(Apa Memang) Gampang?

Ada banyak kejadian akhir-akhir ini yang membuat saya berpikiran keras mengenai cara melakukan sesuatu. Apakah cara yang saya lakukan salah sehingga tidak mudah?

Topik tentang mewajibkan mahasiswa S1 menulis makalah di jurnal sebagai syarat kelulusan ditanggapi dengan pro dan kontra. Saya termasuk yang kontra. Membuat sebuah sistem jurnal yang baik itu tidak mudah. Membuat makalah yang baik itu tidak mudah. Setelah itu makalah itu harus dikirimkan ke pengelola (editor) jurnal untuk diperiksa apakah layak atau tidak untuk diterbitkan di jurnal tersebut. Proses review ini tidak mudah. Tenaga, pikiran, dan waktu dibutuhkan.

Saat ini saya terlibat dengan beberapa jurnal dan dapat saya katakan bahwa saya keteteran dalam mereview artikel jurnal. Saat ini ada tiga artikel yang harus saya review. Masalahnya mereview itu tidak hanya sekedar membaca tapi mencoba memahami apa yang dituliskan oleh sang penulis. Meskipun bidang yang dituliskan sama dengan bidang penelitian saya, tetap saja tidak mudah melakukan review. Reviewer bertanggungjawab terhadap artikel yang dia loloskan. Demikian pula jurnal bertanggungjawab terhadap kualitas artikel yang dia terbitkan.

Dahulu ketika menjadi mahasiswa S2/S3 di Kanada saya sempat membuat jurnal bagi mahasiswa Indonesia di Kanada. Ternyata kami hanya sanggup terbit dua kali. Padahal saya sudah memulai proses pendaftaran jurnal tersebut. Nomor ISSN juga sudah didapat, tetapi kemudian terpaksa jurnal harus ditutup.

Sekarang banyak orang yang menggampangkan pengelolaan jurnal ini. Tinggal buat web site saja dan mahasiswa bisa kirim makalahnya. Ini tidak sekedar “tinggal” saja. Setelah itu prosesnya bagaimana? Kemudian apakah jurnal ini bisa bertahan? Berapa lama? Kalau hanya dapat bertahan 1 tahun saja apakah layak disebut jurnal? Kalau hanya jurnal abal-abal, mengapa disebut jurnal? Mengapa tidak disebut majalah atau bahkan sekedar koleksi tulisan. Dan ini tidak bisa diakreditasi. Lantas ini tidak sesuai dengan tujuan aturan yang melakukan pemaksaan penulisan jurnal itu.

Kalau yang diharapkan adalah mahasiswa dapat menulis dan memiliki kebiasaan menulis, ya suruh saja ngeblog :)

Cerita lain adalah soal mengajar dan membimbing. Banyak orang yang menganggap ini gampang. Ya kalau hanya memberikan satu kali presentasi sih mudah, tetapi untuk hadir dalam mengajar secara rutin dua kali seminggu untuk selama satu semester ini tidak mudah. Silahkan dicoba :)

Atau … mungkin saya yang salah. Memang sesungguhnya hal yang di atas itu gampang. Saya saja yang belum menemukan caranya agar gampang?

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

7 Tanggapan to “(Apa Memang) Gampang?”

  • mathematicse

    Mungkin klo gaji peneliti/dosen di Indonesia Rp 100 juta/bulan, bisa khusuk kali, ya? Sayang, itu cuma baru mimpi… :D

  • kharisma

    karena belum merasakan konsekuensi dari memotong proses yang harus dilalui maka kita tidak bisa tahu mengapa harus ada proses yang panjang.
    di tempat saya juga katanya akan ada jurnal tanpa review, cuma buat nampangin paper TA mahasiswa

  • benhard

    Ya, ya,ya,..saya merasakan kepedihan sir, untuk mereview journal memang harus paham betul mengenai pokok bahasannya..Memang tampakknya alasan untuk membuat jurnal ini masih GARING..

  • Cahya

    Saya rasa pengalaman membuat jurnal itu bagus, namun melihat sistem saat ini dan dicoba diterapkan di negeri ini – maka ini bisa jadi sesuatu yang buruk.

    Saya juga kaget saat mendengarnya, memang semudah itu apa, dan apa semua mahasiswa S1 akan mampu. TA saja sudah membuat banyak mahasiswa keteteran, apalagi sekarang mesti ditambah jurnal dengan masa studi dan kepadatan kurikulum yang – yah – begitulah.

  • ude

    Kalau pertanyaannya gampang atau tidak gampang, bisa dua-duanya Pak. Tergantung dari tujuan dan hasil akhir yang ingin dicapai. Kalau pilihan tujuannya hanya agar jurnal itu ada, terlepas dari bagaimana isinya, apakah akan bertahan lama dan lain-lain.. kan bisa jadi gampang aja Pak. Nah, kalau tujuannya untuk lebih jauh lagi, memang butuh proses yang lebih panjang dan usaha yang lebih.

    Saya setuju sama @mathematicse, kalau khusuk mungkin lebih ringan, tapi kalau banyak hal lain yang harus diperhatikan tentunya akan semakin berat

    @cahya, mungkin sistem pendidikannya memang dirancang untuk buat orang stress kali Pak, bukan untuk meningkatkan kreativitas, cara berfikir dan lain lain :)

  • Togap Tartius

    Nah, kalau menurut saya sih itu malah jadi lapangan kerja.
    Jadi seorang reviewer.
    Dan sebenarnya setiap orang punya bakat terpendam menjadi seorang reviewer. Hanya saja tetap harus profesional.

  • Pusat Iklan Baris

    mungkin belum merasakan ya….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 650 pengikut lainnya.