Category Archives: Curhat

Tulisan Yang Tidak Selesai

Memiliki tulisan yang tidak selesai – eh, belum selesai – mungkin bukan masalah saya sendiri tetapi masalah umum bagi penulis. Apa yang dilakukan oleh para penulis terkenal dalam menghadapi hal ini ya?

Saya sih mengabaikannya. Kalau tidak selesai, ya tidak selesai. Hilang. Poof. Dissapear. Kalau memang tulisan itu layak untuk tayang, dia akan muncul kembali. Bahwa dia akan hadir melalui jemari saya atau orang lain, itu persoalan lain. Itu masalah keberuntungan saja. Itu masalah perang ego.

Yang membuat saya kesal adalah saya merasa potongan tulisan – atau bahkan sekedar potongan ide – luar biasa bagusnya. Bukan hanya sekedar pantas untuk dibagi, tetapi *harus* dibagi. Hanya saja dalam bentuknya yang potongan tersebut maknanya masih belum terkumpul secara sempurna. Ide yang ada di kepala saya tidak sampai kepada pembaca. Eh, bukankah itu hal yang bagus juga? Interpretasi yang berbeda merupakan hal yang menarik juga.

[contoh potongan prosa; unfinished poem?]


people are afraid of fading away

but, fading away we must

[soundtrack: Camel - Long Goodbyes ...]


Strategi Upload Foto

Sebetulnya mau disebut strategi tidak terlalu cocok. Mungkin lebih cocoknya adalah cara (dan kesulitan) saya dalam melakukan upload foto ke media sosial di internet.

Biasanya kumpulan potretan saya agak banyak dan tidak semua layak untuk dipasang di internet. Misalnya, kemarin waktu ke Australia ada banyak foto yang saya ambil. Mereka harus diedit dulu – dikecilkan ukurannya (saya menggunakan standar lebar 1000 pixel) dengan cara resize atau crop (jika ada bagian yang harus dibuang), dan ditambahkan efek (diterangkan atau digelapkan dan diberi vignetting) – baru kemudian di-upload. Ini semua membutuhkan waktu. Akibatnya foto yang datang lebih cepat daripada foto yang sudah terupload.

Repotnya kalau upload foto dengan urutan yang seadanya maka flow dan mood di social media jadi kacau. Upload foto makanan, perjalanan, terus tiba-tiba disela foto bunga, terus kembali lagi ke perjalanan, terus makanan. mBingungi. Jadinya saya terpaksa bertahan dengan upload foto sesuai dengan urutannya. Jadi saja terlambat update foto-fotonya.

DSC_4347 kembang api 1000

[kembang api di rock show God Bless semalam (30 Agustus 2013)]

IMG_5921 coffee 1000

[kopi pagi ini]

Mungkin ini karena strategi yang saya lakukan salah juga. Kebanyakan maunya kali ya? ha ha ha. Biar saja ah. Saya nyaman dengan cara seperti ini.


Jadi Bahan Guyonan

Semenjak nama saya muncul di “seleksi calon menteri”, maka jadilah saya bahan guyonan. Ketika ada yang memperkenalkan saya, misal di kelas atau di acara pertemuan, selalu dibumbuhi dengan “ini dia calon menkominfo”. Ya ampuuunnn …

Saya hanya bisa meringis saja. hi hi hi. *meringis* … aing mah euy … :D


Tidak Bersedia Menjadi Menteri

Ternyata ada beberapa orang yang menunjukkan kepada saya bahwa Detik.com membuat halaman “Seleksi Menteri” dan saya menjadi salah satu yang dicalonkan. hi hi hi. Ada-ada saja. Ini screenshot-nya.

BR dicalonkan menteri

Repot juga untuk menjawab satu persatu di media sosial (facebook dan twitter) dan email. Nampaknya lebih mudah kalau jawabannya saya tulis di ini.

Saya tidak bersedia dicalonkan untuk menjadi menteri.

Nah, sudah jelas kan? Sudah pakai huruf bold segala. hi hi hi.

Ada banyak alasan mengapa saya tidak bersedia. Yang paling utama adalah karena menjadi menteri bukan cita-cita saya. Setiap orang itu punya cita-cita dan cita-cita itu harus dikejar. Hal-hal lain yang tidak mengarah kepada cita-cita tersebut sebaiknya dihindari. They are distractions. You have to say “NO” to those distractions. Misalnya Anda bercita-cita untuk bepergian ke Bali dari Bandung. Maka, tawaran ke Singapura harus dihindari karena itu tidak sejalan dengan tujuan Anda. Teguh.

Saya masih punya banyak kegiatan yang harus diselesaikan. Saya masih ingin menjadi technopreneur, membangun usaha-usaha yang memiliki nuansa teknologi. Berkontribusi kepada Indonesia kan tidak harus menjadi menteri. Kalau semua menjadi pimpinan, siapa yang jadi rakyat? Kalau peribahasa orang di Amerika Utara, “all chiefs, no indians“. he he he.

Saya sadar bahwa kadang agak susah menjelaskan ini ke banyak orang. Banyak yang menilai saya gila untuk menolak tawaran ini. Banyak orang yang kasak-kusuk ingin jadi menteri. Saya, tidak tertarik. Bagi saya, keputusan mengatakan tidak adalah hal yang mudah. It’s very clear to me. I am not interested. Semoga ini merupakan keputusan yang baik dan direstui oleh Allah swt. Amin.


Kebetulan Yang Menyenangkan

Sabtu kemarin, sehabis futsal, saya bermaksud membeli makanan di tempat futsal untuk makan malam. Di situ ada yang jualan mie Jogja (mie nyemek) dan nasi goreng. Eh, pas ke sana ternyata sudah habis. Ihik. Tidak apa-apa. Cari yang jualan makanan di dekat situ ah.

Sambil mengendarai mobil perlahan, saya teringat ada tempat jual sate tegal dekat situ. Belok aja. Kemudian pesan sate kambing, sate ayam, tongseng ayam, dan gulai kambing. Ini sebetulnya coba-coba karena belum tahu rasanya seperti apa. Eh, sebetulnya saya sudah pernah beli di tempat itu tetapi lupa lagi rasanya.

Sampai di rumah, makanan ini menjadi makanan malam. Dicoba … dan rasanya … euanaaakkk. Alhamdulillah. Jadi ini kebetulan yang menyenangkan. Kebetulan tadi kehabisan di warung tempat futsal, jadi mencoba beli di sini. Ternyata malah jadi asyik.

Selalu positif …


Dreams Do Come True

Pertama-tama, mohon maaf karena judulnya dalam bahasa Inggris. Ini bukan karena saya ingin sok bergaya, tetapi karena kata-kata itulah yang mengena di hati saya. Boleh ya? Kalau tidak bolehpun tetap tidak saya ganti juga. hi hi hi.

Tulisan ini terkait dengan perjalanan saya ke Australia kemarin, yaitu ke pusat desain dan pengujian mobil Ford. Pada awalnya saya tidak paham kenapa saya diundang. Ini rasanya yang ketiga kalinya mereka mengundang saya. Dua sebelumnya saya tolak. Kali ini saya rasa materinya agak cocok, yaitu ada pemanfaatan virtual reality dalam desain mobil. Nah, ini baru sesuai dengan bidang saya – teknologi informasi. Hal lain juga adalah karena saya belum pernah ke Australia. Menarik juga.

Setelah saya berada di sana, ternyata topik utamanya adalah desain dan pengujian mobil. Keren! Memang ada aspek teknologinya – yang akan saya tuliskan – tetapi yang menari justru dari aspek otomotifnya sendiri. Peserta dari konferensi ini sebagian besar (semuanya?) adalah media otomotif. Mungkin saya sendiri yang berbeda. hi hi hi.

Yang juga menarik bagi saya adalah pada hari kedua saya berkesempatan untuk ikut menguji (test drive) beberapa mobil Ford yang teknologinya sudah dijelaskan pada hari pertama. Pengujian dilakukan di sirkuit yang jauh dari mana-mana. Artinya, kita bisa memacu mobil sekencang-kencangnya. Wogh!

Dulu waktu kecil saya sempat punya cita-cita (dreams) untuk menjadi pembalap. Entah kenapa. Mungkin karena sempat tertonton film Heintje(?) yang dalam ceritanya bapaknya jadi pembalap? Atau mungkin karena saya sering nonton balap mobil (F1 utamanya). Pokoknya bercita-cita jadi pembalap saja. Meskipun demikian, dalam keseharian saya termasuk “defensif driver”, yaitu pengemudi yang sabar dan tidak grasa-grusu :)  Saya tahu perbedaan antara mengemudi di jalan umum (raya) dan di sirkuit meskipun saya sendiri belum pernah mengendarai mobil di sirkuit.

Akhirnya kemarin itu kesampaian cita-cita saya untuk mengemudikan kendaran di sirkuit. Tidak jadi pembalap sungguhan, tetapi cukup memenuhi dreams saya. Now, I know how it feels to drive in a real circuit. Alhamdulillah. Inilah yang saya sebut “dreams do come true“. Thank you, Ford.

20140820_SDP_9172 BR and cars

[berpose di depan mobil setelah test drive di You Yangs Proving Ground, Melbourne, Australia]

Yang menarik bagi saya adalah yang mengundang saya tidak tahu bahwa ini adalah bagian dari dreams saya. Bagi saya sendiri, saya tidak menyangka ini bakal terjadi. Masih ada dreams saya yang belum berhasil, yaitu manggung (ngeband) di Madison Square Garden. Siapa tahu kejadian juga. You’ll never know. hi hi hi.

Apa cita-cita atau dreams Anda?


Balas Dendam Tidur

Sebetulnya konsep balas dendam tidur itu betul gak sih? Misalnya kita biasa tidur 6 jam sehari, kemudian beberapa hari kita tidur hanya 3 jam, maka hari ini kita balas tidur dengan menambahkan kekurangan jam tersebut. Jadi hari ini kita tidur 9 jam. (Memang tidak harus satu kali tidur 9 jam, tetapi total hari ini tidurnya menjadi 9 jam.) Efektif tidak ya?

Terus, kenapa kok kemarin dalam perjalanan saya kurang tidur tetapi bisa ok-ok saja? Eh, setelah sampai rumah kok bawaannya jadi ngantuuukkk terus. Apakah ada alasan yang logis?


Kurang Bersahabat Dengan Sambal

Kemarin pas dalam perjalanan ke luar negeri, ada kawan yang membawa bekal sambal. hi hi hi. Kejadian ini bukan sekali dua kali tetapi beberapa kali. Ternyata ada banyak orang Indonesia yang kalau makan harus dengan sambal. Yang menjadi masalah, sambalnya juga sambal yang ada di Indonesia. Jadi mereka harus berbekal sambal dari Indonesia.

Saya sendiri agak iri melihat orang yang bisa makan dengan sambal. Masalah saya, perut saya agak sensitif terhadap sambal. Saya sendiri sebetulnya suka dengan bau dan rasa sambal. Kalau mau makan yang berbau sambal, terpaksa buat sendiri. Habis bagaimana lagi? Kalau nekad makan sambail, perut langsung berontak.

Entah kapan perut saya mulai sensitif terhadap sambail, karena waktu kecil rasanya biasa-biasa saja. Makan tahu dengan cabe rawit itu biasa dan tidak apa-apa. Sekarang kok jadi agak manja nih perutnya. hi hi hi. Mungkin faktor usia ya? (Ini alasan yang paling mudah digunakan kalau tidak menemukan alasan lain yang lebih logis. hi hi hi.)


Mencoba Mobil Ford

Ini adalah hari kedua dalam acara “Innovation for the Millions” yang diselenggarakan oleh Ford di Melbourne. Hari ini kami diajak ke You Yangs Proving Ground, yaitu tempat pengujian kendaraan buatan Ford. Hari ini kami menguji beberapa mobil di sirkuit yang ada di sana dan juga menguji akselerasi dari 0-100 km/jam. Sayangnya kami tidak diperkenankan untuk memotret. Handphone dan kamera disimpan di sana. Ini dapat dimengerti karena banyak hal yang sifatnya rahasia di sana.

Kami meninggalkan hotel cukup pagi, pukul 7:45. You Yangs berada di luar kota, sekitar 50 km dari Melbourne. Yang menarik adalah adanya kota (?) Little River di dekat You Yangs itu. Saya jadi ingat sebuah band yang namanya Little River Band. Wogh.

Acara dimulai dengan penjelasan mengenai fasilitas yang ada di sana dan apa yang mereka lakukan di sana, yaitu antara lain adalah pengujian kendaraan. Ada sekitar 2300 hektar tanah yang berisi sirkuit dan jalur-jalur yang didesain khusus untuk mengemulasikan kondisi jalan yang bervariasi di seluruh dunia. Pokoknya keren lah. Nanti akan saya ceritakan satu persatu setelah saya kembali ke Indonesia ya. Di sini sudah lewat tengah malam dan saya harus bangun pagi untuk kembali ke Indonesia.

Yang menarik bagi saya adalah saya mendapat kesempatan untuk menguji beberapa mobil di sirkuit. Ini pertama kalinya saya mengendarai mobil di sirkuit. Asyik bisa mencoba dengan kecepatan tinggi. hi hi hi. Rasanya seperti di acara TV Top Gears saja. Bahkan saya juga sempat mencoba menguji mobil dari 0 ke 100 km/jam. Percobaan pertama saya mendapatkan waktu 9,9 detik. Orang tercepat pagi ini adalah Aris, wartawan Kompas.com; 9,09 detik. Dia mendapatkan hadiah jaket! Ini pertama kalinya saya mencoba pengujian ini. Lebih susahnya lagi pengujian ini dilakukan dengan menggunakan mobil dengan transimis otomatis. Bagi saya, ini lebih susah lagi. Not bad.

Eh, kok malah jadi nulis lagi. Nanti saya sambung lagi.

Link terkait:


Pertama Kali Ke Australia

Mendarat. Pagi ini saya mendarat di Melbourne, Australia. Ini adalah pertama kalinya saya berada di Australia. Horeee.

Acara saya di Australia adalah melihat penelitian yang dilakukan oleh Ford. Betul, Ford yang pabrikan mobil itu. Mereka akan menunjukkan hasil riset terbaru mereka; dengan menggunakan virtual reality (Oculus Rift). Wah nampaknya seru. Semoga. Sementara ini saya menyesuaikan dulu dengan temperatur Melbourne yang dingin (10 derajat celcius).

Tadi belum sempat foto-foto di bandara Melbourne. Begitu sampai langsung digebah sama yang jemput untuk cepat-cepat ke mobil karena dia harus menjemput yang lain lagi. Jadi begitulah. Belum sempat foto-foto. Ihik. Bandaranya sendiri tidak terlalu modern dibandingkan bandara-bandara lain (seperti Singapura, misalnya). Tapi cukup baguslah.

Sekarang ngeblog dulu di hotel :)

IMG_5687 working desk 1000


17 Agustusan

Kayaknya 17 Agustusan kali ini tidak serame (meriah? gebyar?) sebelum-sebelumnya ya. Maksudnya, tidak ada parade atau lomba-lomba tarik tambang, panjat pinang, dan seterusnya. Mungkin ini hanya di daerah saya saja ya. Eh, memang tidak perlu heboh juga sih. Yang penting kita ingat dan kita memberi kontribusi kepada negara kita.

Sedang mikir, apa ya kontribusi yang sudah saya berikan kepada bangsa dan negara ini?


Tidak Mengejar Prestasi, Tapi Tetap Serius

Dalam berbagai hal, saya mengambil pendekatan untuk tidak mengejar prestasi. Wah, maksudnya bagaimana? Nanti saya malah disalahkan karena mengajari untuk tidak mengejar prestasi.

Saya ambil contoh saja ya. Ketika masih sekolah dahulu, saya tidak berusaha untuk menjadi juara kelas. Tujuan saya belajar bukan untuk menjadi juara kelas, tetapi untuk menguasai materi ilmu di kelas tersebut. Caranya adalah dengan melihat materi kelas tersebut dari kacamata lain sehingga menjadi menarik untuk dipelajari. To make it interesting to solve. Something like that. Maka saya tetap serius dalam belajar. Hasil juara itu hanya efek sampingan.

Ada orang yang berusaha agar mendapatkan prestasi, dalam artian mencari gelar juara. Mereka terlihat begitu ngotot, untuk mencari julukan atau gelarnya. Maka banyak (teman-temannya) yang merasa risi dan tidak respek kepada mereka. Mungkin ini juga karena teman-temannya terlihat menjadi seperti tidak mau berusaha sehingga dinilai jelek. he he he.

Itu contoh untuk di kelas ketika masih bersekolah. Dalam kegiatan sehari-hari – seperti dalam berolah raga, bermain musik, membaca, menulis, dan seterusnya – saya melakukan hal yang sama. Nulis blog ini, misalnya. Banyak orang yang membuat blog karena ingin terkenal (atau karena akan digunakan untuk ndompleng). Sementara saya ngeblog karena … ya, saya suka ngeblog. hi hi hi. Maka saya tetap menerapkan keseriusan saya. Hasilnya, blog ini menjadi banyak pengunjung dan terkenal. Lagi-lagi, itu efek sampingan, bukan tujuan.

Nah …


Lagu Kritik Sosial

Perhatikan lagu-lagu Indonesia saat ini. Perhatikan liriknya. Apa yang kita dapati? Kebanyakan liriknya bernuansa cinta. Bahkan lebih spesifik lagi, liriknya bertemaka “aku cinta aku”. hi hi hi. Ya, Anda tidak salah baca. Aku cinta aku. Narsis. hi hi hi.

Nampaknya lirik lagu yang bertemakan kritik sosial sudah hampir punah. Atau jangan-jangan memang sudah punah. Seniman sudah tergerus oleh jaman. Selling out. Menggadaikan diri kepada industri. Maka senimanpun tersingkirkan.

Barusan saya mendengarkan lagu ini, “Jesus He Knows Me” yang dibawakan oleh group Genesis. Lagu ini menceritakan komersialisasi agama. Ah, ternyata tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun sama saja. Agama sudah dikomersialisasikan. Ayat-ayat suci dijadikan pembenaran.

Kalau lagu seperti ini dibuat di Indonesia, mungkin artisnya bakalan digeruduk massa ya? Soalnya ini sangat menyindir “ustadz”. hi hi hi. Bagaimana menurut Anda?

Sebetulnya bukan tidak ada lagu-lagu yang berisi kritik sosial, tetapi langka. Apa lagu kesukaan Anda?


Lagu Super Lawas

Seperti yang sudah-sudah, tadi pagi kami buka lapak Insan Music Store di Bandung Car Free Day (CFD). Saya berdiri di pinggir jalan dengan mengalungi gitar. Pura-puranya ngamen gitu.

Untuk ketiga kalinya ada seorang tua yang datang ke tempat kami. Dia mengira saya menerima permintaan untuk menyanyikan lagu. Maka mulailah dia menyanyikan lagu super lawas. Kalau sebelumnya, yang diminta adalah lagu “Masiro ki Fujino”(?) maka kali ini adalah lagu “Saputangan Bandung Selatan”. Saya pernah mendengar kedua lagu tersebut ketika masih kecil. (SD?) Maka dengan terbata-bata saya mencoba menyanyikan lagu itu dengan mereka.

Ternyata ada pasar lagu super lawas untuk orang-orang seperti mereka. Mereka ingin mengenang masa lalu, ketika mereka masih muda atau masa perjuangan dahulu. Sayangnya lagu-lagu seperti itu tidak ada di toko dan tidak ada lagi orang yang memainkannya. Diputar di radio? Rasanya sangat jarang atau bahkan tidak pernah. Maka begitu ada yang menyanyikan lagu tersebut, mereka senang sekali. Ada rasa senang juga karena membuat mereka senang. They have contributed a lot to this country. The very least we can do is to make them happy. At least for a moment.

Jenis lagu yang dekat dengan lagu-lagu yang mereka sukai mungkin adalah keroncong. Hmmm


Kreatif Karena Kepepet

Bagaimana seseorang menemukan sesuatu yang baru atau melakukan inovasi? Salah satunya adalah dia kreatif dalam mencari solusi atas permasalahan yang dia hadapi. Ada orang yang menghindari masalah, tetapi ada juga orang yang menghadapi masalah. Nah, orang yang menghadapi masalah harus kreatif dalam mencari solusi. Kalau solusinya mudah, mungkin namanya juga masalah ya? he he he. Dan kalau tidak ada masalah, mungkin dia juga tidak kreatif.

Ini yang namanya kreatif karena kepepet. Tidak masalah. Yang penting, kreatif. hi hi hi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.852 pengikut lainnya.