Archive Bulanan: September 2011

Menulis dan Mempresentasikan Karya Ilmiah

Suasana sidang tugas akhir dan thesis masih meliputi lingkungan di sekitar saya. (Hari ini merupakan batas untuk melakukan sidang dan seperti biasa mahasiswa melakukan sidangnya di hari terakhir. he 3x.) Kuliah kemarin saya hubungkan dengan hal ini; saya bercerita tentang bagaimana menulis yang baik dan juga bagaimana memberikan presentasi yang baik.

Setelah itu saya ingin memperbaiki tulisan-tulisan saya tentang hal itu (link menyusul), tapi nampaknya tidak sempat karena masih harus menguji hari ini. Tunda dulu. Besok lusa saja. Biasanya kalau sudah ditunda begini hasilnya adalah lupa. he he he.


Saran eBook Reader

Lama kelamaan, saya jadi ingin punya eBook reader juga. Tadinya saya punya iPad, tetapi saya berikan ke anak saya sebelum saya puas menggunakannya. Nah, sekarang saya minta saran tentang eBook reader yang bagus dengan spesifikasi seperti ini:

  • Harga tidak mahal (alias murah). Saya menduga umurnya hanya 2 tahun. Pada saat itu saya akan beli yang baru lagi. Jadi jangan yang mahal-mahal. Saya lihat ada eBook reader yang harganya Rp. 1,5jt tetapi saya tidak tahu bagus atau tidak.
  • Batre relatif tahan lama. Repot kalau harus sering charge batrenya. Setidaknya batre bisa bertahan 2 hari gitu.
  • Bisa membaca format PDF, DJVU, EPUB.
  • Layar sebesar mungkin :) [maklum saya membaca dengan fonts ukuran besar]

Saran?


Dapat Hadiah dari Lawton Coffee

Sore tadi mampir ke Lawton Coffee di km 72 tol Cipularang (ke arah Bandung). Sudah lama saya tidak ke sana. Eh, ternyata saya dicariin oleh Leon dari Lawton Coffee. Katanya saya dapat hadiah! Wow! Jarang-jarang saya dapat hadiah. Mungkin karena saya (dan tim Indocisc lainnya) sering datang ke sana jadi dapat hadiah?

Berfoto dengan Leon. Lumayan dapat mug, kaos, dan satu bungkus Lawton Coffee.


Sarapan di jalan

Kembali, hari ini saya sarapan di jalan. Eh, tepatnya sarapan di gedung perkantoran yang belum buka. Hari ini kami harus meeeting dengan klien. Maka saya berangkat pagi hari. Sangat pagi. Jam empat kurang, saya sudah berangkat dari rumah. Asyiknya jalan raya yang tidak terlalu ramai. Shalat Subuh bisa dilakukan di km 42 tol Cikampek. Tidak ramai juga.

Sampai di tujuan jam 6:15. Tempat parkir perkantoran masih sepi. Nah, sekarang tinggal mencari sarapan. Seperti biasa, ini kepagian. Tempat makan belum pada buka. Saya putuskan untuk berjalan-jalan seputar SCBD. Ada ibu-ibu menggelar jualan sarapannya di trotoar; lontong, kopi, dan beberapa makanan lainnya. Pekerja bangunan sarapan di situ. Asyik kayaknya. Perut bisa tahan gak ya? Mau motret, takut mengganggu. Jalan terus.

Di dekat Grand Lucky ada toko yang kayaknya menarik, Ketjil Kitchen. Saya jadi ingat tulisan Tita Larasati (aka esdurent) tentang tempat ini. Katanya asyik dan juga ada wifi. Sayangnya masih tutup. Jalan lagi.

Setelah 30 menit tidak menemukan tempat yang cocok. Akhirnya saya putuskan untuk sarapan di Daily Bread saja.

Selamat pagi … Sukses! Breakfast dulu ya …


Pengujian Karya

Saya baru selesai menguji thesis mahasiswa S2. Kebetulan penelitiannya terkait dengan membuat aplikasi. Semuanya baik kecuali pada bagian pengujian. Kemarin juga ketika menguji ada masalah yang sama dengan pengujian. Nampaknya memang pengujian karya (ilmiah) memang masih belum dipahami.

Pengujian bisa kita bagi menjadi dua: (1) fungsional, dan (2) non-fungsional. Pengujian fungsional dilakukan untuk menguji apakah sistem / aplikasi / karya / ide sudah sesuai dengan fungsi yang diberikan. Sebagai contoh, kalau kita membuat sebuah sistem pendeteksi obyek (manusia, mobil, dll.) maka sistem harus kita uji apakah bisa mendeteksi obyek yang dimaksud.

Pengujian fungsional ini dimulai dengan menggunakan data (set) yang standar. Biasanya untuk aplikasi atau sistem tertentu ada kumpulan data (test cases) yang sudah dibuat untuk menguji fungsi tertentu. Penggunaan data yang standar ini memungkinkan kita untuk membandingkan ide / metoda / produk / karya kita dengan karya orang lain. Kalau di dunia image processing ada foto Lena, baboon, dan seterusnya. Di bidang lain tentunya ada data set yang standar juga.

Pengujian fungsional kemudian dapat dilakukan dengan data yang sesungguhnya, misalnya data di target evnvironment. Pengujian ini dilakukan untuk mengevaluasi apakah sistem dapat digunakan (applied).

Hasil pengujian sebaiknya ditampilkan dalam bentuk tabel. Ini untuk mempermudah penilaian.

Pengujian non-fungsional antara lain yang terkait dengan kinerja (performance). Contohnya adalah seberapa lama waktu yang dibutuh untuk memproses data atau seberapa banyak data yang dapat diproses oleh aplikasi.

Demikianlah secara singkat mengenai pengujian. Jadi, lain kali saya menguji karya / tugas akhir / thesis / disertasi, Anda sudah tahu apa yang akan saya tanyakan :)


Baca Cepat

Mulai dari minggu kemarin dan sampai minggu ini ada beberapa mahasiswa yang harus maju sidang thesis. Kebetulan saya menjadi dosen penguji. Artinya saya harus membaca draft thesis mereka dengan cepat. Plus ada beberapa dokumen lain yang harus dibaca untuk urusan kerjaan. Lagi-lagi harus baca cepat. Padahal sekarang rasanya kecepatan baca saya turun jauh dibandingkan dahulu. (Kacamata merupakan penyebabnya, kayaknya.)

Salah satu yang mengganjal baca cepat adalah tulisan yang buruk. Ada banyak tulisan mahasiswa yang membingungkan (secara bahasa, bukan secara isinya). Salah satu yang paling sering muncul adalah kalimat panjang, yang terlalu banyak menggunakan kata “yang”, padahal sudah dicontohkan di kelas, yang contohnya adalah ini. he he he.

Baca cepat dulu ya … Pagi ini juga ada yang harus diuji.


(tiada henti) Belajar

Ketika menjadi mahasiswa, saya pikir proses belajar akan berhenti setelah lulus. Pada kenyataannya saya masih harus terus belajar. Apakah ini hanya spesifik untuk bidang yang saya geluti (mengajar dan konsultasi)? Ataukah ini juga berlaku untuk bidang lain? Mungkin ada pekerjaan yang tidak membutuhkan belajar terus (tinggal ikuti petunjuk, selesai)?

Di group (perusahaan) kami, kami harus selalu belajar. Selalu saja ada hal-hal yang baru, yang diminta oleh klien untuk dikerjakan. Artinya kita harus belajar lagi. Yang lebih repot, seringkali kita harus belajar sendiri karena orang lain di sekitar kita belum menguasai topik tersebut. Lebih repotnya lagi adalah kita masih harus bekerja (mengerjakan yang sudah jalan) di luar belajar ini. Jadi waktu belajar seringkali diletakkan di luar waktu kerja, misalnya di rumah. Dengan kata lain, ini lebih berat daripada waktu kita menjadi mahasiswa.

Belajar (yang umumnya berbentuk membaca) di luar jam kerja ini susah dianggap sebagai bagian dari kerja. Maksudnya, dia sulit untuk dikonversikan sebagai bagian dari tugas kerja yang berbayar. Itulah sebabnya banyak orang yang tidak mau melakukannya. Padahal, ini seharusnya merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari; menjadi sebuah budaya.

Memang benar bahwa belajar itu sampai kita berhenti bernafas. Semangat belajar ah!


Tentang Foto Makanan

Kalau diperhatikan di blog ini, dan di tempat lainnya (facebook, tumblr, twitter), saya sering memotret makanan. Alasannya sederhana, makanan adalah obyek yang paling sering muncul di depan saya. he he he. Tentu saja mereka menjadi obyek yang paling sering dipotret.

Alasan kedua adalah memotret makanan lebih mudah dibandingkan memotret manusia (yang selalu bergerak dan sadar kalau mau dipotret). Yang juga mudah dipotret adalah langit (awan, skies).

Metoda saya ketika memotret makanan sederhana sekali. Lihat di kamera apakah foto yang (akan) dihasilkan menimbulkan minat untuk makan. Bikin ngiler. Jika iya, maka foto harus diambil. Kadang memang foto yang dihasilkan tidak menimbulkan selera. Nah, yang seperti ini memang tidak saya tampilkan.

Foto makanan saya sudah banyak sekali. Di facebook, saya kelompokkan setiap 100 foto ke dalam satu album. Jadi “Food 1.0″ berisi 100 foto makanan. “Food 2.0″ juga berisi 100 foto. Sekarang sudah ada “Food 3.0″ yang sudah berisi 90-an foto. Sebentar lagi ada “Food 4.0″. Artinya sudah ada (hampir) 300 foto makanan yang saya upload ke facebook. Padahal ada foto makanan lain yang tidak saya upload ke facebook (karena biasanya sudut pengambilan yang berbeda tidak saya upload ke tempat yang sama). Itu juga tidak termasuk foto yang tidak saya upload. Artinya sudah ratusan foto makanan yang saya ambil :)   Menunggu ribuan ah …


Makanan Sehat

ditambah nasi panas dan sambal … wuih …


sampai rambu berikutnya


Fruits

semuanya dipotret dengan menggunakan Nokia N8


Masalah e-Learning

Dari berdiskusi dengan beberapa orang, dapat disimpulkan(?) bahwa penerapan teknologi informasi di dunia pendidikan kalah jauh dengan penerapannya di dunia bisnis. Aneh juga ya? (Atau mungkin tidak aneh?)

Apa sih yang menyebabkan e-learning / e-education kurang bisa berhasil? Apakah karena kultur kita bukan kultur baca tulis? (Tetapi bukankah kita bisa menerapkan e-learning dengan menggunakan audio dan video?)

Bagaimana pendapat Anda?


(terjaga) 21 Jam

Kemarin saya hanya sempat tidur (kurang dari) 3 jam. Awalnya adalah saya harus ke Jakarta untuk menjadi juri di acara INAICTA. Kami, para juri, diminta hadir pukul 8 untuk briefing. Saya putuskan untuk berangkat dari Bandung pukul 4. Artinya saya harus bangun pukul 3. Maka, itulah yang terjadi.

Perjalanan Bandung – Jakarta awalnya menyenangkan. Saya nyetir sendiri. Bahkan shalat subuh di masjid km 97 pun menyenangkan. Pas waktunya. Nah, yang mulai tidak menyenangkan adalah ketika mulai masuk ke km 16. Macet. Kenapa ya? Saya putuskan untuk menyalakan internet (twitter) di handphone dan mencari informasi (awalnya elshinta, terus ke polda). Akhirnya saya tahu bahwa ada truk yang bannya pecah di km 10. Hadoh. Ini baru km 16. Artinya ada kemacetan lebih dari 5 km. Empat puluh lima menit telah berlalu. Akhirnya terlihat juga truk yang bermasalah.

Tadinya saya berharap bisa masuk ke Jakarta sebelum jam 7, sebelum terkena 3-in-1. Apa daya masuk ke tol dalam kota sudah 7:45. Untungnya saya berhasil sampai di tempat acara, FX plaza, jam 8-an. Terlambat sedikit. (Eh, ternyata di sana masih nunggu yang lain dulu. Jadi saya tidak terlambat.)

[ini kopi saya - sambil mendengarkan instruksi untuk para juri.]

Acara INAICTA sendiri berjalan lancar dari pagi sampai siang (mungkin sampai pukul 3). Setelah itu saya bertemu dengan pengurus PANDI, bertemu dengan beberapa teman, melihat-lihat acara Social Media Fest, dan akhirnya berakhir dengan makan malam dengan David di PAD (cafe barunya yang mungkin baru launching hari ini).

Acara semua baru selesai pukul 21-an. Sekarang masalah pulang ke Bandung. Saya lihat jalan tol sudah mulai sepi, maka saya putuskan untuk berangkat. Tahunya untuk masuk ke jalan tol itu masih macet. he he he. Setelah di jalan tol memang lancar, sampai km 41. Di situ ternyata ada perbaikan jalan. Merayap lagi. Akhirnya sampai km 57 sudah mendekati tengah malam. Saya putuskan untuk shalat di sana saja karena kalau sampai Bandung nanti sudah terlanjur ngantuk.

Sampai di rumah jam 1 pagi. Artinya saya terjaga selama 21 jam. Phew …  Dan lucunya saya sudah tidak ngantuk lagi. Tapi saya paksakan untuk tidur karena saya tahu besoknya (lebih tepat hari ininya) banyak kerjaan. Mudah-mudahan hari ini tidak terlalu ngantuk. Ngantuk sih ngantuk, tapi tidak terlalu lah.


Signals

Setiap melihat hydrant saya langsung kebayang foto cover album band Rush yang berjudul Signals. (Silahkan cari di web gambarnya.) Memang tidak persis banget sih karena di foto Signals itu ada anjingnya, tapi tidak apa-apa. Jadi begitu melihat hydrant, langsung saya potret juga dan saya beri nama “signals” juga. he he he. Nggak nyambung kan?

Obyek di dekat labtek 8, ITB. Dipotret dengan menggunakan Nokia N8. Diproses dengan menggunakan pixelmator.


Mau?

Ayam bakar. Mau?

Ini adalah makanan yang ada di depan saya ketika menguji mahasiswa tadi pagi. Bertahan untuk tidak menghabiskannya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.