Arsip Kategori: Curhat

Mengalah Itu Bukan Kalah

Salah satu penyebab kemacetan di jalan adalah adanya orang-orang yang tidak mau mengalah. Mereka merasa harus duluan. Akibatnya jalan menjadi terkunci karena tidak ada yang mau mengalah, memberikan jalan. Padahal seringkali dengan kita memberikan jalan maka terjadi pergerakan dan kemacetan pun terhindari atau berkurang.

Dalam diskusi, di media sosial misalnya, banyak orang yang tidak mau mengalah. Pendapatnya harus “menang”. (Whatever definition of winning is.) Dia harus menunjukkan kepada dunia bahwa dia tidak kalah. Padahal kalau kita sudah mengemukakan ide atau argumentasi kita itu sudah cukup. Para pembaca (audience) dapat mengerti. Mereka tidak bodoh.

Mengalah itu bukan kalah. Kalaupun kalah, memangnya kenapa?


Batal Golput

Dalam tulisan terdahulu, saya menyatakan akan golput. Khatib di khutbah Jum’at kemarin mengatakan sebaiknya kita tidak golput dan memberikan beberapa contoh dan dalil-dalil yang menurut saya cukup baik. Tidak memaksakan ide dan cukup convincing.

Tadinya saya ingin menulis sebuah opini bagaimana skenario yang sayang inginkan. Eh ternyatakemarin Jokowi mengumumkan diri akan menjadi calon presiden. (Merupakan salah satu skenario yang saya inginkan.) Saya batal golput. Anda sudah dapat menduga siapa yang akan saya pilih bukan?

Saya yakin ada banyak orang yang seperti saya; dari tidak punya pilihan menjadi memiliki pilihan yang jelas. Pasar, index saham, nilai rupiah, dll. menguat. Artinya bukan hanya saya saja ternyata yang menyambut ini.

Bismillah … semoga Indonesia menjadi lebih baik.


Kemana Perginya Waktu?

Hari ini saya punya banyak rencana; mulai dari membersihkan ruang kerja, membuat materi presentasi, membuat soal-soal quiz / UTS, sampai ke membaca buku. Namun pada akhirnya banyak waktu saya gunakan untuk internetan. Eh, sebetulnya saya membersihkan berkas-berkas di komputer, mengedit (minor) foto-foto dan kemudian menyimpannya di berbagai tempat di internet. Beberapa tempat tersebut adalah media social; facebook, flickr, picasa, twitter, dan seterusnya. Jadi kesannya adalah internetan tanpa tujuan. Padahal sesungguhnya internetannya adalah proses melakukan archiving berkas (foto).

Proses penyimpanan ini merupakan bagian dari belajar memotret. Ada banyak detail dari pelajaran memotret ini. Semuanya membutuhkan waktu. Akhirnya waktu hari ini  saya habiskan untuk menjadi bagian dari belajar memotret. Rencana lain menjadi tertunda. Saya akan sangat menyesal kalau saya hanya membuang-buang waktu tanpa tujuan. Mencari popularitas – seperti kebanyakan orang saat ini – bukan tujuan saya. Rugi kalau waktu dibuang hanya untuk itu. Belajar memang membutuhkan waktu. Cannot cut corners. Tidak bisa potong kompas.

Tulisan inipun sayabuat dengan terburu-buru. Takut membuang waktu secara percuma.


Mengkhayalpun Harus Disuapi

Salah satu kehebatan cerita di buku adalah kita bisa mengkhayal. Jika diceritakan tentang seorang yang tinggi dan besar, maka apa yang ada di kepala saya dan Anda akan berbeda. Demikian juga deskripsi tentang lingkungan yang ada juga dapat berbeda jauh. Berbeda dengan film, yang mana apa yang ditampilkan di sana merupakan visualisasi dari pembuat filmnya.

Perbedaan visualiasi ini mungkin justru yang membuat seseorang menyukai (atau membenci) sebuah cerita. Mungkin apa yang diceritakan itu nyambung dengan perjalanan hidupnya, yang ketika itu sedang bergembira ria (atau berduka). Perbedaan visualisasi ini terkait dengan latar belakang sang pembaca (atau penonton untuk film, teater, opera). Orang yang berasal dari lingkungan terdidik di luar negeri mungkin akan mudah menangkap cerita yang futuristik, terbang ke luar angkasa. Sementara yang lingkungannya seperti kita mungkin lebih mudah menerima cerita mistik. hi hi hi.

Ada yang menarik perhatian saya dalam cara orang Barat dan Indonesia bercerita. Dalam cerita-cerita di Barat, seringkali tidak semuanya diceritakan secara harfiah. Pembaca diharapkan mengisi sendiri dengan interpretasinya. (Ini sudah pernah saya ceritakan sebelumnya.) Misalnya seseorang yang menunggu lamaaa sekali. Maka yang ditampilkan adalah seseorang yang kusut penampilannya. Duduk. Berdiri. Ada beberapa kaleng minuman di dekat situ. Mungkin juga ada bungkus makanan. Atau kalau dia merokok, ditampilkan asbak dengan banyak puntung rokok. Sementara cara orang Indonesia bercerita beda lagi; ditampilkan orang itu dan dia berkata “aku sudah menunggu lama di sini”. hi hi hi.

Bagi saya cara yang terakhir itu sangat menyebalkan. Membunuh khayalan. Patronizing. Memangnya saya tidak dapat menarik interpretasi sendiri? Grrr. Tapi mungkin saya salah. Mungkin kultur di Indonesia memang demikian. Semuanya harus dituntun atau disuapi. Bahkan mengkhayalpun harus disuapi? Ya Tuhan … (OMG)


Banyak-banyakan Follower?

Saat ini ada semacam fenomena untuk banyak-banyakan follower di twitter. Ini sebetulnya agak mengganggu saya. Memangnya kalau sudah banyak followernya itu kenapa? Apakah seseorang yang lebih banyak followernya itu dia lebih disukai oleh orang lain? Terkenal? Atau apa? Saya masih belum mengerti. Masalahnya, ada juga orang yang bloon tapi banyak followernya. Orang-orang mengikuti dia karena dia bloon (dan followernya juga bloon kali ya? he he he …. maaaappp).

Fenomena ini ditambah dengan permintaan untuk follow back (folback). Memangnya untuk apa saya follback Anda? he he he. Memangnya kita ingin berdiskusi atau bagaimana? Ataukah ada yang menarik dari perkataan Anda? Atau bagaimana? Itulah sebabnya saya hanya bisa tersenyum kecut menanggapi permintaan follow back ini. Maaf, tidak.

Mungkin dunia sudah berubah ya?  Sedih juga teknologi informasi menciptakan kultur yang superfisial ini. Superfisial menang!


Golput

Pemilu 2014 sudah di depan mata. Pilihan? Tidak ada yang cocok. Permasalahannya sebenarnya bukan sekedar tidak ada yang cocok tapi kita tidak yakin mereka dapat mewakili suara kita. Bahkan untuk “the lesser evil”, yang paling minimal jahatnyapun sudah berada di batas minimal kita. Jadi harus bagaimana?

Untuk kasus ini banyak yang menyarankan “golput” saja. Saya kok condong sepakat dengan saran ini meskipun banyak suara-suara yang menyarankan untuk jangan golput. Bahkan ada yang sampai mengatakan kalau golput itu haram. Haram dari mana? Memangnya golput itu babi? he he he.

Memangnya kalau tidak golput milih siapa? Milih partai Anda? he he he. No thanks. Maaf, tidak. Kita coblos semuanya saja.


Bercerita (Story Telling)

Melihat beberapa video dari TED.com, saya terkagum-kagum dengan cara bercerita para pembicara di sana. Cara mereka bercerita (mendongeng) sunggu luar biasa. Menarik. Pertanyaan saya kemudian adalah, mengapa kita di Indonesia tidak banyak yang dapat bercerita seperti mereka? Padahal saya tadinya mengira bahwa di Indonesia ini ada banyak story tellers (pendongeng). Kan ada banyak dongeng di Indonesia. Semestinya banyak juga pendongengnya dong?

fajar yuliawanSaya menduga ada dua hal yang kita salah atau kurang. Pertama adalah kemampuan ini tidak kita ajarkan. Di sekolah-sekolah, anak-anak diuji dengan pertanyaan dalam bentuk pilihan berganda (multiple choice). Mereka tidak diberi kesempatan untuk bercerita. Soal ujian dalam bentuk essay sudah jarang digunakan. Mungkin ini dilakukan karena kemudahan memerika ujian seperti itu. Memang memeriksa soal essay lebih sulit, tetapi jika kita ingin Indonesia lebih baik semestinya itulah yang dilakukan.

Kedua, lingkungan. Lingkungan di kita harus memberi dukungan kepada cerita-cerita dan pendongeng yang baik. Saat ini yang terjadi adalah cerita jelek, buruk, kacangan yang digemari orang-orang. Lihatlah TV. Pendongeng yang baik menjadi tersisih. Seniman – in the true sense – terlihat menjadi manusia yang aneh. Mereka malah menjadi bukan mainstream. Ini juga salah kita. Seharusnya kita lebih banyak mendukung para pendongeng seniman ini.

Sudah miskin secara finansial, kita juga miskin kemampuan bercerita. Glodak …


Dongeng Kesukaan Mahasiswa

Tadi siang, saya memberikan presentasi mengenai teknik mengajar saya. Dalam diskusi dibahas mengenai cara untuk memulai kelas dengan mendongeng dulu. Ternyata topik yang disukai oleh mahasiswa adalah dongeng tentang hantu dan cerita-cerita motivasi. Hantu? Iya. hi hi hi. Tipikal orang Indonesia ya?

Nah, kayaknya saya harus mengumpulkan humor-humor tentang hantu nih. hi hi hi.


Akun Gadungan atau Jualan?

Kenapa ya banyak orang menggunakan akun gadungan atau akun jualan untuk berinternet, mengomentari blog, dan lain sebagainya. Padahal ini justru menimbulkan kesan negatif bagi pembaca yang lain. Internet itu justru mengharapkan kedekatan individual – bahkan dalam bisnis pun.

Seringkali oleh melakukan transaksi bisnis dengan pihak lain karena kepercayaan kepada orang (individual) yang berada di belakang bisnis itu. Kita membeli sesuatu karena itu tetangga kita, saudara kita, atau direkomendasikan oleh orang yang kita kenal. Cold marketing, langsung secara frontal itu berlaku di jalan dahulu – karena teknologi belum memungkinkan. Sekarang adanya teknologi memungkinkan untuk melakukan pendekatan individual yang manusiawi. Silahkan dicoba.

[BTW, akun dagang yang tidak relevan akan saya blokir.]


Hilangnya Pemersatu Bangsa

Sekelompok orang bersama-sama dalam situasi yang sulit dapat bersatu untuk mengatasi masalah tersebut. Bahkan musuh bersama (common enemy) dapat dijadikan alat atau alasan pemersatu. Dahulu bangsa kita bersama-sama karena berada dalam penjajahan. Dapat dimengerti para pahlawan kita mau mengorbankan apapun demi kemerdekaan Indonesia.

Nah, pertanyaannya sekarang adalah apa pemersatu bangsa Indonesia saat ini?

Saya kok bingung menjawab pertanyaan tersebut. Nampaknya kita kehilangan alasan untuk berjuang. Krisis ekonomi nasional? Tidak. Bahkan bencana alam yang dapat dijadikan masalah bersamapun tidak dapat mengumpulkan jiwa nasionalisme kita. Jadi apa yang merekatkan kita dalam suatu kesatuan negara Indonesia ini?


Jangan Menyerah!

Baru-baru ini ada mahasiswa yang datang ke saya. Mau konsultasi tentang masalah thesisnya. Saya persilahkan datang. Maka datanglah sang mahasiswa. Singkat katanya sang mahasiswa mengalami banyak permasalahan dengan thesisnya, teknis dan non-teknis. Waktu sudah banyak terbuang dan dia mau menyerah. Bahkan punya ide untuk pindah thesis ke saya, yang mana bagi saya ini malah jadi masalah baru karena ini akan memulai yang baru. Bakalan lama lagi.

Saran saya kepada yang bersangkutan adalah untuk tetap melanjutkan thesisnya saja. Tetap maju. Kalau kata orang Barat, “bit the bullet and keep on walking”. Tinggal sedikit lagi saja. Kalau perlu harus menggelandang di kampus, menggelandanglah. Begitu. Dan sang mahasiswa menurut. Singkat ceritanya, yang bersangkutan lulus.

Ada cerita yang mirip juga, tetapi waktu itu mahasiswanya merasa tidak ada value untuk meneruskan kuliahnya. Saya bujuk untuk tetap meneruskanlah. Tinggal 6  bulan lagi. Tetapi yang bersangkutan memilih untuk men-dropout-kan dirinya. Sayang sekali, meskipun mungkin ini sudah menjadi jalan hidupnya. Dia merasa yakin tidak perlu lulus dari perguruan tinggipun dia bisa tetap sukses. Ada benarnya juga. Semoga sukses!

Dalam olah raga juga demikian. Saya temui beberapa kejadian yang mana dalam pertandingan pemain-pemainnya sudah menyerah untuk berjuang padahal waktu belum habis. Apalagi kalau posisi tim sedang kalah. Semakin tidak bersemangatlah para pemain tersebut.  Saya pribadi untuk hal seperti ini berusaha untuk tetap semangat. It ain’t over until the fat lady sings. Begitulah peribahasanya.

Mari kita coret kata menyerah dalam kamus kita.


Industri Berita Palsu

Sudah banyak kita temukan berita atau cerita palsu di berbagai media sosial. Berita bohong ini dikenal dengan istilah “hoax”. Sebagai contoh baru-baru ini ada berita tentang seorang pegawai yang mengundurkan diri dari perusahaan dengan membuat beberapa foto lucu-lucu. Kemudian pengunduran dirinya ini ditanggapi oleh bekas atasannya dengan foto-foto yang lucu-lucu juga. Eh, ternyata ini pura-pura. (Baca di sini.) Kalau yang terakit dengan Indonesia adalah berita tentang PM Singapura meng-unfriend SBY di Facebook dan meng-untag foto-fotonya. Ini juga berita bohong.

Ada yang bisa kasih contoh lain?

Masalahnya ada banyak orang yang menerima berita itu sebagai hal yang benar, kemudian meneruskannya (forward, share, retweet) ke teman-temannya. Akibatnya berita bohong ini makin tersebar. Bahkan, yang menyedihkannya, media konvensional seperti surat kabarpun kemudian menyebarkan berita bohong ini tanpa melakukan check & recheck. Padahal di internet ada beberapa situs yang mendata hoax ini.

Awalnya mungkin cerita bohong ini hanya untuk iseng saja. Namun ada juga yang membuat cerita bohong ini untuk menyudutkan atau menjatuhkan pihak lain. Bahkan saya menduga ini sudah menjadi industri. Ngeri sekali. Kerjaan kok membuat orang lain menderita? Bukannya membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih menyenangkan? Aneh saja.

Nah, apakah pembuat berita palsu ini dapat dituntut secara hukum? Menurut saya sih iya, tetapi karena saya bukan pakar hukum saya hanya dapat menduga-duga. Atau kita tuntut secara “hukum rimba” saja ya? he he he.

Sementara itu, kita harus lebih selektif lagi dalam membaca berita. Boleh jadi itu adalah berita bohong. Nah, apakah tulisan ini termasuk yang hoax juga? hi hi hi. Silahkan Anda menjadi jurinya.


Gejolak Darah Muda

Membaca di media sosial saya senyum-senyum sendiri. Pasalnya saya melihat beberapa tulisan anak muda yang menggebu-gebu. Seolah mereka mengetahui segalanya. Padahal mereka baru mengetahui satu hal saja. Belum semuanya. Yang mana boleh jadi ini akan mengubah pendapat mereka saat ini.

Di satu sisi, lucu melihatnya tetapi di sisi lain gejolak ini yang membuat perubahan di dunia. Jika mereka mengetahui yang tidak mereka ketahui saat ini / itu, mungkin mereka tidak akan melakukan perubahan. Ketidaktahuan ini merupakan berkah. Hanya saja semoga saja perubahannya itu yang positif.

Dalam perjalanannya, saya berharap mereka tetap berusaha mencari kebenaran. Tetap menimba ilmu. Dan kemudian menjadi lebih bijak. Namun saya menyadari akan ada (banyak?) yang merasa puas terhadap dirinya. Menjadi arogan. Merasa yang paling tahu. Dan inilah yang kemudian akan membuat mereka terpuruk. Akan ada generasi yang lebih muda yang akan melabrak mereka.

Di sisi saya, saya mulai belajar untuk lebih bersabar melihat keluguan anak muda. Membiarkan mereka untuk bereksperimen daripada membatasi mereka. Kadang saya ingin langsung mengatakan kepada mereka bahwa apa yang akan mereka lakukan itu akan gagal. Saya tahu karena saya pernah melaluinya dan mengetahui yang sudah berhasil. Hanya saja mungkin sekarang kondisinya berbeda sehingga boleh jadi mereka dapat lebih berhasil (meskipun saya meragukan itu). Sabar, sabar, sabar. Biarlah mereka mencoba.

Mengingat judul ini saya jadi ingat judul dari pagelarang Ludruk ITB duluuu, “Gejolak Dracula Muda”. hi hi hi. Dasar anak muda. Kreatif.


Gagal Ngeblog

Saya baru sadar bahwa beberapa hari ini gagal ngeblog. Alasan klasiknya adalah sibuk. Alasan sesungguhnya adalah … sibuk. hi hi hi. Beberapa hari terarkhir ini memang acara cukup padat. Misalnya, pulang dari Jakarta sudah lelah dan keesokan harinya harus ngajar pukul 7 pagi. Jadi malamnya menyiapkan kuliah sedikit. Lantas paginya pukul 6 sudah harus berangkat dari rumah. Nah kalau barusan, kecapekan main futsal sehingga ketiduran. Bangun-bangun, tengah malam. Langsung ngeblog ini.

Banyak orang yang gagal ngeblog karena kebingunan dengan topik yang mau dibahas. Writer’s blocked. Saya kadang mengalami hal yang sama, tetapi seringkali tidak. Kegagalan saya biasanya adalah karena mau menulis sebuah topik tetapi kurang data pendukung. Sebagai contoh, saat ini sebetulnya saya ingin menulis tentang “pinholes glasses”. Itu lho kacamata yang kacanya diganti dengan lubang-lubang. Hanya saja untuk menulis tentang ini sayang ingin menampilkan foto kacamatanya. Artinya saya harus memotret kacamata yang baru saya beli ini. Belum sempat motretnya. Mosok tengah malam gini jeprat jepret motret dulu? hi hi hi.

Ada beberapa topik lain yang ingin saya tulis, seperti misalnya saya memulai kelas dengan memutar musik. Musik apa yang saya putar? Atau tentang apa kaitannya antara kebutuhan internet cepat dengan security. Atau tentang buku yang menceritakan IDEO. Atau … Pokoknya banyak deh. Intinya, soal topik saya tidak kekurangan. Yang kekurangan adalah waktu untuk memiliki data atau cerita yang lebih rinci.

Saya biasanya ngeblog harus dalam suasana tenang, yaitu malam hari. Mungkin saya harus mencoba ngeblog di siang hari, di sela-sela kesibukan. Perlu dicoba.


Menarik dan Mengikat Perhatian

Sering saya berada pada sebuah presentasi – seminar, sidang mahasiswa, kuliah, rapat, dan sejenisnya – yang isinya bagus tapi penyampaiannya kurang menarik. Saya lihat sang pembicara kehilangan perhatian dari para pendengarnya. Ingin rasanya berteriak dan mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh sang pembicara ini penting, tetapi situasi tidak memungkinkan. Sang pembicara salah karena tidak dapat menarik dan mengikat perhatian pendengar. Di sisi lain, pendengar hanya memiliki rentang waktu perhatian yang sangat singkat. Salahkah mereka?

Kesulitan menarik dan mengikat perhatian juga terjadi pada buku, film, acara tv,  musik, dan juga blog. Ada banyak buku yang topiknya sangat penting dan menarik tetapi disampaikan dengan cara yang tidak menarik. Baru baca beberapa halaman sudah bosan. Akhirnya buku disimpan di rak saja. Blog pun demikian. Baru baca beberapa kalimat, langsung ditinggalkan ke situs lainnya.

Lantas bagaimana cara menarik perhatian pendengar, pemirsa, dan pembaca? Setelah itu, bagaimana pula untuk mengikat perhatian mereka? Jawabannya adalah saya tidak punya. ha ha ha. Lah, sayapun sedang belajar. Sebetulnya ada beberapa hal yang saya duga dapat digunakan, tetapi ini belum saya buktikan. Namanya juga dugaan.

Pemilihan kata-kata merupakan satu hal yang saya duga sangat penting. Namun sayapun sering kesulitan untuk mencari kata-kata yang pas. Diksi saya terbatas. Saya sering terkagum-kagum melihat kepandaian orang dalam merangkai kata-kata. Luar biasa. Dari mana mereka mendapatkan inspirasi seperti itu? Kreatif sekali.

Karena saya tidak memiliki kemampuan merangkai kata-kata yang indah, maka saya ambil pendekatan dengan kejujuran. Saya mengungkapkan apa adanya saja. Namun yang saya ungkapkan bukanlah data atau fakta saja tetapi dengan emosi. Yang saya maksud dengan emosi ini bukan marah-marah, sebagaimana kebanyakan orang Indonesia. he he he. Maksud saya mungkin lebih tepatnya adalah “emotion”, “feeling”, atau apa ya? Rasa? Nah, ini merupakan salah satu contoh kesulitan saya (dalam mencari kata yang pas) dan cara saya menyelesaikannya (dengan menceritakan apa adanya, kejujuran). Pendekatan kejujuran dan rasa ini cocok untuk saya. Banyak orang yang mendengarkan ketika saya bicara.

Dugaan saya lagi adalah cara yang digunakan oleh setiap orang boleh jadi berbeda. Cara saya belum tentu cocok untuk Anda. Anda harus mencari cara yang pas. Sementara itu, saya masih harus terus belajar merangkai kata-kata.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.593 pengikut lainnya.