Sebaiknya sebelum memulai sebuah pekerjaan, berdoa dulu. Maka, sebelum berangkat kerja atau ke sekolah, berdoa dulu. Mari …
ALLOHUMMA BAARIK LANAA FIIMAA ROZAQTANAA …
weeiiittsss … tunggu bentar. Salah! Itu salah doa euy … he he he
Sebaiknya sebelum memulai sebuah pekerjaan, berdoa dulu. Maka, sebelum berangkat kerja atau ke sekolah, berdoa dulu. Mari …
ALLOHUMMA BAARIK LANAA FIIMAA ROZAQTANAA …
weeiiittsss … tunggu bentar. Salah! Itu salah doa euy … he he he
Mengapa kita dilarang untuk merayakan Maulid Nabi, yang notabene adalah merayakan hari lahirnya Nabi Muhammad (saw)? Sementara kita merayakan ulang tahun anak kita, orang tua kita, keluarga dekat kita? Semestinya kita konsisten, tidak perlu merayakan semua perayaan ulang tahun. Sudahkah kita konsisten?
Saya membaca tulisan Emha Ainun Nadjib yang berjudul “Allah dan Slang-slang AC” dengan trenyuh tapi setuju dengan tulisannya. Dia menuliskan tentang tempat shalat di gedung-gedung yang biasanya tersembunyi. Terpojok di sana beserta sliwerannya slang-slang AC.
Ini adalah sebuah fakta. Tempat shalat di gedung-gedung biasanya ada di tempat-tempat sisa. Tempat yang tidak dapat disewakan. Di situ digelar sajadah. Untuk mencapai ke sana mungkin kita harus melewati labirin, yang membuat tikuspun tersesat.
Apakah Engkau kesepian di sana, ya Allah? Maafkanlah kami …
Bagi saya, kegiatan perayaan Idul Adha dengan memotong hewan qurban adalah kegiatan bermasyarakat. Itulah sebabnya saya berusaha berkurban lokal di sini. Memang menarik untuk ikut berqurban di tempat lain dengan cara lain, tetapi sebetulnya daerah kami sendiri masih membutuhkan daging qurban dan kegiatan bermasyarakat.
Pemotongan hewan qurban dilakukan di lahan kebun milik salah seorang warga yang berada di pinggir jalan sehingga memudahkan warga untuk hadir. Maka lepas shalat idul adha, warga mulai berdatangan untuk menyaksikan pemotongan. Tidak saja menyaksikan, mereka ikut terlibat. Mulai dari menggali lubang, memasang pasak bambu, mencari tali (untuk mengikat sapi), menyiapkan air (harus menggelar selang yang cukup panjang untuk membilas jeroan), menguliti, memotong, memasukkan ke kantong plastik, menyediakan makanan kecil, atau sekedar bersosialisasi.
[Satu (sapi) melawan banyak (orang)]
Tua, muda, laki-laki, perempuan, semuanya hadir. Ini merupakan pertemuan warga yang jarang terjadi. Masing-masing memiliki kesibukan sendiri-sendiri, tetapi kali ini berkumpul bersama dalam suasana yang menyenangkan. Kadang dijumpai suasana yang lucu atau menegangkan.
[Anak-anak menaiki domba]
[Matador?]
Kami tinggal di daerah yang masih merupakan campuran antara kampung dan kota. Latar belakang finansial dari warga kami sangat bervariasi. Ada yang berkecukupan, tetapi ada juga yang jarang makan daging karena terlalu mahal.
Sebentar lagi kita akan merayakan hari raya Qurban. Idul Adha. Acara penyembelihan hewan kurban bagi warga sekitar sini adalah sebuah kegiatan sosial. Masyarakat berkumpul untuk beramai-ramai melihat penyembelihan hewan kurban. Tidak hanya itu, kami juga terlibat dalam prosesnya. Ramai-ramai. Tua muda berkumpul. Bagi kami, ini adalah sebuah kegiatan sosial yang menyatukan warga. Ternyata ini tidak hanya sekedar ibadah kepada Yang Maha Kuasa semata. Ah, indahnya ibadah.
Jika Anda sanggup untuk berkurban, lakukanlah. Yuk mari …
Selamat hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1433 Hijriah.
Taqabbalallaahu minna wa minkum
Semoga Allah menerima (amalan dan ibadah) aku dan kalian
Mohon maaf lahir dan bathin.
Saya yakin ada banyak hal yang membuat Anda tidak berkenan. Sekali lagi mohon dimaafkan. Mari kita sambut hari kemenangan ini dengan keceriaan dan kebahagiaan.
Hari-hari Ramadhan berlalu. Kita lupa bahwa ada kejadian yang penting pada bulan Ramadhan ini, yaitu turunnya Al Qur’an. Mungkin karena kita sudah terbiasa dengan Al Qur’an (alasannya) maka kita tidak mempersoalkan hal ini. Atau, alasan sesungguhnya, kita tidak peduli? Hadoh!
Seberapa pentingkah turunnya Al Qur’an? Pertanyaan ini sama dengan “seberapa pentingkah hadirnya sebuah anugerah (miracle)”?
Setiap orang memiliki masalah. Seringkali kita merasa masalah kitalah yang paling sulit di seluruh dunia. Akibatnya sering orang melarikan diri dari masalah, bukan menghadapi dan menyelesaikannya. Memang melarikan diri adalah cara yang paling mudah.
Ada satu teknik yang dapat dicoba untuk menghadapi masalah kita, yaitu mengubah cara pandang kita terhadap masalah tersebut. Langkah pertama adalah kita anggap atau persepsikan masalah kita sebagai tantangan (challenge) bukan masalah. Kemudian kita cari tantangan yang lebih besar dari tantangan itu. Bisa jadi tantangan yang lebih besar itu ada pada diri kita sendiri atau malah pada orang lain (yang ini malah lebih baik – hi hi hi). Setelah melihat tantangan yang lebih besar, maka tantangan awal kita terlihat lebih mudah dipecahkan dan bahkan kita hadapi tanpa perlu melarikan diri. Mari kita ambil contoh.
Kadang kita merasa berat dalam melaksanakan shalat Isya. Di kepala kita ada tantangan untuk melakukan shalat yang hanya 4 rakaat ini. Ngantuklah, nantilah, dan ada segudang alasan lainnya. Nah, sekarang di bulan Ramadhan ada shalat tarawih yang jumlah rakaatnya lebih banyak (termasuk witir, 11 rakaat atau 23 rakaat tergantung pilihan Anda). Setelah melihat shalat tarawih yang lebih berat ini maka shalat Isya terlihat tidak terlalu sulit. Kita lakukan shalat Isya dengan lebih mudah. Tanpa mengeluh. (Tapi timbul tantangan baru, bagaimana menghadapi shalat tarawih ya? hi hi hi.)
Contoh lain, seperti yang sempat saya sitir, adalah dengan melihat masalah orang lain yang lebih besar. Begitu kita tahu bahwa dia / mereka menghadapi masalah yang lebih sulit, maka masalah kita jadi lebih enteng. Atau, bahkan ada orang yang kemudian ikut menyelesaikan masalah orang lain tersebut – dengan kata lain memberi bantuan untuk memecahkan masalah – sehingga masalah kita sendiri dihadapi dengan cepat karena harus membantu orang lain. Itulah sebabnya orang yang sering menolong orang lain terlihat lebih tidak memiliki masalah sendiri.
Poin yang ingin saya sampaikan adalah menghadapi masalah itu hanya soal persepsi saja. Kita posisikan masalah yang kita hadapi itu sebagai masalah yang kecil sehingga tidak perlu kita takuti.
Bulan Ramadhan ini memberikan tantangan beribadah yang lebih banyak kepada kita. Kita ditantang untuk melakukan puasa (bulan biasa kita jarang berpuasa), shalat tarawih (biasanya jarang shalat malam), membaca Al Qur’an (hari-hari biasa sering terlupakan), dan melakukan amalan lainnya (biasanya jarang terpikirkan). Semoga dengan mengalami tantangan yang lebih berat ini di bulan-bulan selanjutnya kita lebih mudah melakukan ibadah-ibadah tersebut. Amin.
aku iri
melihat sajadahmu yang lusuh
tempat bekas kaki dan sujud terlihat memudar
andai aku …
aku iri
melihat Al Qur’an yang kau bawa
kertasnya yang bergelombang tanda banyak dibaca
andai aku …
Nampaknya kalau mau Jum’atan sebaiknya tidak makan kenyang dulu. Soalnya nanti ngantuk pas denger khotbahnya. he he he. Itu yang saya alami tadi. Berjuang keras untuk tidak tertidur. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba mengingat-ingat atau merangkumkan isi khotbah Jum’atnya.
Isi khotbah Jum’at kali ini juga ada hubungannya dengan makan(an), yaitu kelaparan dapat menyebabkan orang menjadi kalap. Itulah sebabnya kemiskinan dapat menyebabkan kekufuran. Tapi ini cerita lain ya.
Memang sebaiknya makan siang sesudah Jum’atan
Hari Minggu kemarin ada pengajian ibu-ibu di masjid dekat rumah. Penceramahnya pak Miftah Farid. Wah, sudah lama saya tidak mendengarkan ustad Miftah Farid. Bergegaslah saya ikutan mendengarkan.
Saya dibesarkan di Bandung. Sekolah juga dekat kampus ITB. Jadi dulu saya sering mendengarkan ustad Miftah Farid memberikan ceramah di masjid Salman. Pada waktu itu beliau sering cerita yang lucu-lucu, membanyol. Bahkan kemudian setelah saya masuk ke ITB pun saya masih mendengarkan beliau memberikan ceramah. Hanya saja ketika di kelas atau khutbah Jum’at ceritanya lebih serius. Soalnya kalau pada ketawa pas lagi Jum’atan kan bisa kacau.
Beliau sekarang sudah pensiun. Kemarin saya masih bisa menangkap beberapa bodorannya. Beliau tetap lucu. Serius tapi ada banyak kelucuan di dalamnya. Saya menduga tidak banyak orang yang mau tertawa terbahak-bahak. Maklum takut dianggap gimana gitu. ha ha ha. Guyonnya itu intelektual. Jadi harus ada mikir sedikitlah. Saya suka lawakan jenis yang seperti ini. Nah, karena kemarin bentuknya ceramah, ada banyak lelucon yang bisa dilemparkan di sana. Karena saya duduknya pas di sebelah beliau, maka saya bisa menangkap banyak lucunya. Saya hanya mesem-mesem saja. Padahal ingin tertawa
Terima kasih atas ceramahnya. Semoga beliau selalu diberi kesehatan dan barokah. Amin.
Semalam hujan. Pagi ini masih mendung, tetapi sudah tidak hujan. Bagusnya tempat untuk shalat nanti tidak berdebu. Buruknya, tempat menjadi agak basah. Jadi kami harus membawa plastik sebagai alas sajadah. Udara di tempat saya, Bandung. masih dingin. Terpaksa pergi shalat dengan jaketan.
Setelah shalat kami bergegas pulang untuk sarapan dulu. Lapar karena tadi puasa dulu sebelum ke shalat. Setelah itu saya melihat tempat pemotongan hewan kurban yang tidak jauh dari rumah. Sekarang sedang berlangsung pemotongan. Saya pulang sebentar untuk bergantian. Ngeblog dulu
Ternyata tidak mudah memotong sapi. Dibutuhkan banyak orang untuk menjinakkan sapinya dan memegangi sapi. Semua bekerjasama sambil bersendagurau. Menyenangkan. Saya sendiri mencoba menangkap momen-momen ini.
[memperkuat tiang]
Seru acaranya karena menjadi acara komunitas. Ini pentingnya dan hikmahnya ada qurban, untuk bertemu dengan tetangga. Biasanya pada sibuk sehingga jarang bertemu.
Bahkan yang jualan balonpun hadir
Selamat Idu Adha. Eid mubarak …
Hari ini saya memilih untuk seharian di rumah. Sebetulnya mungkin bukan memilih tapi terpilih karena saya merasa capek. Mungkin ini karena efek dari aktivitas hari sebelumnya. Memang semalam saya baru pulang ke rumah tengah malam setelah nonton band
he he he. Ditambah lagi hari ini kami berpuasa Arofah.
Waktu hari ini saya habiskan untuk tidur. Selain itu saya juga mencoba mengingat-ingat perjalanan haji beberapa tahun yang lalu. Betapa memang perjuangannya cukup berat, namun merupakan perjalanan spiritual yang menyenangkan. Untuk itu memang layak kalau kita-kita ini ikut mendoakan saudara-saudara kita yang sedang beribadah haji. Puasa ini merupakan salah satu dukungan kita kepada mereka. Kita hadiahkan ini kepada mereka-mereka.
Ya Allah, mudahkan urusan saudara-saudara kami yang berada di Arofah. Amin …
Tadi kami makan siang di the Harvest. Setelah makan siang, kami mencari apakah ada tempat shalat (mushola) di tempat itu. Ternyata ada di basement / tempat parkir katanya. Oke, tidak mengapa. Kami menuju ke sana. Pas saya lihat ternyata kami tidak bisa shalat di sana.
Musholanya cukup luas. Masalahnya adalah mushola itu dipakai tidur oleh beberapa orang. Ada mungkin tujuh orang yang tidur di sana. Entah mereka itu pegawai atau supir tamu atau bagaimana. Yang pasti, tidak ada tempat untuk shalat sama sekali. Akhirnya kami putuskan untuk shalat di tempat lain saja.
Nampaknya mushola dijadikan tempat tidur sudah biasa ya?
Pernah saya bertanya-tanya, mengapa ibadah harus diulang-ulang? Apakah tidak cukup dilakukan sekali saja? Sebagai contoh, shalat kita lakukan berulang-ulang. Bacaan shalat juga kita lakukan berulang-ulang. Mengapa ada repetisi atau pengulangan seperti ini? Repetisi ternyata punya beberapa manfaat atau tujuan.
Pertama. Pengulangan dilakukan agar kita lebih mudah untuk mengingat atau menghafal. Salah satu metodologi pengajaran adalah melakukan pengulangan. Saya masih ingat ketika kecil harus menghafal perkalian. Maka saya harus mengulang-ulang; 2 x 1, 2 x 2, 2 x 3, dan seterusnya. Demikian pula untuk menghafal surat atau bacaan doa, kita lakukan pengulangan. Sampai hafal.
Bahkan, untuk melakukan shalat pun kita lakukan pengulangan. Bagi yang baru pertama kali belajar shalat, mungkin belum ingat urutan gerakan, bacaan, dan hal-hal yang terkait. Mungkin sebagian besar kita sudah lupa proses belajar ini karena kita mempelajarinya waktu kecil? (Dulu kita juga harus mengulang-ulang.)
Contoh yang nyata juga adalah shalat Eid. Hayo berapa jumlah takbirnya? Karena kita jarang melakukannya – setahun hanya dua kali – maka kita mudah lupa. Maklum, lupa adalah kodrat dari manusia. Untuk itu memang pengulangan harus dilakukan. Tujuannya kali ini adalah untuk mengingat kembali. Tentang mengingat kembali ini, pengulangan digunakan juga oleh pembicara (presenter, dai) dengan mengatkan inti atau poin yang ingin disampaikan di awal, diulangi di tengah, dan disampaikan kembali di akhir. Untuk mengingat kembali.
Kedua. Pengulangan dilakukan untuk memberi penekanan kepada hal tertentu, hal penting. Ini merupakan sebuah teknik dalam memberikan presentasi. Hal ini dilakukan untuk menegaskan kepada pendengar atau pembaca akan pentingnya hal tersebut. Di beberapa surat, ada bacaan yang diulang-ulang. Bahkan diulang secara berturutan. Tujuannya adalah untuk menekankan bahwa ini penting.
Ketiga. Pengulangan dapat digunakan untuk menerapkan / mendidik disiplin. Sebagai contoh shalat – yang kita lakukan berulang-ulang secara terjadwal – mengajarkan disiplin untuk bangun pagi (shalat Subuh), dan mengerjakan shalat di waktu-waktu yang lain.
Keempat. Pengulangan digunakan untuk mengajarkan dan menguji kesabaran. Seringkali pengulangan menimbulkan kebosanan. Maka aspek ujian kesabaran akan muncul di sini. Tanpa sabar, sulit menjalankan kegiatan yang berulang-ulang.
Kelima. Melakukan hal yang berulang-ulang akan menjadikannya kebiasaan dan pada akhirnya menjadi budaya. Ibadah kita lakukan berulang-ulang sehingga menjadi budaya. Mungkin ada yang tidak suka hal ini, tetapi bukankah lebih baik memiliki budaya ibadah yang baik daripada tidak memilikinya bukan?
Keenam. Pengulangan dapat meningkatkan skill. Yang ini sudah jelas dilakukan di berbagai bidang. Di dunia olah raga, atlit berlatih terus. Pemain sepak bola menendang bola berulang-ulang. Di dunia seni, pemain musik berlatih dengan alat musiknya terus menerus. Dalam ibadah demikian juga. Sebagai contoh, jika seseorang sering (berulang-ulan) melakukan shalat lail (tahajud) maka dia akan memiliki skill untuk melakukannya (bagaimana mengatur waktu tidur, dan seterusnya). Bagi yang jarang melakukannya maka akan terasa sulit. (Sama hal dengan puasa Senin Kamis, misalnya.)
Tantangan
Tentu saja pengulangan ini memiliki masalah atau tantangan. Yang pertama adalah ketika kita sudah hafal melakukan sesuatu maka kita bisa jadi kehilangan esensi dari apa yang kita lakukan. Kita melakukannya sebagai refleks atau bisa juga menjadi seperti robot. Shalat dilakukan gerakannya, karena sudah terbiasa saja. Lupa esensinya.
Nah, untuk mengatasi hal ini … pengulangan juga solusinya, yaitu pengulangan untuk mengingatkan alasan kenapa kita melakukan pengulangan tersebut. (Mengapa menjadi rekursif begini ya?) Oleh sebab itu, jangan bosan apabila mendengarkan khatib memberikan khutbah yang topiknya sudah pernah didengar.
Semoga bermanfaat.