Tidak Kultwit

Entah kenapa saya kok kurang sreg dengan kultwit, yaitu “kuliah” dengan menggunakan twitter. Tentu saja ini bukan seperti kuliah konvensional.

Apa ya yang membuat saya kurang sreg?

Yang pertama adalah ada perasaan kita “merendahkan” (watered down) materi yang ingin kita sampaikan. Bahkan dengan pertemuan tatap muka yang langsung mengajarkan materi saja sudah sulit diserap, ini apalagi dengan menggunakan medium yang hanya 140 karakter. Saya sebetulnya menyukai hal-hal yang baru, maju, terdepan, avant garde, tetapi ini sudah berlebihan.

Yang kedua, twitter adalah media yang sifatnya sekarang. Setelah itu, hilang. Maksudnya begini. Kalau kita ingin melihat catatan “kuliah” kita yang lalu bagaimana? Apakah kita menyimpan apa yang kita tuliskan 6 bulan yang lalu? Yang seperti ini lebih mudah dengan menggunakan blog, misalnya.

Yang ketiga, saya merasa banyak yang melakukan kultwit hanya bertujuan untuk menambahkan jumlah follower. Lah? Bukankah fungsi utama dari kultwit itu adalah “kuliah”? Yaitu mengajari.

Jadi gimana ya? No kultwit for me. At least, for now.

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

16 responses to “Tidak Kultwit

  • DŵĩĔ ĦĕŔmĄńïê

    Memang betul pak… sebagai microblog, twitter sangat membatasi jumlah karakter… sy juga kurang setuju dg istilah “kultwit” itu sendiri… krn tdk ada pembedaan antara materi ajar dg informasi (yg disebut ‘informasi’pun sering tdk valid narsumnya ― bahkan hanya berupa opini seseorang).

    Memang sih, sudah ada platform pendukung yakni “chirpstory” yg disediakan utk merangkum twit² berdasarkan hashtag atau topik² yg dipilih… namun itu cukup merepotkan kita yg sdh capek² “ngetwit”, msh kudu merangkum lagi…

    Kalau di blog, lebih leluasa & penyampaian materi bisa utuh tanpa repot nyingkat² kata spt di twitter … maka sy pun tak heran bila akun @rahard jarang, bahkan hampir tak pernah update … hehe …

    Sekian pak Bud… bila ada waktu, silakan baca² blog pribadi saya (sekalian dikririk & dikoreksi, sy lebih senang) : http://dwiehermanie.wordpress.com
    Terima kasih.

  • Ramania asli

    dosen dg metode kultwit itu cuma cari sensasi sok inovatif. sinatriadan.blogspot.com

  • TUKANG CoLoNG

    atau istilahnya diganti jangan memakai ‘kuliah’?

  • mpig

    Kalau saya sih tidak ada masalah dengan kultwit. Karena sejak awal tujuan ber-Twitter ingin mendapatkan informasi. Kan lumayan pada waktu senggang, melihat linimasa dan mendapatkan ilmu dari kultwit.

    Apalagi saya termasuk orang yang malas membaca. Mendapatkan ilmu dalam 140 karakter itu menyenangkan dibanding harus membaca buku yang bisa buat mengganjal truk pas ditanjakan.

    Dibanding kultwit, saya malah tidak suka orang yang pamer foto di Twitter. Ngetwit foto tanpa ada informasi didalamnya. Andai ngetwit foto makanan, kenapa tidak sekalian kasih info makan dimana + harga + enak/ga enak. Dan ada beberapa hal lain yang saya tidak suka dengan yang dilakukan beberapa orang di Twitter. Tapi saya tidak terlalu ambil pusing karena tinggal unfollow saja.

  • Emanuel Setio Dewo

    Materinya dibuat video saja & diupload ke youtube. Pasti lebih mudah diserap karena mhsw yg tidak mudheng bisa mengulang videonya.

  • afan

    twitter itu lebih cocok untuk kata2 mutiara atau kata motivasi, singkat padat jelas. lebih nyebelin lagi kalo pake fecebook seenaknya saja pada copy paste ke kolom status haduuhhh………..

  • Aga

    kumpulin kultwit itu kan bisa dirangkum jadi chirpstory pak, jadi gak hanya bersifat sekarang. mungkin juga karena gak semua orang punya banyak waktu untuk ngeblog dan takut ide yg dia punya keburu hilang jadi langsung saja ditulis via twitter. menurut saya lebih ke preferensi aja sih pak :)

  • anta40

    Ya memang pertemuan kuliah jangan diganti dengan twitter pak. Dengan bertemu langsung untuk mendengarkan pembahasan saja orang kadang gak langsung mengerti. Apalagi baca timeline twitter. Di sisi lain, “kultwit” maksudnya bukan kuliah dalam pengertian formal yah, tapi membahas suatu ide dalam sederetan twit yang lumayan banyak :D

  • anto

    bukan kuliah tapi tweet bisnis coaching kali

  • FARID We

    Kalau saya sih setuju2 aja pak budi, betul kata pengomentar diatas, kadang untuk membaca yang satu bahasan penuh dengan banyak paragraf di blog, membuat kita udah males duluan untuk baca. nah, dengan kultiwit ini jadi bisa lebih simpel dan langsung ke isi atau inti. tidak banyak bermain kata2 layaknya tulisan yg banyak paragrafnya :D.

    jadi saya kadang lebih seneng baca kultwit. hehe…

  • iscab.saptocondro

    Jika rumus matematika ala LaTeX bisa masuk Twitter, maka kultwit cocok buatku.
    Kalau Twitter bisa keluar suara dosen beserta gerak tubuhnya, maka kultwit cocok buatku.

  • baobaz

    Sifat umum orang salah satunya mudah lupa. Dengan kultwit jadi bisa mengingat-ingat kembali.

    Hidup kultwit.. :)

  • Jay

    just another insight: pernah ada seorang pengguna twitter yang menyatakan bahwa tulisan yang selama ini sudah ia tulis di blog tidak ada komentar apapun, ternyata setelah di kultwit kan banyak yg RT atau comment…

  • roelspace

    setuju 1000% pak Budi, saya comot dan pinjam artikelnya disini aya http://roelspace.posterous.com/no-kultwit

  • Togap Tartius

    menurut saya istilahnya emang kurang pas.
    tapi ya mau gimana lagi udah terlanjur populer..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.742 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: