Selera makanan itu ternyata memang personal. Kebetulan orang-orang di seputar saya suka makan-makan. (Siapa yang tidak?) Kami senang mencoba makanan ini dan itu, tetapi ternyata tidak semua orang cocok dengan menu yang ada. Beberapa minggu yang lalu saya ketemu dengan saudara dan setelah bertukar cerita jenis masakan, satu selera. Lantas janjian untuk makan sama.
Sebagai contoh, ada yang suka masakan Timur Tengah (kebuli dan kawan-kawan) tetapi ada yang tidak suka dengan rasa dan baunya. Demikian juga ada yang kurang suka dengan kambing yang sering menjadi bahan utama daging dalam masakan ini. Itulah sebabnya ada banyak orang Indonesia yang kesulitan ketika pergi haji / umroh. Saya sendiri secara umum suka dengan masakan Timur Tengah ini. Ada beberapa tempat yang favorit kami kunjungi, seperti misalnya Sinbad (di Jakarta) atau Gaza (di Bandung). Tentu saja ada banyak tempat lainnya. Nama masakannya juga lucu, “mandi”.
Masakan India. Yang ini banyak yang tidak suka karena baunya. Ada yang bilang seperti bau ketek. he he he. Maklum kari memang aromanya keras. Bukan hanya aromanya saja tetapi kalau yang tidak kuat, perut bisa berontak. Saya suka juga masakan India ini. Kalau di Singapura, sarapan yang murah adalah prata. Sedap. Di Bandung, makanan India yang enak katanya di Pasar Baru (lupa namanya). Masih mencoba tempat-tempat lain.
Masakan Cina (Chineese Food). Secara umum orang Indonesia tidak mengalami kesulitan dengan masakan chineese food, tetapi tetap saja ada yang tidak suka. Sebagai contoh, saya suka Xiao Long Bao, tetapi ada yang muntah kalau makan ini. he he he. Namanya juga selera ya?
Nampaknya secara umum orang terganggu dengan bau dari masakan sehingga tidak selera. Sebagai contoh, durian! Banyak orang yang tidak tahan dengan baunya. Sementara itu bagi banyak orang, durian ini makanan yang perlu diburu tetapi agak mewah (masalah dengan dompet – he he he).