Beberapa hari yang lalu saya mengikuti diskusi tentang Ujian Nasional (UN). Ternyata ada banyak hal yang tidak saya ketahui. Ini sedikit cerita tentang yang saya pahami.
Ada tiga fungsi yang dibebankan kepada UN; (1) sebagai fungsi evaluasi / pemetaan, (2) sebagai fungsi ukuran kelulusan, dan (3) sebagai fungsi seleksi masuk perguruan tinggi. Masalahnya adalah ketiga fungsi tersebut TIDAK DAPAT disatukan dalam satu ujian. Padahal fungsinya sangat berbeda. Akibatnya adalah disaster dan lebih buruk lagi terjadi pembusukan pendidikan di Indonesia. Mari kita lihat fungsi tersebut satu persatu.
Fungsi evaluasi / pemetaan. UN dapat digunakan sebagai fungsi evaluasi pendidikan di Indonesia. Fungsi ini adalah fungsi diagnostik. Seharusnya hal ini tidak dilakukan pada tahap akhir pendidikan. Kapan perbaikan dilakukan jika itu hanya dilakukan pada akhir pendidikan? Hal lain adalah sebagai fungsi pemetaan, data tidak harus diambil dari semua siswa. (Tidak ada statistik yang sampelnya 100%) Proses pemetaan ini juga tidak harus dilakukan setiap tahun. Setelah ada evaluasi, dilakukan program perbaikan, kemudian baru dievaluasi lagi. Selain hal di atas, UN sebagai fungsi evaluasi masih layak untuk tetap dilakukan. (Note: distribusi normal.)
Fungsi kelulusan. Nah ini yang kurang pas. Anak-anak yang di daerah dan memiliki fasilitas pendidikan terbatas tidak dapat disamakan dengan anak-anak di kota besar yang memiliki fasilitas sekolah sangat baik. Lulusan tidak harus sama semua! Kalau semua disamakan, maka yang diambil adalah batasan terendah (yang mana ini akan sangat rendah). Lagian kita bukan ingin mendapatkan buruh atau robot yang sama. Tidak semua siswa akan meneruskan ke perguruan tinggi (yang juga jenis-nya berbeda-beda).
Kelulusan sebaiknya ditentukan oleh masing-masing sekolah. (Mengenai jika mereka ingin masuk ke perguruan tinggi, nanti akan kita bahas kemudian.) Karena dipaksa untuk menggunakan UN sebagai fungsi kelulusan, maka sekolah-sekolah mengajarkan siswanya agar lulus UN. Bukan mengajarkan (dasar) ilmu. Sekolah takut dicap buruk maka itulah yang dilakukan. Bahkan ada sekolah-sekolah yang mengatrol nilai siswa-siswanya sejak kelas 1. (Nilai minimal adalah 7. Hadir di kelas, nilai 7.) Inilah pembusukan pendidikan di Indonesia.
Mengapa sekolah melakukan hal ini? Selain karena takut dicap buruk, hal ini juga menyangkut masa depan siswa. Siswa yang tidak lulus UN lantas divonis tidak boleh meneruskan kemana-mana. Padalah kesalahan bukan pada mereka, tetapi pada sistem. Maka sistemlah yang harus dibenahi, bukan siswa yang disalahkan.
Penggunaan UN sebagai fungsi kelulusan harus ditentang.
(Note: distribusi kelulusan skewed ke kanan)
Fungsi seleksi (masuk ke perguruan tinggi). Fungsi ini lagi-lagi berbeda. Masing-masing fakultas / jurusan / prodi membutuhkan mahasiswa dengan bahan baku yang berbeda. Calon mahasiswa Kedokteran tentu saja berbeda dengan calon mahasiswa jurusan Matematika. Maka sudah jelas fungsi UN tidak dapat digunakan. (Fungsi UN adalah sebagai pemetaan.) Proses seleksi (filtering) yang salah ini akan menyebabkan perguruan tinggi kesulitan dalam mendidik mahasiswanya. Yang disalahkan adalah perguruan tingginya.
Untuk penerimaan mahasiswa, perguruan tinggi seharusnya melakukan ujian sendiri. Bukan UN. (Mengenai bahwa beberapa perguruan tinggi bersatu untuk membuat ujian bersama, itu hal lain.) Maka dari itu, fungsi seleksi masuk perguruan tinggi sangat tidak cocok bagi UN dan harus ditentang.
(Note: distribusi seperti filter yang sharp terhadap jurusan.)
Lantas mulai dari mana kita membenahinya. Menurut saya harus paralel. Kita kembalikan UN seperti fungsi utamanya, yaitu sebagai alat ukur evaluasi atau pemetaan saja. Untuk kami-kami yang di kampus, kita harus berani mengatakan bahwa UN tidak dapat digunakan sebagai alat seleksi masuk ke kampus. Jika itu dilakukan maka SMA-SMA tidak terlalu takut untuk berbuat jujur (memberikan nilai sesungguhnya tanpa katrol). Toh perguruan tinggi akan melakukan ujian saringan sendiri.


Mei 30th, 2012 at 11:24 am
sepertinya dari dulu juga seperti itu… lha wong basic IPS aja bisa masuk eksakta kok… terus bakal sampai kapan?
Mei 30th, 2012 at 1:14 pm
mas budi, dari fungsi UN kurang pas, dari pelaksanaannya juga bermasalah, kebocoran, tim sukses dll dll akan mampu menciptakan pemetaan yang aneh.. bgmn tidak aneh kalau tiba tiba ada sekolah didaerah yang sangat terpencil mampu mendapatkan nilai UN yang sangat tinggi,, mampu mengalahkan nilai UN sekolah sekolah yang dengan dengan fasilitas terbaik…
Mei 30th, 2012 at 2:17 pm
*manggut-manggut*
Hadir di kelas, minimal nilai B..
Mei 30th, 2012 at 3:06 pm
emang sucks yg bikin UN.. bilang aja butuh duit, terus bikin proyek UN.. makin kacau aja ini pendidikan kalo di kampus yg masuk bukan orang2 yg sesuai potensinya..
Mei 30th, 2012 at 5:23 pm
setuju pak, kebijakan ttg UN yg seperti ini sepertinya harus direview lg..
Mei 30th, 2012 at 7:14 pm
ilustrasi yang dari 9gag ini bnr2 pas pak! *manggut2
Mei 30th, 2012 at 7:35 pm
Kasihan, anak yang pintar bisa dapat nilai buruk
Bagaimana dengan sekolah di pedalaman yang belum mempunyai fasilitas banyak ????
Mei 30th, 2012 at 9:24 pm
Reblogged this on Blog Pirtom Lubis and commented:
Cerminan negara yang tidak maju.
Mei 30th, 2012 at 9:29 pm
Dari UN ini saya dapat belajar tentang berbagi, strategi, analisa, harga diri dan penyesalan.
Mei 31st, 2012 at 5:55 am
Jaman dulu, IP dua koma alhamdulillah (yang penting bukan dua koma astaghfirullah) asal punya tjap gadjah duduk insya Allah akan bisa menembus perguruan tinggi mana saja di Amerika. Sekarang, ketika IP tiga koma sudah jadi norma di ITB, kenapa gregetnya jadi berkurang?
Dalam kerangka pemikiran yang sama, kita perlu standar. Kalau ada ijazah berbendera Indonesia, nilai tujuh itu harus punya nilai yang sama, di daerah manapun ijazah itu dikeluarkan. Kalau angka sembilan di Papua itu tidak berharga sama dengan angka sembilan di SMA 3 Bandung, bagaimana Indonesia akan bisa bersaing di luar negeri?
Apa kata dunia?
Mei 31st, 2012 at 6:31 am
Wah artikel sangat membantu….semoga fungsi UN bisa lebih benar lagi dikemudian hari… trims
Mei 31st, 2012 at 8:02 am
wah wacana bpk pas banget, ijin share ya pak..
Mei 31st, 2012 at 8:12 am
thanks gan informasinya semoga bermanfaat
Mei 31st, 2012 at 9:19 am
Tetapi setiap aku bertanya temanku yang baru lulus di SMA setiap aku tanya. tentang pelajaran di sekolah tetapi temanku malah jawab males ?… dan setelah baca di artikel anda jedi teringat temanku itu cuma ingin masuk sekolah aja mungkin ????
Mei 31st, 2012 at 10:30 am
Mengacu pada karikatur diatas, apakah sebaiknya UN ditiadakan, dan diganti tiap propinsi memiliki ujiannya sendiri? Jadi lebih fair kan, karena kesulitan ujian diatur berdasarkan kemampuan pelajar?
Mei 31st, 2012 at 10:58 am
saya tetap memiliki prinsip setiap siswa di indonesia harus memiliki standar kecerdasan minimal yang sama, dan saya berharap standar itu cukup tinggi …
klo menerapkan sistem : setiap daerah berhak menentukan standar kelulusannya
misalnya siswa A dr sma bandung bisa matematika sampai integral karena standarnya kelulusan bandung adalah sampai integral, tp siswa B dr sma di kota kecil hanya menguasai sampai persamaan kuadrat, karena standarnya memang hanya persamaan kuadrat, kemudian mereka sama2 punya nilai UAN 9 … pendidikan indonesia berhasil?
Mei 31st, 2012 at 12:19 pm
bagusss banget komentarnya saya senng sekali membacanya menambah ilmu pengetahuan ..
kalo menurut saya Ujian Nasional itu sebenernya memang perlu tapi di sesuaikanlah dengan apa yg menjadi kebutuhan dunia pekerjaan
makasihhh lohh udah masukin koment saya
Mei 31st, 2012 at 12:25 pm
ujian nasional di indonesia sudah baik kok cuma kalo boleh sih hrus lebih baik lagi ke depann nanti
Mei 31st, 2012 at 6:15 pm
tingkatkan keamanan UN,saya bilang begitu karna begitu banyak soal yang bocor ketika UN dilaksanakan….
Mei 31st, 2012 at 6:19 pm
yang bikin serem isi Ujiannya suka ada yg salah2/kadaluarsa..
Juni 1st, 2012 at 9:36 am
setuju, wong pendidikan di kita akan maju kalau di BOM dahulu semuanya… trims..
Juni 1st, 2012 at 9:42 am
Wah bahasan yang menarik pak. Saya suka pada bagian “takut di cap buruk” dan “vonis”. Memang kasihan anak-anak yang “jadi korban”.
Kalau menurut Bapak, sistem yang perlu dirubah itu seperti apa/bagaimana?
Setahu saya untuk kelulusan di sekolah tidak hanya melihat UN, tetapi juga hasil Ujian Sekolah (yang diadakan oleh masing2 sekolah). Dimana ujian sekolah merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari sekolah dan mapel yang diujikan adalah mapel yang tidak diujikan dalam UN dan aspek lainnya … (Permendiknas No.20/2007). Jadi sebenarnya semua mapel berperan penting, tidak hanya yang di UN kan ya?
Banyak pro dan kontra mengenai UN. Menurut bapak, perlu kah UN (tetap) diadakan?
Juni 1st, 2012 at 10:29 am
Orang yang mau dianggap ‘pintar’ kan perlu di uji pak. Apakah dia ‘pintar’ atau mengaku ‘pintar’. Kan banyak ‘orang’ sekarang mengaku ‘pintar’. Nah perlu diuji tuh…he he. Terimakasih konten yang mencerahkan.
Juni 1st, 2012 at 6:51 pm
Suka bangeeet… Karikaturnya TOP markotop! Boleh dishare ya Pak?
Juni 2nd, 2012 at 4:24 am
Saya setuju UN tetap ada, sebagai alat evaluasi.
Saya setuju saringan masuk perguruan tinggi berbeda dgn UN. UN tidak bisa berfungsi sebagai saringan masuk PTN.
Juni 2nd, 2012 at 9:30 am
system tentang tes sekolah sudah dipraktekan. SMP/MTs juga udah tes “jadi takut”, klo SMA/SMK ada tuh wajar mungkin tahun mendatang SD juga tes kaliii ????
Juni 2nd, 2012 at 11:25 am
Padalah kesalahan bukan pada mereka, tetapi pada sistem. Maka sistemlah yang harus dibenahi, bukan siswa yang disalahkan.
Juni 2nd, 2012 at 1:52 pm
Pak saya mau titip link di side bar, mohon info tarifnya… trims
Juni 4th, 2012 at 5:34 am
Ujian masuk perguruan tinggi didesain untuk menggagalkan orang. Alasannya kursi terbatas, jadi harus ada yang gagal. Hanya yang lulus yang boleh duduk di perguruan tinggi. Tujuannya memang untuk seleksi.
Ujian Akhir Nasional sebaiknya tidak menggunakan paradigma kegagalan, tapi untuk menguji kemampuan siswa. Juga mungkin untuk mengevaluasi bahan ajar, peserta ajar, pengajar, dan sekolah.
Apakah bahan ajar bisa diterima peserta ajar?
Apakah pengajar bisa mengajar bahan ajar?
dll.
Itulah evaluasi yang harus dilakukan sebelum, ketika, dan setelah UAN.
Juni 4th, 2012 at 5:36 am
Jadi sebaiknya tidak mencampuradukkan UAN dengan seleksi masuk perguruan tinggi.
Juni 12th, 2012 at 10:58 am
kalo gitu ga usah pake ujian nasional. ujian sekolah aja cukup.
btw ga ada masukkan dari anggota dewan yang sering keluar negeri ya..
Juli 13th, 2012 at 9:48 pm
Saya sebagai siswa SMK setuju dengan pemikiran bapak, saya sendiri telah mengamati, contoh : banyak siswa yang memperoleh nilai un bahasa inggris 9 bahkan ada yang 10 namun hanya sedikit dari mereka yang memiliki kemampuan bahasa inggris yang baik, menurut saya un tidak bisa digunakan untuk mengukur kualitas seorang siswa
Maret 6th, 2013 at 6:19 pm
kita juga tidak harus menyalakan pemerinta, menurut mentri pendidikan hal seperti itu bagus untuk kedepan, tidak ada salah nya juga kalau siswa harus belajar tekun untuk kelulusan dan tantangan ke depan yang lebih rumit.
April 20th, 2013 at 12:35 pm
Tadi saya mau menulis posting “UJIAN NASIONAL : Kerepotan Yang Tidak Perlu”, tetapi batal setelah baca tulisan Pak Budi Rahardjo, karena semua yang akan saya tulis sudah ada di tulisan Pak Budi.
Andai saja Mendikbud mau baca posting ini……..