Category Archives: Bisnis

Kuliah Entrepreneurship Menghasilkan Entrepreneur?

Dalam sebuah seminar tentang entrepreneurship ada sebuah komentar (dan pertanyaan) dari peserta. Dia mengajar kuliah entrepreneurship dan ternyata tidak banyak yang menjadi entrepreneur. Adakah kiat-kiat untuk meningkatkan jumlah lulusan yang menjadi entrepreneur?

Saya jadi teringat jaman dahuluuu … waktu saya masih kuliah S1 di ITB. Salah satu mata kuliah yang populer waktu itu adalah kuliah Agama Budha. Setahu saya, kawan-kawan yang mengambil kuliah tersebut bukan ingin mempelajari agama Budha tetapi karena potensi mendapatkan nilai “A”-nya sangat besar. Jadi mereka mengambil kuliah tersebut karena nilainya, bukan karena isinya. Saya menduga kuliah-kuliah yang lainpun sebagian besar dipilih karena ini. Termasuk kuliah sang penanya tersebut.

Saya banyak memberikan presentasi, kuliah, dan mentoring yang terkait dengan entrepreneurship. Memang terlihat sebagian besar hanya ingin mengetahui kuliahnya. Siapa tahu di kemudian hari mereka ingin menjadi entrepreneur. Yang langsung memang serius ingin menjadi entrepreneur saat itu juga nampaknya minoritas. Perkiraan saya kurang dari 10%. Ini hanya perkiraan saya saja ya karena saya belum mengumpulkan data sungguhan.

Ada yang mengatakan untuk menjadi entrepreneur tidak perlu harus kuliah-kuliahan. Langsung saja jadi entrepreneur. “Kuliah” diperoleh dari pengalaman. On the street. Pendapat ini ada benarnya, tetapi kalau kita mengetahui teorinya seharusnya potensi kegagalan dapat dikurangi. Saya sendiri termasuk yang menganut “kerjakan dahulu, baru cari teorinya”. hi hi hi. Perlu ditekankan bahwa saya tertarik mencari teori dari apa yang saya kerjakan sehingga dapat bereaksi dengan lebih baik (terhadap situasi yang dihadapi).

Saya jadi teringat ada orang yang merasa bahwa kuliah computer science / ilmu komputer / informatika itu tidak penting. Langsung saja belajar dari “idiot guide to programming” atau “programming xyz in 21 days”. hi hi hi. Iya sih kalau hanya sekedar membuat program sih bisa saja, tetapi begitu kita menghadapi sistem yang besar maka teori itu penting. Sama seperti membuat rumah. Kalau membuat rumah satu tingkat, ngasal aja juga bisa. Tapi kalau kita mau buat hotel 100 tingkat, yang ini harus punya ilmunya.

Kembali ke topik utama. Jadi bagaimana agar kuliah entrepreneurship dapat menghasilkan lebih banyak entrepreneur ya?


Fokus!

Salah satu topik diskusi pada mentoring kelas entrepreneurship beberapa hari yang lalu adalah soal fokus. Ketika menjalankan sebuah layanan atau mengembangkan sebuah produk, seringkali kita menemukan ide baru. Sayangnya ide baru itu kadang berbeda dengan layanan / produk yang sedang kita kembangkan. Contohnya, ketika kita sedang mengembangkan sebuah aplikasi, tiba-tiba ada tawaran untuk membuah desain web site. (Atau malah ekstrimnya, tawaran untuk usaha kuliner. Jauh amat bedanya.) Ide baru tersebut seringkali diiming-imingi dengan imbalan finansial yang lebih menarik. Jawaban terhadap ini adalah FOKUS!

Jika kita kehilangan fokus, maka layanan / produk yang sudah ada menjadi tertunda atau bahkan malah terbengkalai. Padahal boleh jadi layanan yang sudah ada ini yang ditunggu-tunggu oleh pengguna. Maka kita akan kehilangan pengguna dan kehilangan potensi bisnis.

Fokus, fokus, dan fokus.

Analoginya adalah seperti kita berada di Bandung dan ingin pergi ke Surabaya. Dalam usaha untuk menuju ke sana, tiba-tiba ada tawaran ke Thailand. Itu arahnya sudah berbeda sekali. Jika kita tidak fokus, maka Surabaya tidak akan pernah dapat kita capai.

Dalam sebuah layanan / produkpun kita masih punya masalah dengan fokus. Seringkali muncul ide baru dalam bentuk fitur. Fitur-fitur ini seringkali tidak esensial dan pasti akan membuat pengembangan menjadi terlambat. Kalau dalam pengembangan produk software, ini masalah dalam requirement yang terus bergerak. Hampir dapat diduga bahwa software tidak akan pernah jadi jika requirement terus berubah. Maka, katakan tidak untuk fitur. Itu dapat dijadikan untuk pertimbangan dalam versi berikutnya. Untuk saat ini, fokus kepada spesifikasi awal.


Hambatan Menjadi Entrepreneur

Salah satu hambatan terbesar untuk menjadi entrepreneur adalah mengatasi ego. Yang saya maksud dengan ego di sini adalah rasa arogansi, kebangsawanan, ketinggian, atau sejenisnya. Saya masih mencari kata yang lebih tepat. Contohnya begini, misalnya seorang lulusan perguruan tinggi dengan gelar S2 merasa malu kalau berjualan mie baso di pinggir jalan. Saya kan lulusan perguruan tinggi! Begitu kira-kira ekstrimnya.

Itulah sebabnya lulusan perguruan tinggi sering sulit untuk diajak menjadi entrepreneur. Saya kan sudah susah-susah sekolah, sudah bayar mahal, mengapa hanya jadi entrepreneur? “Hanya”? Nah itu dia. Padahal menjadi entrepreneur dapat menjadi solusi masalah ekonomi (dan sosial) di negara kita.

Bagaimana mengatasi ego ini? Atau setidaknya mengurangi rasa malu ini? Jawaban yang singkat adalah “just do it”. Langsung dikerjakan saja. Kalau berenang, langsung loncat ke kolam renang. he he he. Tentu saja ada cara-cara agar risiko kegagalan menjadi minimal. Misalnya kalau mau loncat ke kolam renang, ya setidaknya harus bisa ngambang lah. Jangan gaya batu. hi hi hi. Atau, ada penjaga kolam renang yang dapat menolong ketika kita akan karam.,

Sebetulnya ada latihan-latihan yang dapat dilakukan untuk mengurangi ego ini. Salah satu contohnya adalah mencoba dengan hal yang kecil. Ambil contoh begini. Beli kacang bungkus (atau permen, kertas tissue, atau apa saja yang mudah dibeli dan tidak rusak). Kemudian Anda coba jual itu di pasar malam, acara-acara, atau ke teman. Harganya buat sama dengan harga belinya. Tujuannya bukan untuk mencari keuntungan tetapi mencoba apakah Anda mau melakukannya. Sekedar “mau” saja. Itu saja. Latihan seperti ini dapat dilakukan untuk mengurangi rasa ego tersebut.

Semoga semakin banyak generasi muda entrepreneur yang sukses di Indonesia.


Seperti Partai Politik Saja

Saya punya analogi khusus untuk menggantikan kata ilusi (atau halusinasi?), yaitu “seperti partai politik saja“. hi hi hi. Kata-kata ini saya gunakan ketika ada seorang calon start-up yang membuat sebuah aplikasi dan merasa bahwa aplikasinya itu bakal populer. Dengan sok pastinya, sang (calon) entrepreneur mengatakan bahwa aplikasinya akan digunakan sekian puluh ribu orang. Ini sama dengan partai politik yang merasa pasti bahwa dia akan mendapatkan kemenangan karena mendapatkan dukungan yang banyak. hi hi hi.

Masalahnya adalah cara mereka untuk mengukur diterimanya aplikasi (atau partai politik) oleh masyarakat itu salah. Mereka melakukan survey di lingkungan mereka sendiri. Partai politik A melakukan survey ketika sedang melakukan musyawarah partai A. Ya sudah jelas semuanya akan pilih partai A. ha ha ha. Demikian pula yang terjadi dengan survey kepopuleran aplikasi tersebut, yang salah adalah bagaimana mereka melakukan surveynya.

Akhir-akhir ini media sosial seperti facebook dan twitter ramai orang mempromosikan (dan lebih banyak lagi yang menjelek-jelekkan) calon presidennya. Begitu ada yang me-like, mereka berpikir bahwa mereka mendapat dukungan. Ya iyalah. Yang memberikan dukungan jelas dari lingkungannya sendiri (seperti contoh survey di acara musyawarah partai itu sendiri di atas). ha ha ha. Ini adalah ilusi. Analogi ini yang saya gunakan untuk start-up.

Orang juga berpikir bahwa dengan menuliskan sesuatu di internet, mereka dapat mengubah pemikiran (pilihan) orang. Padahal ini tidak terjadi. Apalagi yang terjadi dalam media sosial bukanlah diskusi (untuk mendapat masukan tentang apa yang dituliskan) tetapi adalah berdebat tentang ego dari orang-orang itu. Content tidak jadi bahan diskusi. You won’t get anything new from when you started. Ini hanya pertarungan ego – siapa yang lebih tahan berdebat saja. Itu saja. It doesn’t prove anything (related to the content).

Kembali ke soal calon start-up yang ingin mendapatkan masukan mengenai produk (aplikasi) yang mereka kembangkan, mereka harus melakukan survey dengan cara yang benar. Ini ada ilmunya. (Calling Syaiful from MBA SBM ITB.) Jadi jangan “seperti partai politik saja” ya.

Oh ya, bagi yang membacanya terburu-buru, ini tulisan lebih tentang entrepeneurship bukan tentang politik lho.


Nambah Artis dan Lagu

Baru saja saya selesai menandatangani kontrak dengan pak Bambang, yang membawa enam (6) artis / band untuk dimasukkan ke Insan Music Store. Masih ada tiga (3) band lagi yang akan dimasukkan segera. Mungkin lusa. Yang baru masuk adalah Manic Band, Shieraru Band, Parasti Band, Aya Agasi, Randa Hutagalung, dan Haji Atik Kobe. Keren!

DSC_3507 bambang br 1000

Selain berdiskusi tentang artis / band tersebut, kami juga membahas hal lain seperti buku, produk multimedia, dan banyak lagi. Ada banyak yang dapat disinergikan. Pak Bambang ini ternyata super sibuk juga dengan berbagai komunitasnya; mulai dari musik, teater, buku, sampai juga agama. Keren. Mungkin ke depannya kita bisa menyelenggarakan event bersama.

Artis / band yang lain masih ditunggu. Semoga kita sukses bersama.


Menjadi Entrepreneur

Kemarin pagi, saya harus bangun pagi sekali. Setelah Subuh, saya memasukkan barang-barang ke mobil. Semalam barang-barang tersebut sudah disiapkan. Penuh sesak mobil dengan gitar (5 biji), meja, kursi plastik, notebook music store, kamera, dan seterusnya. Setelah itu berangkat menuju jalan Dago untuk bukan stand di Car Free Day (CFD).

Saya membayangkan para entrepreneur yang lain juga melakukan hal yang sama. Bangun pagi dan bekerja dengan keras. Kalau tidak punya keinginan untuk menjadi entrepreneur, sudah pasti lebih enak tidur lagi di hari Minggu ini. Bangun agak siangan. hi hi hi.

Teringat kata-kata seorang entrepreneur, “There are too many reasons to quit. Any normal person would just quit.” Menjadi entrepreneur itu pantang menyerah. Ada terlalu banyak tantangan. Lebih mudah dan lebih masuk akal untuk menyerah dan menjadi pegawai saja.


Karakteristik Bandung Car Free Day

Hari ini untuk kedua kalinya kami buka lapak toko musik digital kami (Insan Music Store) di Bandung Car Free Day (CFD). Tujuannya masih seperti sebelumnya, yaitu untuk memperkenalkan layanan kami. To test the market, sort of speak.

Saya melihat bahwa tujuan mayoritas dari pengunjung CFD adalah untuk berjalan-jalan. Berolahraga sambil rileks dengan keluarga atau teman. Tadinya saya pikir kebanyakan adalah duduk nongkrong beli ini dan itu. Ternyata mereka tidak membeli. Mereka berjalan. Saya perhatikan yang jualan minuman di samping stand kami tidak berhasil menjual minumannya. Sebetulnya terjual tetapi nampaknya tidak seperti yang dia harapkan. Di depannya, jualan es lilin, demikian pula. Samping kanan jauh, jualan otak-otak juga demikian. Ada yang beli tetapi tidak banyak.

Untungnya tujuan kami berada di sana bukan – belum – untuk berjualan tetapi justru untuk mendapatkan lagu-lagu dari artis / band yang sudah memiliki lagu dalam format digital. Nampaknya kalau untuk berjualan, mungkin CFD bukan tempatnya. Entahlah kalau kami nanti sudah mulai menggelar lapak digital kami; lengkap dengan access point dan notebook untuk mendengarkan musik. We’ll see.

Saya belum tahu apakah yang berjualan di Gasibu (sekarang seberangnya, yang lebih dekat ke Unpad) memiliki karakterisik yang sama atau tidak. Mungkin ada yang tahu? Sementara ini kalau Anda ingin berjualan dengan skala yang besar di CFD, pikir-pikir dulu.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.935 pengikut lainnya.