Archive Bulanan: Juli 2011

Penataan Koleksi Foto Digital

Bagaimana Anda mengelompokkan koleksi foto digital Anda (khususnya yang disimpan secara online di flikr, picasa, facebook, dll.)? Berdasarkan apa mereka dikelompokkan?

  1. Berdasarkan event (kejadiannya). Contoh jika ada makan-makan reuni ini dan itu, dia dibuat satu folder sendiri.
    Keuntungan dengan cara ini adalah kita bisa langsung upload foto-foto secara spontan tanpa memikirkan pengelompokkan.
    Kerugiannya adalah akan banyak folder (tergantung jumlah event), ada banyak folder yang isinya hanya beberapa foto saja, dan susah dicari di kemudian hari (misal kita ingin mencari foto yang ada gambar bunga, maka kita harus telusuri folder-folder itu).
  2. Berdasarkan isi dari foto itu sendiri. Contoh dibuatkan folder “alam”, “komputer”, “obyek”, “binatang”. Saya menggunakan pendekatan ini.
    Keuntungan cara ini adalah memudahkan kita dalam mencari foto tertentu. Misalnya kita mencari foto bunga, maka kita akan mencari di folder “bunga”, atau “alam”.
    Kerugiannya adalah kita harus memikirkan pengelompokkannya. Ini memperlambat proses upload. (Tidak spontan.) Selain itu jika kita menambahkan foto baru, maka foto yang baru ini tidak muncul dalam notification atau pemberitahuan di jejaring sosial (karena foldernya sudah lama).
  3. Berdasarkan tanggal. Saya menggunakan mekanisme ini untuk foto-foto yang baru saya ambil dari kameran dan belum sempat dikategorikan.
    Keuntungannya adalah kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan kategori.
    Kerugiannya adalah isi folder campur aduk.
  4. Tidak perlu dikelompokkan …

Apa lagi ya?

Oh ya, sudah berapa ratus/ribu foto yang Anda upload? (Ada yang sudah punya ribuan foto diupload?) Sudah ada berapa folder yang Anda buat? (Ada yang sudah punya ratusan folder?)


Kesulitan (mencari sarapan)

Hari Kamis yang lalu saya diminta untuk memberikan presentasi di daerah dekat mall Taman Anggrek, Jakarta. Seperti biasa saya berangkat dari Bandung pagi hari agar tidak terkena macet. Sesampainya di tempat tentu saja saya “kepagian”, jam 7 begitu. Lapar.

Saya putuskan untuk mencoba mencari makan di mall seberang jalan. Setelah melewati jembatan penyebrangan, sampailah saya di Central Park. Eh, ternyata di sana baru buka jam 10. Hadoh.

Akhirnya saya menyeberang kembali. Mau cari warteg aja ah. Di atas jembatan penyebrangan ada yang jualan roti. Beli roti saja. Akhirnya sarapan roti.

Mengapa susah sekali mencari coffee shop yang buka pagi hari ya?


Mencari Keyboards

Saya sedang mencari keyboards yang bisa dipakai di rumah tetapi juga bisa dipakai manggung. Harganya juga jangan yang terlalu mahal.

Kemarin kami sempat lihat-lihat Yamaha seri PSR itu, tapi bingung juga mau yang mana. Kemarin sih lihat yang PSR 710. Katanya ada yang PSR 910 (tapi yang ini tidak tahu harganya). Selain itu saya sempat melihat Korg (seri PA?) dan Roland juga, tetapi kok kayaknya yang Yamaha yang menarik. (Padahal dahulu saya lebih suka sound dari Roland.)

Saran?


Foto hari ini

mbeling


Manual iPad Dalam Bahasa Indonesia?

Apakah ada yang sudah pernah lihat manual iPad dalam Bahasa Indonesia?

Setahu saya di dalam box iPad hanya ada (1) iPad-nya dan (2) kabel USB / charger.

Kalau saya simpan sebuah berkas di dalam iPad dengan nama “manual.pdf” (isi gak penting – misalnya isinya: silahkan lihat situs web apple. he he he.) apakah sah dianggap sebagai manual? he he he. apakah manual harus tercetak secara fisik? (menghabiskan kertas dan tidak ramah terhadap lingkungan. katanya go green?)

Di jaman jaringan seperti ini, apabila manual sudah tersedia secara online di internet apakah dapat dikatakan sudah ada manual?


Tidak Tahukah Kau (13)

Hari ini Jek kembali ke kantin untuk menemui Sar. Rencananya mereka akan membahas proposal yang kemarin sudah diberikan Jek ke Sar. Kemarin tidak sempat didiskusikane. Sesampainya di kantin, Sar sudah duduk menunggu membaca proposal.

Jek: hei Sar  [sambil duduk]
Sar: hei Jek  [mendongakkan kepala sambil tersenyum]

Jek: gimana proposalnya?
Sar: baru mulai dibaca   [senyum]
Jek: lho? kirain kemarin udah dibaca
Sar: gak sempet. kemarin nita datang ke sini ngajakin makan siang. aku ikutan.

Jek terhenyak. Kemarin juga Nita dan kawan-kawannya mengajak Jek untuk makan siang, tapi Jek tidak mau karena takut membuat seseorang tidak berkenan. Tapi …

Jek: ooo …

Jek tidak bercerita bahwa, kemarin, sesampainya ke pelataran parkir Jek berpikir untuk makan siang bersama Sar dan memutuskan untuk kembali ke kantin. Sampai di kantin, Sar sudah tidak ada. Jek merasa kesal dan memutuskan untuk makan di warung pinggir jalan saja. Humpf… let me keep this to myself.

[Seri tidak tahukah kau:13, 12, 11, 10987654321]


Kultur Kerja di Start-up

Tempat bekerja itu bisa berbeda-beda jenisnya. Salah satunya adalah perusahaan (berjenis) start-up. Yang saya sebutkan dengan start-up adalah perusahaan yang “baru” dibuat (dilihat dari skala waktu), memiliki revenue yang relatif “kecil”, dan pola kerja yang berbeda. Saya akan soroti yang terakhir saja.

Pola kerja di start-up akan terlihat tidak teratur dibandingkan instansi perkantoran, misalnya kantor pemerintahaan. Paling gampang dilihat dari jam kerja. Kalau instansi pemerintahan jam kerjanya sudah jelas. Misalnya jam kerja dari jam 9 sampai jam 5 sore (9-to-5), maka apapun yang terjadi (termasuk kerjaan tidak selesai, ditunggu oleh klien) jam 5 sore tutup. Patokannya hanya waktu saja. Itulah sebabnya kepuasan klien biasanya kecil terhadap layanan yang diberikan instansi seperti ini.

Ini berbeda dengan kerja di start-up.

Salah satu ciri dari pekerja start-up, karena dianggap masih pemula, maka dia akan bekerja lebih keras untuk memperolah hasil yang lebih baik dari kompetitor perusahaannya. Meskipun jam kerja dikatakan jam 5, tetapi jika kerjaan belum selesai maka itu akan dia selesaikan. Pelangganlah yang puas. Itulah sebabnya susah mengalahkan daya juang start-up.

Nah, tentu saja model pekerja untuk kedua jenis tempat bekerja itu juga beda.

Apa yang menarik dari pekerja startup? Salah satunya adalah bisa membuat aktualisasi diri, memberikan kontribusi pribadi lebih banyak. Jadi bagi seorang yang ingin berkarya, akan lebih mudah melakukannya dengan wahana startup.

Oh ya, banyak perusahan yang sudah mapan tetapi masih memiliki semangat juang start-up. Banyak rekan-rekan saya, yang sudah jadi top manager dari perusahaan besar pun, masih tidak menganut jam kerja 9-to-5. Jadi, kalau berharap mau kerja kantoran dengan jam yang kaku, nampaknya susah.


Kultur Kampus

Satu hal yang menurut saya sering luput dari perhatian pengelola / pengembang kampus adalah masalah kultur. Biasanya kita lebih fokus kepada kurikulum (dan sejenisnya). Pengembangan kultur lebih sering diabaikan, ataupun kalau ada hanya sebagai slogan marketing saja.

Yang saya maksudkan dengan kultur misalnya adalah kebiasaan mahasiswa berdiskusi di kampus, mahasiswa tidak takut bertanya kepada dosen, adanya interaksi antar bidang, dan seterusnya. Kodifikasi ini bagaimana ya?

Kurikulum bisa dibeli atau dicontek. Tinggal lihat perguruan tinggi lain yang bagus, terus dicomot saja. Nah, kalau kultur? Bagaimana ya?


Shalat Subuh di Jalan

Hari ini lagi-lagi saya harus ke Jakarta. Ada pertemuan yang dilakukan pagi hari. Untuk menghindari macet, saya berangkat dari Bandung dengan mengendarai mobil pagi sekali. Berangkat dari rumah jam 4 pagi. Rencananya shalat subuh di jalan saja.

Tadinya saya berencana shalat Subuh di rest area km 42, tetapi karena takut kesiangan maka saya belok saja ke rest area km 62. Sudah lama saya tidak ke sini sehingga saya tidak tahu lokasi mushola atau masjidnya. Rest area km 62 cukup besar. Saya lihat banyak bis sudah parkir. Ini merupakan rest area pertama sehabis gabungan jalan Cipularang dengan Cikampek. Jadi banyak bis yang berasal dari Pantura.

Bingung sejenak, akhirnya saya menemukan tempat parkir. Dari situ saya mencari mushola atau masjid. Ternyata musholanya di tengah-tengah dan ukurannya terlalu kecil untuk rest area sebesar ini. Maksudnya banyak orang yang antri untuk shalat. (Di sisi lain bagusnya adalah orang masih shalat :) . ) Repotnya adalah toilet di sekitar situ jumlahnya sedikit. Akibatnya orang antriiii… Wah.

Saya putuskan langsung wudhu dan shalat Subuh saja. Setelah itu saya baru mau ke toilet. Wah masih antri juga. Terpaksa saya berputar-putar cari toilet yang tidak antri. Saya bawa mobil ke toilet yang di pojokan jauh. Ngantri juga. Walhasil saya keluar dari rest area km 62 menuju rest area 42. Nah, di sana baru tenang. Saya pikir-pikir seharusnya tadi saya langsung ke rest area km 42 saja ya. Tapi sempat shalat Subuh gak ya? Kayaknya sih masih sempat kalau dihitung waktu muter-muter di km 62.

Jadi untuk sementara ini tempat yang nyaman bagi saya adalah rest area km 97 (cerita lain kali) dan rest area km 42. Itu yang arah menuju Jakarta.

Semoga bermanfaat …


Cita-cita Kaum Muda Sekarang

Hasil survey (Republika, 4 Juli 2011, halaman 23) tentang cita-cita kaum muda Muslim sekarang:

  • menjadi politikus (0%)
  • ayah-ibu yg baik (30%)
  • pengusaha (22%)
  • PNS dan TNI (13%)
  • kaya  (8%)
  • ilmuwan (5%,)
  • artis (4%)
  • orang terkenal (2%)

Menarik sekaligus menyenangkan. Seru juga melihat banyak yang mau jadi pengusaha. Mudah-mudahan ini bisa diterjemahkan sebagai entrepreneurs, bukan pengusaha yang ngaco ya. Demikian pula menarik gak ada yang mau jadi politikus. he he he.

Bagaimana menurut Anda?


Dapatkah Google+ Mengalahkan Facebook?

Google baru-baru ini mengeluarkan layanan baru, Google Plus. Di dalamnya ada banyak fitur, seperti Circle yang mengumpulkan teman-teman seperti Facebook. Bahkan ada yang menduga G+ ini mau mencoba terjun ke dunia jejaring sosial. Pertanyaannya adalah

Dapatkah Google mengalahkan Facebook?

Terlalu awal untuk menjawab pertanyaan ini, tetapi saya akan coba memberikan sedikit opini.

Agar sebuah layanan dapat diterima di lingkungan orang Indonesia dia harus murah dan mudah. Untuk Facebook dan G+ keduanya gratisan. Jadi keduanya murah. Pengguna memang masih harus keluar uang untuk biaya telekomunikasi (menggunakan internetnya), tetapi sekarang akses internet sudah relatif murah.

Soal mudah, ini urusannya lain. Mudah ini ada banyak parameternya. Saya akan soroti dua hal saja, aplikasi dan perangkat. Yang membuat Facebook diterima oleh orang Indonesia adalah karena aplikasinya mudah digunakan. Mau menceritakan kondisi kita – mengubah status – tinggal ketik. Mau komentar, tinggal ketik juga. Mau menampilkan foto, tinggal jepret dan upload. Dan seterusnya.

Soal perangkat, Facebook book bisa diakses dari komputer, handphone, dan tablet. Bahkan khusus untuk Indonesia, perangkat handphone itu yang memegang peranan penting. Kombinasi Blackberry dan Facebook merupakan killer package. (Bahkan ada yang mengatakan bahwa kombinasi itu ditambah dengan ibu-ibu yang menggunakannya merupakan pendorong populernya Facebook dan Blackberry.) Kombinasi antara perangkat handphone dan Facebook merupakan siklus (feedback) yang saling memperkuat. Sekarang ini mulai goyah dengan adanya tablet dan Android.

Kemudahan di atas (aplikasi dan perangkat) belum terjadi dengan G+.

Ada hal lain yang membuat Facebook diterima oleh orang Indonesia; (1) kemudahan menemukan teman lama [dan kemudian menjadi reuni-reuni]; (2) kemudahan menemukan teman baru [yang satu ide/kesukaan]; dan (3) games!

Selama hal-hal di atas belum diperhatikan oleh G+, Facebook masih akan merajai Indonesia.

Oh ya, tentu saja saya bisa salah :)


Upgrade Harddisk Macbook Aluminium

Harddisk Macbook (yang versi aluminium) sudah mulai penuh. Saya putuskan untuk beli disk baru dan upgrade. Saya beli disk 2,5″ 500 GB dengan enclosure yang murah meriah (Rp. 60 rb). Berikut ini langkah-langkah yang saya lakukan.

Langkah pertama adalah membuat duplikat disk yang sekarang sedang saya gunakan. Program SuperDuper ternyata sangat bagus dan mudah digunakan untuk itu. Dia membuat copy dari disk yang lama, sekaligus membuat disk yang baru ini bootable.

Berikutnya adalah menukarkan disk yang baru dengan yang lama. Bongkar disk dulu.

Macbook yang saya miliki ini sangat koperatif sekali. Tinggal buka bagian bawahnya maka kita bisa melihat harddisk di sebelah kiri dan batre di sebelah kanan.

Batre kita lepas agar kita bisa konsentrasi dengan disk. Pada bagian atas disk (dekat yang ada plastik penarik itu) ada plastik pengganjal. Ada satu sekrup yang perlu dibuka.

Setelah dibuka maka disk bisa dikeluarkan dengan mudah.

Disk sudah dikeluarkan. Pada keempat sisi tempat disk ada lubang (berwarna oranye). Lubang itu hanya untuk tempat sekrup dudukan saja. Sekrup ini nanti kita lepas.

Gambar di bawah ini menunjukkan sekrup bintang yang harus dilepas dan dipasang di disk yang baru untuk dudukan saja. Ternyata ini yang paling susah karena keras. Akhirnya saya menggunakan tang untuk membuka awalnya. Baru pakai obeng (yang juga tidak pas karena dia berbentuk bintang/kembang).

Setelah dipasangkan pada harddisk yang baru, maka tinggal kita pasang disk baru itu pada tempatnya. Prosesnya tinggal kebalikan dari semuanya. Beres proses pemasangannya. (Hanya saja saya lupa memasang plastik untuk menarik disk itu. Itu tinggal ditempelkan pada disk yang baru.) Disk duduk manis bersama batre.

Tutup. Boot. Beres. Langsung jalan. Alhamdulillah.

Bagian yang menyita waktu juga adalah beberes meja, tools, setelah selesai semua ini :)


Foto hari ini

Gak tahu mau dikasih judul apa. Pokoknya tiba-tiba tertarik dengan warna kuning yang mencrang itu :)


Terima bongkar (xbox)

ini kerjaan anak saya kemarin dulu; mbongkar Xbox 360. Karena rusak dan bolak balik rusak lagi, akhirnya dia bongkar sendiri :)

Dia menduga ada masalah dengan dengan heatsink yang melekat ke CPU-nya. Cepat panas dan ngehang. Harus cari thermal paste (?) yang bagus. Dimana belinya ya?

Mudah-mudahan bisa diperbaiki sendiri saja :) Atau mau dibuat terbuka gitu aja terus dikasih kipas angin. he he he.


Apa nama disk kayak gini?

Menyambung tulisan kemarin, soal disk external yang kotaknya tidak cukup memuat disk karena kabel-kabelnya banyak, akhirnya disk itu saya pasang seperti di foto ini. Disknya agak menjulur keluar. Kayak lidah yang melet. he he he.

Daripada kabelnya berantakan, mendingan begini kali ya? Pokoknya dia bisa dipakailah. Kan hanya sebagai backup saja :) Mau beli casing lagi harganya Rp 150 ribu. Sayang duitnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.