Say No to Walled Garden

Konsep bisnis di internet memang masih membingungkan. Salah satu ide yang pernah diusulkan adalah membuat layanan yang hanya dapat diakses oleh member saja. Misalnya sebuah operator atau penyedia jasa internet memiliki sebuah situs yang hanya dapat diakses oleh membernya. Pelanggan lain tidak bisa mengakses. Tujuannya jelas, yaitu agar orang berlangganan. Konsep ini dikenal dengan nama “walled garden“.

Ide walled garden adalah seolah-olah kita punya kebun yang ditutupi oleh pagar. Hanya orang-orang yang diberi ijin saja, misalnya pelanggan atau yang bayar, yang dapat masuk dan melihat kebun itu.

Pengamatan saya, konsep walled garden ini kurang cocok dan kurang berhasil untuk bisnis berorientasi internet. Jaman internet ini semua berharap mendapatkan akses secara gratis (atau sangat murah). Konsep yang menutup-nutupi seperti ini bertentangan dengan produk teknologi informasi, yang mana produk digital sangat mudah diduplikasi. Pasti saja bocor. Kenapa kita harus berlangganan walled garden?

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesuksesan saat ini lebih banyak kepada konsep berbagi. Sharing. Menutup-nutupi adalah upaya yang sia-sia. Walled garden akan sulit diterima dan sulit untuk sukses.

Herannya, ketika diskusi dengan anak-anak muda yang ingin memulai bisnis, kebanyakan mereka cenderung ketakutan idenya dicuri atau sejenisnya sehingga mereka condong kepada walled garden. Padahal mereka, kalau berada di posisi sebagai pengguna, tidak suka dengan hal itu. Aneh juga. Mengapa membuat layanan dengan konsep yang mereka sendiri tidak suka.

Saya sebagai generasi lama, malah cenderung untuk berbagi. Atau mungkin saya termasuk yang anomali ya? Saya lihat kawan-kawan yang sukses juga adalah orang-orang yang cenderung anti walled garden. Hmm…

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

7 responses to “Say No to Walled Garden

  • adhiciptawirawan

    menurut pendapat saya di awal para starter harus membuka “garden”nya utk bs dinikmati keindahannya. Hal ini utk menguji sejauh mana garden ini berhasil. Bagi pengunjunh yg ingin menikmati lbh jauh garden yg dibuat mk mereka harus bayar alias masuk ke walled garden. imho

  • Ian

    Gimana kalau gini, rasanya inilah yang lebih banyak ditawarkan di internet;

    Main business offering-nya harus di define dulu. Inilah yang membidik masyarakat banyak di internet. Hal ini biasanya gratis, atau sangat murah. Banyak contoh-nya, mulai dari social network yang gratis, sampai ke financial platform yang memberikan pricing information secara gratis.

    Selain main business offering, ditawarkan juga value added service yang konsep-nya limited untuk orang yang bayar. Ini juga contohnya jelas, lihat additional filtering dan feature yang ditawarkan social network macam LinkedIn, dan juga real-time (microsecond) trade update yang ditawarkan berbagai financial platform.
    Nah, kalau dibagi dua begini, bisa lihat bahwa revenue service yang dihasilkan oleh VAS akan cukup signifikan.

    Jadi yang salah kalau menurut saya bukan konsep walled garden, tapi lebih ke arah bahwa itu seharusnya jadi “side-dish” dan bukan “main menu”.

    *my worthless two cents*

  • Wahyu Wijanarko

    Yang dimaksud walled-garden ini hanya member yang bisa memperoleh informasi lebih lengkap atau terkait ide startup yang ditutupi?

    Biasanya membership ini diperlukan untuk menjaring data pelanggan potensial, jadi ya sebenarnya bisa saja pengunjung biasa bisa melihat-lihat halaman tertentu dan yang sudah terdaftar bisa memperoleh informasi lebih lengkap. Selama membership tidak berbayar sepertinya oke-oke saja sih… Bisa juga dengan penerapan poin tertentu bagi memebr yang aktif di suatu sistem online…

  • Adhi Hargo

    Saya nggak tahu bidang, skala dan sifat produk dari bisnis yang Bapak maksud (khusus startup IT?). Yang saya perhatikan, lain bidang e-bisnis, lain sifat konten, lain pula strategi komersialnya, dan banyak yang mengkombinasikan layanan gratis dan berbayar. Berbagi itu penting, tapi cepat atau lambat harus memikirkan monetisasi kalau nggak ada sumber pendanaan lain.

    Beberapa contoh dari dunia edukasi VFX dan CG umum mengkombinasikan gratis dengan paywall: fxguide.com banyak berisi artikel/podcast gratis tentang industri vfx, meski ada program fxinsider untuk konten eksklusif tertentu dan ditambah program pelatihan online (walled garden), fxphd.com. CG Cookie juga punya program keanggotaan, meski mayoritas konten edukasinya gratis. Di dunia edukasi animasi karakter, contohnya animationmentor.com dan jrawebinar.com, keduanya walled garden. Semuanya bisa dibilang bisnis yang berorientasi Internet, dan bisa bertahan lama (yang paling muda cgcookie.com, sejak 2008).

    Saya tertarik dengan topik ini, karena ada hubungannya dengan moda distribusi dan komersialisasi produk industri kreatif. Internet adalah kanal distribusi yang sangat baru, semua masih mencoba-coba, dan paywall adalah salah satu alternatif monetisasi yang masih lazim kita temui. Rasanya akan sangat bermanfaat kalau kapan2 Pak Budi bersedia meng-elaborasi topik walled garden ini. (mohon maaf kalau pemahaman saya tentang isi tulisan Bapak ini keliru)

  • Tommy MarkiTommy Marki

    Setahu saya, konsep wall garden justru dibuat agar pelanggan dapat mengakses layanan tanpa harus mempunyai balance. :)

  • muslim

    contoh walled-garden: Facebook. jika tidak mendukung walled-garden, jangan gunakan Facebook ;-)

  • gus trisna

    kalau yg dimaksud konsep wall-garden adl subscription business model saya setuju kalau isinya berupa products mis. widgets, scripts, dll. IMHO, content ttp harus menjadi prioritas dan harus free karena quality content attract real traffic and raise SEO ranking.
    Nah kemudian when you already have stream of traffic kita harus punya strategy for economic sustainability alias how to monetize them. Disinilah kita harus pintar2 mengolah. Berbagai macan cara bisa dilakukan spt jual jasa or various products atau affiliate. Saya setuju dg pak Budi bahwa Internet is free knowledge. IMHO, If you are expert on one subject you will not loose your customers because you share all your knowledge. Utk menjadi expert need years of experience and through all those hardest time you have somehow an intuition that only you can master it. This can not be easily share and become your products to sell berupa jasa alias services. So, jangan takut utk berbagi krn berbagi itu indah dan menambah teman thus bring traffic.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.701 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: