Archive Bulanan: Juli 2011

Membujuk Perusahaan Besar Untuk Hadir di Indonesia

Minggu lalu saya bilang bahwa saya akan menceritakan pertemuan saya dengan Mike Orgill dari Google. Salah satu topik yang saya utarakan adalah keinginan saya agar ada perusahaan besar untuk hadir di Indonesia, khususnya Bandung.  (Topik ini selalu saya utarakan kepada berbagai tamu dari luar.) Mengapa ini penting dalam konteks munculnya perusahaan start up yang bernuansa teknologi?

Salah satu referensi yang saya gunakan adalah sebuah artikel Wieners & Hillner di majalah Wired (1998). Artikel ini membahas Siliconia, yaitu daerah-daerah yang ingin meniru Silicon Valley di dunia. Ternyata ada banyak dan ternyata kebanyakan memang gagal. Menurut artikel itu ada empat (4) critical success factors:

  1. the ability of the area’s university and research facilities to train skilled workers or develop new technologies;
  2. the presence of established multinational companies as anchors to provide economic stability;
  3. the population’s entrepreneurial drive; and
  4. the availability of financial support in form of venture capitals

Dalam tulisan ini saya hanya ingin menyoroti poin kedua, bahwa di tempat Siliconia itu harus ada perusahaan yang bisa menjadi jaring pengaman. Kira-kira begini skenarionya.

Saya bekerja di perusahaan besar ini. Pada suatu saat saya punya ide untuk perusahaan start up. Saya kemudian keluar dari perusahaan ini untuk merealisasikan ide (bisnis, layanan, produk, dll.) tersebut. Jika berhasil, bagus. Jika tidak, maka saya menutup usaha ini dan … kembali menjadi pegawai di perusahaan besar ini. Perusahaan besar ini dengan kata lain menjadi “jaring pengaman”. Para entrepreneur tidak takut untuk memulai usahanya karena jika gagal pun dia tidak akan kelaparan. Ada pekerjaan. Nanti, di kemudian hari, jika ada ide lagi maka saya bisa keluar dan starting-up lagi.

Mengapa perusahaan besar? Karena bagi perusahaan besar, keluar atau masuknya satu orang tidak terlalu berpengaruh. Jaring pengaman ini tidak bisa PNS atau perusahaan BUMN atau perusahaan yang kaku seperti yang ada di Indonesia. (Kalau kita keluar, mana bisa kita balik lagi.) Ini hanya bisa dilakukan oleh perusahaan multi nationa companies, yang hanya melihat talent. Jika kita punya talent, maka kita akan diterima (meskipun kita sebelumnya sudah keluar).

Perusahaan besar tersebut tidak harus serta merta membuat kantor yang besar juga di Indonesia. Ini bisa dimulai dengan research center yang berisi 5 orang saja. Yang penting mereka ada di sini dulu.

Sebetulnya di Bandung dulu saya berharap IPTN dapat menjadi jangkar perusahaan ini di Bandung, sebagaimana halnya Lockheed di Silicon Valley dulu. (Menarik ya? Dua-duanya sama-sama perusahaan yang terkait dengan pesawat terbang.) Sayangnya IPTN tutup. Sekarang kita masih harus berusaha keras.


Mau?

Saat bulan puasa ini sop buah akan menjadi makanan yang cukup populer. Hanya saja, nampaknya saya harus berhenti menampilkan foto-foto makanan selama bulan puasa ya? Wogh…


Selamat Pagi


Tergiur Tawaran Uang

Berhenti di perempatan. Seorang laki-laki datang membawa segepok iklan di tangannya. Didatanginya setiap pengendara yang sedang berhenti. Tidak peduli naik motor atau naik mobil. Tertarik juga akan isi selebaran yang dia berikan, saya buka jendela saya dan dia memberikan selebaran yang ada di tangannya.

Ooohh ternyata isinya adalah tawaran untuk pinjaman uang dengan menjaminkan BPKB kendaraan. Pantas dia memberikan iklan di perempatan.

Saya kemudian berpikir, apakah ada orang yang tertarik dengan ini?

Setelah saya pikir-pikir ternyata banyak! Banyak orang yang ketika ditawari pinjaman langsung nyamber saja. Alasannya, kapan lagi? Hadoh. Padahal mereka sebetulnya tidak perlu, tetapi begitu ditawari pinjaman ini langsung terbayang motor, mobil, dan seterusnya. Cicilan terlihat mudah, tapi … ini tetap hutang!

Hadoh …


Gagal Memenuhi Target

Kecewa juga kalau gagal mencapai target yang kita inginkan, meskipun target itu kita set sendiri. Ceritanya saya punya target untuk menulis di blog ini setiap hari. Tagnya juga ikutan postaday2011. Nah, ternyata kemarin saya gagal lagi untuk membuat tulisan di blog ini.

Alasan kegagalan sederhana. Sibuk!

Pagi hari sudah ada meeting yang harus diikuti. Saya tidak sempat untuk menulis. Jangankan menulis, untuk mencari idenya saja belum sempat. Setelah meeting saya berangkat ke Jakarta (diselini dengan shalat Jum’at dulu). Sampai di Jakarta sedikit terjebak macet. Tujuan saya adalah pasar seni Ancol. Kami (BandIT) akan manggung di sana.

Sampai di pasar seni, was-was nunggu kesempatan cheksound. Mau buka notebook juga gak sempat. Wara wiri bawa dua ransel plus satu gitar. Pokoknya riweuh deh. Tahu-tahu sudah giliran manggung saja. (More on this later.)

Setelah manggung langsung tancap gas balik ke Bandung. Biasanya sih saya menduga sampai di Bandung sebelum tengah malam. (Jadi masih bisa memenuhi target.) Tapi kali ini terjebak macet sehingga cukup lama perjalanan merayap. Saya mengemudi sendiri sehingga tidak mungkin untuk membuka notebook sambil online :)   Akhirnya sampai km 72 sudah pukul 00:00 lewat sedikit. Lewat deh target :(

Mudah-mudahan lain kali bisa lebih baik.


Makin Banyak Mistiknya?

Saya perhatikan kok film seri di TV Barat pun sekarang makin banyak yang berbau mistik. Makin seperti Indonesia saja. Atau jangan-jangan memang justru mereka melihat trend di Indonesia dan kemudian menirunya?


Startup: Buat PT atau tidak?

Kemarin siang ada dua mahasiswa datang ke saya untuk meminta advis. Mereka (berlima?) memulai usaha untuk membuat sebuah layanan IT. Pertanyaan mereka adalah “bagaimana membuat Perseroan Terbatas (PT)”.

Sebelum menjawab itu, saya bertanya; “kenapa mau membuat PT?” Jawaban mereka adalah untuk kredibilitas. Salah satu hal yang dilakukan oleh pelanggan adalah membayar melalui transfer. Bagaimana meyakinkan pelanggan kalau mereka transfer uangnya ke rekening atas nama pribadi, bukan atas nama perusahaan? Begitu latar belakang mereka.

Menurut saya, tunda pembuatan PT sampai betul-betul dibutuhkan. Ada banyak kondisi dimana kita sudah dapat melakukan bisnis (termasuk transaksi finansial) tanpa menggunakan PT. Memang benar keberadaan PT dapat menambahkan kredibilitas, tetapi ada banyak hal mengapa sebaiknya tidak buru-buru membuat PT.

Pertama, membuat PT membutuhkan uang. (Saya tidak tahu tepatnya besar biaya yang harus dipersiapkan. Untuk Bandung, dugaan saya setidaknya adalah Rp. 10 juta.) Sayang uang jika tidak benar-benar dimanfaatkan. Ingat, kita masih dalam state starting up. Berhemat itu penting.

Kedua, setelah membuat PT maka akan banyak urusan administratif lain yang harus diselesaikan. Setidaknya adalah harus siap untuk membuat pembukuan, laporan pajak, dan seterusnya. Artinya harus disiapkan orang yang menangani hal ini. Biasanya orang teknis tidak suka mengurusi hal ini dan akibatnya akan terbengkalai. Selain untuk mendaftarkan PT, ada dokumen-dokumen lain yang harus diurusi seperti SIUP, TDP, Domisili, dan lain-lain. Saran saya, untuk hal ini juga buat ketika dibutuhkan. Jika belum dibutuhkan, tunda dulu. (Sebagai catatan, yang sering bermasalah adalah domisili karena biasanya startup dimulai dari tempat koskosan.)

Ketiga, pastikan bahwa memang pihak-pihak yang ingin membuat PT (para pemegang saham) sudah sehati. Ada banyak kejadian dimana ada founder yang kemudian beda pendapat dan ingin berpisah, tetapi karena terkait dengan PT jadi repot. Sebagai contoh, misal ada 5 orang membuat PT. Kemudian salah seorangnya bikin gara-gara, tidak disukai oleh yang lainnya dan harus ditendang agar PT bisa maju. Masalahnya adalah harus mengeluarkan orang ini dari PT. Untuk mengubah hal ini harus ada RUPS dan nantinya disahkan lagi oleh notaris. Artinya uang lagi. Ya kalau yang bersangkutan bersedia untuk keluar dengan suka rela. Kalau dia ngotot tidak mau (dan minta uang untuk dikeluarkan)? Akibatnya maka perusahaan tidak bisa maju karena dirongrong oleh “ulat bulu” ini. Pembuatan PT justru mempersulit. Maka pastikan bahwa para founder memang sudah ingin hidup mati bersama :)

Keempat, menutup perusahan bukan hal yang mudah dan tentu saja harus keluar uang lagi.

Ada kalanya memang PT (atau badan hukum lainnya) benar-benar dibutuhkan; (1) untuk melakukan tender pekerjaan, dan (2) untuk menerima pendanaan dari perusahaan / pemerintah / badan hukum lainnya. Jika demikian, PT memang harus dibuat. Hanya saja, perlu diperhatikan hal-hal di atas.

Semoga bermanfaat.


Sop Buntut Tulang Lunak

Tadi lihat ada tulisan ayam tulang lunak. Kenapa tidak ada sop buntut tulang lunak? Pasti asyik. Soalnya gak seru kalau makan sop buntut tapi tulangnya pecah-pecah (banyak serpihan tulang).


Good Morning Sounds

Pagi ini setelah Subuh saya menyalakan iTunes. Lagu yang pertama saya dengar adalah lagu “Pieces of Eight” dari Styx. Lagu dimulai dengan kata-kata berikut:

it’s six o’clock
good morning sounds are everywhere

Wah … ini jam 5 pagi. Masih dingin di tempat saya. Adzhan subuh sudah berlalu (tadi sekitar 4:40).

Kalau untuk Anda, “good morning sounds” itu apa ya?


Ngantuk

Akhirnya tadi malam bisa tidur cukup lama setelah dua malam sebelumnya hanya bisa tidur 3 jam. Ceritanya dimulai hari Senin, yang mana saya ada pertemuan pagi di Jakarta. Karena takut terjebak macet, saya putuskan untuk nyetir sendiri berangkat jam 4 pagi dari Bandung. Artinya, saya harus bangun jam 3 pagi.

Acara di Jakarta hari Senin itu cukup padat; mulai dari meeting, presentasi di acara Inixindo & Kominfo, ngeband, dan latihan ngeband. Acara baru selesai jam 11 malam. Nah, mau kembali ke Bandung kok agak ngantuk ya. Maka saya putuskan untuk tidur dulu di apartemen Jakarta.

Bangun jam 2:15 pagi. Menyadarkan diri sebentar kemudian nyetir balik ke Bandung. Sampai di Bandung pas Subuh. Setelah shalat subuh bersiap-siap untuk ke kampus. Acara di kampus cukup padat juga; mulai dari bimbingan mahasiswa dan rapat komisi penelitian (more on this later). Sorenya sebetulnya sudah beres acaranya dan saya sudah menuju pulang, tapi saya baru dapat kabar bahwa Mike Orgill dari Google datang ke Bandung dan mau ketemu. Akhirnya saya berangkat lagi menemui Mike di hotel Homan. Setelah pertemuan itu saya pulang dan saya bisa tidur lebih awal malamnya.

Pagi … bangun pas adzhan Subuh … masih ngantuk :) … tapi rasanya badan lebih segar.

Selamat pagi!

[kali ini ngeblog entry yang gak penting banget. namanya juga web log, kan?]

update: salah satu topik yang saya bahas adalah tentang membujuk perusahaan besar untuk hadir di Bandung (atau Indonesia secara umum)


Defensif

Topik kali ini adalah … defensif.

Tadi pagi membaca email tentang situasi di sebuah organisasi. Si penulis email tersebut mencoba mencari tahu kenapa seorang siswa X tidak diterima dalam sistem rekrutmen yang ada. Dia mencoba bertanya. Yang ditanya langsung menggunakan mode defensif. Hayah.

Di tempat lain, di sebuah organisasi yang dalam bayangan saya seharusnya menguasai pengembangan apliasi ternyata orang-orangnya tidak mengetahui hal tersebut. Jadi kalau kita tanya organisasi tersebut, dengan maka mereka langsung berubah menjadi mode defensig.

Kenapa demikian ya? Saya menduga ini hasil dari “pencekokan” (oleh siapa?) budaya bahwa kesealahan itu merupakan sebuah aib. Maka orang banyak menutupi kesalahannya. Padahal bagi saya sebetulnya berbuat salah itu boleh – namanya juga manusia, yang lebih penting adalah bagaimana memperbaiki kesalahan tersebut.

[mau bersambung atau berhenti sampai di sini dulu saja?\


Main kartu yuk


Masuknya Pemain IT Raksasa ke Indonesia

Sekarang sedang ramai dibicarakan (diwacanakan?) masuknya pemain IT raksasa – seperti Google – ke Indonesia. Meskipun di sisi lain masih ada beberapa perusahaan IT lainnya (Facebook, RIM) yang memilih lokasi bukan Indonesia sebagai kantor pusatnya di regional ini. Saya punya mixed feelings tentang hal ini.

Di satu sisi sebetulnya ini adalah kepentingan sang perusahaan itu sendiri untuk hadir di sini. Untuk lebih mengenal pelanggannya. Untuk memastikan keberlangsungan layanan. (Ingat bahwa teknologi berubah dengan pesat.) Jadi menurut saya rugi (bodoh?) jika mereka tidak di sini.

Di sisi lain saya khawatir mereka yang tetap meraup keuntungan sementara kita sendiri hanya jadi pasar saja. Hadoh. Tapi mungkin lebih banyak keuntungan mereka hadir di sini daripada tidak sama sekali?

Perasaan saya ini seperti hadirnya toko-toko besar, franchise chains, yang membunuh warung (pasar) tradisional.

Ah, tapi sekarang kan (baru) lebih banyak wacana saja. Kita lihat saja kesungguhan mereka. Sementara itu, kita sendiri – orang Indonesia – yang harus berjuang.


Kudas

Dalam bahasa Indonesia, obyek yang lebih dari satu biasanya diulang. Tadinya saya ingin memberikan judul “kuda-kuda”, tetapi nanti dikira kuda-kuda dalam ilmu bela diri. Sementara itu di dalam bahasa Inggris, plural sering diberi imbuhan “s”. Jadi… saya putuskan untuk menggunakan judul “Kudas” saja.

Foto diambil di dekat lapangan sepak bola Arcamanik, Bandung. Sebetulnya Arcamanik adalah tempat pacuan kuda. Lapangan sepak bolanya justru merupakan sampingan saja.


Parodi Nazaruddin

Beberapa hari ini saya diburu wartawan untuk dimintai komentar tentang Nazaruddin. Tentu saja saya menghindar he he he. Hanya tadi pagi ada media yang mau mewawancara saya. Saya bilang ditunggu di lapangan sepak bola Arcamanik deh. Saya mau main di sana dan ternyata wartawannya datang. Saya kemudian diwawancara sambil difilm. Selama itu saya berpikir bagaimana kalau wawancara ini dibuat parodi. Misalnya …

Ketika saya diwawancara, ada yang mondar-mandiri di belakang saya. Berkacamata. Kok kelihatannya familier ya? Bolak balik lagi. Eh, ternyata … pakai wig. Hi hi hi. Ada Gayus.

Wawancara masih terus berlangsung. Serius. Tiba-tiba di belakang ada jingle dari produk roti tertentu. he he he. Terhenti sejenak. Pesan roti dulu kemudian dilanjutkan wawancara.

Ketika wawancara sedang berlangsung, ada salah satu orang yang datang ke saya sambil bawa handphone; “Maaf pak, ini ada telepon.” “Dari siapa?” … “Dari Udin”. he he he.

… dan seterusnya … banyak ide parodi tentang kasus ini ya? hi hi hi. Lumayan untuk mengasah ide kreatif.

Serius dikit. Saya kok berpendapat bahwa masalah Nazaruddin ini adalah masalah internal Partai Demokrat. Kenapa kita (rakyat) dibawa-bawa ya? Mohon diselesaikan sendiri. Masih banyak masalah bangsa yang membutuhkan perhatian kita.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.