Minggu lalu, Merlyna Lim datang ke Bandung. Rame-rame kami ngopi bersama dan berdiskusi tentang berbagai hal. Salah satu yang muncul adalah topik tentang jejaring sosial. Kebetulan Mer memang sedang jalan-jalan ke Indonesia dalam rangka itu. Hasil diskusi yang saya pahami adalah jejaring sosial belum memiliki pengaruh yang super hebat seperti yang didengung-dengungkan oleh para promoternya. Jangan salah, saya pun termasuk yang mempromosikan penggunaan jejaring sosial, tetapi untuk melihat efeknya saya masih harus percaya bahwa dia masih sama dengan jejaring di dunia nyata.
Sabtu ini katanya ada usulan untuk mematikan handphone selama dua jam sebagai unjuk protes terhadap pelayanan operator telekomunikasi yang kurang baik. Banyak orang yang merasa dirugikan oleh operator ini. Menurut saya, sebagai gerakan sih oke-oke saja tetapi kalau dilihat dari efektivitasnya nampaknya belum bisa terukur. Bahkan, kalaupun sekarang diukur mungkin efeknya belum ada. Untuk kasus ini lebih baik energi difokukan kepada regulator untuk memastikan operator telekomunikasi benar dalam menjalankan operasionalnya. (Ada berbagai usulan, seperti adanya usulan untuk melakukan security audit terhadap billing systemnya operator.)
Citizen jurnalism juga belum berjalan dengan baik. Coba lihat peringkat situs yang paling banyak diakses atau twitter yang paling banyak diikuti, masih didominasi oleh sumber berita formal
so much for citizen journalism. Kebanyakan kita masih jadi pengekor. Jadi, dunia maya pun masih didominasi oleh power house dari dunia nyata.
Jadi?


Oktober 14th, 2011 at 10:11 am
lakukan Audit
Oktober 14th, 2011 at 12:49 pm
Citizen journalism menurut saya berhubungan sekali dengan digital gap (digital gap dalam arti secara kualitas dan kuantitas). Kalau orang Indo semakin banyak, semakin heterogen, dan semakin suka & committed untuk create content lewat jalur2 alternatif, seharusnya citizen journalism semakin kaya. Peran internet sbg public sphere juga semakin nyata.
Sayangnya, orang2 yang mengambil peran sebagai content creator masih sangat sedikit, dan itupun banyak yang mengeksploitasi google (dengan merebut keywords2 populer) untuk membuat situs2 sampah yg bergantung dari adsense + konten ga beres.
Bbrp solusinya:
-para digital entrepreneurs membuat konten yang tidak hanya entertaining, tapi juga membuat value. Bukan dengan alasan idealisme, tapi dengan alasan bahwa ada kekosongan pasar.
-membuat sistem yg bisa mendorong tumbuhnya content creators, misal: memperbanyak hire content producer (penulis, researcher, desainer, dll) secara freelance/part time, agar mereka bisa kerja di berbagai tempat.
-kolaborasi dengan para pembuat smartphone/tablet/laptop untuk meng-injek produknya konten-konten dengan value yang menyasar segmen tertentu.
-para pemain dominan ikut memberdayakan pemain2 kecil potensial. Misal dengan inisiatif sejenis Indigo Fellowship.
IMHO, mungkin perlu juga melihat pengaruh jejaring sosial secara kualitatif dengan melihat hal2 yang meskipun abstrak, tetapi juga nyata. Misal: proses diskusi, arus informasi, pembentukan identitas, dll (dalam kacamata yang sifatnya interdisipliner).
Digital gap juga membuat “yang hebat semakin hebat”, misal: para digital entrepreneurs yang sudah pernah membuat sesuatu akan semakin meninggalkan para digital entrepreneurs lain. Jadi yang sukses ya itu-itu aja. Hegemoni tetap terjadi, baik di nyata maupun di internet.
Keren postingnya, Pak. Posting ini sebagai sarana sharing juga mendorong tempat2 diskusi alternatif biar difusi inovasi menular dari para thought leaders ke mainstream.
Oktober 14th, 2011 at 3:12 pm
Jejaring sosial kan sarana buat share sama teman-teman di dunia maya.
Oktober 14th, 2011 at 3:14 pm
Dgn jejarin sosial kita bisa deh share ke seluruh dunia…
Oktober 14th, 2011 at 8:51 pm
Pengaruh nya ada lah..waktu banyak habis di dunia maya
Oktober 15th, 2011 at 2:26 pm
Setuju nih sama om rahar…
Kalau kita cuman mematikan HP 2 jam mah ga ada pengaruh nya
Mampir ke blog sya yah om
http://komunikan.com
Oktober 17th, 2011 at 9:24 am
Meskipun demikian, perubahan sudah mulai ada kok pak. Cuma memang tidak secepat yang diperkirakan orang. Mungkin orang melihat karena ini jaman digital semua informasi berseliweran cepat, jadi model perubahan budaya online juga harus cepat.
Padahal itu juga butuh waktu.
Oktober 19th, 2011 at 6:19 pm
salah kita atau memang mereka yg punya banyak modal ? :-s
Desember 2nd, 2011 at 11:04 am
Informasi yang memberikan wawasan. Komedian terkenal Andy Borowitz pernah bilang, makhluk angkasa luar mengurungkan niatnya menyerang dan menaklukkan bumi gara-gara mereka melongoki isi status di FB dan twit di Twitter para makhluk bumi ini.
Mungkin Andy itu juga mengamini konklusi dari pendapat Mas Budi ini. Media sosial seperti FB dan Twitter cocok untuk ngrumpi-ngrumpi tanpa makna dan tanpa isi ? Syukurlah, walau malas, saya masih berusaha menulis di blog-blog saya.
Karena tulisan di blog itu pula yang membuat isinya diterbitkan jadi 2 buku, belum lagi wawancara oleh media, termasuk dari BBC Siaran Indonesia di London dan mejeng di majalah Esquire Indonesia.