Category Archives: Curhat

Berbagi Kegembiraan

Kalau Anda perhatikan, di halaman media sosial saya (facebook dan twitter), kadang saya menampilkan tulisan / gambar / berita tentang copras-capres. Dalam hal ini saya tidak bermaksud untuk mengubah pendapat orang agar memilih sesuai dengan pilihan saya. Saya berpendapat bahwa setiap orang sudah punya pilihannya masing-masing. Nah, mengapa menuliskan status tentang salah satu capres? Apa tujuannya?

Tujuannya, bagi saya, ada berbagi kegembiraan. Sharing happiness. Berbagi kebahagiaan. Tentu saja ini sangat subyektif, akan tetapi ada hal yang penting yaitu tidak mungkin saya berbagi kebahagiaan kalau apa yang saya tulis berisi hal-hal yang menjelek-jelekkan orang lain. Bahagiakah Anda jika Anda mengolok-olok orang lain? Gembirakah Anda jika Anda menghina orang lain? Memfitnah? Bagi saya, tidak!

Maka daripada oleh sebab itu … hi hi hi … saya menahan diri untuk meneruskan (forward) berita-berita yang negatif. Kadang ada hal-hal “lucu” yang saya baca, tetapi itu tidak lucu bagi orang yang bersangkutan karena berisi olok-olok atau penghinaan. Maka saya tidak berminat untuk meneruskannya. Stop. Itu bukan berbagi kegembiraan.

Yang susah adalah meneruskan tulisan yang kritis. Ini sebetulnya masih oke, tetapi perlu hati-hati karena kadang ditanggapi dengan negatif (jika dibaca terlalu cepat dan tidak dipahami). Pertimbangan bahwa tulisan ini kritis harus dilakukan dengan masak-masak. Pikir ulang. Are you happy with it? Would others be happy with it?

Demokrasi seharusnya merupakan perayaan, maka marilah kita rayakan dengan kegembiraan bersama. Ini adalah PERAYAAN BERSAMA. It’s our celebration.


Menikmati Hidup

Beberapa hari terakhir ini ada beberapa orang (sebetulnya hanya 3) yang bertanya kepada saya kenapa saya terlihat happy-happy saja. Menikmati hidup. hi hi hi. Bahkan mas Sobur mengatakan bahwa bagi pak Budi ini semuanya adalah perayaan. ha ha ha.

Jawaban saya terhadap pertanyaan “kenapa” adalah mengapa tidak? Why not? ha ha ha. Ini jawaban model apa sih? Lha pertanyaannya adalah kenapa. Kalau pertanyaannya adalah “bagaimana agar dapat menikmati hidup”, jawabannya lebih susah. Saya sendiri sebetulnya belum tahu jawaban tepatnya.

Mungkin ini disebabkan karena saya melihat “1/2 gelas yang terisi” sedangkan orang lain banyak yang melihat “1/2 gelas kosong”. Dalam bahasa lain, saya lebih positive-thinking.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar kita dapat menjadi lebih positive-thinking? Yang saya lakukan adalah belajar dari orang lain. Melihat pengalaman-pengalaman orang lain. Atau malah lebih tepatnya adalah belajar dari kegagalan-kegagalan orang lain sehingga kita dapat lebih menghargai apa yang kita peroleh. Ada banyak biografi yang menceritakan kesulitan dalam hidup orang-orang yang sukses. Alhamdulillah kita tidak mengalami kesulitan yang mereka hadapi. Jika mereka dapat mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut dan kemudian menjadi sukses, mengapa kita tidak?

Hal lain yang saya lakukan adalah mencari orang-orang yang memiliki pemikiran atau values yang sejalan. Berkumpul dengan orang-orang yang waras. Eh, atau yang tidak waras ya? hi hi hi. Saya melihat bahwa ternyata kumpulan yang saya dekati adalah kumpulan orang-orang yang berpikiran positif juga. Nampaknya ini juga merupakan salah satu cara untuk lebih meningkatkan ke-positif-an kita. Reinforcement learning? Mungkin itu juga sebabnya Anda bergabung dengan blog ini? Agar lebih positif. hi hi hi.

Begitulah kira-kiranya cara saya agar dapat lebih menikmati hidup. Semoga bermanfaat.


Minimnya Kemampuan Berkarya

Melihat kondisi di media sosial, saya menduga bahwa kemampuan berkarya kita memang masih minim. Mari kita ambil contoh. Kebanyakan masih pada tahap mengambil link dari sana sini (dan itu juga tidak dicek kredibilitasnya), copy-paste, dan paling banter membuat komentar. Itu urusan tulisan. Untuk gambar, foto, apalagi video sangat jarang sekali. Inilah yang membuat saya menduga bahwa kemampuan berkarya kita itu minimal.

Sebetulnya dugaan saya ini mungkin salah. Kemampuan itu mungkin ada, tetapi kemauan yang tidak ada. Skill ada tetapi willingness yang tidak ada. Hasilnya yang juga sama, tidak ada atau minim. Tetapi penyebabnya berbeda.

Masalah kemampuan atau skill itu dapat diajarkan, tetapi kalau tidak ada kemauan ya susah. Tidak mau! Malas! Kenapa mesti repot? Itu yang harus dilawan.

Perlu ada upaya untuk membujuk orang Indonesia untuk lebih menghasilkan karya. Sehingga hasilnya bukan hanya sekedar komentar, copy-paste, atau comot sana sini tetapi karya-karya yang dapat dinikmati dengan lebih utuh.

Ini kita baru berbicara soal membuat dulu ya. Soal adanya dulu.  Soal kualitas itu menyusul. Kalau belum apa-apa sudah terbebani dengan kualitas, bisa-bisa hilang lagi kemauan itu. he he he. Makanya kadang saya juga merasa bagaimana gitu dengan tulisan saya yang hanya begini-begini saja. Tetapi saya tetap memaksakan diri agar kemauan itu tidak hilang. Begitu.


Berita Positif

Capek kan baca berita akhir-akhir ini yang kebanyakan isinya negatif? Itulah dia sebabnya kita membutuhkan berita dan cerita yang positif. Cerita tentang keberhasilan seseorang atau sekelompok orang. Berita negatif itu menguras energi. Berita positif? Menambah energi.

Mari kita perkaya dunia internet ini dengan berita positif. Apa ya? Hmmm…

Berita positif dari saya, pagi ini indah sekali. Cerah. Keren …


Gagal Golput Karena Jokowi

Posting kali ini bertema politik. Saya ingin menunjukkan di mana saya berdiri. Mohon maaf bagi yang tidak berkenan.

Pada awalnya saya berniat untuk golput, seperti yang sudah-sudah. Saya sudah antipati terhadap retorika-retorika politik. Kebanyakan politisi hanya pandai bicara tetapi tidak ada yang dilakukannya. Saya, sebagai rakyat biasa, hanya menjadi obyek. Pelengkap penderita, bahkan.

Namun rencana saya untuk menjadi golput ini batal gara-gara Jokowi mencalonkan diri.

gagak golput karena jokowi

Saya tidak ingin berkampanye untuk Jokowi atau bahkan menjelek-jelekkan Prabowo. Tidak. Ada banyak alasan saya untuk memilih Jokowi. Ada banyak hal yang saya tahu secara langsung dan kemudian menjadi fitnah. (Saya tahu 1st hand. Langsung.) Yang saya sedih juga adalah orang-orang yang saya duga baik ternyata termasuk yang menyebar fitnah. Luar biasa buasnya mereka menyebar fitnah. Maka saya memutuskan untuk memilih Jokowi. Tidak golput.

Satu suara saya mungkin tidak berpengaruh banyak dalam hasil, tetapi dalam hati saya tahu bahwa saya sudah memilih sesuai dengan hati nurani saya. I can make peace with myself. There.


Sakit

Beberapa hari ini saya tidak ngeblog. Alasannya adalah karena sakit. Sejak hari Selasa saya diare dan puncaknya adalah hari Rabu. Maka hari Kamis, yang seharusnya saya ke Jakarta untuk menjadi moderator di acara Inotek terpaksa saya batalkan. Kamis saya ke dokter dan diberi antibiotik. Kamis seharian istirahat. Jum’at sudah agak mendingan. Begitulah cerita singkatnya.

Yang menyebalkan dari sakit ini adalah saya tidak bisa apa-apa. Lemes sekali. Jadi mau ngeblogpun sudah tidak sanggup. Nah, sekarang karena sudah agak baikkan, mulai ngeblog lagi. Mengejar ketinggalan. (Kayak apa aja ya? hi hi hi)


Menilai Tugas Mahasiswa

Dan tibalah saatnya saya harus menghadapi pekerjaan yang menyebalkan, menilai tugas mahasiswa. Kalau boleh sih, sambil tutup mata semuanya saya beri nilai “A” saja. Ha ha ha. Tapi ini tidak adil bagi yang sudah bekerja keras dalam belajar dan mengerjakan tugas. Mereka pantas untuk mendapatkan nilai “A”. Sisanya? Ya kurang dari A lah. Apalagi yang super malas, ya paling tinggi “C” lah. Atau, sekalian tidak diluluskan saja. wogh.

Kali ini saya salah perhitungan. Tadinya nilai terakhir masuk pertengahan bulan Juni. Eh, ternyata nilai masuk minggu depan. Senin! Padahal saya memberitahukan mahasiswa bahwa batas terakhir memasukkan tugas adalah lusa. Maka akhir pekan ini saya harus bekerja keras untuk memeriksa dan memberi nilai. Hadoh.

Derita dosen tiada akhir …


Kecenderungan

Ternyata ada satu hal yang sama dalam pekerjaan yaitu selalu berbeda. Banyak orang berharap semua pekerjaan adalah sama dan dapat diselesaikan dengan template. Ternyata kenyataannya berbeda. Setiap pekerjaan yang datang selalu berbeda. Maka dibutuhkan orang yang dapat memecahkan masalah dengan kondisi yang selalu berbeda.

Cara orang menyelesaikan masalah atau tugas memiliki kecenderungan-kecenderungan tertentu. Ada yang bersifat defensif dan menunggu. Ada yang agresif. Ada yang tertutup dan terbuka. Ada yang marah-marah. Ada yang sabar. Dan seterusnya. Kecenderungan ini juga merupakan hal yang selalu sama.

Bagaimana dengan kecenderunganmu?


Hari Ini

Hari ini saya dijadwalkan untuk memberikan presentasi tentang IT untuk staf non-IT di Bursa Efek Indonesia. Karena tempatnya di Jakarta dan saya tinggal di Bandung, maka saya harus berangkat super pagi sekali. Pukul 3:30 saya mulai mengemudikan kendaraan dari rumah. Waktu itu saya pilih agar dapat shalat Subuh di jalan, sebelum masuk ke Jakarta.

Alhamdulillah hari ini perjalanan lancar sehingga saya sampai di tempat sebelum pukul 7. Kadang, meskipun sudah berangkat pagi ada saja kepadatan di jalan sehingga sampai di tempat di Jakartanya lewat dari waktu yang direncanakan. Masalahnya di Jakarta kan ada 3-in-1 yang dimulai pukul 7. Jadi saya harus sampai di tempat, yang kebetulan kena 3-in-1, harus sebelum pukul 7.

Selain harus bangun lebih awal dan tentunya mempersiapkan diri juga, masalah kedua adalah sarapan. Kalau kepagian seperti ini, masih susah cari sarapan yang dekat dengan tempat acara. Pukul 6:30 pagi, mall belum buka. Untungnya saya akhirnya menemukan beberapa tempat yang sudah buka pagi. Di gedung Bursa Efek, ada coffee shop yang sudah buka. Pagi ini saya ke Daily Bread yang sudah buka. Sarapan omelete dan kopi dulu. Sambil menyiapkan materi presentasi. (Presentasi berjalan dengan baik dan menyenangkan – ceritanya menyusul. Kalau ingat. ha ha ha.)

IMG_4999 kopi 1000

Selamat pagi, Jakarta.


Kuliah Adalah Berkelompok

Hari ini saya disibukkan dengan beberapa mahasiswa S2 bimbingan yang siap-siap maju sidang thesis. Mereka seakan-akan dalam sebuah rombongan. Kemudian saya mengingat-ingat perjalan sejarah saya. Nampaknya memang perjalanan perkuliahan saya juga seperti ini.

Ketika S1 dulu, saya sempat sedikit tertunda di akhir kuliah. Tugas akhir sempat tertunda beberapa bulan. Apa yang saya lakukan adalah ke kampus tapi lebih banyak duduk-duduk di himpunan dan becanda dengan teman-teman. Tiba-tiba ada salah seorang dari kelompok kami yang siap maju sidang. Maka seperti ditampar, semuanya langsung kembali ke lab masing-masing dan mengerjakan tugas akhir. Akhirnya (sebagian dari) kami lulus bersamaan.

S2 saya di Kanada juga hampir seperti ini, meskipun kawan-kawan saya jumlahnya lebih sedikit. Yang berdekatan sidangnya juga teman satu kelompok, yang mana sekarang kawan-kawan saya ini tersebar di berbagai negara. Begitu salah satu menyelesaikan thesisnya maka ini memicu kami untuk cepat-cepat menyelesaikan thesis kami juga. S3 juga demikian, satu grup kami (yang jumlah anggotanya lebih kecil lagi) tiba-tiba ada yang disertasinya hampir selesai. Maka kami juga ngebut supaya bisa selesai sama-sama.

Kelompok, teman-teman ini, bagi saya bermanfaat untuk  memotivasi  menyelesaikan  tugas akhir, thesis, dan disertasi. Kalau sendirian, mungkin semangat untuk cepat-cepat selesainya menjadi rendah. Eh, mungkin ini karena sifat saya saja ya yang lebih suka berkelompok. Mungkin ada yang lebih suka kerja sendirian. Entahlah. Bagi saya, kuliah ada berkelompok. Siapa tahu strategi ini dapat mempercepat proses kelulusan Anda.


Seperti Partai Politik Saja

Saya punya analogi khusus untuk menggantikan kata ilusi (atau halusinasi?), yaitu “seperti partai politik saja“. hi hi hi. Kata-kata ini saya gunakan ketika ada seorang calon start-up yang membuat sebuah aplikasi dan merasa bahwa aplikasinya itu bakal populer. Dengan sok pastinya, sang (calon) entrepreneur mengatakan bahwa aplikasinya akan digunakan sekian puluh ribu orang. Ini sama dengan partai politik yang merasa pasti bahwa dia akan mendapatkan kemenangan karena mendapatkan dukungan yang banyak. hi hi hi.

Masalahnya adalah cara mereka untuk mengukur diterimanya aplikasi (atau partai politik) oleh masyarakat itu salah. Mereka melakukan survey di lingkungan mereka sendiri. Partai politik A melakukan survey ketika sedang melakukan musyawarah partai A. Ya sudah jelas semuanya akan pilih partai A. ha ha ha. Demikian pula yang terjadi dengan survey kepopuleran aplikasi tersebut, yang salah adalah bagaimana mereka melakukan surveynya.

Akhir-akhir ini media sosial seperti facebook dan twitter ramai orang mempromosikan (dan lebih banyak lagi yang menjelek-jelekkan) calon presidennya. Begitu ada yang me-like, mereka berpikir bahwa mereka mendapat dukungan. Ya iyalah. Yang memberikan dukungan jelas dari lingkungannya sendiri (seperti contoh survey di acara musyawarah partai itu sendiri di atas). ha ha ha. Ini adalah ilusi. Analogi ini yang saya gunakan untuk start-up.

Orang juga berpikir bahwa dengan menuliskan sesuatu di internet, mereka dapat mengubah pemikiran (pilihan) orang. Padahal ini tidak terjadi. Apalagi yang terjadi dalam media sosial bukanlah diskusi (untuk mendapat masukan tentang apa yang dituliskan) tetapi adalah berdebat tentang ego dari orang-orang itu. Content tidak jadi bahan diskusi. You won’t get anything new from when you started. Ini hanya pertarungan ego – siapa yang lebih tahan berdebat saja. Itu saja. It doesn’t prove anything (related to the content).

Kembali ke soal calon start-up yang ingin mendapatkan masukan mengenai produk (aplikasi) yang mereka kembangkan, mereka harus melakukan survey dengan cara yang benar. Ini ada ilmunya. (Calling Syaiful from MBA SBM ITB.) Jadi jangan “seperti partai politik saja” ya.

Oh ya, bagi yang membacanya terburu-buru, ini tulisan lebih tentang entrepeneurship bukan tentang politik lho.


Bangsa Yang Minta Dikasihani

Nampaknya saya harus sepakat bahwa bangsa Indonesia ini terdiri dari orang-orang yang minta dikasihani. Kebanyakan orang merasa harus dikasihani. Bukannya menjadi orang yang mandiri dan menolong orang lain, tetapi malah ingin menjadi orang yang merengek-rengek.

Banyak orang berjualan di tempat pejalan kaki atau bahkan di jalan. Alasannya? Kasihani kami pak, kami tidak punya uang untuk menyewa toko atau kios. Nah, ketika mereka sudah besarpun – sudah punya toko – mereka masih meminta dikasihani. Mereka tidak menyediakan tempat parkir yang cukup sehingga pelanggan parkir di bahu jalan, membuat lalu lintas menjadi macet. Kasihani kami pak.

Mengendarai kendaraan juga demikian. Melanggar aturan lalu lintas. Kasihani kami, kami harus pergi kerja . (Apa orang lain tidak pergi kerja juga?) Harus cepat-cepat sampai tujuan. Serobot. Baru-baru ini ada kecelakaan antara mobil dan motor yang melawan arus. Yang disalahkan adalah mobilnya. Padahal sudah jelas yang salah. Akan tetapi karena orang beranggapan bahwa yang bawa motor adalah orang yang perlu dikasihani maka pengendar mobillah yang salah. Opo tumon?

Partai politik (dan pendukungnya) pun setali tiga uang. Partai kami ditindas oleh mereka. Dan seterusnya. Maka muncullah negative & black campaign. Bukannya mencari yang positif tetapi mencari yang negatif.

Seharusnya kita selalu berusaha dan bercita-cita menjadi orang yang mandiri. Menjadi matahari, yang menyinari sebagian dari planet. Bukan menjadi orang yang selalu minta dikasihani. Maukah kita?


Menjadi Lebih Terkurung Dengan Internet

Internet membuka dunia. Kalau dahulu kita hanya dapat mengakses informasi yang sifatnya lokal, atau paling jauh dengan bantuan surat kabar, sekarang kita dapat mendengar langsung kabar dari dunia yang sangat jauh. Langsung dari sumbernya. Seharusnya ini membuat orang menjadi lebih terbuka wawasannya. Menjadi lebih arif dan bijaksana. Sayangnya ini tidak terjadi.

Dalam memilih informasi yang kita baca, kita cenderung mencari informasi yang sesuai dengan yang kita inginkan. Sesuai dengan filter kacamata yang kita pakai. Jadi jika kita condong kepada warna (aliran, pendapat, style) A, maka sumber berita yang kita cari adalah yang memberikan konfirmasi kepada A. A itu bagus. Sementara itu sumber informasi yang memberikan warna B, C, D, dan seterusnya tidak disentuh.

Kalau dahulu kita seperti katak dalam tempurung, sekarang malah katak dalam bola besi. hi hi hi. Kalau tempurung masih dapat ditembus oleh sinyal handphone, bola besi seperti sangkar Faraday sehingga sinyal pembawa beritapun tidak masuk. Semakin tertutup pandangan atau pendengaran kita. Jadinya seperti ini, bertengkar terus di internet.


Tulisan Yang Akademik

Saat ini saya sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan mahasiswa terkait dengan tugas kuliah mereka, yaitu membuat makalah. Salah satu hal yang nampaknya mereka belum mengerti adalah bahwa makalah yang harus mereka buat harus bersifat akademik. Apa maksudnya “akademik” di sini? Nah itu dia.

Tingkat kesulitan dari makalah yang mereka buat kira-kira seperti ini. Jika makalah itu dikirimkan ke majalah komputer, maka makalah tersebut akan ditolak karena terlalu teknis. Pembaca akan pusing. Sementara itu jika makalah ini dikirim ke jurnal, maka makalah tersebut akan ditolak karena kurang aspek kebaharuannya atau kurang teknis. Jadi tingkat kesulitannya di antaranya.

Cara lain untuk mengukur apakah makalah kita itu akademik atau tidak adalah dengan melihat referensinya. Jika referensinya menggunakan artikel dari jurnal (yang kredibel), maka tulisan kita itu boleh jadi akademik. Jika referensinya tidak ada artikel jurnal, malah banyak menggunakan artikel majalah umum, maka ke-akademik-an dari makalah tersebut dapat dipertanyakan. Begitulah.

[Saya ingin memberi contoh yang lebih banyak, tapi belum sempat. Tulisan ini juga saya buat di dalam mobil di parkiran. hi hi hi]


Puasa Facebook

Seharian kemarin saya berada di acara Cyber Defence Competition (CDC) yang diselenggarakan di Akademi Angkatan Laut, Surabaya. Saya berangkat dari Bandung pagi sekali. Sampai di sana langsung mengikuti acara dan seterusnya. Akibatnya saya tidak punya banyak waktu untuk ngecek Facebook.

Hasilnya? Menyenangkan!

Facebook sekarang isinya kebanyakan orang mengumpat-umpat, menjelek-jelekkan orang lain, meneruskan berita palsu yang tidak jelas sumbernya (bahwa sebuah situs ada alamat URL-nya bukan menjadi jaminan kredibilitasnya). Menjauh dari itu ternyata merupakan hal yang menyenangkan. Harus sering-sering nih puasa Facebook. hi hi hi. Mari …


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.