necesity is the mother of invention. Maksudnya, kita mengembangkan sesuatu karena memang sesuatu itu kita butuhkan sendiri. Mengapa demikian?
Ketika kita mengembangkan sesuatu yang kita sukai, menghasilkan uang atau tidak, kita tetap menggunakannya dan syukur-syukur menyukainya juga. Kalau kita mengembangkan sesuatu untuk orang lain, maka seringkali kita tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh. Maklum, entah kita disuruh atau kita mengharapkan imbalan (biasanya finansial). Jadi ketika hal tersebut tidak terjadi, maka kita akan tinggalkan apa yang kita buat itu. Lain halnya kalau kita membuat (melakukan) sesuatu yang kebetulan juga kita senang.
Kalau kita senang main futsal, (patungan) membayar lapangan futsal kita mau. Membeli sepatunya juga mau. Apalagi kalau kita dibayar! Wah, pasti mau sekali. he he he. Asyik kan? Sudah suka mengerjakan, dibayar pula! Ini ideal sekali. Apakah bisa terjadi? Bisa!
Hal yang sama terjadi ketika kita mengembangkan situs web, situs e-commerce, situs pembelajaran, atau sekedar ngeblog. Sebagai contoh, saya suka ngeblog. Ada banyak alasan mengapa saya ngeblog (itu cerita lain). Banyak sudah waktu, energi, pikiran, effort yang saya tuangkan di sini. Yang menarik adalah … akhirnya saya juga mendapat masukan finasial dari ngeblog. Wah, senang juga. Asyik. Asal gak kebablasan ya.
Kembali ke judul atau topik tulisan, bagaimana membuat layanan yang ramai dikunjungi? Menurut saya buat layanan yang Anda sukai dan kerjakan dengan hati (do it with passion). Itu saja …
Banyak Memotret Dulu
Sesuai dengan teori yang saya anut, untuk belajar harus banyak dulu. Kuantitas lebih penting dari kualitas. Saya terapkan hal ini dengan belajar memotret. Saya harus banyak memotret dulu. Setidaknya saya harus memotret 10.000 kali dahulu.
Di kamera Nikon D3100 dan Nokia N8 yang saya miliki, nama file dari hasil jepretan foto saya set untuk berurut. Saya lihat nama file di D3100 sekitar 2600. Sementara itu yang di N8 sekitar 2000. Artinya saya baru memotret (dengan kamera tersebut) sekitar 4600 kali. Kalau saya tambahkan dengan potretan sebelum menggunakan kamera tersebut mungkin sudah sampai 10.000 sih, tetapi saya ambil acuan yang ini saja. Berarti masih setengah jalan yang saya lalui. Masih ada 5000 potret lagi yang harus saya lakukan untuk mengatakan bahwa saya belajar memotret.
Kamera Yang Bagus Adalah …
Saya lupa siapa yang bilang ke saya (pak Arry Aa atau Doni) bahwa kamera yang bagus adalah kamera yang dibawa-bawa. Jadi kalau punya kamera bagus tapi ditinggal di rumah, dan hanya digunakan untuk keperluan khusus, itu bukan kamera yang bagus. Ternyata benar juga.
Saya punya kamera Nikon D3100 tetapi kemana-mana saya bawa Nokia N8. Ini karena memang N8nya untuk telepon juga. Jadi kamera yang sering saya gunakan pada kenyataannya adalah kamera dari Nokia N8 ini. Untungnya kamera N8 ini kualitasnya luar biasa bagus (12 megapixels), terutama kalau memotret di luar (banyak cahaya). Jadi bagi saya, kamera bagus saya ya Nokia N8 ini
Aturan Tentang Spam
Tadi pagi saya terlibat diskusi mengenai aturan hukum tentang spam. Apakah perlu dibuatkan peraturan pemerintah / peraturan menteri khusus untuk spam? Spam yang dimaksud di sini bisa spam email tetapi juga bisa spam sms. (Meksipun menurut saya, spam email yang sudah menjadi masalah sangat besar.)
Bagaimana pendapat Anda? Perlu diatur tidak ya?
(being a) Standup Comedian
[It has been a while since I wrote my post in English. So humour me. Here goes.]
As of this writing, I am watching The Last Comic Standing.” It is hilarious. How do these guys write and deliver great jokes? I want to be like them. I guess I have to start writing jokes
Let me tell you a secret, being a standup comedian is still one of my dreams.
Kiat Sukses dan Eksis (di dunia internet)
Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada saya pada presentasi saya tadi siang adalah apa kiat-kiat sukses dan eksis di dunia internet? Hmm…
Sebelum menjawab pertanyaan ini perlu kita definisikan dulu apa yang dimaksud dengan sukses (dan eksis)? Banyak orang yang mendefinisikan sukses sebagai terkenal dan kaya. Atau kalau di “sono” dikenal dengan istilah “fame and fortune“.
Sebetulnya kalau hanya tekenal dan eksis saja sih mudah. Hanya saja saya tidak yakin Anda sebetulnya ingin terkenal. Menjadi terkenal itu pada kenyataannya tidak menyenangkan. (Ketika menjadi terkenal, Anda tidak boleh berbuat salah.)
Salah satu cara agar terkenal di dunia internet adalah banyak menulis dan konsisten. Silahkan coba menulis setiap hari di blog. Coba lakukan ini dalam jangka waktu yang cukup panjang, katakanlah satu tahun. Anda akan dikenal! Percayalah.
Kalau dalam teori lama saya, hal ini saya sebut kuantitas lebih penting dari kualitas. Yang penting banyak dulu. Baru kemudian kualitas
Yang kedua adalah lakukan hal tersebut dengan hati. (Do it with heart!) Ini akan menambah terkenalnya Anda.
… tapi, lagi-lagi, do you really want fame and fortune?
Foto Hari Ini
Dipotret dalam perjalanan dari Soreang menuju Bandung di sore hari (sekitar pukul 16:00). Senang di sini masih ada sawah-sawah. Semoga petak sawah ini tidak terdesak oleh bangunan. (Padahal di sebelah kiri – tidak nampak – ada bangunan yang akan dibangun, mengambil bagian dari sawah ini. Duh…)
Futsal Menyembuhkan
Kemarin badan rasanya kurang fit. Tenggorokan gatel pula. Maka pagi ini saya futsal. Eh, ternyata setelah futsal badan menjadi segar. Wah, futsal ternyata menyembuhkan ya. Kok bisa ya? Hmmm….
Tapi setelah itu saya memberikan presentasi untuk siswa-siswi SMK di Soreang. Wah, pulangnya meler. Mungkin karena di mobil saya pake AC? (Satu arah perjalanan sekitar 1 jam 20 menit. Bolak-balik, kalikan dua saja.) Sekarang meler lagi. Tapi, mosok mau futsal lagi? Bisa terkapar atuh. he he he
Dicari Komponen Gitar
Kemarin saya dan anak saya ngoprek (tepatnya mbongkar) gitar. Kebetulan yang dibongkar adalah pickup-nya. Nah kepikiran mau eksperimen dengan pickup gitar. Ada yang punya komponen gitar – terutama pickup – yang gak kepakai. Mau dicoba-coba dipasang, dibongkar, diganti magnetnya, lilitannya, dan seterusnya. Pokoknya lagi nyari komponen gitar yang bekas, gratis, atau murah.
Punya?
Cara Menggunakan Referensi di Tulisan Ilmiah
Mungkin sudah 30 email saya layangkan kepada mahasiswa tentang cara menggunakan dan menuliskan referensi di makalah mereka. Nampaknya mereka masih tidak mengerti juga caranya. Padahal hal ini juga sudah saya jelaskan di depan kelas. Masalahnya, salah (tidak) mengutip bisa dianggap plagiat. Kalau sudah begitu kan repot.
Berikut ini salah satu cara yang salah. Referensi (dalam hal ini mahasiswa menggunakan footnote – yang tidak lazim di dunia saya) diletakkan di depan! Padahal seharusnya di belakang.
Jadi seharusnya:
Enkripsi pada … [11].
atau
Enkripsi pada … (Shepperd, 2010).
Mengenai penggunaan [1] atau (Shepperd, 2010) itu bergantung kepada style yang digunakan. Perhatikan urutan penulisan referensi ini pada daftar pustaka. Jika Anda menggunakan style [1] biasanya pengurutan adalah berdasarkan kemunculan. Sementara itu bila Anda menggunakan (Shepperd, 2010) maka urutan penulisan daftar pustaka adalah berdasarkan nama pengarangnya.
Hal kedua yang penting juga diperhatikan adalah referensi itu harus jelas bentuknya. Apaka referensi tersebut berbentuk buku? artikel di journal? thesis? dan seterusnya. Untuk referensi yang berbentuk buku harus ada penerbitnya, misalnya. Untuk referensi yang berbentuk artikel di jurnal harus ada nama journalnya. Untuk referensi yang berbentuk thesis harus ada nama perguruan tingginya.
Perhatikan mana yang perlu dicetak miring dalam penulisannya. Untuk buku, judul buku yang dicetak miring. Untuk artikel, journalnya yang dicetak miring.
Hal ketiga adalah referensi yang bersumber dari dokumen online (URL). Referensi yang seperti ini harus juga memiliki nama pengarang dan judul (nama) dokumen online tersebut. Bentuknya kira-kira seperti ini:
Nama pengarang, judul, URL. Diakses tanggal 22 Juni 2011.
Saya pribadi tidak terlalu keberatan dengan penggunakan sumber referensi online. Ada berbagai journal yang menolak penggunaan dokumen online yang tidak pernah diterbitkan dalam bentuk cetakan. Hal ini menunjukkan bahwa dokumen online, meskipun diperkenankan, memiliki nilai kredibilitas yang lebih rendah. Mungkin suatu saat kondisi ini akan berubah, tetapi untuk saat ini status itulah yang umum diterima. (Memang akan terkesan aneh kalau semua referensi merujik kepada URL.)
Hal keempat adalah penggunaan gambar dari sumber (milik) orang lain. Perhatikan bahwa kalau kita menggunakan gambar yang bukan dari karya kita sendiri, kita harus menyebutkan sumbernya. Sumber tersebut harus jelas. Tidak bisa sumbernya adalah http://images.google.com.
Bagaimana mengajarinya ya? Cape juga nih. Mosok harus menyuapi mahasiswa satu persatu?
Link terkait:
- IEEE style, atau the Chicago manual of style
- ACM reference style
- APA style



