Kerja Asal-Asalan

Beberapa kali saya mendapati kondisi pekerja yang kerjanya asal-asalan. Maksudnya, dia bekerja hanya sekedar untuk memenuhi persyaratan administratif bahwa dia bekerja, tetapi sesungguhnya dia tidak peduli dengan apa yang dikerjakan. Contohnya begini.

Suatu saat saya ke counter yang menjual sebuah produk. Saya menanyakan dimana tempat servis produk tersebut di kota Bandung atau adakah yang dapat memberikan servis di gedung ini (kejadiannya di BEC, Bandung). Sang penjaga counter ini tidak dapat menjawab apa-apa karena bagi dia mungkin yang penting adalah duduk di belakang counter. Bagi dia bekerja adalah duduk di belakang counter. Mengenai produknya sendiri, dia tidak peduli. Berbeda dengan penjaga lain yang berada di toko yang lain. Ketika ditanya, dia dapat memberi tahu tempat servis resminya, servis di lokal, dan perkiraan harganya kalau harus bayar. Dengan kata lain dia mau belajar tentang produk yang dia jual.

Tentu saja kerja asal-asalan ini juga terjadi di industri / instansi lain. Banyak orang yang merasa bahwa bekerja itu adalah hadir. Sesunguhnya dia tidak menyukai apa yang dia kerjakan dan dia merasa tidak nyaman atau bahkan tersiksa. Dia tidak peduli dengan kualitas pekerjaannya, apa lagi untuk meningkatkan kualitas hasil dan layanannya.

Sebagai contoh, ketika orang membuat laporan (report, dokumen) maka ada kecederungan dia membuat seadanya. Asal ada saja dokumen itu untuk memenuhi syarat. Isinya? Ya seadaanya saja. Tidak banyak orang yang memikirkan isinya, bagaimana membuat isi laporan tersebut lebih mudah dimengerti, lebih cepat dibaca, lebih bermanfaat, dan seterusnya. Ada orang yang seperti ini – berbuat lebih – tetapi tidak banyak. Sebagian besar ya kerjanya asal-asalan saja.

Lantas apa maunya orang seperti ini? Dia berpikir bahwa dia dapat bekerja di tempat lain dan mendapat apresiasi yang berbeda (lebih). Sesungguhnya di tempat lainpun dia tidak akan dihargai. Pemberi kerja akan menghargai orang yang berusaha bekerja sesungguh hati. Bahkan dalam tingkat pesuruh pun akan menjadi rebutan orang banyak. Orang yang bekerja dengan sepenuh hati tidak akan mendapat kesulitan mencari pekerjaan karena bukan dia yang mencari, tetapi orang atau pekerjaan yang mencari dia.

Mentalitas seperti ini mungkin sudah muncul ketika menjadi mahasiswa. Banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas asal-asalan. Asal ada saja. Asal selesai. Dia tidak ingin membuat tugas yang bagus. Padahal ini tercermin dalam hasilnya. Akhirnya mahasiswa ini terbiasa dengan seadanya dan ketika luluspun kebiasaan ini terbawa. Hadoh.

Bagaimana dengan Anda?

About these ads

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua tulisan milik Budi Rahardjo

15 responses to “Kerja Asal-Asalan

  • hotelpadi.com

    2 alasan:
    1. Mereka bekerja demi uang
    2. Perusahaan tsb tidak memberikan training ataupun standard pelayanan kepada consumer.

    Salam,

    Hotelpadi.com (cari hotel murah? Di website kami saja)

  • chandraputri

    banyak mahasiswa “terjebak” di jurusan yang sebenarnya -at least-kurang dia minati, alhasil tugas yang dikerjakan copassus a.k.a copy+paste+susun, ini bibit2 korupsi :-P pembiasaan pendidik juga yang selalu berorientasi pada “kuantitas nilai” bukan “proses” elaborasi pengetahuan siswa/mahasiswa juga menurut saya berpengaruh dengan hal ini

  • afan rida

    pengetahuan akan produk masih menjadi hal yang sering di lupakan oleh para sales counter maupum pemilik bisnis, yang diceritakan diatas terjadi di kota bandung yang notabene adalah perkotaan yg begitu mudah untuk mendapat informasi, trus pertanyaannya bagaimana seperti saya yang ada di daerah yang jauh dari kota? kebayang kan?

    padahal kalo di telusuri lagi, masalah yg satu itu akan membawa kepada masalah yang lain dan terutama berdampak pada menurunnya kepuasan pelanggan, yang juga bisa berakibat fatal dimana para pelanggan ‘lari’ ke tempat lain.

  • muhyasir

    sepakat pak.. Parahnya, kerja asal2an ini sudah massif di segala sektor.. Bgmana dgn komentar asal2n pak?

  • Tina Latief

    saya setuju dengan pak rahard, pengamatan saya menjadi mahasiswa baru pun demikian. Banyak sekali tugas yang dikerjakan asal-asalan. Asal jadi saja. Tugas yang dikumpulkan biasanya hanya untuk menyelamakan dari deadline, bukan dari hasil yang memuaskan. Saya khawatir kalau kebiasaan ini dibawa sampai tua. Sangat disayangkan jika lulusan sarjana seperti ini nantinya. Apalagi yang berkeinginan berkecimpung di penelitian, tidak mungkin kerja asal-asalan. Bisa sampah semua yang dihasilkan nanti..

  • Titik Asa

    Sayang banget sih kerja asal-asalan ini. Sebenarnya hanya membuang waktu. Hanya dapat uang tanpa menambah kompetensi…
    Salam…

  • coekma

    kalau pekerja yang pak budi sebutkan tadi itu kesalahan yang mempekerjakannya. kalau masalah mahasiswa yg asal2an itu salah orang tuanya tdk mampu mengarahkan dengan benar sejak awal, mungkin saja sebenarnya jurusan yang ditempuh itu diminati oleh ortunya bukan mahasiswanya, sehingga setengah hati… (tidak semua seperti yang saya sebutkan barusan sih, hehehe…)

  • ina r

    ketika orang bekerja tidak sesuai passion, ya begitulah pak. dari kecil sekolah untuk nilai, kuliah untuk dapat ijasah karena dengan dapat ijasah bisa cari kerja untuk dapat uang.
    saya sempat ngobrol dengan teman di Stockholm, orang sepuh di perusahaan ini kok masih pada coding, karena mereka suka. mereka tidak ingin jadi CEO atau project manager, karena pekerjaan coding ini masih memberikan penghasilan yang tidak beda jauh dengan CEO atau project manager. ga perlu bingung anaknya sekolah nanti gimana karena gratis. tidak ingin menumpuk kekayaan juga karena pajaknya muahal, jadi duitnya buat liburan mulu.
    mereka sekolah sesuai minat, tidak ada UAN SD, SMP. kuliah sesuai minat, bekerja pun demikian.
    saya masuk elektro karena katanya jurusan favorit jadi nanti gampang cari kerja. sementara sampai sekarang masih ingin jadi arsitek.

  • ikhwanalim

    kalau nunggu inisiatif dari atasan terus, lama-lama engga akan bisa inisiatif dan eksekusi sendiri, pak..

  • sanwani

    Setiap pekerjaan harus didasari dengan ke iklasan insa allah suatu
    pekerjaan menjadi lancar dan tidak asal- asalan.

  • Universitas Esa Unggul

    Zaman sekarang ini sudah jarang orang yang bekerja demi “ketulusan”
    saat pegawai gajinya kecil , maka semakin asal asalah orang itu bekerja dan akan merugikan pihak instansi. Tidak hanya itu saja…mereka yang tidak tulus akan bekerja pun jika akhirnya dipecat oleh perusahaan maka orang tersebut akan menyerang balik ke perusahaan dengan kata-kata yang menjatuhkan perusahaan , para klien jadi tidak mempercayai perusahaan dll.

    Sungguh susah dan sulit mencari orang yang benar benar bekerja dengan ketulusan

  • snydez

    Dari beberapa kesempatan, ada kalanya report yg dibuat detail malah tidak dibaca seksama, ujung2nya bertanya lagi halnyg sudah didetailkan ke sipembuat report.
    Walhasil sipembuat report berpikir, ngapain juga detail reporting toh akan ditanya ulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.592 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: