Cara orang berkomunikasi ternyata terkait dengan kultur orang yang bersangkutan. Orang Amerika terbiasa berkata dengan blak-blakan. Orang Indonesia – dan mungkin Asia secara umum – cenderung tidak demikian. Kita cenderung berdiskusi di belakang layar.
Mari kita ambil contoh. Dalam perkuliahan, misalnya. Dosen sering bertanya kepada mahasiswa, “ada pertanyaan?” atau “ada yang belum dimengerti?”. Di Indonesia, biasanya pertanyaan seperti ini tidak mendapat tanggapan. Mahasiswa tertunduk, meskipun banyak yang belum mengerti. Setelah kuliah selesai barulah ada satu dua mahasiswa yang maju ke meja dosen dan bertanya. Halah. Mengapa tidak bertanya tadi-tadi? Kalau orang Amerika, biasanya bertanya ketika belum mengerti dan ada kesempatan untuk bertanya. Bahkan mereka akan mengacungkan tanya sebelum kita bertanya apakah ada yang ingin bertanya.
Ternyata kebiasaan ini terbawa juga ke dunia maya. Dalam sebuah mailing list, misalnya, ada diskusi. Kemudian ternyata ada yang berpendapat bahwa sebaiknya topik diskusi tersebut didiskusikan antar orang saja atau ketemuan di darat saja. Ini mirip seperti kondisi di kelas tadi. Yang mau nanya, nanti saja langsung ke dosennya. Kita tidak terbiasa berdiskusi di publik.
Dan ternyata kalau berdiskusi di publik pun, banyak yang ngaco. Masalahnya, mereka tidak terlatih untuk berdiskusi di publik. Adalah yang bicaranya muter-muter (lama sekali untuk mengatakan intinya), ngeyel kalau berdiskusi (berdebat), atau bahkan tidak fokus. Cape deh.
Ini masalah kultur. Tidak mungkin untuk diubah dalam waktu singkat. Entah apakah generasi nanti akan tetap sama atau berubah. Kalau melihat mahasiswa saya, nampaknya belum akan berubah. Oh well.

November 22nd, 2012 at 10:12 am
Sangat betul…..mungkin sudah menjadi kebiasaan turun temurun pak!
November 22nd, 2012 at 10:17 am
Mahasiswa yang berdiskusi di publik dan ternyata yang disampaikan itu muter-muter, tidak fokus, mungkin juga ada pengaruh budaya “yang penting tampil”, “yang penting narsis”, meski lemah pemahaman teorinya.
November 22nd, 2012 at 11:01 am
masih ada stigma “negatif” pada orang yg suka bertanya:
1.dianggap kurang cerdas karena tidak cepat menangkap apa yg diterangkan;
2. dianggap memperpanjang waktu kuliah padahal mayoritas mahasiswa sudah ingin keluar kelas;
November 22nd, 2012 at 11:01 am
Faktor lain, mungkin mahasiswa tidak tahu apa yang mau ditanya, mungkin konsentrasi nya kurang pada saat pencerahan hahaha..
Salam,
Hotelpadi.com (hemat biaya perjalanan anda)
November 22nd, 2012 at 12:30 pm
Salam kenal
Ikut nyimak aja artikelnya.
November 22nd, 2012 at 1:31 pm
Setuju Pak ! Suka banget ama tulisan ini, betul-betul menggambarkan kondisi yang ada.
November 22nd, 2012 at 4:08 pm
Iya pak, ada kecenderungan untuk tidak bertanya/berdiskusi di depan publik karena takut salah dan ditertawakan karena tidak menguasai materi.
November 22nd, 2012 at 11:24 pm
Tetap positive thingking aja untuk Indonesia kita
November 23rd, 2012 at 1:02 am
Apakah kebiasaan orang barat itu memang lebih baik, untuk berbagai keadaan?
Mungkin, mahasiswa perlu contoh dari dosennya.
November 23rd, 2012 at 8:31 am
yap..ini masalah Timur..yang cenderung “pemalu”
November 23rd, 2012 at 10:18 am
1. Yang mo nanya takut dianggap sok pinter ama yang nggak nanya
2. Yang mo nanya takut dianggap bikin kuliah tambah lama sedangkan yang laen udah mau pada shopping n have fun
3. Yang nggak nanya menganggap yang nanya sok pinter
4. Yang nggak nanya menganggap yang nanya bikin kuliah tambah lama
5. Nggak ada reward bagi yang nanya, misalnya ada nilai tambahan
6. Kalo ada reward, yang nggak nanya menganggap yang nanya sok nyari nilai dan nyari muka
November 23rd, 2012 at 6:18 pm
membaca posting ini saya jadi mikir-mikir lagi utk memberikan komentar (tapi ini sudah komentar), takutnya malah muter-muter<–orang Indonesia
November 23rd, 2012 at 9:00 pm
saya juga malu-malu untuk berkomentar
Desember 5th, 2012 at 9:21 pm
gaya Komunikasi tsb memang punya orang indo
hanya dibelakang layar
budaya yg sulit diubah