Dalam pembicaraan mengenai pengembangan sebuah startup, sering dikatikan dengan ide. Dari mana mendapatkan ide bisnis? Ide ini dianggap penting dalam sebuah binis. Bagi saya ide memang penting karena tanpa ide lantas kita ingin membuat apa, tetapi tidak sepenting eksekusi membuat ide itu menjadi kenyataan. Eksekusi itulah yang paling penting.
Ide itu murah. Ideas are cheap. Banyak yang tidak percaya ini. Kalau ide itu tidak murah, maka mungkin saya sudah kaya luar biasa karena saya punya banyak ide. Yang membuat saya tidak kaya raya adalah karena ide-ide tersebut tidak saya eksekusi menjadi kenyataan. Berikut ini adalah beberapa ide yang pernah saya miliki.
- Membuat sistem (hardware & software) yang membantu dokter untuk melakukan operasi (laparoscopy surgical system) dengan bantuan alat pendeteksi gerakan bola mata. Sempat dieksekusi. Kehabisan uang dan juga ide terlalu advanced. Terlalu cepat untuk waktunya. Ini sekitar tahun 1988an. Sehingga harus ditutup.
- Membuat software untuk mendeteksi penyakit (expert system). (Sekitar tahun 1989) Gagal dieksekusi karena waktu itu tidak memiliki uang untuk membayar programmer.
- Membuat hardware/software untuk melakukan pitch detection sehingga musik bisa mengikuti note/nada yang dinyanyikan penyanyi. Waktu itu sempat buat kodenya dengan menggunakan IBM PC XT. (Lupa tahun berapa. Mungkin sekitar tahun 1990?) Sempat juga buat VLSI chipnya. Tetapi karena waktu itu teknologinya masih mahal sehingga tidak terlaksanan. Ada perusahaan lain yang akhirnya membuat produk yang saya inginkan.
- Membuat browser yang mudah digunakan. Ini jaman ketika Tim Berners-Lee masih mengembangkan WWW. Waktu itu browser yang ada sangat minimal. Ini jaman sebelum Marc Andreessen mengembangan Mosaic, yang menjadi awal dari Netscape, yang menjadi awal dari Mozilla. Tidak saya eksekusi karena waktu itu belum banyak orang yang mengerti WWW dan saya sedang sibuk sekolah.
- Membuat perusahaan komersil yang mendukung Linux. Ide ini saya lontarkan ke kawan ketika dahulu mengoprek Linux di awal-awal pembuatannya (bahkan X Window / X11 pun belum jalan di Linux). Tidak kami eksekusi karena kami sibuk dengan sekolahan. Ini jaman sebelum ada perusahaan seperti Redhat.
- Membuat personal digital assistant, yang berupa sebuah software untuk memantau dan mengelola kegiatan email-email saya. Misalnya ketika mailbox saya mulai membengkak, dia akan mengarchive mail-mail lama, mengunsubscribe milis yang jarang saya baca, dan seterusnya. Saya menerima 500 s/d 1000 email setiap harinya. Yang ini sudah pernah saya coba buat tetapi macet. Terbengkalai.
- Mekanisme pembayaran dengan menggunakan pulsa. Ide ini saya lontarkan di tahun 1997 ke beberapa operator seluler, tetapi tidak ada yang menanggapi karena belum mengerti dan ketakutan (terhadap aturan).
- Menjual musik MP3 legal. Ide ini saya lontarkan sebelum ada iTunes. Sudah saya buat beserta kawan-kawan (Digital Beat Store), tetapi harus ditutup karena kesalahan dalam eksekusi. Akan saya buat lagi dalam bentuk yang lain.
- Membuat program yang menghasilkan topik-topik / ide-ide baru
Yang ini kalah cepat dengan Plinky. Saya sudah buat software kecil-kecilan untuk mainan pribadi saja. - Membuat car stereo dengan menggunakan embeded system atau komputer kecil. Dulu belum ada Arduino atau Raspberry Pi. Belum diekesekusi karena gak punya waktu.
- Menggabungkan steganography dan cryptography. Ada beberapa ide yang mungkin sebetulnya dapat dipatenkan. Sayangnya orang yang diajak mikir tentang ini sudah kabur ke luar negeri (untuk sekolah). Tidak sanggup untuk mengembangkan ide ini menjadi kenyataan.
- Membuat software untuk membuat tarian semudah orang membuat musik. Musik punya MIDI. Sendratari punya apa ya? Lanjutan dari ini adalah membuat Digital Mahabarata, di mana ratusan orang bisa memerankan cerita tersebut secara online.
- Membuat sistem untuk mengelola lawakan, bed-time stories, dan sejenisnya. “Bodor dot net”? wk wk wk. Orang tinggal telepon ke sebuah nomor, melawak atau ngoceh, lantas ocehan ini masuk ke database. Kalau ada orang lain yang dengar (mendengarkan humor atau cerita bobo untuk anak-anak), maka yang bercerita dapat duit (atau pulsa?). Yah Rp 100,- lah. Semacam app store tapi isinya adalah lawakan atau dongeng. Yang ini malah saya sudah punya corat-corentnya dan bahkan sudah saya presentasikan (misalnya di talk saya di Tedx Bandung).
- Jualan lagu digital di SPBU (via bluetooth / WiFi). Jadi orang ngisi bensin sekalian ngisi lagu. Bensin 100 rebu, lagu 7 biji.
Selain ide-ide di atas, saya masih punya banyak ide. BANYAK SEKALI! Mungkin saya harus buat software untuk membantu saya menuliskan ide-ide tersebut. Saking banyaknya. ha ha ha.
Kalau saja ide-ide tidak murah, mestinya saya sudah kaya raya. hi hi hi. Karena ide murah, saya tidak terlalu takut berbagi ide dengan orang-orang. Maka dari itu saya sebetulnya tidak setuju dengan mengunci ide melalui intellectual property rights. Ini topik bahasan lain kali ya.
Ide itu bukannya tidak penting. Dia penting, tetapi lebih penting eksekusinya. Mungkin ide itu dapat dianalogikannya dengan niat. Misalnya Anda punya niat untuk pergi ke Singapura, tetapi Anda tidak melakukan apa-apa maka tidak bakalan sampai ke Singapura. Tentu saja orang lain yang tidak punya niat ke Singapura pun mungkin tidak sampai di Singapura, tetapi ke Jakarta, Kuala Lumpur, Sydney, dan bulan(?). Anda pun tidak boleh marah kalau ada orang yang pergi dan sampai ke Singapura. Kan Anda hanya niat saja
Demikian pula Anda tidak boleh iri ketika orang sukses mengeksekusi sebuah ide menjadi kenyataan meskipun ide tersebut mirip atau sama dengan ide Anda.
Mengapa saya punya banyak ide? Saya selalu melatih diri saya untuk mencari ide *setiap hari*. Ini adalah bagian dari saya untuk melatih kreatifitas. Perlu diingat bahwa kreatifitas tidak hanya untuk bisnis saja, tetapi dia menjadi kebutuhan untuk dunia seni (menciptakan lagu, tulisan, cerita, novel) dan untuk memecahkan masalah (business problems, research problems).

Februari 2nd, 2013 at 9:03 am
Wow, idenya memang banyak dan bagus-bagus pak.
Susah juga fokus untuk eksekusi idenya kalau banyak kesibukan ya pak?
Februari 2nd, 2013 at 9:14 am
Benar mas Budi Rahardjo saya sangat setuju bahwa ide itu murah (namun bisa jadi sangat penting) … dan yg mahal adalah eksekusinya … karena eksekusi adalah costly maka perlu dihargai … misal diberikan HAK CIPTA untuk software … dan bila eksekusi dilakukan secara terbuka dan bersama-sama seperti software open source maka hak ciptanya menjadi milik bersama … dan tidak adil bila menjadi milik yg punya ide … sesuatu yg keren bila upaya eksekusi (membuat) software kemudian diberikan ke publik …
Februari 2nd, 2013 at 4:08 pm
12.Membuat software untuk membuat tarian semudah orang membuat musik. Musik punya MIDI. Sendratari punya apa ya?
lha kok ini menarik yah?
14.Jualan lagu digital di SPBU (via bluetooth / WiFi). Jadi orang ngisi bensin sekalian ngisi lagu. Bensin 100 rebu, lagu 7 biji.
sama ini
13.Membuat sistem untuk mengelola lawakan, bed-time stories, dan sejenisnya. “Bodor dot net”?
ini juga
Februari 2nd, 2013 at 4:52 pm
dari readers blog-nya pak budi nih, ada yg minat kah mengeksekusi ide-ide di atas?
Februari 3rd, 2013 at 1:45 am
Ide datang dan pergi begitu saja.
Tapi langkah yang bagus untuk menuliskan semua ide ide kita supaya bisa di implementasikan oleh generasi selanjutnya bila kita belum mampu menjadikannya kenyataan.
Ngomong ngomong saya juga termasuk orang yang gile ide dan terus melatih kreativitas dengan mencari cara tersimpel setiap hari untuk memecahkan masalah.
Dari ide ide di atas belum ada ide kuliner atau resep makanan nih..
Februari 3rd, 2013 at 12:26 pm
Ada juga yang kebanyakan ide, tapi mentah semua.
Februari 4th, 2013 at 8:10 am
Ide seharusnya secepatnya digarap jangan menunggu waktu lama agar ide itu menjadi kenyataan
Februari 4th, 2013 at 10:57 am
Ide dan tulisan Bapak macem begini yang bikin saya hampir gak pernah absen ngintip blog Bapak setiap hari, hehe, tks Pak Budi.
Februari 4th, 2013 at 10:22 pm
banyak nian idenya.. andai 1 saja dieksekusi, disertai keberuntungan, buku biografi pak budi sdh laris manis di toko buku, steve jobs mah lewattt…
Februari 5th, 2013 at 1:13 pm
Wah saya mesti bersyukur walau pun idenya sedikit tapi sudah banyak yang terealisasi. Hehehe…
Februari 7th, 2013 at 5:52 pm
[...] tulisan terdahulu saya bercerita tentang murahnya ide. Kali ini saya akan lanjutkan [...]
Februari 7th, 2013 at 6:09 pm
Kasi aja ke anak2 yg ngerjain Tugas Akhir, Thesis, dan Desertasi pak
Mei 6th, 2013 at 11:32 am
Simple pak. You are not in the right place and time.
If you WERE in Silicon Valley. The story would be different.