Arsip Kategori: Curhat

No Politik

Hasil pengamatan sementara ini adalah topik politik menarik minat banyak orang. Kalau blog kita ingin banyak pengunjungnya maka bahaslah soal politik. hi hi hi. Nah, karena topik politik menjadi mainstream, maka saya mencoba untuk menghindari topik itu. Padahal ada banyak hal yang ingin saya bahas, atau lebih tepatnya saya tanyakan. Ini kita tunda saja sampai pemilihan presiden selesai saja ya.

Topik apa yang tidak mainstream ya? hmmm …

(Sementara itu saya sedang dalam mode super sibuk. Serius. Bukan cari-cari alasan. Jreng!)


Sterilisasi Kampus?

Kemarin saya mendapat kabar bahwa Jokowi akan memberikan kuliah terbuka di kampus ITB hari ini. Maka setelah turun dari pesawat (saya baru kembali dari acara InnovFest 2014 di Singapura – cerita menyusul), saya menuju kampus ITB. Tadinya saya pikir acaranya biasa-biasa saja. Yang datang cukup satu aula (Barat atau Timur) saja lah. Biasanya kan kalau pejabat datang ke kampus ya segitu saja pesertanya. Eh, ternyata begitu sampai kampus heboh banget.

Banyak mahasiswa di luar yang mendemo kedatangan Jokowi ke kampus ITB. Katanya mungkin mendekati 100 orang. Ada spanduk dan ada yang berorasi di depan Aula Timur. Saya bergegas menuju pintu masuk yang sudah dikunci. Ada penjaga yang mengenal saya sebagai dosen dan memperbolehkan saya masuk. Maka saya masuk dan menuju bagian belakang aula yang sudah padat. Jumlahnya? Wuih gak tahu saya. Yang pasti, Aula Timur penuh sesak. Nampaknya yang mau mendengarkan Jokowi lebih banyak.

Pak Jokowi baru maju ke dapan setelah acara dibuka Rektor ITB. Setelah mengucapkan salam, pak Jokowi menjelaskan bahwa kedatangannya ke kampus adalah atas undangan ITB untuk menandatangani kerjasama ITB dengan DKI. Kesempatan ini digunakan pula untuk mengisi kuliah terbuka. Tetapi karena ada pro dan kontra dan agar tidak ada keributan di dalam, maka pak Jokowi memutuskan untuk tidak jadi mengisi kuliah terbuka. Begitu dia menutup. Mungkin kurang dari 5 menit. Wah. Bagi saya, sebetulnya perbedaan pendapat di kampus itu adalah yang biasa. Jokowi bisa saja memberikan kuliah tentang DKI.

Di akhir ada mahasiswa yang memberikan penjelasan (berorasi) bahwa mahasiswa tidak mendukung capres tertentu. Ok no problem. Yang heran adalah mahasiswa menginginkan sterilisasi kampus dari politik.

Hmmm… saya jadi berpikir puluhan tahun ke belakang. Akhir tahun 70-an terjadi kericuhan di kampus ITB (dan kampus-kampus lain di Indonesia), antara mahasiswa dengan militer. Pemerintah mencoba membuat kampus steril dari politik. Mahasiswa tentu saja tidak mau diatur oleh pemerintah. Maka para mahasiswa ini melawan. Kampus bahkan diduduki militer. Pada akhirnya kampus berhasil ditundukkan. Disterilkan.

Sangat terbalik dengan sekarang. Mahasiswa bahkan ingin memandulkan dirinya sendiri.

Saya ingat sebuah pendapat dari seorang Profesor (yang saya lupa sumbernya). Mahasiswa (ITB) tidak perlu terlibat politik praktis, tetapi mahasiswa tidak boleh buta/bodoh politik. Nah. Lantas bagaimana mahasiswa dapat mengerti politik jika tidak belajar di kampus? Hadirkan tokoh-tokoh di kampus. Treat them like a regular person. Biasa-biasa wae lah. Mengapa demikian ketakutannya mahasiswa dengan politik? Demikian lemahnyakah mahasiswa sekarang? Mahasiswa seharusnya dapat membuat dirinya kuat dan tidak terpengaruh dengan (partai) politik, tetapi tidak dengan membuat dirinya steril.

Nampaknya usaha pemerintah mengendalikan mahasiswa berhasil. Mahasiswa sekarang memang sudah menjadi anak baik yang fokus kepada kuliah dan lulus saja. Mahasiswa menjadi tidak relevan dan tidak perlu ditakuti oleh pemerintah lagi. Mahasiswa sudah menjadi kucing, bukan harimau. Kita tunggu saja nanti. Kekurangan pemimpin akan terus berlangsung. Golput akan tetap menjadi dominan.

Rasakno

Link serupa:

 


Inovasi Dari Indonesia?

Diskusi (atau mungkin lebih tepatnya debat kusir) yang sedang ramai kali ini adalah masalah politik. Bosen ah. Lebih baik kita diskusi topik lain saja. Saya mau mengangkat topik inovasi. Mumpung lusa saya akan berbicara tentang hal ini.

Pertanyaan saya adalah “apa ada inovasi yang muncul dari Indonesia?”.

Sebagai contoh, saya melihat beberapa “inovasi” yang terkait dengan start up di Indonesia lebih ke arah menjiplak yang sudah ada. Misalnya ada yang membuat sesuatu yang mirip Facebook, Twitter, Groupon, dan seterusnya. Saya belum melihat sesuatu yang betul-betul baru. Inovasi. Ada contoh?

Yang kedua, mengapa inovasi pada jaman sekarang banyak datang dari Amerika? Padahal orang-orang yang cerdas banyak di Asia. Apakah ini terkait dengan cara pendidikan di Asia? Atau faktor lain? Lingkungan? Alam? Budaya? Agama? Atau apa ya?


Refleksi Pileg 2014

Ini merupakan catatan saya terhadap pileg 2014. Saya bukan pelaku politik. Bahkan pengamat yang cermatpun bukan. Jadi ini hanya sekedar catatan pribadi yang mungkin menarik bagi sebagian orang. Apa yang saya tuliskan tentunya menjadi sangat subyektif. Sah-sah saja jika Anda tidak sependapat.

Yang pertama dahulu. Banyak orang yang menginginkan Jokowi menjadi presiden tetapi tidak ingin memilih PDIP sebagai partai pilihannya. Ini merupakan hal yang sulit. Bagaimana kalau golput (tidak memilih partai) dan PDIP tidak mendapatkan suara yang cukup sehingga tidak dapat mengajukan Jokowi? Atau lebih parah lagi memilih partai lain dan kemudian partai lain ini mengusuk calon presiden yang tidak kita inginkan. Maka banyak orang yang  terpaksa memilih PDIP. Dugaan saya sih lebih banyak yang golput untuk urusan ini.

Coba saja partai lain mengajukan Jokowi sebagai capresnya, saya menduga akan banyak suara yang mengalir ke mereka. Eh, malah partai lain tersebut mengajukan calon yang mboten-mboten. hi hi hi. Coba saja PBB, PKB, atau PPP mengajukan – atau bahkan sekedar mengindikasikan – Jokowi jadi calon presiden mereka, mungkin mereka mendapat tambahan suara dari orang yang ingin Jokowi tapi tidak PDIP.

Hal kedua, banyak simpatisan PKS yang nampaknya sekarang tidak menjadi simpatisan lagi. Mereka saya duga memilih untuk menjadi golput atau memilih partai Islam lainnya, mungkin ke PKB. Jangankan untuk menjadi juara, untuk mengalahkan Golkar saja tidak bisa. hi hi hi. Jangankan Golkar, yang lainnya juga tidak bisa.

Saya melihat PKS menjadi kurang simpatik, terlalu arogan dan eksklusif. Sebagai contoh, mereka merasa bakal mendapatkan suara sangat banyak. Padahal sudah diberitahu oleh simpatisannya bahwa mereka tidak memilih PKS lagi. Ada perbedaan antara memiliki target dan arogan. hi hi hi. PKS memang sedang kena gempur berbagai kasus. Sebetulnya kalau saja mereka mengakui kekurangan dan kesalahan yang ada dan melakukan perubahan dan berjanji tidak lagi, bukannya mencari-cari alasan atau pembenaran, maka simpatisan akan memaafkan mereka. Dan akan memilih mereka lagi. Para simpatisan ini tahu bahwa banyak orang PKS yang baik-baik dan sungguh-sungguh. Hanya saja di jajaran atasannya yang parah. Masih ada kesempatan bagi PKS untuk memperbaiki dan mendapatkan dukungan dari rakyat.

Selesai pileg. Sekarang pilpres, menurut saya sudah mudah. Saya tidak perlu sebutkan capresnya, kan? :)


Memilih Prioritas Kegiatan

Saya super sibuk dan banyak orang yang tidak percaya dengan itu. Percayalah. hi hi hi. Yang menjadi masalah bagi saya adalah memilih kegiatan / aktifitas mana yang harus saya kerjakan. Sebagai contoh, dalam satu hari ada beberapa kegiatan yang saling berebut; mengajar (kuliah) di ITB, bimbingan mahasiswa, permintaan presentasi di Jakarta, permintaan presentasi oleh mahasiswa oleh sebuah kampus di Jawa Timur, shooting video untuk kelas online, latihan band, dan pertemuan dengan calon klien perusahaan. Dalam seminggu, mungkin ada tiga hari seperti itu. hi hi hi.

Algoritma saya adalah membuat prioritas, tetapi inipun masih belum ada rumus bakunya. Yang pertama saya lakukan adalah menghapus yang tidak kritis dan tidak penting amat. Misalnya kalau ada permintaan muncul di TV, maka itu yang saya coret dulu. hi hi hi. Kemudian kalau ada yang dapat ditunda ke hari lain, minggu lain, bulan depan, maka itu diturunkan prioritasnya. Misalnya untuk sekedar diskusi dengan klien dapat saya tunda. Baru kemudian yang harus dilakukan pada saat itu juga ditambah prioritasnya. Misalnya kelas (yang sudah beberapa kali ditinggalkan) harus diadakan karena sulit bagi mahasiswa untuk sering-sering membuat skedul. Ini yang seringkali membuat prioritas mengajar menjadi paling atas. Kelas pun kadang (tidak sering) saya tunda karena ada seminar yang memang harus dilaksanakannya hari itu juga atau sidang mahasiswa yang memang harinya sudah tidak dapat diganti lagi.

Begitulah … p u y e n g


Ketika Spek Komputer Tidak Ditemukan

Penjaga toko komputer: Mau cari apa, pak?

Saya: Notebook, prosesor i5, RAM 4 GB. (Dalam hati saya berpikir bahwa spesifikasi komputer seperti ini semestinya mudah tersedia. Sebetulnya kebutuhannya sih prosesor i7 atau Xeon, memory minimal 8 GB dan desktop.)

Penjaga: Adanya netbook dengan prosesor Atom dan memori 256 MB, pak. Mau?

Saya: Wah nggak cukup itu.

Penjaga: Memangnya untuk apa pak kok sampai tidak cukup?

Saya: Untuk main Dota 2. (Padahal sebetulnya komputer itu akan digunakan untuk memproses data yang banyak, big data, dengan Javascript, Node.js, dan lain-lain yang membutuhkan komputasi cukup besar di komputer. Tapi nanti kalau disebutkan alasan sesungguhnya, sang penjaga mungkin gak ngeh.)

Penjaga: Adanya hanya netbook pak

Saya: Memangnya bisa dipake untuk keperluan saya?

Penjaga (ragi-ragu): Bisa pak, tapi harus penuh dengan kesabaran.

Saya: Wah mendingan main tetris saja kali ya? (Ngeloyor pergi.)

Kalau Anda, apakah Anda akan beli juga itu netbook? Cerita ini dapat juga dianalogikan dengan keberadaan partai politik dan calegnya. Mereka masih netbook dengan prosesor Atom.


Mengejar Impian

Saya harus sering-sering bersyukur karena diberi berbagai kemudahan dalam hidup ini. Sebagai contoh, saya mengimpikan memiliki toko musik digital yang dapat menjual musik digital legal. Ini sebetulnya bukan khayalan. Ini adalah ide yang masuk akal. Impian itu pun sudah saya eksekusi sebelumnya menjadi Digital Beat Store. Sayangnya toko digital ini harus kami tutup karena satu dan lain hal. Berdasarkan pengalaman dan kesalahan yang pernah kami temui, maka saya memulai kembali untuk membuat toko musik digital. Hari ini kami mencoba jualan (atau lebih tepatnya beli). Sebuah soft launching.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Yang pertama adalah bersyukur karena diberi kesempatan dan sumberdaya untuk merealisasikan impian saya. Ada banyak orang yang punya ide tetapi tidak memiliki kesempatan. Mungkin dia terlalu sibuk atau idenya tersebut tidak mendapat prioritas. Ada juga yang punya kesempatan tetapi tidak punya sumber daya (uang, manusia, hardware, software, dan lain-lain) untuk mengimplementasikannya. Ada yang punya kesemuanya tetapi tetap juga tidak merealisasikan impiannya.

Ketekunan merupakan satu hal lagi yang ingin saya sampaikan. Banyak orang yang mudah menyerah. Bahwa ada hambatan dalam merealisasikan impian itu sudah pasti. Kalau tidak ada tantangan, semua orang mungkin sudah merealisasikan impian kita itu. Mungkin namanya bukan impian tapi keseharian :)

Perjuangan untuk merealisasikan sebuah impian seringkali panjang dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Maka keteguhan dan percaya kepada impian tersebut merupakan sebuah hal yang mutlak harus dimiliki. Seringkali di tengah jalan kita menjadi tidak yakin akan impian kita tersebut. Dapatkah dia direalisasikan? Kita harus percaya, dapat!

Kembali lagi kepada hal yang pertama, harus banyak-banyak bersyukur. Alhamdulillah.


Lapak Toko Musik Digital Bandung

Pagi ini kami buka lapak di Bandung Car Free Day. Tepatnya di depan Bank Muamalat Dago samping RS Boromeus, depan SMAN 1 Bandung. Anda dapat membawa musik MP3 Anda untuk kami jualkan di tempat kami.

insan music store

Kami tadi buka lapak mulai dari pukul 6:30 pagi sampai pukul 10:00, batas akhir car free day. Pada awalnya CFD tidak begitu ramai. Kelihatannya puncaknya adalah sekitar pukul 8 s/d 9 pagi. Pada awalnya tidak ada yang peduli tetapi mendekati pukul 10 justru malah banyak yang datang. Ada sekumpulan anak-anak yang tertarik. Saya tanya mereka punya band atau lagu atau tidak. Ternyata mereka senang menyanyikan lagu buatan mereka sendiri yang beraliran Ska. Langsung saya minta main di tempat. Saya bantuin gitarnya. hi hi hi.

DSC_3299 ska kids 1000

Saya lupa menanyakan kepada mereka apa nama groupnya. Kalau ada yang kebetulan melihat ini dan tahu, tolong beritahu saya supaya bisa saya tuliskan di sini. Saya minta mereka merekam lagunya dan nanti kami bantu jualkan. Bahkan pas lagi ngobrol begitu ada kawan yang punya tempat (kantor) di sebelah atas CFD yang mempersilahkan kami untuk membuat panggung di sana. Tuh nanti bisa manggung di sana.

DSC_3295 ska kids 1000

Bahkan setelah jam 10 pun kami masih berada di sana. Sebabnya adalah ada seorang ibu tua, berumur 80 tahun, yang tiba-tiba minta saya untuk menggitari dia menyanyikan lagu berbahasa Jepang! (Saya lupa judul lagunya, tetapi masih ingat lagu itu ketika jaman SD dulu. Lagunya rasanya tentang Gunung Fuji.) Ibu ini ternyata pernah mengarang beberapa mars untuk beberapa pihak. Dia menunjukkan foto-fotonya. Salut!

DSC_3307 ibu jepang 1000

Kami memang tidak menggunakan banner yang besar karena membuatnya membutuhkan waktu 3 atau 4 hari. Sementara itu keputusan untuk muncul di CFD juga sangat mendesak. Karena tulisannya kecil, orang hanya melewati saja. Yang mau nanyapun ragu-ragu dan malu-malu.  Lain kali kami akan membawa banner.


Masih Soal Toko Musik Digital

Beberapa hari ini saya masih memikirkan soal toko musik digital kami. Hari Minggu – ya, betul, besok! – kami mau buka lapak di Bandung Car Free Day. Ini sih modal nekad saja. Pasalnya kalau tidak diniatkan dan dinekadkan begini mungkin tidak maju-maju. Jadi besok mau buka lapak saja.

Tujuan utama besok adalah untuk melihat situasi pasar, memperkenalkan diri, dan mencari band / artis / musisi yang berminat memasukkan lagunya di toko musik kami. Itu saja. Jadi hari ini saya masih kirim email ke sana ke mari untuk memberitahu soal ini. Dadakan juga sih. Soalnya hari-hari sebelumnya saya disibukkan oleh urusan kuliah dan sejenisnya.

Semoga lancar besok. Jreng!


Mengapa Golput?

Bagaimana mungkin saya memilih partai (dan caleg) dalam pemilihan umum caleg minggu depan ini?

  1. Untuk memilih nomor urutan caleg ini ditentukan oleh partai. Mau menentukan diri sendiri saja di dalam partainya sendiri saja sudah tidak bisa. Apakah yang seperti ini sanggup mengurusi negara? (Itulah sebabnya saya juga tidak menuruti anjuran untuk memilih caleg bukan urutan teratas.)
  2. Semua partai memiliki masalah internal yang luar biasa banyaknya. Untuk membenahi partainya sendiri saja sudah tidak bisa, apalagi mau mengurusi negara. Partai ini merongrong calegnya. Jeratan partai ini sulit dilawan.
  3. Caleg yang terlihat baik, setelah menduduki kursi belum tentu tetap menjadi baik. Kursi (jabatan) mengubah orang. Sebagian besar orang yang saya lihat berubah begitu menduduki jabatan / kursi. Tujuan mereka menjadi bagaimana mempertahankan kursi tersebut (dengan berbagai alasan dan pembenaran). Mereka lupa dari mana mereka berasal. Mereka lupa kepada kita-kita rakya biasa. Saya melihat ini di berbagai tempat. Di perguruan tinggi, baru jadi ketuaj jurusan sudah berubah. Padahal belum jadi dekan, jadi wakil rektor, jadi rektor. Apa lagi kalau nanti naik jenjang. Di perusahaan, baru jadi manager sudah petantang petenteng (belum jadi direktur, direktur utama). Di pemerintahan juga begitu, baru jadi direktur sudah berubah tidak kenal. Belum jadi dirjen, menteri. Dan seterusnya. Maka dari itu kita perlu apresiasi orang-orang yang tidak berubah sifatnya, kesederhanaannya setelah dia menjabat.

Ini semua membutuhkan leadership yang tidak saya lihat dari para caleg. Partai akan berkuasa atas mereka. Maka dari itu, saya memilih untuk golput saja di pemilihan caleg ini.

 


Aplikasi Buatan Indonesia

Baru saja saya membaca berita ini, “Facebook dkk. Sedot Rp 19 triliun dari Indonesia“. Dikatakan bahwa Indonesia seharusnya membuat aplikasi seperti facebook dan kawan-kawan itu. Apakah jika sudah memiliki aplikasi buatan sendiri maka pengguna Facebook, Twitter, akan turun? Jawabannya adalah TIDAK.

Saat ini sudah banyak aplikasi serupa. Lihat saja Zohib yang punya aplikasi percobaan mirip – bahkan terlalu mirip – dengan facebook dan twitter. Penggunanya? Tidak banyak. Mengapa demikian? Ada banyak alasan. Contoh lain yang buatan Indonesia juga adalah Mindtalk. Yang ini penggunanya sudah lumayan banyak.

Pertama, sudah terlalu banyak teman dan keluarga kita di Facebook. Tidak mudah pindah dari sebuah layanan ke layanan lain. Namanya juga media sosial. Aspek sosialnya yang kental. Di mana yang lebih banyak kerumunannya maka di situlah orang semakin tertarik untuk bergabung.

Mendapatkan pengguna juga tidak mudah. Biaya marketing untuk mendapatkan pengguna itu tidak mudah. Apalagi kalau diinginkan pengguna yang menetap (sticky), bukan yang hanya sekedar daftar kemudian tidak pernah berkunjung lagi. Inilah sebabnya WhatsApp dibeli mahal, karena jumlah penggunanya banyak.

Kedua, orang Indonesia kelihatannya lebih menyukai buatan luar negeri daripada buatan Indonesia sendiri. Padahal ada banyak produk dan layanan yang buatan Indonesia jauh lebih baik kualitasnya. Mungkin kalau buatan Indonesia kurang keren ya? Ayo cintai buatan Indonesia. Yang ini masih merupakan pekerjaan rumah kita bersama.

Ketiga, penyedia layanan Indonesia sering kurang baik dalam melayani pelanggannya. Lambat, kurang responsif, defensif, dan hal-hal yang negatif lainnya. Padahal semestinya kita dapat memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggan kita sendiri.

Jadi bagaimana? Masih mau pakai buatan Indonesia? Atau apakah memang perlu menggunakan buatan Indonesia? Atau mungkin kita tidak peduli? Selama kita bisa bayar, biarin saja. Mau buatan Indonesia atau luar negeri kek. Kan saya yang bayar. Hadoh.


Materi Presentasi Diperiksa Dahulu

Salah satu pekerjaan saya adalah memberikan presentasi. Mungkin malah ini pekerjaan utama saya. hi hi hi. Umumnya saya sangat bebas dalam memberikan presentasi, tetapi ada beberapa klien yang kadang minta draft materi presentasinya dahulu. Biasanya yang gini adalah perusahaan besar. Mungkin untuk memastikan materinya cocok? Atau tidak percaya kepada kemampuan pembicara untuk memberikan topik tersebut? Mungkin mereka pernah terkecoh sebelumnya? Atau bagaimana?

Bagi saya sebetulnya hal ini merupakan hal yang agak sulit. Pertama karena saya harus membuat materi jauh hari sebelum hari h-nya. Padahal kebiasaan saya adalah membuat materi mepet sebelum hari h-nya. hi hi hi. I work better under pressure. Kalaupun materi dibuat jauh hari, pas mendekati hari h-nya saya ubah lagi. hi hi hi.

Hal kedua, ada beberapa hal yang ingin saya buat suprise pada presentasinya. Kalau ini sudah disampaikan sebelumnya, ya tidak menarik lagi. Atau bagian ini mungkin tidak perlu saya tampilkan dalam versi draft-nya ya?

Sekarang sedang membuat materi presentasi. ihik.


Menulis Itu Tidak Mudah

Baru saja saya menulis sebuah email. Tidak panjang. Ternyata habis waktu hampir 30 menit untuk menuliskan email tersebut. Padahal sebelumnya saya sudah memiliki catatan poin-poin yang ingin saya sampaikan dalam email tersebut. Kebayang kalau belum ada.

Mengapa bisa lama? Ada waktu untuk menuliskan kalimat, kemudian diubah kembali karena kalimatnya kurang cocok. Ada kalimat yang membuat orang tersinggung. Ada kalimat yang terlalu njlimet sehingga orang sulit untuk memahaminya. Atau ada juga kalimat yang kurang menggigit tetapi saya tidak tahu lagi harus diapakan. Dan seterusnya. Ini belum termasuk mencari kata yang pas. Yang ini sih saya sudah tahu jawabannya, sulit menemukan kata yang pas. Akhirnya saya tetap berjalan dengan kata yang seadanya – itulah sebabnya kumpulan kata saya tidak maju-maju. Tapi itu cerita lain.

Itu baru menulis email saja sudah kelimpungan. Bagaimana mau menulis yang lebih panjang, seperti menulis novel. Hi hi hi. Sudah terbayang banyaknya waktu yang dibutuhkan. Belum lagi memikirkan plot dan emosi yang ingin dibawa. Menulis data saja sudah susah. Apalagi menulis cerita. Tapi kalau memang mau menulis bagaimana lagi? Dilakukan saja ya.

Menulis itu memang tidak mudah. Ternyata.

Eh, tapi ini jangan dijadikan alasan untuk tidak menulis atau ngeblog. ha ha ha.


Gagal Ngeblog

Ini untuk kesekian kalinya saya gagal ngeblog. Alasannya masih klasik, tidak ada waktu dan agak kurang sehat.

Hari Senin kemarin saya harus ke Jakarta. Mengingat itu hari Senin maka saya barus berangkat super pagi. Bangun sebelum pukul 3 pagi hari dan mengendarai kendaraan sendiri pukul 3:30 pagi. Singkat cerita, di Jakarta penuh dengan acara dan kembali malam harinya. Sampai di rumah sekitar pukul 23 malam hari. 20 jam non-stop. Tidak mungkin ngeblog.

Gara-gara capek hari Senin, hari Selasanya saya kurang enak badan. Padahal hari itu saya harus mengajar dua kelas dan kemudian dilanjutkan dengan pertemuan dengan orang Jepang yang ingin membuka perusahaan di Bandung. Maka Selasa pun saya sudah tidak sanggup lagi untuk ngeblog.

Rabu saya sudah agak sehat. Namun hari Rabu saya harus recover dari dua hari kemarinnya. Setelah mengajar, meeting, bimbingan mahasiswa saya punya waktu untuk futsal. Saya butuh futsal untuk menjaga kesehatan. Lepas futsal sudah malam dan juga tidak ada waktu lagi untuk ngeblog. Duh.

Maka Kamis pagi ini saya baru sempat membuka internet untuk ngeblog. Topik yang ingin di tulis sudah dicorat-coret di kertas yang ada di tas. Belum sempat menulis yang lebih serius dari sekedar curhatan ini. hi hi hi.


Terlalu Pagi

Kadang saya datang ke kelas terlalu pagi untuk kelas yang memang pagi. Kelas di mulai pukul 7 dan saya berangkat dari rumah pukul 6. Berangkat pagi itu untuk menghindari macet dan marah-marah atas kemacetan itu. Energi negatif. Lebih baik berangkat lebih awal. Hasilnya ya datang kepagian. Tidak mengapa.

Ditemani oleh kopi yang dibeli sambil lewat, saya memiliki waktu untuk membuka internet dulu sambil mendengarkan lagu. Kadang saya tuliskan satu baris status di twitter atau facebook dulu.

coffee - empty class

Sebetulnya kuliah kali ini mahasiswanya cukup rajin. Tidak berapa lama biasanya sudah ada beberapa mahasiswa yang hadir. Tidak banyak, tetapi ini menunjukkan bahwa ada mahasiswa yang memang punya jam pagi juga.

Selamat pagi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.597 pengikut lainnya.