Archive Bulanan: November 2011

Seputar (bisnis) Mikroprosesor

Saya mengikuti twitter dari seorang sohib saya yang dulunya bekerja di Intel, Santa Clara, sana. Sekarang saya tidak tahu apakah dia masih di sana atau sudah pindah ke tempat lain. Kadang dia menuliskan sebaris kalimat tentang Intel atau kondisi di Silicon Valley. Salah satu yang menarik bagi saya adalah pertanyaannya tentang di mana Intel berada saat ini?

Kalau kita perhatikan, prosesor produksi Intel sempat menjadi juara dunia. Sebagian besar prosesor di komputer diproduksi oleh Intel (dan saingannya AMD). Ini juga didorong dengan adanya sistem operasi Microsoft Windows yang sebagian besar memang berada di platform Intel. Itu jamannya komputer masih merajai dunia. Sekarang jaman sudah berubah. Handphone menguasai dunia dan sebentar lagi tablet juga akan meningkat populasinya. Perhatikan bahwa untuk platform handphone dan tablet ini hampir tidak ada yang menggunakan prosesor intel. Kebanyakan mereka menggunakan arm-based processor. Hmmm…

Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah masih akan berkembangnya bisnis mikroprosesor. Tadinya saya mengira bisnis proses sudah jenuh. Adanya prosesor Intel yang hebat, disertai dengan multiple core, maka kemampuan komputasi meningkat dengan luar biasa. Siapa yang membutuhkan komputasi? Toh komputer kita paling kita gunakan untuk menulis (wordprocessor), sedikit menghitung (spreadsheet), dan multimedia (memainkan musik, video, dan sejenisnya). Prosesor yang ada sudah lebih dari cukup. Mengapa kita perlu beli lagi (upgrade) processor?

Perusahaan pembuat prosesor berpikir keras agar orang mau upgrade. Akhirnya ketemu juga “jawabannya”. Harus ada aplikasi-aplikasi yang super intensif komputasinya. Salah satunya adalah aplikasi yang menggunakan bahasa Java. Karena sifatnya yang menggunakan virtual machine, maka Java membutuhkan prosesor yang lebih bagus agar terasa nyaman. Nah, bisa jualan lagi.

Setelah Java, apa lagi ya? Ternyata ada lagi, yaitu adanya javascript dan pemrograman web yang interaktif. Saat ini aplikasi berbasis web mulai lebih interaktif. Salah satu cara untuk mengimplementasiannya adalah dengan menggunakan javascript yang berjalan di dalam browser pengguna. Javascript, JSON, dan kawan-kawan ini bisa mendorong orang untuk upgrade prosesor (komputer) lagi.

Maka … menarik nafas legalah para pembuat mikroprosesor. Orang masih (terpaksa) upgrade prosesor. hi hi hi.


Teh di pagi hari

Pagi yang cerah dengan langit yang biru. Sunyi. Segelas teh menemani akses internet. Selamat pagi …


Perlukah Jurnal Berbahasa Indonesia

Publikasi merupakan kewajiban di dunia pendidikan dan penelitian. Jurnal yang terakreditasi, misal oleh scopus, merupakan kasta tertinggi untuk tempat publikasi. Nah, masalahnya jurnal yang terakreditasi tersebut umumnya menggunakan bahasa Inggris. Artinya peneliti kita harus membuat artikelnya dalam bahasa Inggris. Ini sebetulnya bukan masalah. Masalah, tapi tidak terlalu besar.

Yang menjadi masalah bagi kita, orang Indonesia, adalah hilangnya dorongan atau insentif untuk menulis artikel dalam bahasa Indonesia. Nilai untuk mempublikasikannya menjadi kecil atau bahkan tidak ada. Padahal untuk bangsa dan negara yang memiliki ukuran sangat besar seperti Indonesia, seharusnya kita punya bargaining power untuk tetap menulis dalam bahasa Indonesia. Pembaca orang Indonesia mestinya banyak juga kan? (Atau sebetulnya sangat sedikit?)

Saya juga ingin tahu pengalaman negara lain seperti China, Jepang, dan sejenisnya. Apakah mereka juga memiliki jurnal-jurnal dalam bahasa sendiri yang terakreditasi?


Seven Day 6


To Brag, or not to brag

Beberapa waktu yang lalu saya terpaksa saya menceritakan apa-apa yang telah saya kerjakan. Saya tidak suka melakukan hal ini karena kesannya adalah menyombongkan diri, membual, bragging. Namun kadang hal ini harus saya lakukan agar orang lain dapat belajar dari kesalahan atau kebenaran(?) yang saya lakukan.


Seven Day 5


Topik Yang Orisinil

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat diskusi tentang blog dan pengaruhnya. Kemudian ada diskusi mengenai peranan blog orang Indonesia. Hasil pengamatan sementara ternyata kebanyakan blog Indonesia membahas masalah-masalah yang tidak orisinal. Maksudnya blog-blog membahas hal yang berasal dari sumber informasi konvensional (koran, tv, radio). Dengan kata lain, topiknya tidak orisinil.

Semestinya kita (blogger) bisa membuat thread topik yang berbeda. 100% original. Bosen dong kalau sama dengan yang ada di tempat lain. Eh, tapi juga jangan membuat tulisan yang “asal beda” saja.

Setuju? Atau malah jadi pusing?


mau?

sudah lama saya tidak menampilkan foto makanan :)


Seven: day 4

I have to take pictures or I have to learn how to draw …


Seven: day 3

Tadinya saya berniat untuk membuat seven yang digambar di atas kertas, tetapi ada banyak kendala. Yang pertama adalah waktunya yang tidauk cukup. Saya ketiduran. ha ha ha. Baru kebangun pukul 23 malam. Hadoh. Langsung bergegas mengambil kertas untuk menggambarkan apa yang terjadi hari ini, hari ketiga.

Dalam kepala saya ada banyak #keywords, yang keluar dari semacam to do list. Akhirnya itu yang keluar. #hastag. Pokoknya buat draftnya dululah daripada kelupaan. Eh, baru ingat, scanner saya hanya bisa bekerja dengan Windows 7. Padahal komputer desktop saya, yang Windows 7, sedang dibengkel. Yaaahhh, gak bisa di-scan :(  Potret saja dulu. Ini dia.


Cerita Sukses dari Marvell

Kemarin, di kampus (ITB), pak Gani Jusuf datang lagi. Pak Gani, mewakili perusahaan Marvell, memberikan talk show mengenai perusahaan Marvell. Ini bukan perusahaan komik lho, tapi perusahaan elektronik yang cukup besar di Silicon Valley. Yang membuat kita tertarik dengan cerita sukses dari Marvell adalah pendiri dari Marvell adalah orang Indonesia, Sehat Sutardja dan Pantas Sutardja. Pak Gani sendiri juga merupakan salah satu (dari 7) pegawai awal dari Marvell.

Pak Gani menceritakan status perusahaan Marvell sekarang, yang selalu untung dari segi finansial dan memiliki banyak produk yang menarik. (Lihat situs webnya untuk melihat produk-produknya.)

Produk awal dari Marvell adalah chip untuk Read Channel yang digunakan untuk membaca data dari fisik harddisk dan kemudian mengubahnya menjadi bentuk digital. Penemuan ini membuat mereka menjadi sukses dan dominan di dunia disk. Setelah itu mereka banyak membuat produk (chips) yang lain; networking, client (tablet, handphone), printers, green energy, dan seterusnya.

Marvell merupakan perusahaan fabless, yang artinya adalah mereka tidak punya pabrik. Yang mereka hasilkan adalah desain (dan tentunya sampai kepada prototipe untuk meyakinkan klien bahwa produknya memang berfungsi). Itulah sebabnya sebagian besar pekerjanya bergerak di bagian penelitian (R&D) dan umumnya memiliki gelar S2 ke atas.

[mahasiswa yang mendengarkan talk show, dan perwakilan Marvell di Singapura - saya lupa namanya]

Hal yang menyenangkan bagi saya tentang kedatangan pak Gani dan Marvell ini adalah adanya bukti bahwa orang yang bergerak di bidang hardware pun bisa sukses. Sekarang kebanyakan mahasiswa – bahkan mahasiswa elektro / elektronika pun – lebih menyukai pemrograman web :)  Bukan berarti bahwa software tidak penting (di Marvell software juga penting karena harus dapat menujukkan fungsi chips sampai ke aplikasi), tetapi bidang hardware masih sangat menarik. Bahkan, pak Gani mengatakan bahwa kalau kita punya skill hardware maka saingan kita lebih sedikit. Betul juga ya …


(akhirnya) Linux Mac Mini

Komputer desktop saya masih di bengkel. Katanya motherboardnya yang bermasalah dan dibutuhkan waktu 2 minggu untuk mendapatkan pergantiannya (gratis karena garansi). Untuk sementara saya menggunakan macbook kalau bekerja di rumah. Setelah beberapa hari saya lakukan, ternyata saya harus men-charge macbook ini sehari bisa 2 atau 3 kali. Maklum memang saya bekerja banyak menggunakan komputer. Saya agak khwatir dengan siklus charging yang sering ini. Harus menggunakan komputer lain kalau di rumah.

Di rumah ada Mac Mini yang berbasis PowerPC. OS yang ada di situ Mac OS X, tetapi sudah tidak dapat diupgrade lagi. Padahal semua aplikasi Mac OS X sekarang menuntut Snow Leopard. Bahkan Mac Mini ini sering nge-hang. Akhirnya saya putuskan untuk me-Linux-kan dia.

Baca sana-sini, yang paling mudah adalah memasang Debian Linux. Saya minta tolong download order di kampus untuk mendownloadkan ISO yang ukurannya kecil saja (businesscard ISO dari situs debian) Setelah itu saya burn ke CD. Tinggal diboot saja Mac Mini ini. (Tadinya bingung mencari tahu bagaiman mem-boot dari CD/DVD. ternyata hanya tinggal tekan kunci “C” ketika setelah boot.)

Maka Mac Mini ini menjadi Linux. Masih polos, yaitu dengan command line saja. Kemudian sedikit demi sedikit saya tambahkan Xwindow dan fluxbox sebagai window managernya. Beres. Ini diketikkan dengan menggunakn konfigurasi ini. Alhamdulillah sekarang di rumah bisa kerja tanpa harus menggunakan Macbook.


Seven: day 2


Kelas Saya Hari Ini

inilah potret kelas saya hari ini …

mereka menunjukkan angka dua (2), bukan “v for victory”. ini karena saya sedang mengikuti #seven dan ini adalah hari kedua. maka saya minta mereka menunjukkan angka 2, sebagai bagian dari hari kedua.


Seven: day 1


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.