Lucu juga membaca tulisan mahasiswa yang asal mengutip. Sebetulnya buku lucu, mungkin lebih tepatnya meringis. hi hi hi. Ada mahasiswa yang asal mengutip dalam tulisan di makalahnya. Dia tidak tahu bahwa kutipannya salah. Sebetulnya apakah dia memang benar-benar membaca tulisan yang dia kutip tersebut? Atau, dia mengutip tanpa membaca naskah aslinya dan sekedar mengandalkan pendapat orang.
Ada juga orang takut salah dalam memahami kutipan, maka dia tulis semua yang dia kutip. Setiap katanya. Lengkap dengan titik komanya. Sayangnya yang ini justru menunjukkan bahwa dia tidak mampu untuk memahami tulisan tersebut. Alih-alih takut salah, malah dianggap tidak mampu.
Jadi bagaimana cara yang baik dalam mengutip? Pertama, baca dulu tulisannya. Kemudian coba pahami maksudnya. Baca lagi. Pahami lagi. Coba tuliskan pemahaman kita dengan bahasa kita. Kalau perlu, diskusikan dengan teman-teman secara informal. (Inilah mengapa perlu mencari teman seperjalanan dalam penelitian.) Jadi mengutip itu tidak sekedar copy-and-paste saja.
Mengutip itu merupakan hal yang umum. Tidak mungkin kita melakukan penelitian semuanya berasal dari diri kita sendiri. Pasti ada hasil-hasil peneliti lain yang kita rujuk. Sebagai rasa hormat, maka etikanya adalah kita berikan penghargaan kepada mereka-mereka yang kita kutip. Maka, kemampuan mengutip itu sangat esensial.

Januari 8th, 2013 at 8:03 am
terima kasih pak
salam
omjay
Januari 8th, 2013 at 8:03 am
Reblogged this on Labschool Jakarta.
Januari 8th, 2013 at 9:46 am
Aku senang dengan kutipan dari tokoh-tokoh menjadikannya tweet dan terkadangan masuk ke dalam tulisan. Dari hasil kutipan bisa terlahir ide baru
Januari 8th, 2013 at 10:22 am
lebih g boleh lagi kalo petugas pemerintahan “mengutip” masyarakat yg sedang ngurus sesuatu..
Januari 8th, 2013 at 12:11 pm
bagus juga biar conten isi beda-beda
Januari 8th, 2013 at 8:47 pm
Yang kita kutip, yang pokoknya aja
Januari 8th, 2013 at 9:15 pm
izin share pak budi
Januari 9th, 2013 at 9:02 pm
saya lagi kena bann untuk membuat kutipan langsung dari pembimbing karena biasanya jadi ngga nyambung dengan gaya bahasa saya dan biasanya itu mengindikasikan saya belum paham apa yang dimaksud penulis aslinya
Januari 14th, 2013 at 3:30 pm
Sebetulnya mengutip (langsung) itu mengambil sebagian tulisan asli dari suatu artikel kemudian menaruh tanda kutip di awal dan di akhir.
Kalau mengambil (makna) tulisan dari suatu artikel kemudian menggunakan (gaya) bahasa sendiri dalam tulisan kita, itu namanya memarafrasekan. Ini diambil dari kata parafrase. Sebetulnya parafrase dapat juga disebut kutipan tak langsung.
Baik membuat kutipan langsung maupun tak langsung (parafrase), jangan lupa menyebut sumbernya. Parafrase cenderung lebih enak dibaca, karena penulis bisa menuangkan alur logikanya dan gaya bahasanya sendiri. Asumsi: penulisnya logis dan cukup mengerti sumber yang dikutip.
Januari 17th, 2013 at 12:41 am
Benar juga sih pak, saya juga suka ngutip.. Malah untuk artikel tertentu saya malah copy paste, kayanya ini jauh lebih aman dari memahami trus menuangkan dalam bahasa kita sendir