Dicari: aplikasi yang khas Indonesia

Teknologi informasi (IT) sedang naik daun lagi. Banyak yang membuat perusahaan baru (startup) dengan basis layanan IT. Hanya saja sayangnya aplikasi yang ada hanya meniru-niru aplikasi yang sedang populer di Amerika. Padahal ada banyak aplikasi yang khas Indonesia. Maksud saya adalah aplikasi yang sesuai dengan kultur orang Indonesia. Saya akan coba bahas lebih jauh.

Akui saja bahwa bangsa kita bukan bangsa yang senang membaca. (Meskipun ini mungkin berubah.) Lihat saja di sekeliling kita. Di berbagai tempat di luar negeri, kalau orang berpergian maka yang dibawa salah satunya adalah buku. Di perjalanan mereka asyik membaca buku. Di dalam transportasi umum mereka membaca. Sementara di kita, orang cenderung ngobrol. Bukan berarti ngobrol lebih buruk daripada membaca lho. Beda. Itu saja. Sekali lagi, beda.

Dalam pertemuan-pertemuan di luar negeri, hampir selalu ada risalah pertemuan (minutes of meeting, MoM). Bahkan di kelompok organisasi kecil pun ada MoM ini. Di kita? Jarang ditemui kelompok yang menggunakan MoM. MoM biasanya terjadi di pertemuan yang formal, seperti di perusahaan-perusahaan. Di rapat RT atau organisasi mahasiswa, jarang ada risalah pertemuan. Di tempat kerja kami, ada MoM yang selain dicatat juga direkam.

Rekam. Ini merupakan sebuah pendekatan kultural. Karena kita malas menulis, maka kira rekam saja. Teknologi sudah memungkinkan hal tersebut. Kalau dahulu, ketika voice recorder masih mahal, maka pendekatan rekam ini hampir tidak masuk akal. Sekarang dengan menggunakan mp3 player atau handphone hal ini memungkinkan.

Kembali ke topik. Karena di luar negeri mode yang digunakan adalah baca/tulis maka aplikasi yang muncul adalah aplikasi baca/tulis. Web dan blog merupakan aplikasi baca/tulis. Bahkan, aplikasi pencari – search engine – yang paling banyak digunakan orang pun adalah yang terkait dengan baca/tulis. Yahoo! dan Google mencari data berdasarkan tulisan (teks).

Kalau kita ingin mengacu kepada kultur kita, maka dibutuhkan layanan yang dapat (1) menyimpan rekaman pertemuan (minutes of meeting in audio format), (2) melakukan pencarian (audio search engine – yang mencari isi dari audio! bukan sekedar nama berkasnya saja), dan (3) menampilkannya dalam bentuk yang mudah. Aplikasi atau layanan seperti ini dahulu tidak memungkinkan karena ukuran storage yang dibutuhkan pasti sangat besar. Sekarang ini sudah memungkinkan. (Youtube saja menyimpan video yang ukurannya lebih besar dari audio.) Kecepatan jaringan juga sudah memungkinkan.

Aplikasi semacam ini mungkin tidak terlalu menjadi perhatian di luar sana (baca: Amerika) karena ini tidak memecahkan masalah mereka. Mereka tidak punya masalah dengan baca/tulis. Tentu saja. Kita punya masalah. Jadi yang mengembangkan aplikasi seperti ini harusnya kita-kita. Tentu saja ini tidak mudah. (Searching audio content is not easy!) Justru di sinilah menariknya. This is the road less travelled. Any takers?

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

15 responses to “Dicari: aplikasi yang khas Indonesia

  • lutfianasari

    > (Searching audio content is not easy!)
    kebetulan TA sy tentang music information retrieval khususnya ttg pencarian musik dgn query singing/humming
    klo tdk salah memang br sgt berkembang di thn 90-an ke atas.
    sdh ada jg aplikasi yg memungkinkan u/ mencari lagu dgn query singing/humming :)
    mslnya: midomi.com (lwt web browser), shazam & soundhound (aplikasi pada smartphone).
    *mgkn Pak Budi juga pernah dengar.. hanya sekedar ingin cerita :D

  • mathematicse

    Unik ya negeri kita? Sementara orang2 di luar negeri seragam mengembangkan budaya baca dan tulis, Indonesia tetap konsisten budaya ngobrol… :D

  • Rizky

    Tantangan yang menarik, Pak. Bahkan menurut saya untuk mengembangkan popularitas suatu produk di negara kita yang paling efektif adalah menyebarkan urban legend, promosi mulut ke mulut.

  • Ikhlasul Amal

    Di INAICTA 2010 salah satu nomine adalah tim peneliti dari BPPT yang membawa perangkat lunak Perisalah dan seingat saya bertujuan membuat risalah rapat.

  • Andri

    ini untuk inaicta? atau untuk yang lain pak?

  • Frenki Herlambang

    wah, disamping storagenya besar, servernya juga harus super cepat untuk mengolah data audio karena nantinya digunakan untuk analisis suara setiap querynya. :D. apalagi dengan karakter vokal yang berbeda-beda.

  • Spotmenarik

    kultur budaya indonesia yang tak bisa dihilangkan..

  • RQ

    very nice idea. hmm…, soundwave. googling2 dulu aah… :-)
    thanks.

  • denyoga

    membudayakan hal tersebut bagi saya memang perlu waktu, dari 2011 saya memang mencoba utk melakukan perekaman suatu percakapan, baik di meeting, diskusi ataupun penjelasan dr seorang montir tentang kerusakan kendaraan ketika service. karena ini kebiasaan baru, kadang sering terlupa, hehe. tapi yg bisa saya petik, saya bisa fokus ke dalam diskusi tanpa harus sibuk mencatat dan di lain waktu saya bisa membuat resume yg lebih detil dr percakapan/diskusi tersebut.

  • Emanuel Setio Dewo

    Mengembangkan aplikasi khas Indonesia tidaklah mudah. Sedangkan mengubah kultur juga tidak lebih mudah. Ada solusi lain yang mungkin bisa ditawarkan? Hehehe…

  • Winnu Ayi

    Speech-to-text dalam Bahasa Indonesia. Wah kalau beneran ada, mahasiswa Indonesia bisa semakin bahagia ini. Karena saking ngantuknya mahasiswa duduk di Oktagon menatap langit-langit dengan sayunya, entah kekenyangan kebanyakan makan nasi di kantin Salman atau sepoi-sepoi angin semilir bersatu padu dengan panas matahari, sehingga kata-kata dosen bagai angin lalu saja. Dengan teknologi ini tinggal search skrip apa yang diajarin dosen siang harinya, langsung mengerti. Tapi besar kemungkinan, digunakan H-1 menjelang ujian. :)

    Hanya saja bahaya buat dosen. Skrip-skrip tentang setiap perkuliahan bisa diukur kualitasnya. Mana dosen yang ngajarnya benar-benar, mana dosen yang sibuk curhat dan lupa kalau mahasiswa udah bayar mahal-mahal buat menimba ilmu. :)

  • fae

    Reblogged this on algoritma kehidupan emotz and commented:
    Wanted !!!

  • fae

    izin reblog ya pak?? :)

  • rendy

    memang agak susah kalo bicara soal produk lokal, mayoritas penduduk indonesia kan masih ngiblat/ngikuti negara yg udah maju sperti amerika, jadi ya pastinya produk2nya itu mirip sama yg di sana. dan walaupun sperti itu, banyak dan akan smakin banyak produk lokal yg tidak kalah hebatnya dengan produk luar. jadi, saya bangga jd org indonesia, hehe

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.835 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: