Category Archives: Curhat

Sakit

Beberapa hari ini saya tidak ngeblog. Alasannya adalah karena sakit. Sejak hari Selasa saya diare dan puncaknya adalah hari Rabu. Maka hari Kamis, yang seharusnya saya ke Jakarta untuk menjadi moderator di acara Inotek terpaksa saya batalkan. Kamis saya ke dokter dan diberi antibiotik. Kamis seharian istirahat. Jum’at sudah agak mendingan. Begitulah cerita singkatnya.

Yang menyebalkan dari sakit ini adalah saya tidak bisa apa-apa. Lemes sekali. Jadi mau ngeblogpun sudah tidak sanggup. Nah, sekarang karena sudah agak baikkan, mulai ngeblog lagi. Mengejar ketinggalan. (Kayak apa aja ya? hi hi hi)


Menilai Tugas Mahasiswa

Dan tibalah saatnya saya harus menghadapi pekerjaan yang menyebalkan, menilai tugas mahasiswa. Kalau boleh sih, sambil tutup mata semuanya saya beri nilai “A” saja. Ha ha ha. Tapi ini tidak adil bagi yang sudah bekerja keras dalam belajar dan mengerjakan tugas. Mereka pantas untuk mendapatkan nilai “A”. Sisanya? Ya kurang dari A lah. Apalagi yang super malas, ya paling tinggi “C” lah. Atau, sekalian tidak diluluskan saja. wogh.

Kali ini saya salah perhitungan. Tadinya nilai terakhir masuk pertengahan bulan Juni. Eh, ternyata nilai masuk minggu depan. Senin! Padahal saya memberitahukan mahasiswa bahwa batas terakhir memasukkan tugas adalah lusa. Maka akhir pekan ini saya harus bekerja keras untuk memeriksa dan memberi nilai. Hadoh.

Derita dosen tiada akhir …


Kecenderungan

Ternyata ada satu hal yang sama dalam pekerjaan yaitu selalu berbeda. Banyak orang berharap semua pekerjaan adalah sama dan dapat diselesaikan dengan template. Ternyata kenyataannya berbeda. Setiap pekerjaan yang datang selalu berbeda. Maka dibutuhkan orang yang dapat memecahkan masalah dengan kondisi yang selalu berbeda.

Cara orang menyelesaikan masalah atau tugas memiliki kecenderungan-kecenderungan tertentu. Ada yang bersifat defensif dan menunggu. Ada yang agresif. Ada yang tertutup dan terbuka. Ada yang marah-marah. Ada yang sabar. Dan seterusnya. Kecenderungan ini juga merupakan hal yang selalu sama.

Bagaimana dengan kecenderunganmu?


Hari Ini

Hari ini saya dijadwalkan untuk memberikan presentasi tentang IT untuk staf non-IT di Bursa Efek Indonesia. Karena tempatnya di Jakarta dan saya tinggal di Bandung, maka saya harus berangkat super pagi sekali. Pukul 3:30 saya mulai mengemudikan kendaraan dari rumah. Waktu itu saya pilih agar dapat shalat Subuh di jalan, sebelum masuk ke Jakarta.

Alhamdulillah hari ini perjalanan lancar sehingga saya sampai di tempat sebelum pukul 7. Kadang, meskipun sudah berangkat pagi ada saja kepadatan di jalan sehingga sampai di tempat di Jakartanya lewat dari waktu yang direncanakan. Masalahnya di Jakarta kan ada 3-in-1 yang dimulai pukul 7. Jadi saya harus sampai di tempat, yang kebetulan kena 3-in-1, harus sebelum pukul 7.

Selain harus bangun lebih awal dan tentunya mempersiapkan diri juga, masalah kedua adalah sarapan. Kalau kepagian seperti ini, masih susah cari sarapan yang dekat dengan tempat acara. Pukul 6:30 pagi, mall belum buka. Untungnya saya akhirnya menemukan beberapa tempat yang sudah buka pagi. Di gedung Bursa Efek, ada coffee shop yang sudah buka. Pagi ini saya ke Daily Bread yang sudah buka. Sarapan omelete dan kopi dulu. Sambil menyiapkan materi presentasi. (Presentasi berjalan dengan baik dan menyenangkan – ceritanya menyusul. Kalau ingat. ha ha ha.)

IMG_4999 kopi 1000

Selamat pagi, Jakarta.


Kuliah Adalah Berkelompok

Hari ini saya disibukkan dengan beberapa mahasiswa S2 bimbingan yang siap-siap maju sidang thesis. Mereka seakan-akan dalam sebuah rombongan. Kemudian saya mengingat-ingat perjalan sejarah saya. Nampaknya memang perjalanan perkuliahan saya juga seperti ini.

Ketika S1 dulu, saya sempat sedikit tertunda di akhir kuliah. Tugas akhir sempat tertunda beberapa bulan. Apa yang saya lakukan adalah ke kampus tapi lebih banyak duduk-duduk di himpunan dan becanda dengan teman-teman. Tiba-tiba ada salah seorang dari kelompok kami yang siap maju sidang. Maka seperti ditampar, semuanya langsung kembali ke lab masing-masing dan mengerjakan tugas akhir. Akhirnya (sebagian dari) kami lulus bersamaan.

S2 saya di Kanada juga hampir seperti ini, meskipun kawan-kawan saya jumlahnya lebih sedikit. Yang berdekatan sidangnya juga teman satu kelompok, yang mana sekarang kawan-kawan saya ini tersebar di berbagai negara. Begitu salah satu menyelesaikan thesisnya maka ini memicu kami untuk cepat-cepat menyelesaikan thesis kami juga. S3 juga demikian, satu grup kami (yang jumlah anggotanya lebih kecil lagi) tiba-tiba ada yang disertasinya hampir selesai. Maka kami juga ngebut supaya bisa selesai sama-sama.

Kelompok, teman-teman ini, bagi saya bermanfaat untuk  memotivasi  menyelesaikan  tugas akhir, thesis, dan disertasi. Kalau sendirian, mungkin semangat untuk cepat-cepat selesainya menjadi rendah. Eh, mungkin ini karena sifat saya saja ya yang lebih suka berkelompok. Mungkin ada yang lebih suka kerja sendirian. Entahlah. Bagi saya, kuliah ada berkelompok. Siapa tahu strategi ini dapat mempercepat proses kelulusan Anda.


Seperti Partai Politik Saja

Saya punya analogi khusus untuk menggantikan kata ilusi (atau halusinasi?), yaitu “seperti partai politik saja“. hi hi hi. Kata-kata ini saya gunakan ketika ada seorang calon start-up yang membuat sebuah aplikasi dan merasa bahwa aplikasinya itu bakal populer. Dengan sok pastinya, sang (calon) entrepreneur mengatakan bahwa aplikasinya akan digunakan sekian puluh ribu orang. Ini sama dengan partai politik yang merasa pasti bahwa dia akan mendapatkan kemenangan karena mendapatkan dukungan yang banyak. hi hi hi.

Masalahnya adalah cara mereka untuk mengukur diterimanya aplikasi (atau partai politik) oleh masyarakat itu salah. Mereka melakukan survey di lingkungan mereka sendiri. Partai politik A melakukan survey ketika sedang melakukan musyawarah partai A. Ya sudah jelas semuanya akan pilih partai A. ha ha ha. Demikian pula yang terjadi dengan survey kepopuleran aplikasi tersebut, yang salah adalah bagaimana mereka melakukan surveynya.

Akhir-akhir ini media sosial seperti facebook dan twitter ramai orang mempromosikan (dan lebih banyak lagi yang menjelek-jelekkan) calon presidennya. Begitu ada yang me-like, mereka berpikir bahwa mereka mendapat dukungan. Ya iyalah. Yang memberikan dukungan jelas dari lingkungannya sendiri (seperti contoh survey di acara musyawarah partai itu sendiri di atas). ha ha ha. Ini adalah ilusi. Analogi ini yang saya gunakan untuk start-up.

Orang juga berpikir bahwa dengan menuliskan sesuatu di internet, mereka dapat mengubah pemikiran (pilihan) orang. Padahal ini tidak terjadi. Apalagi yang terjadi dalam media sosial bukanlah diskusi (untuk mendapat masukan tentang apa yang dituliskan) tetapi adalah berdebat tentang ego dari orang-orang itu. Content tidak jadi bahan diskusi. You won’t get anything new from when you started. Ini hanya pertarungan ego – siapa yang lebih tahan berdebat saja. Itu saja. It doesn’t prove anything (related to the content).

Kembali ke soal calon start-up yang ingin mendapatkan masukan mengenai produk (aplikasi) yang mereka kembangkan, mereka harus melakukan survey dengan cara yang benar. Ini ada ilmunya. (Calling Syaiful from MBA SBM ITB.) Jadi jangan “seperti partai politik saja” ya.

Oh ya, bagi yang membacanya terburu-buru, ini tulisan lebih tentang entrepeneurship bukan tentang politik lho.


Bangsa Yang Minta Dikasihani

Nampaknya saya harus sepakat bahwa bangsa Indonesia ini terdiri dari orang-orang yang minta dikasihani. Kebanyakan orang merasa harus dikasihani. Bukannya menjadi orang yang mandiri dan menolong orang lain, tetapi malah ingin menjadi orang yang merengek-rengek.

Banyak orang berjualan di tempat pejalan kaki atau bahkan di jalan. Alasannya? Kasihani kami pak, kami tidak punya uang untuk menyewa toko atau kios. Nah, ketika mereka sudah besarpun – sudah punya toko – mereka masih meminta dikasihani. Mereka tidak menyediakan tempat parkir yang cukup sehingga pelanggan parkir di bahu jalan, membuat lalu lintas menjadi macet. Kasihani kami pak.

Mengendarai kendaraan juga demikian. Melanggar aturan lalu lintas. Kasihani kami, kami harus pergi kerja . (Apa orang lain tidak pergi kerja juga?) Harus cepat-cepat sampai tujuan. Serobot. Baru-baru ini ada kecelakaan antara mobil dan motor yang melawan arus. Yang disalahkan adalah mobilnya. Padahal sudah jelas yang salah. Akan tetapi karena orang beranggapan bahwa yang bawa motor adalah orang yang perlu dikasihani maka pengendar mobillah yang salah. Opo tumon?

Partai politik (dan pendukungnya) pun setali tiga uang. Partai kami ditindas oleh mereka. Dan seterusnya. Maka muncullah negative & black campaign. Bukannya mencari yang positif tetapi mencari yang negatif.

Seharusnya kita selalu berusaha dan bercita-cita menjadi orang yang mandiri. Menjadi matahari, yang menyinari sebagian dari planet. Bukan menjadi orang yang selalu minta dikasihani. Maukah kita?


Menjadi Lebih Terkurung Dengan Internet

Internet membuka dunia. Kalau dahulu kita hanya dapat mengakses informasi yang sifatnya lokal, atau paling jauh dengan bantuan surat kabar, sekarang kita dapat mendengar langsung kabar dari dunia yang sangat jauh. Langsung dari sumbernya. Seharusnya ini membuat orang menjadi lebih terbuka wawasannya. Menjadi lebih arif dan bijaksana. Sayangnya ini tidak terjadi.

Dalam memilih informasi yang kita baca, kita cenderung mencari informasi yang sesuai dengan yang kita inginkan. Sesuai dengan filter kacamata yang kita pakai. Jadi jika kita condong kepada warna (aliran, pendapat, style) A, maka sumber berita yang kita cari adalah yang memberikan konfirmasi kepada A. A itu bagus. Sementara itu sumber informasi yang memberikan warna B, C, D, dan seterusnya tidak disentuh.

Kalau dahulu kita seperti katak dalam tempurung, sekarang malah katak dalam bola besi. hi hi hi. Kalau tempurung masih dapat ditembus oleh sinyal handphone, bola besi seperti sangkar Faraday sehingga sinyal pembawa beritapun tidak masuk. Semakin tertutup pandangan atau pendengaran kita. Jadinya seperti ini, bertengkar terus di internet.


Tulisan Yang Akademik

Saat ini saya sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan mahasiswa terkait dengan tugas kuliah mereka, yaitu membuat makalah. Salah satu hal yang nampaknya mereka belum mengerti adalah bahwa makalah yang harus mereka buat harus bersifat akademik. Apa maksudnya “akademik” di sini? Nah itu dia.

Tingkat kesulitan dari makalah yang mereka buat kira-kira seperti ini. Jika makalah itu dikirimkan ke majalah komputer, maka makalah tersebut akan ditolak karena terlalu teknis. Pembaca akan pusing. Sementara itu jika makalah ini dikirim ke jurnal, maka makalah tersebut akan ditolak karena kurang aspek kebaharuannya atau kurang teknis. Jadi tingkat kesulitannya di antaranya.

Cara lain untuk mengukur apakah makalah kita itu akademik atau tidak adalah dengan melihat referensinya. Jika referensinya menggunakan artikel dari jurnal (yang kredibel), maka tulisan kita itu boleh jadi akademik. Jika referensinya tidak ada artikel jurnal, malah banyak menggunakan artikel majalah umum, maka ke-akademik-an dari makalah tersebut dapat dipertanyakan. Begitulah.

[Saya ingin memberi contoh yang lebih banyak, tapi belum sempat. Tulisan ini juga saya buat di dalam mobil di parkiran. hi hi hi]


Puasa Facebook

Seharian kemarin saya berada di acara Cyber Defence Competition (CDC) yang diselenggarakan di Akademi Angkatan Laut, Surabaya. Saya berangkat dari Bandung pagi sekali. Sampai di sana langsung mengikuti acara dan seterusnya. Akibatnya saya tidak punya banyak waktu untuk ngecek Facebook.

Hasilnya? Menyenangkan!

Facebook sekarang isinya kebanyakan orang mengumpat-umpat, menjelek-jelekkan orang lain, meneruskan berita palsu yang tidak jelas sumbernya (bahwa sebuah situs ada alamat URL-nya bukan menjadi jaminan kredibilitasnya). Menjauh dari itu ternyata merupakan hal yang menyenangkan. Harus sering-sering nih puasa Facebook. hi hi hi. Mari …


Serba Salah

Serba salah. Begitulah pengamatan saya terhadap situasi yang dihadapi pak Jokowi. Setidaknya itu yang saya amati di internet.

  • bertemu dengan duta negara Amerika dan Barat, dianggap antek kapitalis;
  • bertemu dengan duta dari negara Timur Tengah, dianggap antek Arab;
  • bertemu dengan pimpinan pesantren dan organisasi Islam, dianggap gak sopan;
  • bertemu dengan pimpinan agama non-Islam, tuh kaaannn;
  • bertemu dengan rakyat, dianggap pencitraan;
  • tidak menemui rakyat, dianggap membuat jarak dengan rakyat dan tidak mengayomi.

Jadi harusnya bagaimana? Tidak usah kerja. Duduk-duduk saja di rumah.

Saya jadi teringat sebuah cerita sufi tentang seorang bapak dan anaknya yang bepergian ke luar kota dengan menunggangi keledai. Berikut adalah komentar-komentar dari orang yang melihat

  • sang bapak naik keledai dan anak berjalan: orang tua gak sayang anak, mosok dia tega naik keledai dan membiarkan anaknya jalan?
  • sang anak naik keledai dan bapak berjalan:  anak kurang ajar. mosok orang tua disuruh jalan sementara dia enak-enak naik keledai
  • keduanya menaiki keledai: ini orang mikir gak sih? keledainya apa gak mampus tuh dinaiki dua orang
  • keduanya berjalan dan keledai dituntun: orang ini goblok, ada keledai kok tidak dipakai.

Ya sudah. Batalkan saja perjalanan. Tidur saja?

Sebagai seorang pemimpin, kita tidak boleh takut menjalankan apa yang kita anggap benar. Kita tidak bisa membuat semua orang senang. Yang penting adalah kita lakukan sesuai dengan kebenaran yang kita pahami.

 

 


Tekun

Salah satu topik obrolan kemarin dengan beberapa orang adalah tentang kesuksesan. Kerja keras harus dilakukan agar mencapai tingkat yang lebih tinggi, dari pekerja terus ke management terus ke owner. Saya bilang mungkin hanya sampai ke management saja ya. Soalnya menjadi owner itu mungkin jalurnya beda. Itu jalur entrepreneurship bukan jalur profesional. Hmm… benar gak ya?

Menurut saya, salah satu kunci kesuksesan – selain kerja keras – adalah tekun. Persisten. Terus menerus. Tidak menyerah. Istiqomah? Sering orang merasa sudah kerja keras dan sukses belum juga hadir. Dia kemudian menyerah. Padahal sedikit lagi saja dia bisa sukses. (Tahunya dari mana ya?)

Sebagai contoh ya blog ini. Banyak orang yang baru nulis satu, dua, sampai puluhan halaman blog, kemudian sudah menyerah. Maunya sukses seketika. Ya ndak bisa. Harus tekun. Tulisan ini adalah tulisan yang ke 4470. Yup, sudah lebih dari 4000 tulisan. Bayangkan kalau satu hari saya menulis satu tulisan, maka itu sudah lebih dari 10 tahun. hi hi hi. Kalau dijadikan buku, 4000 halaman itu setebal apa ya?

T e k u n . . .


Tercemari Kotornya Politik

Politik itu kotor. Kita sudah tahu itu, tetapi tetap saja kita terhanyut olehnya. Lihat saja berbagai tulisan di media sosial yang mengubah seseorang menjadi beringas, galak, jahat, menghasut, menjelek-jelekkan orang lain, dan seterusnya. Padahal kita tidak mendapat apa-apa dari situ. Tak ada efek positifnya. Tidak sadarkah kita oleh itu?

Blog ini juga jadi menulis tentang politik. ha ha ha. Meskipun sebetulnya isinya bukan tentang politik, tetapi justru ajakan untuk tidak terlibat dengan politik. Eh, ini bukan berarti kita buta politik lho. Kita tetap harus paham, tetapi jangan sampai kita terhanyut olehnya. Tidak usah ikutanlah. Kita kan rakyat biasa-biasa saja.

Ayo sadar. Mari kita kembali ke habitat kita yang santun dan menyenangkan.

Jreng!


Lebih Dari Itu

Beberapa hari (minggu?) yang lalu saya betermu dengan seorang rekan yang mengeluhkan bahwa pegawai di kantornya hanya kerja sesuai dengan tugas administratifnya saja. Jika tugasnya sudah selesai – misalnya harus mengerjakan ini dan itu – maka berhentilah dia. Dia tidak mau bekerja lebih, meskipun dia bisa. Dia tidak termotivasi untuk berpikir lebih dari itu. Bahkan dalam menyelesaikan tugasnyapun dia harus diberitahu. Tidak ada inisiatif sama sekali. Kalau tugasnya adalah menyusun kursi, maka setelah kursi tersusun dia tidak mau mengerjakan hal lain; menyusun meja, memasang taplak meja, ngepel lantai, dan seterusnya. Kan tugas saya nyusun kursi sudah selesai. Lantas apa lagi?

Keluhan rekan ini dapat saya pahami. Bahkan saya dapat melihat masalah yang dia hadapi bukan hanya terjadi di tempatnya saja tetapi hampir di seluruh tempat di Indonesia. (Anda termasuk?)

Saya dapat membayangkan pertanyaan orang-orang tersebut, untuk apa saya bekerja lebih banyak? Toh gaji saya sama dengan yang lain (yang kerjanya pas-pasan saja). Nah itu dia. Tolok ukur yang mereka gunakan adalah aspek finansial. Mereka bekerja hanya mengharapkan dapat gaji saja. Tidak ada kepuasan diri dalam bekerja.

Orang-orang sukses yang saya kenal tidak pernah menggunakan aspek finsansial sebagai ukuran. Mereka berpikiran lain, seperti bagaimana kontribusinya terhadap masyarakat, bagaimana kontribusi mereka terhadap perusahaan / instansi. Bagaimana agar perusahaannya (instansinya) itu menjadi lebih baik, meski entitas itu bukan milik pribadinya. Lagi-lagi karena ukurannya bukan finansial. Mereka termotivasi oleh berkontribusi.

Mereka yang sukses ini juga tidak mengukur dirinya dengan orang lain. Mereka mengukur dirinya dengan dirinya sendiri. Be the yardstick. Kalau dibanding-bandingkan, orang lain puas bekerja 70% maka dia bekerja 150%. Bahkan lebih dari itu. Angka-angka orang lain ini tidak penting bagi mereka karena mereka mengukur dirinya sendiri.

Nah, masalahnya adalah bagaimana memotivasi mayoritas orang-orang yang hanya berpikir bekerja pas-pasan saja ya?


Amalan Khusus?

Suatu saat, saya ditanya oleh seseorang: “Pak Budi, apakah bapak menerapkan amalan-amalan khusus?”. Dalam hati saya berkata, lagi? (Saya sudah pernah cerita tentang ini. deja vu)  Saya berpikir. Apa ya? Rasanya tidak ada sesuatu yang saya lakukan secara khusus. Setelah lama berpikir, akhirnya jawaban saya kali ini adalah:

Saya selalu berusaha untuk menghargai (respect) orang lain. Be good to others.

[jawaban ini masih sama dengan jawaban yang waktu dulu ... hi hi hi. jadi saya ulangi lagi saja.]

Banyak orang yang tidak dapat melakukan hal yang sederhana ini. Saya dapat melihat bagaimana cara mereka berbicara atau bertingkah laku terhadap pelayan di restoran / warung, tukang sapu,  pesuruh, pemulung, dan seterusnya; tidak menghargai. Tidak santun. Terlihat  ada semacam hambatan (barrier).

Di jaman sekarang, bukan saja tidak menghargai, orang-orang banyak yang menghardik, memaki, mengumpat, mencela, memfitnah, dan seterusnya. Keberadaan internet yang seharusnya menjadi hal yang baik malah memperburuk. Orang menjadi lebih mudah menihilkan orang lain.

Suatu ketika saya pernah melihat seorang tua yang bukan orang sekolahan, tapi cara dia bersikap dengan orang lain – respect other people -  menunjukkan bahwa dia seorang yang berpendidikan (educated). Ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi saya. Untuk bacaan, silahkan baca buku ini: Ken Kragen, Life is a contact sport.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.698 pengikut lainnya.