Pagi ini saya mencoba membaca tumpukan buku dan majalah yang sudah menanti giliran untuk dibaca. Kali ini saya mulai dengan beberapa majalah IEEE. Dimulai dari majalah IEEE Spectrum dahulu.
Untuk pembaca yang non-Elektro, IEEE ini merupakan asosiasi dari orang-orang Elektro di seluruh dunia. Saya menjadi anggota ini ketika masih menjadi mahasiswa. Sekarang masih menjadi anggota, meskipun masih meminta diskon karena berpenghasilan rendah. Hey, standar gaji dosen ITB BHMN tidak dapat dibandingkan dengan dosen di luar negeri tentunya
Which reminds me, I have to renew my IEEE membership.
Membaca majalah IEEE ini membangkitkan lagi semangat kenapa saya menyukai bidang engineering. Bangga menjadi engineer. (Wah, nanti bangga dianggap sama dengan arogan ya? he he he) Masih teringat grafiti di kampus dulu; Engineers Rule! (I’d say, some proudness are necessary.)
Kali ini yang menarik adalah cerita tentang Steve Furber, seorang profesor dari University of Manchester. Sebelumnya dia adalah peneliti di bidang aerodynamics di Univ. of Cambridge. Kemudian dia ditarik perusahaan Acorn Computers (ini di Inggris) untuk mengembangkan prosesor ARM. Lo and behold, prosesor ARM ini merajai dunia. Nyaris semua handphone menggunakan prosesor ARM ini. Intel? Mampus.
(Ada diskusi tambahan; ARM memang merajai dunia handphone / embedded system, tetapi di dunia server Intel masih rajanya. Nah sekarang ARM mau masuk ke dunia server dan Intel juga masih tetap berusaha masuk ke dunia gadget meskipun sudah pernah gagal. Kita lihat nanti hasilnya.)
Yang membuat saya mesem-mesem adalah saya sempat ketemu dengan profesor ini karena dulu dia adalah salah satu pakar di bidang penelitian saya, asynchronous systems. Groupnya menciptakan Asynchronous ARM processor. Seru juga. Mengembalikan kenangan lama.
Betapa menyenangkannya menjadi engineer. Menciptakan hal-hal untuk membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. To me the world a better place to live.

November 24th, 2012 at 9:44 am
Salut untuk mereka yang berkreative…
November 24th, 2012 at 10:46 am
dan betapa menyenangkan kalau kita bermanfaat untuk orang lain, setujuuu , jempol kanan buat pak dosen
November 24th, 2012 at 3:11 pm
Sejak kecil saya ingin jadi insinyur, setelah lulus dari itb malah dikasi gelas ST
November 24th, 2012 at 6:09 pm
Saya yakin setelah baca posting ini banyak pembaca yg langsung pada daftar jadi member ieee
November 24th, 2012 at 8:48 pm
Menjadi engineer memang menyenangkan, walau gelarku tidak ada kata “Insinyur”. Selalu ada hal baru yang harus dipelajari. Harus selalu fleksibel dengan perlengkapan dan peralatan baru.
Semoga sepulang dari jalan-jalan di Berlin pada hari Senin kemarin, anggota DPR bisa meloloskan UU Keinsinyuran yang betul-betul berguna bagi dunia teknik Indonesia.
Walau smartphone berotak prosesor ARM, tapi chip lainnya ada yang pakai produk Intel juga. Seperti kata pepatah, “If you cannot be the head of the system, you can be the heart”.
November 26th, 2012 at 4:16 pm
semoga sukses ya OM…
November 27th, 2012 at 4:39 pm
Terima kasih Steve Furber. Gara-gara ARM (dan instruction set) anda, saya bisa jadi Sarjana Teknik Elektro.
November 28th, 2012 at 12:15 am
Saya engineer. Ayah saya juga engineer, beliau membuat rumah dan jembatan. Saya dari kecil di brainwash bahwa engineer is the best job in the world. Usia 14 tahun ayah saya membelikan PC 486 yang sudah terinstall Turbo C++ dan Turbo Prolog. Usia 15 tahun saya sudah khatam bukunya Nabajyoti Barkakati etc..
I fell in love with programming and electronics.
Akhirnya seperti yang sudah diduga, saya menjadi designer DSP chip. Thesis PhD saya adalah mengenai intelligent CMOS IR camera untuk UAV.
I used to love my job. Tapi setelah beberapa tahun bekerja sebagai chip designer saya menyadari, engineering is a dead end career.
E.Engineering, CS, microchip design, DSP, robots etc are just good for hobby. It’s nice to assemble a combat robot together with your son, teach him to put a smart camera on robot and program it with OpenCV and Propeller microcontroller. I do that. I teach my son how do that.
But for career. I don’t want him to be an engineer.
The world is (unfortunately) ruled by some class. Dan ruling class tersebut adalah manusia-manusia yang mengerti keuangan, mass psychology, politik, ekonomi dan hukum. It’s been a years, saya merasa seperti robot. Kita engineer bisa menciptakan robot dan sebagainya. Tapi sebenernya kita adalah robot yang diatur oleh manusia-manusia tersebut.
Saya tidak mau.
November 29th, 2012 at 10:45 am
Tentu saja kalau ukurannya adalah uang dan jabatan, maka lebih baik lari ke management. Kalau ukurannya adalah kebahagiaan dari proses penciptaan, maka tetapi engineering lebih bermakna dan menyenangkan
November 30th, 2012 at 9:19 pm
Bener Pak BR, Engineer Rules! (DKI Jakarta) hehehe…