Arsip Kategori: Curhat

Menjegal

Bingung.
Kesal.
Geram.
Melihat sekelompok orang yang kerjaannya menjegal orang lain yang ingin maju. Diajak maju bersama tidak mau, tetapi orang lain tidak boleh maju. Ada saja alasan untuk menjegal. Aneh saja. Jangan-jangan memang misi hidupnya adalah sebagai penjegal. Mungkin ini yang harus kita pahami.

Tentu saja tidak akan saya sebutkan identitas orang atau kelompok yang saya maksudkan karena itu nanti artinya saya menjegal juga. he he he. Biarlah kali ini masalah ini menjadi tulisan keluh kesah di blog ini. Selanjutnya harus dilawan atau dilanjutkan dengan tulisan yang bersemangat. [Berpikir keras . . . Bahkan untuk berusaha positifpun malah menjadi negatif. hi hi hi.]


Kabar-kabar

Setelah hadir di acara #tracerouteparty hari Jum’at kemarin, saya berencana langsung kembali ke Bandung. Begitu keluar dari JCC sekitar pukul 21:00 , ternyata lalu lintas sangat padat. Saya putuskan untuk nginep di Jakarta dulu dan kembali ke Bandung hari Sabtu paginya.

Pagi sekali, pukul 3, saya kembali mengemudikan kendaraan menuju Bandung. Lalu lintas cukup sepi sehingga perjalanan lancar. Ada satu hal yang agak mengganjel dari jalan tol Jakarta Bandung. Ada kurang tempat berhenti, rest area. Setelah rest area di km 88, tidak ada lagi rest area sampai Bandung (dalam hal saya, pintu tol Pasteur). Agak tanggung untuk shalat subuh. Dekat km 88 belum subuh tetapi kalau diteruskan sampai Bandung nanti takutnya subuh sudah habis. Jadi saya putuskan untuk berhenti di rest area km 72 atau 88 saja dan menunggu subuh di sana.

Hari Sabtu, istri saya akan terbang ke Nusa Tenggara untuk sebuah pekerjaan di sana. Saya mengantar istri saya ke bandara. Sore hari saya berencana untuk futsal. Eh, pukul 14:45 saya ditelepon istri saya untuk mengatakan bahwa pesawatnya, Lion Air, mengalami kecelakaan. Pesawat mendarat di laut dekat bandara Ngurah Rai, Denpasar. Saya shock. Alhamdulillah semua penumpang selamat. Istri saya menelepon dengan menggunakan handphone petugas karena handphonenya rusak terendam air (harus berenang). Saya batalkan futsal dan mencari informasi di internet tentang kejadian ini. Belum ada. Saya telepon ke beberapa teman yang berada di media online. Akhirnya muncul beritanya di media online.

Setelah menunggu sejenak, akhirnya saya putuskan untuk pergi ke bandara Hussein untuk mencari informasi di Posko. Sesampainya di sana ternyata belum ada keluarga penumpang lain yang mencari info. Malahan ada banyak wartawan media massa di sana. Saya malah diwawancara. Wah. Okelah harus dihargai sesama orang yang kerja :)   [Dan akhirnya memang beritanya muncul di beberapa media. Mereka tidak tahu bahwa saya jurangan ngeblog. he he he.]

Akibat semua ini saya malah tidak sempat ngeblog. Nah, sekarang setelah agak tenang baru saya ngeblog. Ini juga saya tuliskan di bandara Soekarno Hatta, menjemput istri yang akhirnya memutuskan untuk pulang via Jakarta saja. Semoga lancar dan selamat. Amin.


Karena Saya Menyukainya

Mengapa saya mengerjakan sesuatu? Biasanya jawaban saya adalah karena saya menyukainya. Banyak hal yang saya lakukan memiliki jawaban seperti itu. Kerjapun karena saya menyukainya.Menulis blog ini saya lakukan karena menyukainya. (Bukan untuk cari popularitas dan bukan juga untuk mencari keuntungan finansial secara lasung – karena belum menemukan rumus yang pas, mungkin?) I love doing things that I do.

Sementara itu saya melihat banyak orang melakukan berbagai hal karena terpaksa. Entah itu terpaksa karena yang dikerjakan itu bagian dari kuliah atau karena disuruh oleh orang lain atau situasi yang memaksa mereka untuk melakukan hal tersebut. Karena dilakukan secara terpaksa, maka hasilnya juga akan terasa “terpaksa” yaitu secukupnya saja. Tidak ada keinginan untuk membuat lebih bagus. Pas-pasan saja.

Nah jadi gimana dong?


Dua Dunia Yang Berbeda

Tadi diskusi tentang penelitian dan entah kenapa menyinggung soal blog. Saya cerita bahwa tadi pagi saya kok lupa memberitahukan kepada mahasiswa di kelas saya bahwa blog saya ini ternominasi dan membutuhkan voting. Kidding. he he he. Saya tidak mau melakukan hal itu karena saya ngeblog bukan untuk cari juara-juaraan :)   Biarlah natural saja.

Anyway. Mahasiswa riset tadi tanya apa nama blog saya. Hmm… saya kemudian berpikir bahwa orang-orang yang kenal saya di dunia nyata – seperti contohnya mahasiswa saya ini – tidak tahu bahwa saya punya blog. Sementara saya amati, banyak pembaca blog ini yang tidak kenal saya di dunia nyata. hi hi hi. Lucu juga. Ini orang-orang dari dua dunia yang berbeda. Nampaknya  pemisahan dunia maya dan nyata memang masih ada.

Ada enaknya juga seperti ini karena saya bebas merdeka menulis di sini. Saya bisa santai blusukan di dunia nyata. hi hi hi.


Menambah Ilmu Dulu

Kadang saya ingin punya waktu yang cukup untuk membaca dan menambah ilmu. Sekarang rasanya ada banyak tugas yang mengejar-ngejar sehingga saya tidak punya waktu untuk menambah ilmu. Tugas saya juga kebanyakan melibatkan membaca, tetapi saya pada posisi untuk menilai bacaan tersebut (tugas mahasiswa, misalnya). Sedangkan yang saya inginkan adalah bacaan yang mengajari saya akan hal-hal yang baru.

Selain tugas membaca, ada banyak tugas saya yang melibatkan menulis atau mengarang. Sebagai contoh, saya sering diminta untuk memberikan presentasi. Tentu saja saya harus memberikan materi presentasi, yang tentunya tidak terjadi begitu saja melainkan harus ditulis. (Banyak yang menyangka bahwa untuk menjadi presenter itu hanya tinggal nongol saja. he he he. Padahal di belakang layar ada banyak persiapan yang harus dilakukan. Termasuk membuat materi presentasinya.)

Untuk dapat menilai (tulisan) atau membuat (tulisan) saya harus memiliki ilmunya. Bagaimana ilmu saya bisa bertambah jika saya tidak membaca dan mencoba (berlatih, bereksperimen)? Ada beberapa aplikasi / environment / framework / tools / language yang ingin saya coba. Apakah ilmu itu bisa muncul secara tiba-tiba? Tentunya tidak, bukan? Artinya, sayapun harus menambah ilmu. Nah itu dia masalahnya. Saya membutuhkan waktu juga untuk itu.

Saya mencoba menyisihkan waktu di akhir pekan (weekend) untuk belajar, tetapi seringkali waktu tersebut saya gunakan untuk beristirahat. Saya ingin juga mendengarkan musik, nonton video / DVD, atau sekedar beristirahat. Jadi mau tidak mau saya harus menyelipkan waktu untuk menambah ilmu di hari-hari biasa juga. Artinya, saya harus kerja keras lebih dari orang lain. Banyak orang – termasuk mahasiswa saya – yang menyangka bahwa orang seperti saya ini bisa leha-leha. Mereka tidak tahu bahwa kami kerja keras. Bahkan lebih keras dari mereka. Nah …


Mimpi Absurd

Semalam mimpi. Ada ceritanya, tetapi absurd. Melawan logika. Eh, namanya juga mimpi ya? hi hi hi. Mau bentuknya seperti lukisan Salvador Dali atau Picasso boleh-boleh saja kan?

Menariknya mimpi adalah setelah bangun jadi lupa lagi tadi mimpinya tentang apa. Jadi tadi mimpi tentang apa ya? Hmm…

Ya ampun … secara … gak penting banget gitu.


Premium Juga Akhirnya

Setelah mencoba bertahan untuk selalu beli pertamax, akhirnya pagi ini saya membeli bensin premium untuk mobil saya. Pasalnya harga pertamax sekarang – di Bandung – adalah Rp. 10.550,- sementara harga premium adalah Rp. 4.500,-. Lihatlah perbedaannya yang menyolok! Saya tidak tahan lagi. Untuk apa saya bertahan dengan pertamax? Saya merasa dibodohi oleh pemerintah.

Tadi di SPBU, ada kendaraan yang lebih bagus dari kendaraan saya dan dia belinya … premium juga. Kendaraan saya yang ini juga lebih banyak digunakan di dalam kota. Semakin yakin saya harus beli premium. Premium it is …


Telepon Kepencet?

Barusan terbangun karena handphone berbunyi keras. Saya kira ini telepon penting karena malam hari kok ada yang telepon. Setelah saya angkat, di sana hanya ada suara latar belakang keramaian (dan orang berbicara dari kejauhan). Kelihatannya handphone sang penelepon tidak sengaja menelepon. Kepencet? Sebelnya, sekarang saya menjadi terbangun. Waaa. Bagusnya, saya jadi ngeblog. he he he.

Beberapa hari yang lalu ketika sedang berbicara dengan seseorang, tiba-tiba handphone lawan bicara saya berbunyi. Dia lihat dan dia berkata ke saya, “bapak nelepon ke saya?”. Heh? Saya ambil handphone dari saku jaket. Eh, ternyata dia memang tidak sengaja menelepon. Hadoh.

Pernahkah ini terjadi kepada Anda?


Tantangan Hidup di Indonesia

Akhir-akhir ini ada banyak tulisan, status facebook, diskusi di darat yang membahas tentang tantangan hidup di Indonesia. Di satu sisi, hidup di Indonesia ini ada banyak kemudahan. Alam sangat bersahabat (meskipun sekarang alam sudah mulai marah dengan manusia). Orang bisa hidup dengan hanya luntang lantung di pinggir jalan. Di tempat yang ada musim dingin, mana bisa mau minta-minta atau gitaran di jalan. he he he.

Di sisi lain, hidup di Indonesia harus dijalani dengan sedikit menjadi superman (atau superwoman?). Orang Indonesia dituntut untuk melakukan banyak hal sekaligus. Jadi dosen, misalnya, dituntut untuk dapat melakukan tridharma; mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian masyarakat. Harus bisa tiga-tiganya. Mahasiswa juga dituntut untuk belajar dan untuk yang tingkatannya mahasiswa pasca sarjana dituntut untuk mengajar juga. Yang ini sebenarnya mirip dengan di luar negeri, tetapi di luar negeri kita bisa lebih fokus. Itulah sebabnya saya menganjurkan untuk mengambil S3 di luar negeri saja daripada di Indonesia.

Kadang juga orang yang berpendidikan, selain dituntut untuk bekerja juga dintuntut untuk menjadi ketua RT/RW dan sebagainya. he he he. Pokoknya hebatlah orang Indonesia.

Singkatnya, hidup di Indonesia itu harus bisa rangkap-rangkap. (Kalau perlu, jabatan juga dirangkap. he he he.) Kalau di luar negeri, seseorang itu bisa fokus kepada satu lakon saja. Hebatnya orang Indonesia ya?


Kehilangan Idealisme

Sedih juga melihat beberapa anak muda yang kehilangan idealisme. Mereka melakukan sesuatu hanya untuk jangka dekat dan pragmatis sekali. Padahal lingkungan mereka memberikan kemungkinan untuk berlatih dan mengembangkan idealisme.

Sebagai contoh di lingkungan kampus saya mencoba mengajak mahasiswa saya untuk melatih diri menjadi idealis. Ujian tidak perlu nyontek karena kalau tidak lulus nanti ada perbaikan (remedial) sampai lulus. Yang dibutuhkan hanya kemauan diri untuk melakukannya.

Di luar kampus nanti akan ada banyak tantangan. Salah satunya adalah lingkungan yang tidak idealis. Jika di dalam kampus saja tidak berusaha untuk melatih diri mengembangkan idealisme, bagaimana nanti di luar sana ya?

Beberapa anak muda ini juga mencoba mengembangkan bisnis tanpa mengindahkan etika. Selama menghasilkan uang yang lebih banyak apapun dilakukannya. Padahal pengalaman saya – dan juga pengalaman banyak orang yang berhasil – etika itu sangat penting. Bahkan dalam bisnis sekalipun. Ada banyak hal yang tidak dapat diukur dengan uang. Pertemanan, sebagai salah satu contohnya. Dalam bisnispun aspek pertemanan ini sangat penting. Lebih baik kehilangan uang sedikit tetapi mendapat teman (tetap berteman), daripada mendapatkan uang yang lebih tetapi kehilangan teman.

Dicari: idealisme


Permintaan Terlalu Banyak

Bagaimana menjelaskan ke klien bahwa apa yang mereka minta itu terlalu banyak? Implikasi dari banyaknya yang mereka minta itu adalah harga menjadi lebih mahal. Yang mana kemudian ini menjadi di luar jangkauan dari kemampuan finansial mereka.

Bidang kami adalah security. Seringkali tim kami diminta untuk memberikan layanan yang terkait dengan keamanan perusahaan atau instansi klien. Ada beberapa klien yang meminta layanan dengan lingkup pekerjaan yang sangat luas. Kami harus menjelaskan kepada mereka bahwa yang mereka inginkan itu terlalu besar. Seringkali mereka tetap ngotot. Begitu kami berikan harganya, mereka mundur teratur. Ya ampun. Kan sudah diberitahu. Kalau maunya banyak ya harganya mahal. Lebih baik dilakukan secukupnya saja dulu.

Salah satu cara yang sebetulnya efektif untuk membuka mata klien (atau calon klien) adalah dengan memberikan pelatihan (training). Biasanya pelatihan dapat membuka wawasan kepada klien tentang apa-apa yang harus dikerjakan dan tingkat kesulitan yang terkait dengan melakukan pekerjaan itu. Setelah pelatihan barulah mereka dapat menghargai apa yang kami tawarkan. Nah, untuk mengajak klien untuk mengikuti pelatihan ini ternyata menjadi permasalahan tersendiri.

Memecahkan satu masalah, muncul masalah baru. Oh well. Namanya juga hidup,  bukan?


Membuat Cerita Yang Menarik

Baru saja saya menonton sebuah seri (misteri, detektif, sains) di TV. Ceritanya menarik sekali. Saya menjadi iri. Bagaimana caranya agar saya dapat membuat cerita yang sama menariknya ya? Atau, mungkin sepersekiannya saja sudah cukup.

Saya coba bandingkan dengan cerita sinetron kita. Wah. Jauh sekali bandingannya, bagai bumi dan langit. (Eh, mungkin perumpamaan ini tidak tepat ya. Kalau diumpamakan bumi dan langit, maka mana yang bagus dan mana yang buruk? Apakah langit lebih bagus dari bumi? hi hi hi.)

Satu hal yang saya tandai adalah cerita-cerita kita itu sering berkesan “patronizing”. (Saya masih kesulitan mencari kata yang tepat.) Maksud saya adalah ceritanya sering berkesan menyuapi penonton. Mari kita ambil contoh.

Ceritanya ada satu tokoh yang menunggu sangat lama di depan pintu ruang operasi. Kalau di film “Barat”, yang ditampilkan adalah image sang tokoh yang berdiri tegar. Badan agak bergoyang sedikit. Nampaknya sudah pegal dia berdiri terus. Di tangannya ada kopi. Di dekatnya ada meja dan terlihat ada dua gelas kertas bekas kopi. Tidak ada kata-kata. Pemirsa diminta untuk membuat interpretasi sendiri, yang akhirnya menyimpulkan bahwa sang tokoh ini sudah lama berdiri menunggu (menantikan hasil operasi).

Kalau dalam sinetron Indonesia, cerita di atas ditampilkan sebagai berikut.

[Tokoh berdiri. Disorot mukanya.]
Tokoh berkata, “aku sudah di sini sejak dari pagi”.

he he he. Begitulah. Pemirsa dianggap sebagai orang bodoh dan harus diberitahu bahwa sang tokoh sudah berdiri cukup lama. Ini yang saya maksudkan dengan “patronizing“. Akibatnya ceritanya menjadi tidak menarik. Justru menariknya sebuah cerita adalah ketika sang pemirsa (atau pembaca buku dalam kasus baca buku) dapat membuat rekaan sendiri. Menyimpulkan sendiri.

Kembali kepada topik utama, bagaimana membuat cerita yang menarik ya? Cerita saya kok seringnya datar-datar saja. Kurang sentuhan perasaan atau kejutan. hi hi hi


Mengisi Seminar di Luar Bandung

Saya mendapat banyak permintaan untuk mengisi seminar di luar kota Bandung. Kebanyakan permintaan datang dari mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Secara prinsip sebetulnya saya senang untuk berbagi. Apa lagi saya juga pernah merasakan sebagai mahasiswa. Hanya yang menjadi masalah adalah waktu.

Semester ini saya mengajar dua mata kuliah yang tersebar di beberapa hari dalam satu minggu. Selain itu saya membimbing banyak mahasiswa (S2 dan S3). Akibatnya hari yang dapat saya gunakan untuk memberikan seminar di luar kota atau melakukan proyek di luar kampus hanya satu hari. Artinya kota yang dituju harus dapat dicapai dalam satu hari. Pulang pergi. Jadi berangkat pagi, terus memberikan seminar, dan pulang lagi.

Kondisi ini menyulitkan bagi saya untuk memberikan seminar di kota-kota yang “jauh” (secara transportasi) dari Bandung. Jalur penerbangan dari Bandung masih terbatas.

Kadang saya merasa tidak enak menolak tawaran memberikan seminar di berbagai kota. Saya tidak ingin berkesan tidak ingin berbagai, tetapi bagaimana dengan mahasiswa-mahasiswa saya di kampus?

Sebagai catatan, sekarang saja saya sudah berhutang kelas karena ada hari yang terkena liburan dan juga beberapa kali saya harus menghadiri rapat di luar kota pas jam kuliah. Ini terpaksa saya mbolos ngajar atau tidak bisa membimbing mahasiswa. Nah! Pusing kan? (Ada beberapa rapat dan perjalanan ke luar negeri yang terpaksa saya tolak. hik hik hik.)

Namun saya masih berusaha untuk mencari waktu untuk mengisi seminar di luar kota Bandung dengan mengorbankan seminimal mungkin kelas / mahasiswa di Bandung.


Perlukah Akreditasi

Baru saja saya membaca sebuah (bagian dari) institusi pendidikan yang mendapatkan akreditasi dari sebuah badan tertentu di luar negeri. Di satu sisi saya ikut gembira atas pencapaian mereka, tetapi di sisi lain saya bertanya-tanya tentang akreditasi ini. Sebetulnya apa manfaat dari akreditasi ini ya?

Pada kenyataannya saya sering melihat institusi yang kemudian mementingkan akreditasi ini dari pada melakukan kegiatan yang sesungguhnya. Artinya yang dipentingkan adalah aspek administratif (paper work) daripada kegiatannya sendiri (mengajar dan meneliti untuk institusi pendidikan, menjalankan operasi bisnis untuk perusahaan). Kebanyakan menjadi tidak peduli untuk memeriksa hasil atau dampaknya. Pokoknya apa yang dicatat, itu saja yang diperhatikan.

Mikir …


(menjadi) Dinosaurus

Ada hal-hal yang menyebalkan bagi saya. Salah satunya adalah melihat “top posting” dalam mailing list. Bagi yang belum tahu apa itu “top posting”, silahkan cari informasinya di internet. Justru itulah yang membuat saya sebel. Ini adalah masalah etika dalam berkomunikasi di internet.

Masalahnya adalah banyak orang yang tidak tahu dan tidak mau tahu etika berkomunikasi di internet. Mungkin ini salah kita juga karena tidak mengajari mereka cara berkomunikasi yang baik. Kita beranggapan bahwa kalau sudah pakai internet atau handphone mereka sudah *pasti* tahu etikanya. Harus tahu! Padahal realitasnya tidak.

Dari mana mereka belajar tentang etika berkomunikasi ini? Dari mana Anda belajarnya? Umumnya orang hanya melihat orang lain. Meniru. Iya kalau yang ditiru itu yang benar. Bagaimana kalau yang ditiru itu juga yang tidak tahu? Nah justru yang terakhir inilah yang terjadi. Akibatnya banyak yang tidak tahu.

Atau … kalau dilihat dari kacamata lain, mungkin saya yang sudah ketinggalan jaman. Sudah menjadi dinosaurus di dunia baru ini. Sekarang etika sudah berubah. Semuanya serba aku, aku, dan aku. Peduli amat dengan orang lain? This is the new new thing.

I feel like I am a dinosaur. Heck. I AM a dinosaur!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.085 pengikut lainnya.