Minggu-minggu terakhir ini saya banyak diminta untuk berbicara soal entrepreneurship, khususnya yang terkait dengan tenologi – technopreneurship. Yang mengelola acara-acara ini kebetulan adalah mahasiswa ITB, misalnya IF association dan Himpunan Mahasiswa Elektro (HME). Dengan senang hati saya bercerita mengenai pengalaman saya dalam mendirikan perusahaan. Tentu saja ceritanya tidak semua hal yang menyenangkan.
[foto sertifikat dari IF Association dan HME ITB]
Hal yang saya tekankan adalah pentingnya mencoba untuk menjadi entrepreneur ketika menjadi mahasiswa. Alasannya adalah kesalahan atau kegagalan lebih dapat ditolerir ketika menjadi mahasiswa. Oh, mahasiswa ya. Langsung dimaklumi. Sementara kalau seseorang sudah lulus, maka harapan dari banyak pihak (orang tua, keluarga, masyarakat) adalah untuk menghasilkan uang. Sementara kalau kita memulai entrepreneurship, belum tentu usaha yang kita mulai itu langsung sukses.
Ada pertanyaan yang menarik, apakah kalau kita mencoba menjadi entrepreneur ketika mahasiswa akan mengganggu nilai kuliah? Secara jujur, saya jawab … ya. Bagi seorang dosen, hal ini memberatkan bagi saya. Saya ingin mahasiswa saya lulus dengan tepat waktu dan dengan nilai yang maksimal (kalau bisa A semua). Sayangnya kurikulum yang ada saat ini umumnya tidak mendukung entrepreneurship. Mahasiswa terlalu dibebani dengan tugas-tugas kuliah sehingga jika waktunya tercuri untuk melakukan usaha entrepreneurship pastinya akan ada efeknya terhadap perkuliahan.
Yang lebih repot lagi, contoh-contoh pengusaha yang sukses banyak yang bahkan drop out dari kuliahnya. Hadoh. Meskipun lebih banyak lagi yang kuliahnya juga sukses dan bahkan sampai S3. Yang ini perlu kita diskusikan lagi


Desember 4th, 2011 at 11:34 pm
“Yang lebih repot lagi, contoh-contoh pengusaha yang sukses banyak yang bahkan drop out dari kuliahnya. Hadoh. Meskipun lebih banyak lagi yang kuliahnya juga sukses dan bahkan sampai S3.”
wah yang ini selain didiskusikan, bagus banget kalo bisa dibuat statistiknya pak.. terutama untuk student dari indonesia.. hehe
Desember 4th, 2011 at 11:56 pm
banyak mahasiswa yang dari ekonomi sulit juga pak. Untuk bisa cari modal buat usaha susah juga
Desember 5th, 2011 at 12:10 am
wirausaha itu jalan yang kadang kurang diakui oleh publik pak, sehingga sering muncul cemoohan “masak sekolah tinggi-tinggi kok cuma jadi wiraswasta”. Karena image yang ada seolah orang kuliahan itu untuk jadi orang kantoran atau kerja di perusahaan gitu pak
Desember 5th, 2011 at 12:39 am
wah, pengen banget kalo pas kuliah ada kurikulum tentang entrepreneurship. sayang udah ga kuliah lagi.
Desember 5th, 2011 at 5:34 am
sudah saatnya kurikulum di perguruan tinggi mensuport jiwa entrepreneurship untuk mahasiswa agar kelak setelah lulus tidak menjadi manusia-manusia yang mengharapkan jadi birokrat. Adagium “belum bekerja, jika belum kerja di kantoran” harus ditinggalkan agar pengangguran sarjana bisa berkurang
Desember 5th, 2011 at 5:46 am
Setahu saya, Univeristas Andalas ( Padang ) sudah menerepkan hal itu, dengan cara melakukan kuliah umum kewirausahaan setiap hari juma’at,..
Desember 5th, 2011 at 6:29 am
@Dedhi untuk urusan modal mahasiswa saya kira tidak menjadi masalah. Pihak Dikti (contoh: prog. PMW) maupun swasta/non dikti (wirausaha muda mandiri, dan baru saja ada prog. yg totalnya milyaran dari salah satu perush. Minuman teh – yg saya lupa namanya) akhir2 ini sering mengadakan program2 entrepreneurship untuk mahasiswa, yang tentunya akan memberi bantuan modal. Yang menjadi masalah adalah perlunya ide-ide usaha yg ‘berbeda’ agar usaha didanai.
Desember 5th, 2011 at 9:35 am
Mr. RahRdjo,
I am in Bandung, my hp is 08568519677, any chance to meet?
Regards,
Trigo ex Caltech
Desember 5th, 2011 at 10:10 am
iya nieh pengen banget tapi ide kadang mentok mau usaha apa !! harus banyak riset juga untuk usaha yang besar.
Desember 5th, 2011 at 3:17 pm
Cak Gundul “Kepiting” dan Bakso Kota “Cak Man” malah SDTT. Sekolah Dasar Tidak Tamat. Tapi omztnya itu lho yang bisa ratusan juta perbulan…
Desember 5th, 2011 at 3:49 pm
Ingat saya dulu waktu kuliah, ada mata kuliah wirausaha sayangnya kurang praktek.
Memang seorang wirausaha yg sukses harus punya step by step & proses panjang. Gak langsung sukses kali ya?
Desember 5th, 2011 at 4:28 pm
mari pak berdiskusi
Desember 5th, 2011 at 11:20 pm
Sejak mahasiswa, saya sudah belajar untuk menjadi enterpreneur, dan gagal. Dan sekarang masih teteup!
maksudnya masih sedang digumuli.
Desember 6th, 2011 at 8:58 am
Inilah diskusi yang selalu saya tunggu-tunggu Pak, kalau ada seperti ini lagi di Jakarta saya mau dong Pak di kabari. Terima kasih
Desember 6th, 2011 at 9:10 am
Mahasiswa atau fresh grads yg mau jadi entrepeneur itu musti baca artikel ini dulu pak: http://news.ycombinator.com/item?id=3102143
Saya juga dapat insight yg keren dari orang ini: http://www.kalzumeus.com/2011/10/28/dont-call-yourself-a-programmer/
Desember 7th, 2011 at 10:34 am
kenyataan kan memang seperti itu pak: bahwa pengusaha-pengusaha besar yang ada di jagat bumi rata2 pendidikannya gak terlalu tinggi (gak sampe s2, s3, dst)
Desember 22nd, 2011 at 3:31 pm
Kata Bang Purdi sih kalo mau jadi pengusaha jangan pinter2 kuliahnya ntar malah jadi karyawan he he….