Category Archives: Curhat

Eid Mubarak – Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H

Kartu Eid 1000

Mohon maaf lahir dan bathin …


Menjelang Akhir Ramadhan

Kemarin pas lagi tarawih, Pak Lubis pengurus masjid bilang agak tidak enak badan. Wah sama. Beberapa hari terakhir ini kepala saya sering terasa berat dan pusing. Entah mungkin karena kurang minum, tekanan darah menurun, atau apa saya tidak tahu. Walhasil, saya banyak beristirahat (baca: tidur hi hi hi). Mungkin banyak orang yang kurang sehat karena cuaca kota Bandung yang mendung dan hujan terus. Ditambah puasa, rasanya semakin dingin. (Puasa dijadikan alasan. he he he.)

Di sisi lain, puasa juga membuat kita makan tepat waktu dan memilih makanan yang relatif bagus karena kita tahu kita akan berpuasa. Dari sisi ini pertahanan badan kita mendapat asupan yang bagus. Kalau tidak puasa, mungkin malah makan seenaknya dan malah lebih mudah jatuh sakit ya. Ada bagusnya puasa.

Besok hari terakhir puasa untuk Ramadhan tahun ini. Semoga lancar. Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal afiat. Amiiinnn.


Sekarang Giliran Hacker

Ternyata copras capres masih ribut juga. Kali ini yang mendapat sorotan spotlight adalah … hacker. Ya ampun. Mulailah ada tuduhan-tuduhan bahwa suara digelembungkan oleh hacker. Bahkan sampai ada yang menggabungkan berita bahwa ada hacker asing yang tertangkap dan mereka menggelembungkan suara di KPU. Padahal kedua event itu tidak ada hubungannya. ha ha ha.

Terus mulai juga muncul cerita tentang kerentanan sistem KPU. Yang ini malah menyeret-nyeret nama saya untuk ikut berkomentar. Komentar saya adalah … tidak tahu. Lah wong saya betul-betul tidak tahu faktanya.

Sebagai orang teknis yang menyayangi bidang saya, saya tidak ingin asal komentar tanpa data. Saya harus melihat sistemnya, poke here and there, test this and that, baru bisa mengatakan sesuatu. Kalau sekarang, komentar saya tidak ada manfaatnya. As good as yours. Apakah saya tertarik untuk mengevaluasi ini? Tidak. Kecuali memang saya di-hire secara resmi untuk melakukan evaluasi. Setelah ada data, baru bisa komentar.

Sementara ini saya jadi penonton dulu saja. Sambil ngelus dada. Kemarin yang diobrak abrik adalah ilmu statistika. Sekarang, heker. Eh, information security.


Cita-cita Jadi Presiden

Sah sudah pak Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden Republik Indonesia dan pak Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Satu hal yang menarik bagi saya adalah peristiwa ini membuka mata kita bahwa siapapun dapat menjadi presiden. Pak Jokowi yang mengawali karirnya dari usaha mebel dapat menjadi presiden. Luar biasa.

Sekarang kita dapat berkata kepada anak-anak kita, kau bisa menjadi presiden.

Anak-anak di seluruh penjuru Indonesia dapat bercita-cita jadi presiden.

You can be anything you want to be, kid.

Ah betapa indahnya. Keep those dreams alive.

Soundtrack … “Jadi Presiden“.


Kemenangan Itu …

Bagi saya, kemenangan itu sudah terjadi ketika saya mencoblos di pilpres kali ini. Saat itu juga. Yang saya maksud dengan kemenangan ini adalah kemenangan diri. Saya berubah dari tidak peduli menjadi peduli. Yang tadinya golput, sekarang memilih. Ada banyak alasannya, tetapi nampaknya semuanya bermuara kepada ketulusan hati dari para orang-orang. Bagi saya ini sebuah kemenangan.

Lepas memilih itu, sesungguhnya saya tidak terlalu mempermasalahkan capres mana yang akhirnya menang dan terpilih jadi presiden Republik Indonesia. Saya punya kecenderungan, tentunya, tetapi bagi saya masalah yang menang ini atau itu adalah ujian lain. Itu adalah ujian kejujuran sistem dan ditegakkannya keilmuan (sains). Itu tidak lagi bergantung kepada saya.

Jadi inget mas Sobur lagi yang mengatakan “bagi BR, semuanya adalah perayaan”. Ah, so true … hi hi hi


Kabar Gembira

Ada kabar gembira untuk Anda sekalian. Bukan, bukan ekstrak kulit manggis tetapi anak-anak muda Indonesia berkarya!

Salah satu karya yang sedang ramai diperbincangkan adalah karya kumpulan anak muda, yang dimotori oleh Ainun dan kawan-kawannya, kawalpemilu.org. Ini adalah situs yang mengambil data form C1 dari situs KPU dan melakukan konversi dari gambar hasil scan menjadi angka dan melakukan operasi penjumlahan hasil pilpres. Ini merupakan sebuah implementasi nyata dari open data, open government, dan memberdayakan warga (empowering people). Keren sekali.

Hal-hal seperti ini yang membuat saya kembali yakin akan masa depan Indonesia yang cerah. Hebat.

Untuk anak-anak muda seperti Ainun dan kawan-kawan, semoga tidak menjadi lupa diri, sombong, arogan, merasa serba tahu, dan sejenisnya. Tetap gunakan ilmu padi. Oh ya, jangan keseringan masuk berita juga sih. hi hi hi. Keep low profile. I know it’s hard to say no to all the spotlights, but you have to say no. Keep on creating master piece(s).

Oh ya, perlu juga kita apresiasi upaya-upaya yang dikerjakan oleh kelompok-kelompok lain seperti terlihat dalam daftar berikut (dari Kaskus). Keren! You guys rock!

Update: nambah lagi www.pilpres2014.org
The data is obtained by automatic crawling http://pilpres2014.kpu.go.id/ periodically and updated every 6-12 hours. This site is built on top of Windows Azure USA cloud technology and many open source technologies such as KnockoutJS, JQuery, .NET Framework, HTML5, GitHub, Visual Studio 2013, D3 Visualization.
The source-code is shared in Pilpres2014 GitHub under APACHE 2.0 license. Made by Indonesian Microsofties, Henry Tan, Ph.D in Comp Sci, held several patents, previously in Bing team, now working in Microsoft Research.


Semangat Positif

Di tengah deru pertengkaran di media sosial mengenai pilpres, kita membutuhkan semangat positif. Aura negatif, permusuhan, sumah serapah, seharusnya sudah habis. Dan sekarang pun kita masih di bulan Ramadhan, yang seharusnya dapat menahan nafsu (amarah) kita.

Kemarin melihat seri “secret millionaire”, yaitu sebuah acara di mana seorang yang kaya raya (millionaire) menyaru sebagai orang biasa dan masuk ke daerah yang membutuhkan bantuan. Kebetulan yang saya tonton adalah versi Inggris. Eh, terhanya di Inggris sana masih banyak daerah yang terpuruk ya? Saya baru sadar. Ada daerah yang tingkat penganggurannya sangat tinggi. Kemiskinan melanda. Anak-anak muda berkeliaran tanpa tujuan. Hasilnya adalah kejahatan dan kekerasan.

Namun pada kondisi yang susah ini ternyata masih ditemukan orang-orang yang memiliki semangat positif. Mereka bekerja memperbaiki kondisi yang terpuruk ini. Mereka tidak tinggal diam. Padahal mereka-mereka ini bukan orang yang kaya. Bahkan ada yang miskin juga. Yang mereka miliki adalah semangat untuk membangun. Semangat positif. Nah, orang-orang seperti ini yang kita butuhkan. Orang-orang yang memberi inspirasi sehingga orang lain pun tertular semangat positif ini.

+ p + o + s + i + t + i + f +


Berapa Jam di Media Sosial?

Sebetulnya berapa jam waktu yang kita habiskan di media sosial, seperti facebook, twitter, dan sejenisnya? Saya merasa kebanyakan waktu saya terbuang ke sana. Apabila waktu tersebut kita gunakan untuk membaca buku, sudah berapa buku yang kita tamatkan?

Saya tidak mengatakan bahwa waktu yang kita gunakan di media sosial hilang dengan percuma. Eh, mungkin sebaiknya memang dikatakan ya? hi hi hi. Produktifitas kita turun gara-gara media sosial. Apalagi sekarang dengan adanya pemilihan presiden.

Eh, apakah ada aplikasi (mungkin plugin di browser) yang dapat mengukur waktu yang kita habiskan untuk situs-situs tertentu? Mungkin menarik untuk mendapatkan statistiknya ya.


Terinspirasi

Great leaders inspire action

Terus terang saya sedang terkesima melihat kreatifitas yang muncul dengan fenomena Jokowi. Banyak pendukung Jokowi yang membuat komik, lagu (original song), musik, video, games, dan banyak lagi. Keren-keren. Hebatnya adalah bukan satu atau dua orang, tetapi banyak orang.

Saya mencoba mengingat-ingat kapan terakhir ada tokoh yang begitu menginspirasi banyak orang secara positif? Saya juga ikut terinspirasi untuk berbuat baik. Tetap positif. Keren.


Ramadhan Sewaktu Kecil

Di depan rumah ada beberapa anak-anak sedang ngabuburit, istilah bahasa Sunda untuk menunggu berbuka puasa. Mereka ngobrol dan becanda. Sayangnya ngabuburit-nya di pinggir jalan sehingga agak khawatir keamanannya. Maklum di tempat kami sudah mulai susah ruang publik. Mereka akan berbuka puasa di masjid dekat rumah kami.

Saya mencoba mengingat-ingat Ramadhan sewaktu kecil dulu. Dulu waktu Ramadhan, saya ke masjid karena ada tugas mencatat khutbah Jum’at dan kuliah subuh. Seingat saya, kuliah subuh hari Sabtu dan Minggu di masjid Salman itu ramai dengan anak-anak seperti saya. Setelah mencatat, maka kami meminta tanda tangan penceramahnya. Atau kalau di Salman dulu dibagikan stiker yang bisa kami tempel di buku catatan sebagai tanda kehadiran. Nanti ketika masuk sekolah lagi, buku catatan tersebut dikumpulkan.

Bulan puasa juga banyak liburnya. Maka waktu itu banyak waktu saya habiskan untuk ke perpustakaan dekat rumah. Ada sebuah perpustakaan di depan Pasar Simpang (jalan Cisitu Baru?) yang dikelola oleh seorang nenek-nenek. Saya berlanganan di sana. Berbagai buku saya baca mulai dari komik (Yan Mintaraga, Teguh, dll.), Karl May, dan tentu saja Kho Ping Hoo. Tamat itu semua.  Harusnya yang dibaca Al Qur’an ya? Maklum, masih jaman jahiliyah. hi hi hi.

Bagaimana Ramadhanmu sewaktu kecil?


Memilih

rexgreymon tegas pilih2

ketika harus memilih …


Alasan Tidak Ngeblog, Ketiduran

Beberapa hari ini saya tidak berhasil ngeblog. Alasannya baru lagi, yaitu ketiduran. he he he. Sungguh. Sebetulnya ketidurannya itu merupakan akibat dari kelelahan. Sebagai contoh, hari Rabu kemarin saya harus bolak balik Bandung Jakarta. Berangkat dari Bandung pukul 3:30 pagi dan kembali dari Jakarta sore hari (tapi sampainya malam hari karena macet di jalan tol Cipularang). Sampai di rumah sudah tidak sanggup ngeblog.

Sebetulnya ada waktu untuk ngeblog tetapi waktunya kurang pas. Misalnya, pas saya terbangun lewat tengah malam – pukul 1 pagi – sebetulnya saya bisa ngeblog. Hanya saja saya sudah tidak mood untuk menulis. Kalaupun saya ngeblog, bisa-bisa saya tidak tertidur sampai pagi dan paginya malah tidak bisa kerja. Dilema. Akhirnya tidak ngeblog.

Waktu-waktu ke depan seharusnya kesibukan berkurang, tetapi seperti yang sudah-sudah ternyata tetap saja sibuk. Ya sudah. Semoga bisa mencari celah waktu untuk ngeblog sehingga target saya untuk ngeblog tiap hari tidak meleset terlalu jauh.


Adakah Orang Baik?

Konon, kita ini termasuk ke kategori distrust society. Maksudnya kita ini senengnya curiga. Curiga dulu baru setelah terbukti, percaya. Kalau di tempat lain, katakanlah di daerah Amerika Utara, mereka percaya kepada orang. Bahwa orang itu pada dasarnya baik, kecuali terbukti jahat.

Tadinya saya pikir kita ini bangsa yang ramah dan percaya kepada orang lain. Entah kapan kita menjadi berubah. Penyebabnya juga apa ya? Mungkin karena kita terlalu banyak ditipu sehingga kita menjadi begini?

Pertanyaan “adakah orang baik” di Indonesia ini mungkin dulu akan saya jawab, ada tapi susah. Jarang. Atau bahkan, tidak! Itu dulu ketika saya curigaan. Setelah di luar negeri saya melihat bahwa pada dasarnya justru orang itu baik. Saya berbalik. Kembali ke Indonesia pada awalnya saya juga ragu. Eh, tetapi ternyata saya menemukan orang-orang baik di Indonesia. Orang-orang yang “gila” (atau waras ya?) karena mau berbuat baik. Ada orang yang menggelontorkan uangnya untuk kepentingan komunitas. Dan hebatnya, ini ternyata tidak tergantung kepada kekayaan yang bersangkutan. Kaya atau miskin ternyata tetap saja ada orang yang gila bener baiknya. Akhirnya saya memilih untuk mendekat dengan orang-orang seperti ini.

Repotnya, sebagian besar orang Indonesia tidak percaya adanya orang yang baik. Belum apa-apa yang muncul adalah tuduhan ini dan itu. Yang paling sering sih tuduhan pencitraan. he he he. Dari mana kita tahu itu beneran atau bukan? Ya kita harus berinteraksi dengan yang bersangkutan untuk jangka waktu yang lama. he he he.

Untuk mengubah mind set dari banyak orang memang tidak mudah. Dibutuhkan keteguhan – atau kegilaan? – untuk menyadari bahwa ada orang baik di Indonesia ini. Mereka adalah orang yang berkarya membuat perubahaan meskipun diolok-olok. They keep my hope alive. And they make me want to be a better person.


Berbagi Kegembiraan

Kalau Anda perhatikan, di halaman media sosial saya (facebook dan twitter), kadang saya menampilkan tulisan / gambar / berita tentang copras-capres. Dalam hal ini saya tidak bermaksud untuk mengubah pendapat orang agar memilih sesuai dengan pilihan saya. Saya berpendapat bahwa setiap orang sudah punya pilihannya masing-masing. Nah, mengapa menuliskan status tentang salah satu capres? Apa tujuannya?

Tujuannya, bagi saya, ada berbagi kegembiraan. Sharing happiness. Berbagi kebahagiaan. Tentu saja ini sangat subyektif, akan tetapi ada hal yang penting yaitu tidak mungkin saya berbagi kebahagiaan kalau apa yang saya tulis berisi hal-hal yang menjelek-jelekkan orang lain. Bahagiakah Anda jika Anda mengolok-olok orang lain? Gembirakah Anda jika Anda menghina orang lain? Memfitnah? Bagi saya, tidak!

Maka daripada oleh sebab itu … hi hi hi … saya menahan diri untuk meneruskan (forward) berita-berita yang negatif. Kadang ada hal-hal “lucu” yang saya baca, tetapi itu tidak lucu bagi orang yang bersangkutan karena berisi olok-olok atau penghinaan. Maka saya tidak berminat untuk meneruskannya. Stop. Itu bukan berbagi kegembiraan.

Yang susah adalah meneruskan tulisan yang kritis. Ini sebetulnya masih oke, tetapi perlu hati-hati karena kadang ditanggapi dengan negatif (jika dibaca terlalu cepat dan tidak dipahami). Pertimbangan bahwa tulisan ini kritis harus dilakukan dengan masak-masak. Pikir ulang. Are you happy with it? Would others be happy with it?

Demokrasi seharusnya merupakan perayaan, maka marilah kita rayakan dengan kegembiraan bersama. Ini adalah PERAYAAN BERSAMA. It’s our celebration.


Menikmati Hidup

Beberapa hari terakhir ini ada beberapa orang (sebetulnya hanya 3) yang bertanya kepada saya kenapa saya terlihat happy-happy saja. Menikmati hidup. hi hi hi. Bahkan mas Sobur mengatakan bahwa bagi pak Budi ini semuanya adalah perayaan. ha ha ha.

Jawaban saya terhadap pertanyaan “kenapa” adalah mengapa tidak? Why not? ha ha ha. Ini jawaban model apa sih? Lha pertanyaannya adalah kenapa. Kalau pertanyaannya adalah “bagaimana agar dapat menikmati hidup”, jawabannya lebih susah. Saya sendiri sebetulnya belum tahu jawaban tepatnya.

Mungkin ini disebabkan karena saya melihat “1/2 gelas yang terisi” sedangkan orang lain banyak yang melihat “1/2 gelas kosong”. Dalam bahasa lain, saya lebih positive-thinking.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar kita dapat menjadi lebih positive-thinking? Yang saya lakukan adalah belajar dari orang lain. Melihat pengalaman-pengalaman orang lain. Atau malah lebih tepatnya adalah belajar dari kegagalan-kegagalan orang lain sehingga kita dapat lebih menghargai apa yang kita peroleh. Ada banyak biografi yang menceritakan kesulitan dalam hidup orang-orang yang sukses. Alhamdulillah kita tidak mengalami kesulitan yang mereka hadapi. Jika mereka dapat mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut dan kemudian menjadi sukses, mengapa kita tidak?

Hal lain yang saya lakukan adalah mencari orang-orang yang memiliki pemikiran atau values yang sejalan. Berkumpul dengan orang-orang yang waras. Eh, atau yang tidak waras ya? hi hi hi. Saya melihat bahwa ternyata kumpulan yang saya dekati adalah kumpulan orang-orang yang berpikiran positif juga. Nampaknya ini juga merupakan salah satu cara untuk lebih meningkatkan ke-positif-an kita. Reinforcement learning? Mungkin itu juga sebabnya Anda bergabung dengan blog ini? Agar lebih positif. hi hi hi.

Begitulah kira-kiranya cara saya agar dapat lebih menikmati hidup. Semoga bermanfaat.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.