Kuliah secara resmi sudah selesai, tetapi hari ini saya memberikan kuliah tambahan. Yang mengajar hari ini bukan saya tetapi Zaki Akhmad. Topiknya adalah application security dan OWASP.
Archive Bulanan: Desember 2011
Diskriminasi harga
Saya baru sadar bahwa harga pertamax di Jakarta lebih murah dibandingkan dengan di Bandung. Di Jakarta harganya Rp. 8359,- sementara itu di Bandung harganya Rp. 8600,- gak bener nih.
Lihat-lihat Buku
Salah satu kesukaan saya adalah melihat-lihat buku di toko buku. Kesukaan ini juga berbahaya buat kantong, karena tiba-tiba jadi terbeli buku. Padahal masih ada tumpukan buku yang ingin (dan harus) dibaca.
Nah, sekarang saya punya kesukaan lain yaitu melihat-lihat buku di library.nu. Yang menariknya lagi adalah kita bisa mengunduh (download) buku tersebut dari sana. Tentu saja saya tidak berani mengambil semua buku yang ada di sana karena untuk apa (menghabiskan disk+bandwidth) dan kapan juga membacanya. Mengumpulkan ebooks yang tidak jelas adalah mengundang penyakit. he he he. Yang menjadi masalah adalah kalau ebooksnya jelas alias bagus. Nah, itu jadi masalah karena bahan bacaan menjadi tambah banyak dan tambah stress (kapan bacanya). he he he.
Oh ya … sebelumnya saya harus memperingatkan Anda, lihat-lihat buku di library. nu itu bisa jadi kecanduan. Sungguh.
Kalau Sudah Hobi …
Beberapa waktu yang lalu ada orang yang menghabiskan uang untuk mendanai sebuah layanan internet, perusahaannya. Banyak yang heran kenapa dia mau melakukannya. Jawaban dia, karena hobi. Selesai sudah
Kalau sudah hobi, uang dikeluarkan, waktu dibuang, tempat yang jauh pun dikejar.
Jadi … apa hobby Anda?
[ini ditulis untuk menghilangkan guilty feeling karena sedang mengejar hobby ... he3x]
Akses Internet Orang Indonesia: di waktu kerja
Hasil pengamatan terhadap akses blog saya menunjukkan bahwa aktivitas tertinggi adalah ketika sedang hari kerja dan jam kerja. Akses di hari Senin meningkat sampai dengan Jum’at, kemudian Sabtu dan Minggu menurun. Jam akses juga mulai meningkat dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore.
Hal yang serupa juga dikonfirmasi oleh rekan saya yang bekerja di jaringan. Hasil pemantauan dia – dalam penggunaan jaringan – sama juga. Kalau orang mengakses dari handphone atau layanan pribadi, semestinya aksesnya mestinya lebih flat, bukan meningkat di jam kerja.
Masalah Proxy di Linux
Saya masih sering masalah dengan seting proxy di Linux. Cara yang lazim dilakukan adalah dengan setup environment variable http_proxy seperti di bawah ini:
http_proxy=http://userku:passwordku@167.205.22.105:8080/
export http_proxy
yang mana username-nya adalah “userku” dan passwordnya adalah “passwordku”. Kemudian saya jalankan browser, misalnya dijalankan lynx, untuk mengakses sebuah situs:
lynx http://www.google.com
Ternyata mucul error seperti di bawah ini:
Username for 'Squid proxy-caching web server' at proxy 'userku':
Kenapa ditanya username lagi ya? Padahal username dan password sudah saya masukkan di environment variabel itu. Kenapa ya? Apa yang salah? Ada saran?
Mahasiswa dan Entrepreneurship
Minggu-minggu terakhir ini saya banyak diminta untuk berbicara soal entrepreneurship, khususnya yang terkait dengan tenologi – technopreneurship. Yang mengelola acara-acara ini kebetulan adalah mahasiswa ITB, misalnya IF association dan Himpunan Mahasiswa Elektro (HME). Dengan senang hati saya bercerita mengenai pengalaman saya dalam mendirikan perusahaan. Tentu saja ceritanya tidak semua hal yang menyenangkan.
[foto sertifikat dari IF Association dan HME ITB]
Hal yang saya tekankan adalah pentingnya mencoba untuk menjadi entrepreneur ketika menjadi mahasiswa. Alasannya adalah kesalahan atau kegagalan lebih dapat ditolerir ketika menjadi mahasiswa. Oh, mahasiswa ya. Langsung dimaklumi. Sementara kalau seseorang sudah lulus, maka harapan dari banyak pihak (orang tua, keluarga, masyarakat) adalah untuk menghasilkan uang. Sementara kalau kita memulai entrepreneurship, belum tentu usaha yang kita mulai itu langsung sukses.
Ada pertanyaan yang menarik, apakah kalau kita mencoba menjadi entrepreneur ketika mahasiswa akan mengganggu nilai kuliah? Secara jujur, saya jawab … ya. Bagi seorang dosen, hal ini memberatkan bagi saya. Saya ingin mahasiswa saya lulus dengan tepat waktu dan dengan nilai yang maksimal (kalau bisa A semua). Sayangnya kurikulum yang ada saat ini umumnya tidak mendukung entrepreneurship. Mahasiswa terlalu dibebani dengan tugas-tugas kuliah sehingga jika waktunya tercuri untuk melakukan usaha entrepreneurship pastinya akan ada efeknya terhadap perkuliahan.
Yang lebih repot lagi, contoh-contoh pengusaha yang sukses banyak yang bahkan drop out dari kuliahnya. Hadoh. Meskipun lebih banyak lagi yang kuliahnya juga sukses dan bahkan sampai S3. Yang ini perlu kita diskusikan lagi
Enak?
Apa ya definisi makanan enak? Soalnya kalau ditanya (atau bertanya kepada) orang, apa enaknya makanan ini? Susah sekali menjawabnya. Pokoknya enak aja … he he he.
Dulu kata mahasiswa saya, di dunia ini (kecuali racun tikus) ada dua jenis makanan yaitu makanan yang enak dan yang enak sekali. he he he. Dasar mahasiswa
Dari Panggung
Saya sedang senang-senangnya bereksperimen dengan foto. Nah, pas di panggung memberikan seminar saya ingin mencoba memotret audience-nya. Masalahnya adalah apakah ini diperkenankan ya? Mosok pembicaranya potret-potret. he he he. Habis, gimana lagi ya?
Masalah kedua adalah agar tidak mengganggu maka saya harus melakukannya dengan cepat dengan peralatan yang terbatas. Jadinya saya tidak bisa bawa kamera beneran. Maka yang bisa saya lakukan adalah mengambil foto dengan menggunakan handphone. Seringkali hasilnya kurang bagus karena biasanya kamera handphone kurang bagus untuk memotret di dalam ruangan dengan cahaya yang terbatas. Ini contoh potretnya.
Tidak Jadi Ikutan Memilih Ketua IA-ITB
Rencananya sehabis futsal saya mau pergi ke kampus ITB untuk memilih ketua Ikatan Alumni ITB (IA-ITB). Selepas futsal, saya pulang menuju rumah. Perjalanan dari Cimahi ke Bandung – via jalan Gunung Batu – ternyata agak macet di pintu tol Pasteur. Akhirnya sampai di rumah sudah pukul 11:45-an. Pas waktunya sholat Lohor. Mandi, shalat, makan. Eh, kok perut rewel.
Sebetulnya perut sudah rewel dari tadi pagi. Mungkin perut tidak cocok dengan sesuatu yang saya makan tadi malam? Tadinya saya pikir perut sudah oke, ternyata belum. Jadi akhibatnya saya tidak jadi pergi. Kaos yang sudah dipersiapkan tidak jadi dipakai.
Sayang sekali saya tidak bisa ikutan memilih ketua IA-ITB karena pemilihan tidak bisa dilakukan melalui internet. Sebetulnya sudah ada pihak-pihak yang sanggup untuk menyelenggarakan pemilihan via internet, tetapi karena alasan peraturan (AD/ART, dll. – pokoknya alasanlah) maka pemilihan melalui internet atau SMS tidak boleh dilakukan. Padahal saya pikir banyak alumni yang ingin ikut berpartisipasi tetapi karena satu dan lain hal (seperti kasus saya) tidak dapat hadir secara fisik ke tempat pemungutan suara. Oh well.
Melawan Kantuk
Sebetulnya banyak yang ingin saya tulis, tapi ngantuk luar biasa. Jadinya saya hanya sanggup menuliskan kondisi saya saat ini, yaitu ngantuk berat. Tulisan yang ingin saya buat adalah tentang technopreneurship (topik talk show saya tadi siang). Ada beberapa pertanyaan dari peserta yang menarik untuk disimak dan dipelajari di sini, tapi ngantuk berat. Nanti saya tuliskan di lain kesempatan.
Pilih Siapa? [ketua IA-ITB]
Besok ada pemilihan ketua Ikatan Alumni ITB. Kalau saya datang (kalaauuu) siapa yang saya pilih ya? Setelah saya pikir-pikir, kemungkinan yang saya pilih adalah Amir Sambodo. Alasannya mungkin terlalu sederhana atau lucu, yaitu:
- sudah tahu/kenal. Bahkan di facebook sudah friends sejak lama. Sementara kandidat yang lain baru mau ngajak friends sekarang (ada maunya nih yeee. he he he).
- yang menjadi motor kampanyenya (setidaknya, salah satunya) adalah orang elektro juga (Elfi) – alias kenal
- … apa lagi ya?
Ternyata kalau saya milih alasannya sangat sederhana ya, karena kenal saja. Kenapa tidak melihat program-program kandidat yang lain? Karena program kerjanya sama-sama membingungkan (dan saya tidak yakin bisa dieksekusi juga). he he he.
Sebetulnya tadinya saya sudah hampir milih Dasep, atas asas … yang paling muda. he he he.
Oh ya, tulisan ini jangan dianggap sebagai kampanye Amir Sambodo ya. Wong saya juga belum tentu nyoblos besok. (Soalnya mau futsal.)
Terlalu Banyak Email
Saya terlalu banyak menerima email. Saya lihat di mailbox Gmail saya:
84% full. Using 6493 MB of your 7653 MB
Wah. Sudah 84% lagi ya? Apakah saya harus membuat account gmail baru lagi? Biasanya kalau kapasitas (sesuatu) sudah melebihi 80%, maka itu sudah waktunya untuk waspada.
Email di atas adalah untuk satu mailbox saja. Padahal saya punya beberapa mailbox lain, yang menggunakan server sendiri. Masing-masing ukurannya kira-kira samalah. Jadi terbayang berapa banyak email yang saya terima? (Itulah sebabnya kadang saya terpaksa lambat membalas email karena jumlahnya yang banyak. he he he. Alasan.)







