Tidak Tahukah Kau (12)

Jek melihat jam tangannya. Sudah hampir 45 menit dia menunggu di kantin ini. Sar belum juga muncul. Padahal tadi janjinya ketemuan jam 11. SMS terakhir dari Sar, “otw“. Jek sudah merasa lapar juga, tapi dia mau menunggu Sar. Jek kembali memeriksa proposal yang akan didiskusikan dengan Sar.

Sar datang. Tersenyum sambil membaca tulisan di handphonenya.

Sar: hey Jek
Jek: hey … kok lama?
Sar: sorry. keasyikan baca twitter    [tertawa]

Sar: baca ini    [menyodorkan handphone]

Jek membaca (sambil tidak semangat). Di layar ada tulisan twitter seseorang yang dia tidak kenal. Isinya mungkin memang lucu, tapi Jek sedang tidak mood. Jek mengembalikan handphone itu sambil mengangkat bahunya.

Sar menerima kembali handphonenya, mengetikkan komentar terhadap twitteran itu sambil senyum-senyum. Sementara Jek merasa tidak nyaman. Entah kenapa.

Jek: ini proposal kita    [menyodorkan proposal]
Sar: ok    [menerima proposal sambil matanya tidak lepas dari handphone]
Jek: jadi mau kita bahas sekarang atau nanti?
Sar: ok    [masih mengawasi handphone]
Jek: maksudnya?
Sar: ok kita bahas sekarang    [cepat-cepat meletakkan handphone dan mengambil proposal]

Belum sempat mereka berdiskusi, layar handphone berpendar menandakan adanya tulisan baru datang. Tangan Sar menyambar handphone untuk melihat isinya. Dibaca cepat. Tertawa dia.

Sar: orang ini lucu banget

That’s it. Jek melihat jam tangannya. Beranjak.

Jek: Sar, aku ada janji nih. Udah jam 12. Aku duluan ya.
Sar: oke oke

Jek beranjak. Sementara Sar masih tersenyum-senyum dengan handphonenya. Jek merasa sesak. Di satu sisi dia senang karena Sar senang, tetapi di sisi lain dia sesak karena orang lain yang membuat Sar tertawa. Bahagiakah dia?

Jek melangkah. Mengancingkan jaketnya. Di pengkolan gedung dia mempercepat langkahnya …

“Hei Jek! Tunggu…” terdengar suara memanggil.

Jek menoleh. Terlihat Nita, kawan kelasnya, melambaikan tangan. Sesungguhnya dia berharap seseorang yang lain. Jek berhenti.

Nita: mau kemana Jek?
Jek: pulang
Nita: udah makan Jek? kita-kita [nita menunjuk beberapa temannya] mau makan rame-rame. ikutan?

Jek terdiam sejenak. Sesungguhnya dia lapar sekali. Tapi makan dengan mereka mungkin akan membuat seseorang tidak suka.

Jek [menggelengkan kepala]: lain kali deh. aku buru-buru.
Nita: bener ya? lain kali?

Jek tersenyum. Meninggalkan Nita sambil melambaikan tangan. Perut lapar bisa diobati dengan makan. Hati? Tahukah dia apa yang kulakukan? Meski dia tidak tahu, aku tidak ingin membuatnya tidak senang.

Kruyuk … perut berbunyi …

[Seri tidak tahukah kau: 18, 171615141312, 1110987654321]

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

10 responses to “Tidak Tahukah Kau (12)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.835 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: