Arsip Kategori: Bisnis

Perusahaan Besar Bukan Jaminan

Salah satu pembunuh utama dari startup atau perusahaan yang baru dibentuk adalah cash flow. Saya ambil contoh yang umum.

Sering terjadi sebuah startup mendapat pekerjaan dari perusahaan besar. Pekerjaan ini bayarannya cukup besar. Hanya saja ternyata pembayarannya dilakukan di belakang. Karena tergiur oleh uang yang besar – dan kemungkinan juga keuntungan yang besar – maka pekerjaan tersebut diambil. Mengenai term pembayaran yang dilakukan di belakang sebelumnya tidak dikehendaki oleh sang startup. Namun apa daya, perusahaan besarlah yang menentukan term ini. Terpaksa pekerjaan ini diterima. Lagi pula, mereka kan perusahaan besar. Apa yang perlu ditakutkan?

Dalam perjalanannya pekerjaan selesai dikerjakan dengan baik. Kemudian sang startup ini meminta pembayarannya. Nah, masalah mulai muncul. Perusahaan besar ini ternyata pembayarannya tidak lancar. (Saya perlu menuliskan hal ini dengan tulisan yang tebal.) Banyak yang tidak percaya pada awalnya. Bisa jadi hal ini terjadi karena birokrasi atau karena mereka juga punya masalah dengan cash flow mereka. Akibatnya pembayaran tadi tidak tepat waktu. Ini terjadi bukan sekali atau dua kali tetapi sering. Untuk itu, perlu perhatikan sejarah pembayaran mereka. Tanya kepada rekan-rekan lain yang sudah pernah berhubungan bisnis dengan mereka. Bagaimana pembayarannya? Lancar? Itu yang paling penting.

Bagi perusahaan yang cukup stabil, punya uang cadangan yang cukup besar, hal ini tidak terlalu masalah. Masih tetap masalah, tapi bukan masalah kritis. Bagi startup yang mengandalkan adanya uang ini untuk membayar gaji pegawai, sewa kantor, dan biaya operasional lainnya, hal ini merupakan masalah sangat besar. Bahkan bagi banyak startup, lambatnya pembayaran inilah yang membunuh startup itu.

Bayangkan, misalnya sebuah startup membutuhkan biaya operasional Rp. 25 jt/bulan dan dalam rekening hanya ada Rp. 100 juta. Kemudian klien dia – sang perusahaan besar – hutang Rp 300 jt, tapi dibayar tahun depan. Artinya sang startup ini harus berhutang dulu untuk operasional selama satu tahun itu. Mampuslah dia. Itupun kalau tahun depan tepat waktu pembayarannya. Kalau molor (lagi)???

Analoginya adalah cash flow ini seperti aliran darah atau oksigen. Darah harus mengalir terus. Normal. Teratur. Jangan mau ada aliran darah / oksigen yang besar, tapi tahun depan. he he he. Keburu mati kita. Lebih baik pembayaran kecil-kecil tapi reguler dan pasti daripada pembayaran besar tapi tidak terduga-duga. Bikin jantungan.

Itulah sebabnya sebagai startup, berhati-hatilah dalam menerima pekerjaan. Jangan tergiur oleh besarnya nilai proyek, tetapi kesanggupan kita. Bagi sebuah startup seperti contoh di atas, janganlah coba-coba ambil proyek yang bernilai Rp 10 milyar misalnya. Cash flow akan sangat berat sekali.

Hal lain yang sangat penting untuk dipegang, perusahaan besar bukan jaminan akan tepat waktu dalam membayar! Percayalah.


Say No to Walled Garden

Konsep bisnis di internet memang masih membingungkan. Salah satu ide yang pernah diusulkan adalah membuat layanan yang hanya dapat diakses oleh member saja. Misalnya sebuah operator atau penyedia jasa internet memiliki sebuah situs yang hanya dapat diakses oleh membernya. Pelanggan lain tidak bisa mengakses. Tujuannya jelas, yaitu agar orang berlangganan. Konsep ini dikenal dengan nama “walled garden“.

Ide walled garden adalah seolah-olah kita punya kebun yang ditutupi oleh pagar. Hanya orang-orang yang diberi ijin saja, misalnya pelanggan atau yang bayar, yang dapat masuk dan melihat kebun itu.

Pengamatan saya, konsep walled garden ini kurang cocok dan kurang berhasil untuk bisnis berorientasi internet. Jaman internet ini semua berharap mendapatkan akses secara gratis (atau sangat murah). Konsep yang menutup-nutupi seperti ini bertentangan dengan produk teknologi informasi, yang mana produk digital sangat mudah diduplikasi. Pasti saja bocor. Kenapa kita harus berlangganan walled garden?

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesuksesan saat ini lebih banyak kepada konsep berbagi. Sharing. Menutup-nutupi adalah upaya yang sia-sia. Walled garden akan sulit diterima dan sulit untuk sukses.

Herannya, ketika diskusi dengan anak-anak muda yang ingin memulai bisnis, kebanyakan mereka cenderung ketakutan idenya dicuri atau sejenisnya sehingga mereka condong kepada walled garden. Padahal mereka, kalau berada di posisi sebagai pengguna, tidak suka dengan hal itu. Aneh juga. Mengapa membuat layanan dengan konsep yang mereka sendiri tidak suka.

Saya sebagai generasi lama, malah cenderung untuk berbagi. Atau mungkin saya termasuk yang anomali ya? Saya lihat kawan-kawan yang sukses juga adalah orang-orang yang cenderung anti walled garden. Hmm…


Nama Domain Kurang Relevan Lagi

Sekarang sedang ramai-ramainya diskusi tentang ICANN yang membuka top-level domain. Google kemudian mengajukan lebih dari 100 nama domain (top level domain).

Menurut saya, nama domain yang cantik tidak sepenting jaman dahulu. Pasalnya orang mengunjungi situs tidak dengan mengingat-ingat nama domain tetapi dengan menggunakan search engine. Jadi sebetulnya nama domain kita apa saja, selama dapat ditemukan oleh search engine, akan oke saja. Tentu saja nama yang ngaco atau susah njlimet tidak baik, tetapi selain dari itu sih tidak perlu khawatir.

Ini sebenarnya sama dengan nama jalan di dalam kehidupan nyata kita. Selama pak pos dapat mengantarkan surat dan paket ke alamat kita dengan cepat dan yang lebih penting, tidak nyasar, kita senang.

Banyak-banyakan nama jalan juga sudah tidak penting lagi. Jadi jumlah domain di sebuah TLD juga tidak terlalu penting lagi.

Banyaknya top level domain yang baru ini bikin susah! Bagi perusahaan, semakin banyak top level domain, semakin bikin susah! Alasannya adalah perusahaan harus mendaftarkan nama perusahaan dan merek terkenal kita di semua domain tersebut. Sebagai contoh, Google / Apple / IBM / … terpaksa mengambil nama-nama itu di domain yang baru. Bagi mereka sih tidak masalah. Bagi pengusaha kecil (UKM), mosok kita harus mendaftarkan nama perusahaan (web) kita ke semua top level domain yang baru itu? Wah ekonomi berbiaya tinggi nih namanya.


Mencari Uang Dari Bisnis Digital

Warga digital Indonesia sudah mencapai jumlah yang cukup besar untuk sebuah komunitas. Bayangkan saja, jumlah pengguna Kaskus sudah lebih dari 4 juta orang. Pengguna Facebook dari Indonesia sudah di atas 30 juta. Bandingkan ini dengan penduduk Singapura yang mungkin hanya 5 juta orang. Adalah sangat wajar jika kita berharap ada transaksi bisnis yang terjadi di komunitas tersebut.

Namun pada kenyataannya jumlah transaksi yang terjadi di komunitas digital Indonesia belum banyak. Salah satu dugaan penyebabnya adalah tidak adanya mekanisme atau alat pembayaran yang pas di komunitas tersebut. Sebetulnya kalau dikatakan tidak ada juga kurang tepat karena ada. Bahkan ada beberapa metoda pembayaran (termasuk micropayment). Mungkin lebih tepat kalau dikatakan bahwa skala dari masing-masing metoda pembayaran tersebut masih terlalu kecil. Seharusnya mereka berkolaborasi untuk menciptakan satu pembayaran yang lebih besar.

Saya menduga hal lain, yaitu sistem pembayaran elektronik yang ada saat ini masih belum pas dengan situasi dan kultur kita. Sebagai contoh, warga digital Indonesia kebanyakan adalah anak muda yang tidak memiliki kartu kredit atau bank account. Selain itu sebagian besar orang Indonesia tidak terlalu berani menggunakan kartu kredit untuk pembayaran online. (Masalah kepercayaan. Distrust society?) Akibatnya kita harus mencari sistem pembayaran yang khas Indonesia. Nah, ini perlu penelitian, yang mungkin hanya dapat dilakukan oleh orang Indonesia karena orang Indonesialah yang mengerti kondisinya.

Back to the question, how do we monetize our digital lives?


Untuk Juara-juaraan Saja

Beberapa waktu yang lalu ada yang bertanya di sebuah milis, “apakah ada contoh business plan yang memenangkan lomba?”  Saya jadi bingung, kenapa harus yang memenangkan lomba? Mengapa yang dicari bukan business plan dari sebuah perusahaan (kecil) yang sudah sukses? Memang saya melihat ada beberapa kompetisi bisnis yang membutuhkan business plan dari pesertanya, tetapi sesungguhnya kompetisi ini ditujukan agar para pesertanya menjadi entrepreneur bukan menjadi juara pembuat business plan.

Oh ya, saya cek kawan-kawan yang sukses dalam bisnisnya, tidak jarang yang tidak memiliki business plan secara formal tetapi mereka tahu yang mereka inginkan dan dapat menjabarkannya secara rinci. Dengan kata lain, mereka lebih menjiwai bisnis tersebut daripada orang yang membuat business plan hanya sekedar untuk menjadi juara dalam kompetisi business plan. Jadi saya khawatir ini hanya untuk juara-juaraan saja.


Pendanaan Startup di Bidang ICT

Besok, tanggal 24 April 2012 pukul 13:00, saya akan memberikan presentasi (dan sekaligus menjadi moderator nampaknya) di acara e-Indonesia Initiatives. Tempat di Aula Barat, ITB. Sesi saya adalah tentang ICT dan Venture Capital. Materi presentasi dapat diunduh di scribd:

Bagi yang kesulitan melihat dokumen di atas, dapat mengambil dokumen di sini.

Semoga bermanfaat.

Link terkait: berita di Daily Social.


Dibeli Untuk Dimatikan?

Baru saja ada kabar tentang instagram dibeli oleh facebook. Bagi pembuat instagram ini berita baik. Soalnya dibelinya juga dengan tidak murah, alias US$ 1 milyar. Pendirinya langsung kaya raya. Bagaimana dengan pengguna instagram?

Sebagai pengguna layanan tersebut, pengguna boleh was-was. Pasalnya kita tidak tahu bahwa layanan itu dibeli untuk dibesarkan (dan kemudian dijual lagi?) atau dibeli untuk dimatikan (karena dianggap sebagai pesaing atau menguntungkan pesaing). Ada yang mengatakan dulu snaptu dibeli oleh facebook karena snaptu banyak meningkatkan pengguna twitter, yang notabene dianggap sebagai musuh dari facebook. Saya dulu rajin menggunakan snaptu di handphone sampai akhirnya dia hilang dan harus menggunakan facebook di handphone. Grrr…

Ada banyak cerita lain yang sejenis, seperti delicious yang dibeli oleh Yahoo! tetapi Yahoo! sendiri sudah memiliki layanan bookmark. Akhirnya delicious juga hilang.

Jika Anda pendiri perusahaan seperti yang diceritakan di atas, bagaimana perasaan Anda? Senang (karena dapat banyak uang)? Sedih karena ide Anda, your baby, dibeli untuk dimatikan?


Lulusan Jakarta Founder Institute

Baru saja membaca email dari Novistiar di milis StartupLokal yang memberitakan tentang lulusan Jakarta Founder Institute. Berita lengkapnya ada di sini. Secara total, di skala dunia ada 72 new startups (dari 485 total). Selamat kepada para lulusan. Semoga startupnya maju dan sukses.

Novistiar juga memberikan statistik ini di emailnya (see the plug :) hi hi hi)

Statistik: 132 pendaftar, 43 diterima, 13 lulus dengan 8 startups
Lulusan terbaik: Antonius Taufan, Fokado (hadiah USD 1,000)
Mentor terbaik: Peter Vesterbacka, Izak Jenie, Budi Rahardjo
Hadiah: Rp. 5 juta dalam bentuk VPS dari Wowrack untuk setiap startup
Saya senang terlibat dalam program-program semacam ini. Sekali lagi, semoga sukses. Kami akan pantau dan bantu terus.

Dicari: aplikasi yang khas Indonesia

Teknologi informasi (IT) sedang naik daun lagi. Banyak yang membuat perusahaan baru (startup) dengan basis layanan IT. Hanya saja sayangnya aplikasi yang ada hanya meniru-niru aplikasi yang sedang populer di Amerika. Padahal ada banyak aplikasi yang khas Indonesia. Maksud saya adalah aplikasi yang sesuai dengan kultur orang Indonesia. Saya akan coba bahas lebih jauh.

Akui saja bahwa bangsa kita bukan bangsa yang senang membaca. (Meskipun ini mungkin berubah.) Lihat saja di sekeliling kita. Di berbagai tempat di luar negeri, kalau orang berpergian maka yang dibawa salah satunya adalah buku. Di perjalanan mereka asyik membaca buku. Di dalam transportasi umum mereka membaca. Sementara di kita, orang cenderung ngobrol. Bukan berarti ngobrol lebih buruk daripada membaca lho. Beda. Itu saja. Sekali lagi, beda.

Dalam pertemuan-pertemuan di luar negeri, hampir selalu ada risalah pertemuan (minutes of meeting, MoM). Bahkan di kelompok organisasi kecil pun ada MoM ini. Di kita? Jarang ditemui kelompok yang menggunakan MoM. MoM biasanya terjadi di pertemuan yang formal, seperti di perusahaan-perusahaan. Di rapat RT atau organisasi mahasiswa, jarang ada risalah pertemuan. Di tempat kerja kami, ada MoM yang selain dicatat juga direkam.

Rekam. Ini merupakan sebuah pendekatan kultural. Karena kita malas menulis, maka kira rekam saja. Teknologi sudah memungkinkan hal tersebut. Kalau dahulu, ketika voice recorder masih mahal, maka pendekatan rekam ini hampir tidak masuk akal. Sekarang dengan menggunakan mp3 player atau handphone hal ini memungkinkan.

Kembali ke topik. Karena di luar negeri mode yang digunakan adalah baca/tulis maka aplikasi yang muncul adalah aplikasi baca/tulis. Web dan blog merupakan aplikasi baca/tulis. Bahkan, aplikasi pencari – search engine – yang paling banyak digunakan orang pun adalah yang terkait dengan baca/tulis. Yahoo! dan Google mencari data berdasarkan tulisan (teks).

Kalau kita ingin mengacu kepada kultur kita, maka dibutuhkan layanan yang dapat (1) menyimpan rekaman pertemuan (minutes of meeting in audio format), (2) melakukan pencarian (audio search engine – yang mencari isi dari audio! bukan sekedar nama berkasnya saja), dan (3) menampilkannya dalam bentuk yang mudah. Aplikasi atau layanan seperti ini dahulu tidak memungkinkan karena ukuran storage yang dibutuhkan pasti sangat besar. Sekarang ini sudah memungkinkan. (Youtube saja menyimpan video yang ukurannya lebih besar dari audio.) Kecepatan jaringan juga sudah memungkinkan.

Aplikasi semacam ini mungkin tidak terlalu menjadi perhatian di luar sana (baca: Amerika) karena ini tidak memecahkan masalah mereka. Mereka tidak punya masalah dengan baca/tulis. Tentu saja. Kita punya masalah. Jadi yang mengembangkan aplikasi seperti ini harusnya kita-kita. Tentu saja ini tidak mudah. (Searching audio content is not easy!) Justru di sinilah menariknya. This is the road less travelled. Any takers?


Kesulitan Startup Hardware

Beberapa waktu yang lalu ada yang bertanya kepada saya, apa kesulitan yang dihadapi oleh perusahaan (atau kalau kita memulai usaha – starting up) yang bergerak di bidang hardware (baca elektronik). Menurut saya ada tiga masalah (1) sumber daya manusia (SDM), (2) biaya untuk manufakturing (dalam skala besar), dan (3) masalah distribusi produk.

Yang pertama adalah soal SDM. Saat ini susah sekali untuk mendapatkan SDM bagus di bidang hardware / elektronik. Sebagai contoh, di perguruan tinggi kebanyakan mahasiswa memilih informatika (computer science) dibandingkan elektro. Bahkan di dalam elektro sendiri, banyak mahasiswa yang akhirnya tugas akhirnya menjadi pemrograman web atau sejenisnya.

Pernah saya tanya kepada mahasiswa saya (kebetulan saya dosen di Teknik Elektro), mengapa dia mengambil topik tugas akhir pemrograman. Alasan sang mahasiswa adalah programming lebih mudah dibandingkan membuat hardware. Saya bilang bahwa itu karena programming yang dia lakukan bukan programming yang sesungguhnya (hanya main-main). Serious programming sama sukarnya dengan membuat rangkaian.

Singkat kata, hardware dianggap lebih susah sehingga tidak banyak orang yang mau menekuni itu. Sebagai perusahaan, apa lagi startup, kita tentu saja harus harus mendapatkan orang hardware yang bagus. Lebih susah lagi. Susah mendapatkan SDM hardware.

Biaya yang lebih mahal. Untuk membuat produk software, modalnya hanya komputer saja. Sementara untuk membuat produk hardware ada bahan baku (komponen) yang harus dibeli. Salah sedikit, harus keluar uang lagi untuk beli komponen. Akibatnya, untuk membuat prototype saja harus keluar uang banyak.

Katakanlah kita sudah berhasil membuat sebuah produk yang bagus. Untuk membuat produksi dalam skala besar ternyata menjadi masalah selanjutnya. Misalnya, ada yang minta dibuatkan perangkat dalam jumlah 100.000. Kita belum sanggup membuat produk hardware dengan skala yang besar. Biasanya untuk hal seperti ini kita outsource ke perusahaan di Cina. Selain mereka memiliki sistem manufakturing yang bagus, harganya juga menjadi lebih murah.

Distribusi produk. Adanya internet membuat produk software menjadi sangat murah untuk didistribusikan. (Hampir) zero cost. Sementara untuk menjual produk hardware, ada benda fisik yang harus dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Ada biaya – dan kadang mahal juga. Distribusi produk hardware merupakan hambatan tersendiri yang membuat startup hardware menjadi susah.

Selain ketiga hal di atas masih ada tantangan lain bagi perusahaan yang bergerak di bidang hardware, tetapi tiga di atas menurut saya merupakan hal yang terberat. Selain tantangan tentu saja ada banyak hal juga yang membuat startup di hardware menarik, yaitu … tidak banyak saingan (karena jarang yang mau). Jadi, tertarik untuk membuat startup hardware?


Bandung Digital Valley

Hari ini, PT Telkom meresmikan program mereka yang diberi nama Bandung Digital Valley. Tempatnya ada di RDC Telkom (dahulu Risti?) yang di jalan Geger Kalong. Sukses kepada PT Telkom.

Ada yang tahu informasi lebih lengkapnya?


Mahasiswa dan Entrepreneurship

Minggu-minggu terakhir ini saya banyak diminta untuk berbicara soal entrepreneurship, khususnya yang terkait dengan tenologi – technopreneurship. Yang mengelola acara-acara ini kebetulan adalah mahasiswa ITB, misalnya IF association dan Himpunan Mahasiswa Elektro (HME). Dengan senang hati saya bercerita mengenai pengalaman saya dalam mendirikan perusahaan. Tentu saja ceritanya tidak semua hal yang menyenangkan.

[foto sertifikat dari IF Association dan HME ITB]

Hal yang saya tekankan adalah pentingnya mencoba untuk menjadi entrepreneur ketika menjadi mahasiswa. Alasannya adalah kesalahan atau kegagalan lebih dapat ditolerir ketika menjadi mahasiswa. Oh, mahasiswa ya. Langsung dimaklumi. Sementara kalau seseorang sudah lulus, maka harapan dari banyak pihak (orang tua, keluarga, masyarakat) adalah untuk menghasilkan uang. Sementara kalau kita memulai entrepreneurship, belum tentu usaha yang kita mulai itu langsung sukses.

Ada pertanyaan yang menarik, apakah kalau kita mencoba menjadi entrepreneur ketika mahasiswa akan mengganggu nilai kuliah? Secara jujur, saya jawab … ya. Bagi seorang dosen, hal ini memberatkan bagi saya. Saya ingin mahasiswa saya lulus dengan tepat waktu dan dengan nilai yang maksimal (kalau bisa A semua). Sayangnya kurikulum yang ada saat ini umumnya tidak mendukung entrepreneurship. Mahasiswa terlalu dibebani dengan tugas-tugas kuliah sehingga jika waktunya tercuri untuk melakukan usaha entrepreneurship pastinya akan ada efeknya terhadap perkuliahan.

Yang lebih repot lagi, contoh-contoh pengusaha yang sukses banyak yang bahkan drop out dari kuliahnya. Hadoh. Meskipun lebih banyak lagi yang kuliahnya juga sukses dan bahkan sampai S3. Yang ini perlu kita diskusikan lagi :)


Seputar (bisnis) Mikroprosesor

Saya mengikuti twitter dari seorang sohib saya yang dulunya bekerja di Intel, Santa Clara, sana. Sekarang saya tidak tahu apakah dia masih di sana atau sudah pindah ke tempat lain. Kadang dia menuliskan sebaris kalimat tentang Intel atau kondisi di Silicon Valley. Salah satu yang menarik bagi saya adalah pertanyaannya tentang di mana Intel berada saat ini?

Kalau kita perhatikan, prosesor produksi Intel sempat menjadi juara dunia. Sebagian besar prosesor di komputer diproduksi oleh Intel (dan saingannya AMD). Ini juga didorong dengan adanya sistem operasi Microsoft Windows yang sebagian besar memang berada di platform Intel. Itu jamannya komputer masih merajai dunia. Sekarang jaman sudah berubah. Handphone menguasai dunia dan sebentar lagi tablet juga akan meningkat populasinya. Perhatikan bahwa untuk platform handphone dan tablet ini hampir tidak ada yang menggunakan prosesor intel. Kebanyakan mereka menggunakan arm-based processor. Hmmm…

Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah masih akan berkembangnya bisnis mikroprosesor. Tadinya saya mengira bisnis proses sudah jenuh. Adanya prosesor Intel yang hebat, disertai dengan multiple core, maka kemampuan komputasi meningkat dengan luar biasa. Siapa yang membutuhkan komputasi? Toh komputer kita paling kita gunakan untuk menulis (wordprocessor), sedikit menghitung (spreadsheet), dan multimedia (memainkan musik, video, dan sejenisnya). Prosesor yang ada sudah lebih dari cukup. Mengapa kita perlu beli lagi (upgrade) processor?

Perusahaan pembuat prosesor berpikir keras agar orang mau upgrade. Akhirnya ketemu juga “jawabannya”. Harus ada aplikasi-aplikasi yang super intensif komputasinya. Salah satunya adalah aplikasi yang menggunakan bahasa Java. Karena sifatnya yang menggunakan virtual machine, maka Java membutuhkan prosesor yang lebih bagus agar terasa nyaman. Nah, bisa jualan lagi.

Setelah Java, apa lagi ya? Ternyata ada lagi, yaitu adanya javascript dan pemrograman web yang interaktif. Saat ini aplikasi berbasis web mulai lebih interaktif. Salah satu cara untuk mengimplementasiannya adalah dengan menggunakan javascript yang berjalan di dalam browser pengguna. Javascript, JSON, dan kawan-kawan ini bisa mendorong orang untuk upgrade prosesor (komputer) lagi.

Maka … menarik nafas legalah para pembuat mikroprosesor. Orang masih (terpaksa) upgrade prosesor. hi hi hi.


Cerita Sukses dari Marvell

Kemarin, di kampus (ITB), pak Gani Jusuf datang lagi. Pak Gani, mewakili perusahaan Marvell, memberikan talk show mengenai perusahaan Marvell. Ini bukan perusahaan komik lho, tapi perusahaan elektronik yang cukup besar di Silicon Valley. Yang membuat kita tertarik dengan cerita sukses dari Marvell adalah pendiri dari Marvell adalah orang Indonesia, Sehat Sutardja dan Pantas Sutardja. Pak Gani sendiri juga merupakan salah satu (dari 7) pegawai awal dari Marvell.

Pak Gani menceritakan status perusahaan Marvell sekarang, yang selalu untung dari segi finansial dan memiliki banyak produk yang menarik. (Lihat situs webnya untuk melihat produk-produknya.)

Produk awal dari Marvell adalah chip untuk Read Channel yang digunakan untuk membaca data dari fisik harddisk dan kemudian mengubahnya menjadi bentuk digital. Penemuan ini membuat mereka menjadi sukses dan dominan di dunia disk. Setelah itu mereka banyak membuat produk (chips) yang lain; networking, client (tablet, handphone), printers, green energy, dan seterusnya.

Marvell merupakan perusahaan fabless, yang artinya adalah mereka tidak punya pabrik. Yang mereka hasilkan adalah desain (dan tentunya sampai kepada prototipe untuk meyakinkan klien bahwa produknya memang berfungsi). Itulah sebabnya sebagian besar pekerjanya bergerak di bagian penelitian (R&D) dan umumnya memiliki gelar S2 ke atas.

[mahasiswa yang mendengarkan talk show, dan perwakilan Marvell di Singapura - saya lupa namanya]

Hal yang menyenangkan bagi saya tentang kedatangan pak Gani dan Marvell ini adalah adanya bukti bahwa orang yang bergerak di bidang hardware pun bisa sukses. Sekarang kebanyakan mahasiswa – bahkan mahasiswa elektro / elektronika pun – lebih menyukai pemrograman web :)  Bukan berarti bahwa software tidak penting (di Marvell software juga penting karena harus dapat menujukkan fungsi chips sampai ke aplikasi), tetapi bidang hardware masih sangat menarik. Bahkan, pak Gani mengatakan bahwa kalau kita punya skill hardware maka saingan kita lebih sedikit. Betul juga ya …


Dari Perguruan Tinggi Menuju Industri

Baru saja saya membaca sebuah artikel dari IEEE Software, edisi September/Oktober 2011. Judulnya adalah “Technology Transfer: A Software Security Marketplace Case Study”. Artikel ini menceritakan pengalaman Gary McGraw, founder dari Cigital, memulai sebuah riset di tahun 1992 sampai akhirnya menjadi perusahaan yang kemudian dibeli oleh HP pada bulan September 2010.

Perjalanan sebuah teknologi yang dikembangan di perguruan tinggi atau kemudian keluar menjadi startup company sampai menjadi sebuah perusahaan besar (atau bahkan industri) tidak mudah. Sebagian besar justru gagal. Kebanyakan teknologi yang dihasilkan hanya menjadi onggokan tulisan saja, yaitu makalah dalam seminar atau jurnal. Yang berhasil sampai ke tahap startup pun kebanyakan mati di perjalanannya. (Bisa baca juga tulisan ini, “Driving innovation across the valley of death“.)

Ada upaya-upaya untuk membuat perjalanan lebih selamat. Salah satu yang dialami oleh Cigital adalah adanya bantuan dari pemerintah dalam bentuk pendanaan (misalnya untuk memajukan paten, dan sejenisnya). Hasil dari bantuan itu membuat perusahaan mereka menjadi hidup dan akhirnya dilirik oleh venture capital. Setelah didanai oleh VC pun masih ada kemungkinan mati di tengah jalan. Untungnya untuk cerita Cigital ini, perusahaan yang kemudian dibangun bisa lebih maju dan pada akhirnya dibelih oleh HP.

Pelajaran apa yang dapat diperoleh dari cerita di atas? (1) Perjuangan dari penemuan teknologi sampai menjadi perusahaan ternyata masih berat dan membutuhkan waktu yang lama; (2) pemerintah bisa membantu perusahaan agar memiliki kesempatan hidup yang lebih panjang dengan berbagai program; (3) dibutuhkan kesabaran.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.071 pengikut lainnya.