Archive Bulanan: Agustus 2011

Shalat Idul Fitri


selamat hari raya

Selamat Hari Raya 1432 H


on the road

kali ini posting singkat dulu karena sedang di jalan. Ini menggunakan handphone. Siap2 subuh dulu


Internet Agak Sepi

Saya perhatikan – dari statistik akses ke blog saya – internet di Indonesia agak sepi. Ada beberapa kemungkinan.

  1. Biasanya orang akses internet dari kantor dan sekolah. Sekarang sedang libur, maka akses internetnya pun libur. (Ini ditambah dengan fakta bahwa hari ini adalah weekend. Biasanya memang weekend aksesnya menurun. Ini memperkuat dugaan bahwa memang akses internet kebanyakan orang dari kantor / sekolah.)
  2. Sedang mudik dan ditempat mudik akses internetnya tidak sebagus di rumah. Maklum. Namanya juga mudik :)   [Kalau mudik-nya ke kota besar apa disebut mudik juga ya?]
  3. Peralatan yang biasa digunakan untuk akses internet (komputer, laptop) tidak dibawa mudik.
  4. Lebih banyak acara keluarga dan acara di dunia nyata. Sekali-sekali libur internet lah.
  5. Apa lagi ya?

Namun mungkin akses facebook dan twitter, yang banyak dilakukan via handphone, tetap banyak? Yang ini saya belum tahu juga.


Foto-foto Untuk Bahan Kuliah

Semester ini saya kembali mengajar kuliah Pengantar Teknologi Informasi. Salah satu materi kuliahnya berbicara tentang sejarah dari komponen elektronika. Saya pikir ada baiknya jika mahasiswa melihat bendanya. Maka saya bawa komponen-komponen – mulai dari vacuum tube sampai ke transistor – ke kelas. Show and tell.

Setelah itu saya pikir ada baiknya juga kalau komponen ini saya foto. Dia bisa dijadikan bagian dari slide presentasi. Kalau mau pakai materi (foto) yang nemu di Internet saya tidak tahu sifat hak ciptanya. Maka saya foto komponen-komponen tersebut.

Untuk foto-foto di bawah ini saya deklarasikan Creative Commons. Silahkan digunakan di slide-slide Anda bagi yang membutuhkannya. (Foto aslinya – dalam ukuran yang lebih besar, 4 MB – belum sempat saya upload.)


Profil Twitter

Melalui Visual.ly, didapatkan profil twitter saya (@rahard) seperti ini …

Bagaiman dengan profil Anda?


Selamat pagi

… fenced …

Saya senang menggunakan background langit yang biru untuk membuat komposisi foto. Natural. Soothing. Menyejukkan. Terang. Benderang.

Selamat pagi.


Kesenjangan Digital (Digital Divide)

Hari Senin yang lalu saya hadir di presentasi Craig Warren Smith (Digital Divide Institute, IGADD) tentang Meaningful Broadband. Salah satu slide yang menarik bagi saya adalah bahwa implementasi broadband yang merata di Indonesia adalah hal yang urgent! Now! Sekarang juga.

Mengapa broadband harus diimplementasikan sekarang juga? Karena jika tidak diimplementasikan secara merata maka akan ada kesejangan digital (digital divide) yang makin melebar. Bagi kota-kota besar yang sudah memiliki akses broadband maka aksesnya akan menjadi semakin cepat, semakin banyak tempat aksesnya, dan semakin murah! Sementara daerah yang belum mendapatkan akses, sudah akses internet lambat, susah, dan mahal pula!

Apakah sudah sedemikian pentingnya broadband? Ya! Saya mengambil contoh diri sendiri. Sekarang saya sedang mabuk kepayang mencari eBooks-eBooks. Ini bukan eBooks biasa tapi buku teks waktu kuliah di luar negeri dulu, buku bacaan (yang di luar negeri pun susah dicari di toko buku), dan buku-buku yang bagus lainnya. Untuk mengambil buku ini, sudah pasti dibutuhkan akses broadband. Bagaimana tidak, satu buku saja ukurannya megabytes (antara 2 MB sampai 100 MB). [Masalah copyright akan kita bahas terpisah ya. Karena ketidaksetaraan, playing field harus dimiringkan (tilted).]

Ini tidak jauh beda dengan kesenjangan pendidikan di Indonesia dan luar negeri, dilihat dari kacamata perpustakaan. Bayangkan kalau di sekolah terpencil tidak punya buku! Yang ada adalah buku bekas tahun 1980-an. Sementara di kota besar, perpustakaan ada dengan buku-buku yang baru. (Dan bahkan kalau di luar negeri, buku yang baru keluar langsung sudah ada di perpustakaannya.) Bagaimana sekolah terpencil ini bisa berkompetisi? Jika kemudian ada ujian yang dilakukan secara nasional, maka daerah terpencil akan mengalami kerugian. Kesenjangan kaya dan miskin?

Contoh lain yang nyata adalah akses ke YouTube. Jangan salah, sekarang orang mulai melakukan pencarian (searching) ke YouTube – tidak lagi terbatas ke Google / Yahoo!. Banyak orang yang mulai menggunakan YouTube untuk belajar. Minggu lalu saya lihat ada yang belajar dengan melihat kuliah-kuliah (informal juga) di YouTube. Jangan salah, apa yang ada di YouTube tidak kalah dengan kuliah fisik. Contoh yang nyata adalah Khan Academy.

Bagi yang memliki akses ke broadband, maka mereka mendapatkan manfaat dari YouTube. Semakin pandai mereka. Bagi yang tidak memiliki akses, maka mereka ada di posisi merugi. Ini adalah kesenjangan (digital) yang nyata dan harus diberantas.

Maka dari itu … broadband adalah hak asasi manusia Indonesia.


Selamat Pagi

rasanya kering juga halaman blog ini tanpa foto.
maka dipasanglah foto ini.
selamat pagi …


Repetisi (Pengulangan) Dalam Ibadah

Pernah saya bertanya-tanya, mengapa ibadah harus diulang-ulang? Apakah tidak cukup dilakukan sekali saja? Sebagai contoh, shalat kita lakukan berulang-ulang. Bacaan shalat juga kita lakukan berulang-ulang. Mengapa ada repetisi atau pengulangan seperti ini? Repetisi ternyata punya beberapa manfaat atau tujuan.

Pertama. Pengulangan dilakukan agar kita lebih mudah untuk mengingat atau menghafal. Salah satu metodologi pengajaran adalah melakukan pengulangan. Saya masih ingat ketika kecil harus menghafal perkalian. Maka saya harus mengulang-ulang; 2 x 1, 2 x 2, 2 x 3, dan seterusnya. Demikian pula untuk menghafal surat atau bacaan doa, kita lakukan pengulangan. Sampai hafal.

Bahkan, untuk melakukan shalat pun kita lakukan pengulangan. Bagi yang baru pertama kali belajar shalat, mungkin belum ingat urutan gerakan, bacaan, dan hal-hal yang terkait. Mungkin sebagian besar kita sudah lupa proses belajar ini karena kita mempelajarinya waktu kecil? (Dulu kita juga harus mengulang-ulang.)

Contoh yang nyata juga adalah shalat Eid. Hayo berapa jumlah takbirnya? Karena kita jarang melakukannya – setahun hanya dua kali – maka kita mudah lupa. Maklum, lupa adalah kodrat dari manusia. Untuk itu memang pengulangan harus dilakukan. Tujuannya kali ini adalah untuk mengingat kembali. Tentang mengingat kembali ini, pengulangan digunakan juga oleh pembicara (presenter, dai) dengan mengatkan inti atau poin yang ingin disampaikan di awal, diulangi di tengah, dan disampaikan kembali di akhir. Untuk mengingat kembali.

Kedua. Pengulangan dilakukan untuk memberi penekanan kepada hal tertentu, hal penting. Ini merupakan sebuah teknik dalam memberikan presentasi. Hal ini dilakukan untuk menegaskan kepada pendengar atau pembaca akan pentingnya hal tersebut. Di beberapa surat, ada bacaan yang diulang-ulang. Bahkan diulang secara berturutan. Tujuannya adalah untuk menekankan bahwa ini penting.

Ketiga. Pengulangan dapat digunakan untuk menerapkan / mendidik disiplin. Sebagai contoh shalat – yang kita lakukan berulang-ulang secara terjadwal – mengajarkan disiplin untuk bangun pagi (shalat Subuh), dan mengerjakan shalat di waktu-waktu yang lain.

Keempat. Pengulangan digunakan untuk mengajarkan dan menguji kesabaran. Seringkali pengulangan menimbulkan kebosanan. Maka aspek ujian kesabaran akan muncul di sini. Tanpa sabar, sulit menjalankan kegiatan yang berulang-ulang.

Kelima. Melakukan hal yang berulang-ulang akan menjadikannya kebiasaan dan pada akhirnya menjadi budaya. Ibadah kita lakukan berulang-ulang sehingga menjadi budaya. Mungkin ada yang tidak suka hal ini, tetapi bukankah lebih baik memiliki budaya ibadah yang baik daripada tidak memilikinya bukan?

Keenam. Pengulangan dapat meningkatkan skill. Yang ini sudah jelas dilakukan di berbagai bidang. Di dunia olah raga, atlit berlatih terus. Pemain sepak bola menendang bola berulang-ulang. Di dunia seni, pemain musik berlatih dengan alat musiknya terus menerus. Dalam ibadah demikian juga. Sebagai contoh, jika seseorang sering (berulang-ulan) melakukan shalat lail (tahajud) maka dia akan memiliki skill untuk melakukannya (bagaimana mengatur waktu tidur, dan seterusnya). Bagi yang jarang melakukannya maka akan terasa sulit. (Sama hal dengan puasa Senin Kamis, misalnya.)

Tantangan

Tentu saja pengulangan ini memiliki masalah atau tantangan. Yang pertama adalah ketika kita sudah hafal melakukan sesuatu maka kita bisa jadi kehilangan esensi dari apa yang kita lakukan. Kita melakukannya sebagai refleks atau bisa juga menjadi seperti robot. Shalat dilakukan gerakannya, karena sudah terbiasa saja. Lupa esensinya.

Nah, untuk mengatasi hal ini … pengulangan juga solusinya, yaitu pengulangan untuk mengingatkan alasan kenapa kita melakukan pengulangan tersebut. (Mengapa menjadi rekursif begini ya?) Oleh sebab itu, jangan bosan apabila mendengarkan khatib memberikan khutbah yang topiknya sudah pernah didengar.

Semoga bermanfaat.


Tidak Sempat

Terus terang saya baru sadar bahwa kemarin saya tidak sempat ngeblog. Entah sibuk seperti apa kok tidak sempat. Sebetulnya ada waktu tapi kok tidak sempat juga ya?

Hari ini juga nyaris demikian. Ada banyak email yang harus dibalas (akibat dari kesibukan kemarin, meleber ke hari ini). Ada beberapa mahasiswa baru yang ingin mengambil thesis S2 ke saya, sehingga saya harus membuat kelas / pertemuan dadakan. Ada kelas di siang hari. Dan sekarang ada tulisan yang harus jadi sore ini. Hadoh. Mau nulis yang penting di blog ini tidak sempat. Mau upload foto juga tidak sempat. Ya jadinya tulisan – tepatnya keluh kesah? – tentang tidak sempat ini. he he he.

(Mau ditwit kok panjang banget ya? Jadi ini semacam twit yang tidak terbatas panjangnya?)


Membuang Waktu

Saya sedang ingin banyak membaca. Ada banyak bahan bacaan yang harus dan ingin dibaca, tetapi waktunya tidak cukup. Kadang saya merasa bersalah juga kalau membaca sesuatu yang tidak bisa dirasakan manfaatnya sekarang juga. Misalnya, ada beberapa buku novel, buku tentang globalisasi, buku musik, dan sejenisnya yang ingin saya baca tetapi pelajaran dari buku-buku tersebut tidak dengan segara bisa saya manfaatkan. Isi buku tersebut tidak membuat saya menjadi bisa menyelesaikan permasalahan security atau programming yang sedang kami tekuni. Kalau sudah gini, kesel deh. Bagi Anda yang rajin membaca, bagaimana Anda membenarkan (justify) hal ini?

Lebih kesal lagi melihat anak-anak muda yang luntang lantung seperti tidak ada pekerjaan. Mestinya, setidaknya, mereka bisa baca buku. Mereka membuang waktu dengan percuma karena tidak tahu mau apa, sementara saya merasa kehabisan waktu. Duh.


Mendidik Engineers

Mohon maaf judulnya agak campur aduk bahasanya; Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris :)   Maklum, saya kebingungan mencari kata yang tepat untuk “engineers”.

Saya sedang membaca buku tentang “educating engineers”, yaitu bagaimana perguruan tinggi merespon perubahaan di dunia sekarang. Tantangan yang dihadapi oleh para engineers ini berbeda dengan dahulu. Tentunya para calon engineers ini harus disiapkan untuk menghadapi tantangan tersebut.

Ada banyak masalah di sini. Masalah pertama adalah sulit bagi kita untuk memprediksi tantangan yang akan dihadapi di depan. Untuk memprediksi 5 tahun ke depan saja sudah sangat sulit. Bagaimana kita merancang pendidikan untuk 10 tahun ke depan? Ada video dari Sir Ken Robinson yang bagus mengenai hal ini. (Silahkan search di YouTube dengan keyword “Sir Ken Robinson”)

Masalah berikutnya, yang mungkin khas Indonesia, adalah apakah lulusan dari perguruan tinggi teknik akan menjadi engineers? Apakah Sarjana Teknik (ST) sama dengan engineers? Setelah itu pun ketika mereka kerja mungkin kerjaannya tidak ada hubungannya dengan bidang yang dipelajari. Seorang sarjana Sipil mungkin menjadi pimpinan bank. Seorang lulusan Elektro membuka gerai restoran. Seorang sarjana Pertanian menjadi konsultan Teknologi Informasi. Bagaimana ini?

Percuma saja di kampus diajarkan ilmu yang spesifik tentang bidangnya tetapi pada akhirnya beda tempat bekerjanya. Masih untung bila ilmu engineering-nya tetap bisa digunakan. Bagaimana jika bidangnya bukan engineering lagi? Apakah tidak mubazir pendidikan di perguruan tinggi teknik itu?

Masih banyak masalah lain, tetapi tulisan sudah terlalu panjang. Bosan nanti.


Gado-Gado

Tulisan ini bukan tentang makanan gado-gado, tetapi tulisan dengan topik campur aduk. Seperti gado-gado, memang. Tulisan ini hanya sekedar kumpulan perjalanan, pemikiran, atau catatan yang saya lakukan hari ini.

Hari ini saya mulai dengan membuka internet. Ini hari Sabtu. Saya pikir tadinya saya mau baca sedikit email terus dilanjutkan dengan ngoprek rangkaian Arduino. Ternyata akhirnya berbeda. hi hi hi.

Startup, bisnis, passion. Bermula dari diskusi di milis StartupLokal tentang “tujuan dari bisnis”, saya pikir ada baiknya jika saya berbagi pendapat mengenai topik ini. Ada baiknya jika saya tuliskan saja di blog ini (dan mungkin kemudian hari bisa menjadi bagian dari buku?). Maka jadilah artikelnya. (Silahkan baca di post terdahulu.)

Sambil menulis tentu saja saya browsing internet. Mencari tambahan informasi. Akhirnya saya terdampar ke Library.nu. Ini tempat koleksi buku-buku dalam format yang bisa diunduh. Silahkan ke sana tetapi jangan marah ke saya kalau jadi kecanduan. he he he.

Buku-buku yang saya baca tentunya terkait dengan topik startup, teknologi, Silicon Valley, bisnis, dan sejenisnya. Maka akhirnya saya melihat buku-buku ini; “New New Thing: A Silicon Valley Story” (saya sebetulnya punya 2 buah buku aslinya – ini tentang bagaimana Jim Clark memulai Netscape, salah satu buku kesukaan saya), “Hackers: Heroes of the Computer Revolution“, “Apple Confidential 2.0“, “Founders at Work: Stories at Startup“, dan banyak lagi.

Masalah baru muncul: kapan membaca buku-buku tersebut ya? Nampaknya saya menemukan rumus baru:

kecepatan mendapatkan (download) eBooks lebih cepat daripada membaca eBooks-eBooks tersebut

Nah. Siapa yang bisa membuat pembuktiannya? hi hi hi.

His story. Sebagai bagian dari mencari informasi, saya juga mencoba mencari sejarah-sejarah tentang komputer dan internet. Salah satunya adalah sejarah World Wide Web (WWW). Oh saya baru ingat, saya juga ikut menjadi bagian (setidaknya sebagai pelengkap penderita) dari sejarah ini.

Ketika Tim Berners-Lee mengembangkan WWW di sekitar tahun 1991, saya sedang bekerja di Computer Services, University of Manitoba (tempat saya mengambil S2 dan S3). Kebetulan kala itu semua orang menyukai Sun workstations. Sayangnya, saya tidak kebagian. Hanya ada 2 NeXT workstation di pojok yang akhirnya saya ambil sebagai workstation kerja saya. NeXT computer adalah produk yang luar biasa indahnya! Sayang sekali dia harus mati. Dan, Anda tahu siapa yang menjadi bagian dari NeXT computer? Tidak lain adalah Steve Jobs! Ya, setelah ditendang dari Apple dia mendirikan NeXT computer.

Singkatnya saya mulai ngoprek komputer NeXT ini. Mencari software untuknya, yang bukan standar UNIX biasa. Akhirnya saya melihat apa yang dikerjakan oleh Tim Berners-Lee dengan WWW-nya. Maka saya pun ikut download softwarenye, compile, dan jalankan di NeXT workstation saya. Maka mulailah saya terpikat dengan WWW. Mau lihat tampilan layar Tim Berners-Lee dengan browser WWW pada waktu itu (1991)? Bisa dilihat di sini. Keren kan?

Menariknya adalah waktu itu orang-orang tidak tertarik ke WWW karena sudah ada FTP dan Gopher. Untuk apa WWW? Maka kami-kami harus mempromosikan kehebatan WWW. Perlu diingat bahwa ini masih awal dari WWW. Hal yang terhebat dari WWW pada saat itu adalah membuat text kedap-kedip (blinking). ha ha ha. Itu saja sudah membuat orang excited. Web site pertama yang saya buat adalah “The Ultimate Indonesian Homepage“.

Ah, menarik sejarah. Saya pernah ingin mendokumentasikan semua yang saya lalui dalam buku yang saya beri judul “Budi Rahardjo and His Story“. Ya, memang ada plesetannya di sana. hi hi hi. Saya bahkan sempat membuat draftnya (dengan software Framemaker waktu dulu). Sayangnya, draftnya hilang. Oh well…

Ah iya. Jadi lupa mau ngoprek Arduino.


Tujuan Dari Bisnis Adalah …

Jika saya lemparkan pertanyaan

apa tujuan dari  bisnis?

sebagian besar akan menjawab “untuk mencari uang” atau “mencari keuntungan”. Saya rasa ini jawaban yang natural, tetapi menurut saya kurang tepat. Tujuan utama bisnis dari orang-orang sukses yang saya ketahui bukan untuk mencari uang tetapi hal lain.

Ketika Steve Jobs (Apple), Bill Gates (Microsoft), Jerry Yang (Yahoo!), dan seterusnya, ditanya kenapa membuat perusahaan yang mereka buat, jawabannya adalah “to change the world“. Tentunya maksudnya membuat dunia menjadi lebih baik. Luar biasa bukan?

Uang bagi mereka bukan tujuan utama membuat bisnis. Uang akan datang sebagai konsekuensi logis. Bukan tujuan utama. Passion (dan mungkin juga mulanya adalah hobby) merupakan dorongan utamanya. Mereka melakukannya karena kecintaan mereka pada bidang mereka.

Steve Jobs mengatakan bahwa waktu masih muda dia tidak peduli terhadap uang, karena tidak punya uang (he he he). Setelah sukses dia juga tidak peduli kepada uang, karena uangnya banyak. But, we did not do it because of money. Begitulah.

Jika kita membuat bisnis yang kita sukai, maka itulah sukses. Seorang yang senang nonton, membuat bisnis bioskop. Seorang yang senang musik, membuat studio musik, mengembangkan bisnis musik, sekolah musik, dan sejenisnya.  Orang yang senang olah raga mengembangkan bisnis toko alat olah raga, sekolah olah raga. Semuanya menyenangkan. Bisnis tidak menjadi beban, tetapi menjadi hal yang menyenangkan.

Bisa disimak potongan wawancara dengan Bill Gates dan Steve Jobs di sini:

Steve Jobs:  Yeah, people say you have a lot of passion for what you are doing, and it’s totally true and the reason is because it’s so hard that if you don’t, any rational person would give up.
It’s really hard and you have to do it over a sustained period of time.  So if you don’t love it, if you’re not having fun doing it, if you don’t absolutely love it, you’re going to give up. And that’s what happens to most people, actually.

Atau pendapat Tony Hsieh (CEO Zappos):

“What would you be passionate about doing for 10 years even if you never made a dime?”

Jika tujuan seseorang memulai usaha adalah untuk mencari uang, maka sebetulnya ada banyak jalan lain yang lebih mudah dan aman untuk mendapat uang banyak. Itulah sebabnya sebagian besar orang menjadi pekerja (bekerja di perusahaan multi nasional menghasilkan gaji yang luar biasa besar), menjadi PNS (dengan gaji yang terjamin – meski mungkin tidak bisa kaya raya), atau menjadi anggota dewan (nah ini yang menjadi trend he he he). Uang lebih banyak di situ dibandingkan dari membuka usaha sendiri.

Guru saya, almarhum Chandra Liem, mendefinisikan tujuan bisnis adalah “to give what the people want“. Begitu katanya.

Tentu saja kita bisa berbeda pendapat. Ini hanya opini saya. Semoga bermanfaat.

[ack. thanks untuk reinx atas link-nya]


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.