Penggunaan Layanan Email Gratisan Untuk Instansi Resmi

Beberapa kali kita temui instansi resmi Indonesia meggunakan layanan email gratisan – seperti yang disediakan oleh Yahoo! dan Google. Menurut saya hal ini kurang baik. Yang pertama adalah masalah keamanan (security). Email-mail yang dikirimkan dengan menggunakan layanan gratisan tersebut disimpan (archive) oleh penyedia jasa tersebut. Artinya mereka mengetahui kegiatan instansi resmi Indonesia. Ini berbahaya.

Hal kedua adalah image yang terbentuk. Penggunaan layanan gratisan ini menunjukkan bahwa mereka tidak percaya kepada layanan email dari instansi yang bersangkutan. Ini seolah-olah berkata kenapa urusan KTP kita tidak diserahkan (outsource) ke negara lain saja ;)

Memang pada kenyataannya layanan email di berbagai instansi sering tidak reliable dan banyak spam / virus. Ini membuat penggunanya tidak bisa menggunakan layanan email ketika dibutuhkan. Jadi ini masalah teknis. Nampaknya para pengelola sistem IT di Indonesia harus dibekali dengan kemampuan teknis yang baik. Nah, untuk melakukan hal ini dibutuhkan biaya. Ini masalahnya. Pimpinan instansi tidak merasa hal ini penting. Mereka tidak mau melakukan investasi di SDM (dan sistem IT). Akibatnya ya pekerja harus bekerja dengan kondisi seadanya. Sudah begitu mau dituntut handal? Wah …

Nah, sekarang kita sudah tahu ada masalah. Bagaimana solusinya? Apakah dengan hanya sekedar melarang penggunaan layanan email gratisan untuk instansi?

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua yang ditulis oleh Budi Rahardjo

25 Tanggapan to “Penggunaan Layanan Email Gratisan Untuk Instansi Resmi”

  • coekma

    tidak cukup melarang pak… biasanya kalau instansi menggunakan imel gratisan bisa dipastikan hal ke IT-an di instansinya juga amburadul, contoh tidak punya web. kalau toh pun punya ndak seberapa keurus… lha wong imel aja udah ga beres kok…

  • rotyyu

    Departemen IT di perusahaan/instansi di Indonesia terkadang memang msh dipandang sebelah mata.

  • milisdad

    apakah ini termasuk dalam isu Cloud Computing?
    layanan seperti Live Edu dan Google Apps sudah mulai masuk instansi/kampus.
    apakah juga tidak disarankan krn alasan keamanan?

  • Pepen Diatna

    dilematis memang pak antara memberdayakan staf IT internal dengan tuntutan membeli pelayanan yang handal untuk instansi. Saya pengguna Google Apps (gratis, tapi domain email sesuai domain instansi) karena lebih memilih untuk memberi layanan prima untuk instansi dan keluar dari keterbatasan dana yang ada. Setidaknya 1 masalah IT saya selesai (urusan email), dan mengalihkan tenaga staf IT ke hal lain yang murni harus dikerjakan inhouse.

  • dudi

    kalo layanan berbayar pun ada kemungkinan disadap (entah itu layanan cloud atau hosting). Jadi rasanya, isu security bisa dikesampingkan. kasus ini hampir mirip dengan maraknya penggunaan blackberry messenger di kalangan pejabat, ini juga bisa diintip sama RIM.

    Kalo masalah branding institusi/lembaga mungkin ini alasan yang paling masuk akal.

  • AR

    di AU, student mailnya pake Live (terkoneksi via SSO dari kampus), staff mail pake exchange yang dikelola sendiri.
    kalau di Jakarta masalahnya adalah kepercayaan dan biaya maintenance peralatan, kalau di daerah masalah utama nambah satu:: adalah listrik!

  • Pepen Diatna

    @AR
    betul mas, tambah 1 lagi masalah : jadwal kerja. Bagaimana mungkin instansi yang jam kerja pegawainya (dan cara menggajinya) berdasarkan jam kerja 8-5 menuntut sistem selalu hidup alias 24/7???

  • Freddy Hernawan

    Ada juga sebuah kalimat lucu dinegeri ini yang sudah biasa kita dengar. Kalau ada yg gratis..kenapa harus pakai yg berbayar..” hehehe. jangan kan email pak, saya pernah liat malah ada sebuah instansi daerah yang buat web pakai blogspot, hanya di ubah domain saja. Itupun domainya asal aja nggak pakai dot go.

  • Hafid Junaidi

    Terkadang di instansi resmi tersebut sebenarnya ada SDM yang mumpuni, tapi lha gimana lagi kalo selalu dibenturkan dengan masalah klasik seperti itu, ujung-ujungnya koq selalu masalah duit?

  • Affan

    Ujung2nya adalah IT itu masih dianggap sebagai jabatan “pendukung” dgn tupoksi “entri data” oleh instansi resmi negara ini. Selama itu masih terjadi, nggak akan ada orang yg peduli dgn hal-hal spt ini, asal jalan aja sudah syukur.

  • msahputra

    pake public/private key encryption secara default pak, ini akan meminimalisir kemungkinan email bocor walaupun hosting nya di public services spt google. walaupun tidak menggunakan domain gmail, tp hosting di google dengan domain sndr sekarang sudah umum dimana2, jd seharusnya ttp aja lagi2 balik ke google.

    klo mslh encryption nya bisa di break itu mslh lain lagi, toh punya mail server sendiri tidak menutup kemungkinan server nya bisa di penetrate oleh negara lain utk kepentingan mereka misalnya…

  • Doni

    harga diri instansi di sini sangat dipertaruhkan dalam sektor IT nya… jika mereka PD dengan sumber daya yang mereka punya, setidaknya untuk portfolio instansi tersebut :)

  • dewo

    Kalau pun kita beli domain & hosting, sebenarnya data email kita pun tersimpan di server pihak lain. Kecuali jika kita mau co-location.

  • Megi Tristisan

    hheheheheheh, indonesia mah seperti itu malah lebih gaya pake gratisan dari pada pake instansi.

  • harjo

    Sepertinya pemerintah sekarang sedang besar2 an membangun system e-mail ini Pak. Terbukti banyaknya proyek yang digelontorkan di tahun ini.

  • TUKANG CoLoNG

    email instansi nasional misalnya apa ya pak?

  • Dedhi Sujatmiko

    Visiting beberapa kantor pemerintah Indonesia, saya heran kok orang kantorannya pada pakai mobile broadband, kenapa tidak connect ke wifi kantor atau LAN kantor. Ternyata selain masalah sensor, juga karena jaringan kantor sangatlah lambat. Entah karena memang upstreamnya kecil, atau WORM, karena dari cerita banyak yang ketika laptopnya terkoneksi ke jaringan kantor, software securitynya banyak teriak ada WORM. Mungkin ada baiknya meniru Singapore, IT division di tiap kementrian di outsource ke perusahaan IT yang government linked juga, dengan SLA tertentu, jadi lebih professional karena bukan karyawan sendiri

  • Jaka

    Bicara soal website resmi gratisan juga email saya kira tergantung kita juga bagaimana cara memanfaatkannya seefektif mungkin. Banyak website super canggih yang dibuat dengan biaya yang mahal tapi ujung-ujungnya ga berfungsi karena budaya update usernya yang rendah. Biarpun blog tapi kalo efektif difungsikan untuk keperluan komunikasi bisnis atau edukasi misalnya ya bagus juga dong. Memang masalah branding lagi, kurang bergengsi kali. Sepanjang powerful ga papa lah.

  • Jefry

    Lebih baik bila menggunakan yang berbayar ya, lebih aman dan tidak perlu mengikuti persyaratan yang dibuat oleh sang pemilik layanan email gratis

  • andrew

    email sih ngga apa2 kalo dari segi kredibilitas dan gengsi semata.
    tapi coba liat, masih saja banyak kantoran bikin website resmi gratisan di blogspot dkk… wkwkwk

    untuk keamanan memang sebaiknya menggunakan email dengan domain kantor masing2. bukan gmail, ymail dkk

  • Togap

    kita semua tahu solusi yg terbaik pada masing-masing instansi resmi ini. menurut saya, kita perlu memulai & membiasakannya. dan sebaiknya dimulai dari pemerintah yg paling atas.

    kata siapa pimpinan instansi tidak menganggap penting IT? buktinya website DPR aja biayanya 9 Miliar. hehe :D

  • Alex©

    Yang pertama adalah masalah keamanan (security). Email-mail yang dikirimkan dengan menggunakan layanan gratisan tersebut disimpan (archive) oleh penyedia jasa tersebut. Artinya mereka mengetahui kegiatan instansi resmi Indonesia. Ini berbahaya.

    Sekilas ini benar. Tapi apa sih yang tidak disimpan selalu di server luar? Tidak sulit benar dengan ragam alasan untuk membuka arsip tersebut, terutama dengan alasan hukum. Layanan gratisan itu (ini maksudnya seperti gmail atau yahoo! mail kan?) juga tidak segampang itu untuk menyerahkan data-data di server mereka.

    Di satu sisi, aku setuju denganmu, Pak, bahwa memang sebaiknya instansi resmi memiliki email sendiri. Tapi lebih untuk tidak memudahkan penyesatan informasi kepada publik. Kita masih ingat dengan kasus email Komisi 8 kemarin itu, yang begitu gampang diucapkan, dan lalu begitu gampang pula dibuat oleh sosok anonymous untuk mengejek anggota DPR yang konon terhormat itu.

    Dulu waktu bekerja jadi IT Freelancer di IFRC di Aceh, aku malah mendapati banyak pekerjanya, juga orang bule sekalipun, malah lebih suka menggunakan layanan email yang gratisan seperti Gmail dan sejenisnya yang memungkinkan mereka menerima dan mengirim email dengan aplikasi serupa Outlook atau Thunderbird. Padahal ada email resmi juga. Mesti diakui, layanan email resmi terkadang ribet. Tapi tetap dibutuhkan. Dilematis memang perkara begini :?

  • bram setyo leksono

    permisi… tolong di add dan kunjungi http://iwakpin.blogspot.com/ terima kasih..

  • Muhammad muntaza

    ya, sebaiknya instansi resmi harus menggunakan email dengan domain instansi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 542 pengikut lainnya.