Publikasi merupakan kewajiban di dunia pendidikan dan penelitian. Jurnal yang terakreditasi, misal oleh scopus, merupakan kasta tertinggi untuk tempat publikasi. Nah, masalahnya jurnal yang terakreditasi tersebut umumnya menggunakan bahasa Inggris. Artinya peneliti kita harus membuat artikelnya dalam bahasa Inggris. Ini sebetulnya bukan masalah. Masalah, tapi tidak terlalu besar.
Yang menjadi masalah bagi kita, orang Indonesia, adalah hilangnya dorongan atau insentif untuk menulis artikel dalam bahasa Indonesia. Nilai untuk mempublikasikannya menjadi kecil atau bahkan tidak ada. Padahal untuk bangsa dan negara yang memiliki ukuran sangat besar seperti Indonesia, seharusnya kita punya bargaining power untuk tetap menulis dalam bahasa Indonesia. Pembaca orang Indonesia mestinya banyak juga kan? (Atau sebetulnya sangat sedikit?)
Saya juga ingin tahu pengalaman negara lain seperti China, Jepang, dan sejenisnya. Apakah mereka juga memiliki jurnal-jurnal dalam bahasa sendiri yang terakreditasi?


November 13th, 2011 at 8:12 am
sepertinya memang harus tetap ada,…. atau bikin 2 versi saja,…… dan aturan serta pengelolaanya misalnya menggunakan standar scopus,…
November 13th, 2011 at 8:57 am
Di Jepang, ada beberapa scientific society (paguyuban ilmiah) menerbitkan jurnal dalam bahasa Inggris. Misalnya Japan Society of Composite Materials dan Japan Society for Aeronautical and Space Sciences. Ini sudah diakreditasi. Mereka juga masih menerima kiriman artikel dalam bahasa Jepang, diterbitkan di nomor tersendiri.
Untuk memperluas diseminasi ilmu dalam bahasa Jepang, setiap tahun, society ini mengadakan simposium kecil. Pembicara di simposium biasanya menulis artikel pendek (2-3 halaman) dalam bahasa Jepang. Inti dari simposium ini adalah update perkembangan riset di lab masing-masing dan interaksi sosial.
Salam,
Arief
November 13th, 2011 at 9:24 am
di http://www.ieice.org/eng/index.html dan http://www.ipsj.or.jp/ ada dua bahasa dipakai english & japanese. dua-duanya punya nilai akreditasi yng tinggi.
November 13th, 2011 at 2:59 pm
sepertinya pembaca indonesia malas pak…
mau baca jika ada keperluan…, dan sy setuju dengan cara baca ini hehehe,….
November 16th, 2011 at 9:50 am
menurut saya penting untuk memiliki jurnal berkualitas dalam bahasa Indonesia.
Segmen pembacanya juga bukannya tidak ada, banyak pembaca yang sudah muak dengan informasi kacangan dan membutuhkan asupan berdasar keilmuan jelas dari narasumber berkompeten.
Lebih baik lagi bila jurnal berbahasa Indonesia ini lintas bidang ilmu. Sehingga terjadi kolaborasi lintas profesi untuk membuat tulisan dalam satu tema.
Indahnya persatuan …
salam kenal
http://kisahmayang.com