Arsip Kategori: kuliah

Terlalu Pagi

Kadang saya datang ke kelas terlalu pagi untuk kelas yang memang pagi. Kelas di mulai pukul 7 dan saya berangkat dari rumah pukul 6. Berangkat pagi itu untuk menghindari macet dan marah-marah atas kemacetan itu. Energi negatif. Lebih baik berangkat lebih awal. Hasilnya ya datang kepagian. Tidak mengapa.

Ditemani oleh kopi yang dibeli sambil lewat, saya memiliki waktu untuk membuka internet dulu sambil mendengarkan lagu. Kadang saya tuliskan satu baris status di twitter atau facebook dulu.

coffee - empty class

Sebetulnya kuliah kali ini mahasiswanya cukup rajin. Tidak berapa lama biasanya sudah ada beberapa mahasiswa yang hadir. Tidak banyak, tetapi ini menunjukkan bahwa ada mahasiswa yang memang punya jam pagi juga.

Selamat pagi.


Dongeng Kesukaan Mahasiswa

Tadi siang, saya memberikan presentasi mengenai teknik mengajar saya. Dalam diskusi dibahas mengenai cara untuk memulai kelas dengan mendongeng dulu. Ternyata topik yang disukai oleh mahasiswa adalah dongeng tentang hantu dan cerita-cerita motivasi. Hantu? Iya. hi hi hi. Tipikal orang Indonesia ya?

Nah, kayaknya saya harus mengumpulkan humor-humor tentang hantu nih. hi hi hi.


Keysigning Party

Salah satu yang direncanakan pada kuliah saya tadi pagi adalah melakukan “keysigning party”. Setiap mahasiswa harus membuat pasangan kunci privat dan kunci publik. Kunci publik ini kemudian disimpan (upload) ke tempat tertentu. Kunci ini dapat “ditandatangani” oleh orang lain untuk meningkatkan keabsahannya. Jika saya menandatangani kunci tersebut, saya mengatakan bahwa kunci tersebut memang benar-benar diasosiasikan dengan orang ini. Demikian pula orang lain juga dapat menandatangani kunci publik saya untuk mengatakan bahwa memang kunci publik itu milik saya. Saling percaya ini menimbulkan kepercayaan yang disebut “web of trust”.

IMG_3954 keysign 1000

Foto di atas menunjukkan suasana kelas ketika melakukan keysigning ini. Hanya sayangnya network yang tersedia tidak mendukung untuk melakukan keysigning ini. Kami berada di belakang proxy yang membuat beberapa aplikasi (saya menggunakan GPG suite) sulit untuk melakukan proses keysigning ini. Sebetulnya bisa, tetapi manual dan laborious. he he he. Inginnya sih yang lebih otomatis. Lain kali kita akan mengadakan keysigning lagi ah.


Kuliah Semester Ini

Semester baru sudah dimulai di ITB. Ini sudah memasuki minggu kedua. Tentu saja langsung kesibukan datang. Tapi, lebih baik sibuk dengan pekerjaan daripada tidak ada pekerjaan, bukan?

Semester ini ternyata saya mengajar kuliah yang terkait dengan security saja. Ada tiga kuliah, (1) Keamanan Informasi (untuk S1), (2) network security (untuk S2), dan (3) incident handling (untuk S2 juga). Sebetulnya ada satu kuliah lagi – security juga, Security Architecture – tetapi saya batalkan karena saya sudah banyak mengajar dan pesertanya hanya 4 orang (sebelum PRS).

Mengajar tiga kuliah sudah cukup berat bagi saya. Saya heran ada dosen yang mengajar banyak kuliah. Entah mereka serius mengajarnya atau hanya ingin mendapatkan hal lain, seperti honor tambahan atau kenaikan pangkat atau pujian karena mengajar banyak. Entahlah.

Dan mulailah sibuk saya memperbaiki materi kuliah. Waduh.


Teknologi Informasi dan Pendidikan

Sudah banyak orang mendiskusikan tentang pemanfaatan teknologi informasi (IT) dalam pendidikan. Entah kenapa nampaknya pemanfaatan IT di pendidikan justru yang paling terlambat dibandingkan bidang lain, seperti bisnis misalnya. Padahal IT pada awalnya dikembangkan di lingkungan pendidikan – atau tepatnya lembaga penelitian – dan militer. Mungkin dunia bisnis lebih cepat merangkul IT karena langsung terlihat manfaatnya.

Saya sudah mencoba memanfaatkan IT dalam proses ajar mengajar, tidak seperti orang lain yang hanya berwacana atau berteori. hi hi hi. Pengalaman saya menunjukkan bahwa masih ada banyak kesulitan yang sifatnya teknis, bukan prinsipil. Namun karena banyaknya kesulitan teknis ini membuat elearning (katakanlah demikian) belum benar-benar dapat diterima. Sebagai contoh, masalah skala. Kebanyakan sistem yang ada dapat digunakan untuk jumlah siswa yang tidak besar, begitu jumlah siswanya banyaaakkk sekali, maka sistem menjadi tidak dapat digunakan. Contoh, pernahkah Anda chatting dengan 75 orang bersamaan?

Saya akan coba berbagi beberapa pengalaman saya. Kali ini tentang kuliah online dan lebih spesifik lagi berdiskusi secara real-time, bersama-sama, sinkron. Perlu dicatat bahwa sebetulnya pemanfaatan IT itu lebih banyak ke arah asinkron, yaitu mahasiswa dan dosen tidak perlu online secara bersama-sama. Ini untuk yang sinkron.

Beberapa kali saya mencoba membuat kelas secara online. Mahasiswa diminta untuk online pada saat yang sama. Masalah pertama adalah teknologi atau aplikasi apa yang akan kita gunakan. Idealnya kita ingin menggunakan video conferencing, seperti penggunaan Skype atau Google Hangout, tetapi infrastruktur di Indonesia masih belum memungkinkan. Untuk berdiskusi satu-lawan-satu sih nampaknya masih bisa. Bayangkan kalau mahasiswanya ada 75 orang. Bisakah? Mungkin tidak untuk saat ini.

Hal lain yang penting adalah aplikasi harus dapat menggunakan keybooard. Akan sangat susah bagi saya untuk mengetik dengan menggunakan handphone. Dengan kata lain, BBM atau WhatsApp tidak dapat digunakan. Hasil diskusi dengan mahasiswa menyisakan beberapa alternatif: IRC, Yahoo! Messanger (YM), Googletalk, Line, dan Facebook. Maka saya coba pendekatan itu untuk beberapa kelas yang berbeda.

Kelas yang pertama disepakati untuk menggunakan Line. Kelas ini cukup kecil, kurang dari 30 orang. Ketika online pun mungkin hanya 20 orang. Ternyata penggunaan Line cukup berhasil. Saya menggunakan Line di komputer, sementara mahasiswa ada yang menggunakan handphone.

Kelas yang kedua disepakati untuk menggunakan IRC. Menariknya mereka adalah generasi yang belum pernah mendengar kata IRC. ha ha ha. Saya sudah tua. Agak berat kalau memaksa mereka untuk memasang aplikasi IRC client. Akhirnya saya usulkan untuk menggunakan web-based IRC client. Ada banyak. Silahkan di-google. IRC cukup berhasil, meskipun di awal banyak yang bingung bagaimana “berbicara” di IRC. IRC juga masih banyak digunakan sebagai media live di berbagai konferensi (yang biasanya terkait dengan IT).

Kelas yang berikutnya kemungkinan menggunakan Googletalk saja. Nanti kita lihat keberhasilannya. Ini baru akan saya lakukan hari Senin malam. (Semoga listrik tidak mati. hi hi hi.)

Masalah pertama dalam kelas online semacam ini adalah adanya “keributan” di ruang kelas. Jika ada yang baru bergabung maka akan ada pesan muncul di layar. Ini mengganggu jalannya diskusi. Demikian pula kalau ada yang nyeletuk atau iseng komentar. Mungkin harus dibuatkan dua ruangan (conference room), satu hanya untuk sang dosen yang boleh bicara atau mahasiswa yang mendapatkan giliran, satu lagi untuk aktifitas kasak-kusuknya.

Masalah kedua adalah mengidentifikasi mahasiswa yang hadir. Nama (identitas) dari mahasiswa sering berbeda dengan nama mahasiswa yang bersangkutan. Misalnya kalau ada mahasiswa yang identitasnya adalah “ucings duduk” itu nama aslinya siapa? he he he. Ini nanti dikaitkan dengan daftar hadir. Ini pun menjadi persoalan sendiri. Apakah kehadiran di ruang chat ini dapat disamakan dengan kehadiran di kelas? Bisa tidak syarat 80% hadir juga termasuk hadir di dunia cyber?

Oh ya, saat ini saya sedang mencari aplikasi untuk share materi presentasi (power point). Saya ingin mahasiswa untuk melihat materi ini bersama-sama dengan syarat tambahan adalah mahasiswa tidak bisa melihat halaman berikutnya. Jadi kita harus melihat halaman yang sama bersamaan. Nah.


Analog Media

Dua minggu yang lalu saya menjelaskan tentang analog dan digital media di kelas. Maka kemarin, saya bawa piringan hitam untuk menunjukkan kepada mahasiswa. Kebetulan yang saya bawa adalah album dari Boston dan Lionel Richie. Sayangnya saya tidak punya pemutarnya yang bisa dibawa ke kelas. Jadi pas muter lagu Boston, kurang terdengar garangnya. he he he. (Sebelum kelas dimulai, saya putar videonya Steven Wilson, Drive Home.)

vinyl 1000

[Ini foto kedua album tersebut. Dipotret di ruang kerja saya.]

Sebetulnya saya juga membawa kaset ke kelas, tetapi ini tidak begitu menarik. Mereka sudah tahu apa itu kaset dan tidak menarik bagi anak-anak sekarang, yang notabene mendengarkan MP3.

Sebetulnya saya ingin menunjukkan musik digital, yaitu dengan MIDI dan kawan-kawannya. Tapi persiapannya nampaknya harus lebih berat lagi. Ya kapan-kapan deh.


Siklus Terbuka Kuliah

Salah satu masalah terbesar dari perkuliahan – menurut saya tentunya – adalah tidak adanya siklus tertutup (closed loop). Kebanyakan pengajar (guru, dosen) mempersiapkan bagian awalnya. Kuliah dimulai dengan baik. Bahkan sampai tengah-tengah perkuliahanpun masih baik. Asumsinya begitulah. Untuk sementara kita lupakan dosen yang mangkir. Nah, begitu sampai di akhir, mulailah muncul masalah.

Pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji atau diukur pemahamannya dengan ujian. Setelah ujian diperiksa, nilai diberikan. Setelah itu? Ya selesai. Ada mahasiswa yang lulus dan ada mahasiswa yang harus mengulang. Mungkin juga ada yang diberi kesempatan mengulang pada kesempatan yang sama, remedial.

Yang menjadi masalah di sini adalah tidak ada diskusi setelah akhir kuliah. Padahal mestinya ada fase mendiskusikan hasilnya. Melakukan evaluasi atas semuanya, dari sisi mahasiswa maupun dosen. Apakah materi sudah cukup baik atau relevan? Bagaimana cara menyampaikan materi tersebut? Dan seterusnya. Mahasiswa sudah tidak tertarik untuk mendiskusikan hasilnya karena sudah akan menghadapi kuliah baru. Demikian pula dosennya juga tidak tertarik untuk melakukan pembahasan karena toh kuliah sudah selesai. Repot-repot amat harus kerja tambahan.

Nah … tahun depannya kita menghadapi masalah yang sama.


Tahun Ajaran Baru

Hari ini secara resmi tahun ajaran baru dimulai di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Katanya kurikulum baru, kurikulum 2013, akan diterapkan. Saya sendiri tidak tahu bedanya selain ada perubahaan nama kuliah dan penomorannya. hi hi hi. Yang pasti, hari ini – minggu ini – saya masih mencoba mengatur jadwal kuliah.

Semester ini saya mengajarkan kuliah baru, “Keamanan Perangkat Lunak” (Software Security) untuk S2 dan S3, dan kuliah yang sudah saya pegang sebelumnya (Pengantar Teknologi Informasi untuk kelas internasional). Nah untuk kuliah baru inilah saya yang harus mengatur skedul karena saya belum tahu siapa saja yang mengambil dan apakah jadwal waktunya bentrok dengan kuliah lainnya.

Sementara itu, baru saja saya dapat kabar bahwa kemungkinan kelas Pengantar Teknologi Informasi saya hanya ada satu orang mahasiswanya. Padahal sebelumnya dikabarkan akan ada 15 mahasiswa internasional. Jika memang hanya satu orang, maka dia saya minta untuk bergabung di kelas lain saja.

Selamat berkuliah …

 


Makalah Minim Referensi

Saya heran melihat makalah mahasiswa yang minim referensi. Dari 170 mahasiswa, hanya ada di bawah 20 orang yang tahu menggunakan referensi dengan baik dan benar. Ini hanya sekitar 10%. Hadoh. Parah ya? Padahal ini bukan mahasiswa tingkat pertama dan ada banyak mahasiswa yang sudah mau lulus. Kebayang bagi saya isi tugas akhir (TA) / thesis / skripsi-nya seperti apa ya?

Ada makalah yang referensinya hanya satu buah! Kok hanya satu??? Dalam tugas yang saya berikan ke mahasiswa, saya menyaratkan minimal tiga (3) referensi. Akhirnya ada banyak makalah yang referensinya hanya tiga! Ampun deh. Apakah mereka tidak tahu bahwa kredibilitas dari makalah ditentungan – salah satunya – adalah dari jumlah referensi yang digunakan. Tentu saja jumlah referensi bukan satu-satunya ukuran dan belum tentu menjamin, tetapi ini adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan kredibilitas makalah.

Hmm…


Gambar di Makalah

Salah satu kesalahan yang sering terjadi pada makalah (mahasiswa) adalah menggunakan gambar dengan seenaknya. Sebagai contoh ini adalah tampilan sebuah makalah yang sedang saya periksa. Apa kesalahannya?

tugas mahasiswa gambar

Gambar nampaknya diambil (di-scan atau di-screenshot) dari makalah lain. Terlihat latar belakang yang berbeda (berwarna gelap) dan tulisan (fonts) yang kabur. Seharusnya gambar ini dibuat ulang. Atau kalau memang ingin menggunakan gambar dari sumber lain, buat kualitasnya yang bagus sehingga masih terbaca. Apa gunanya gambar yang  tidak terbaca?

Kesalahan kedua, yang tidak dapat dilihat dari gambar di atas tetapi dapat dilihat pada makalah sesungguhnya, adalah penulis tidak menyebutkan sumbernya. Alih-alih ini dapat dianggap sebagai pelanggaran hak cipta atau malah plagiat.


Topik Minggu Ini, Kriptografi

Entah kenapa, topik yang paling banyak saya bahas di kelas dan juga dalam bimbingan mahasiswa adalah kriptografi. Kebetulan memang kuliah yang saya ajarkan adalah kuliah keamanan, tetapi keamanan tidak selalu identik dengan kriptografi. Mungkin saja memang ini hanya kebetulan, karena ini sudah memasuki pertengahan perkuliahan.

Pembahasan kriptografi yang saya lakukan mulai dari sejarahnya dulu, kemudian beranjak ke konsep yang lebih susah. Mulai dari kriptografi kunci privat sampai ke kriptografi kunci publik. Mulai dari algoritma DES sampai ke RSA. ECC hanya disentuh sedikit di kelas tetapi banyak didiskusikan pada peneltian. Ada beberapa mahasiswa yang akan meneliti soal ini. Kelompok penelitian kami pun sedang melakukan penelitian tentang serangan terhadap ECC dengan menggunakan metoda Pollard rho dan/atau Pollard lamda. Seru dan pusing. Untungnya tim kami terdiri dari orang dengan berbagai latar belakang.

Yang bikin puyeng juga adalah menjelaskannya kepada mahasiswa. Ada beberapa hal yang menurut saya sangat gamblang ternyata membingungkan bagi banyak orang. Memang dulu saya juga sempat bingung dan sekarang lupa lagi. he he he. Mencoba untuk membuat kriptografi mudah dipahami dan menyenangkan. Mari ah.


Pengalaman Ujian Online

Tadi pagi saya menyelenggarakan UTS (Ujian Tengah Semester) secara online. Kami menggunakan sistem yang berbasis Moodle.

Sebetulnya mahasiswa dapat mengakses sistem dari mana saja karena sistem kami ini dapat diakses melalui internet. Hanya saja karena saya tidak yakin semua mahasiswa memiliki akses internet di tempat tinggalnya masing-masing, maka saya menyediakan fasilitas untuk ujiannya.

Kelas saya cukup besar, 160 orang! Maka saya meminjam lab komputer. Dua lab komputer. Gabungan dari kedua lab tersebut memberikan 120 komputer. Masih kurang 40 komputer lagi. Tidak apa-apa. Ujian pagi ini saya menduga akan ada yang telat. Kalau yang telatnya adalah 40 orang maka pas lah :)  Atau kalau tidak ada yang telat, mahasiswa dapat bergantian ujian.

Waktu yang saya berikan untuk ujian adalah 90 menit. Sementara soal yang saya buat ada 34 buah dan dapat dikerjakan kurang dari 30 menit. Itu dengan asumsi mahasiswanya paham apa yang saya tanyakan. Kenyataannya memang demikian. Banyak mahasiswa yang dengan cepat menyelesaikan UTS sehingga yang menunggu untuk ujian hanya beberapa orang. Itu pun menunggu kurang dari 10 menit.

Foto1891 mhs antri ttd 1000

[Foto mahasiswa ngantri untuk mengisi daftar hadir. Lebih lama mengantri ini daripada mengerjakaan soalnya sendiri.]

Poin pertama yang ingin saya sampaikan adalah kita harus menyediakan jumlah komputer yang cukup untuk melakukan ujian online.

Ketika ujian ada beberapa kejadian. Ada satu baris komputer, 4 komputer, yang tiba-tiba mati listriknya. Ternyata mahasiswa yang duduk di dekat dinding secara tidak sengaja kursinya menekan switch on/off dari power bar di dinding. Maka matilah 4 komputer tersebut. Setelah dinyalakan maka keempat mahasiswa tersebut harus mengulang kembali ujainnya. Untung sistem yang digunakan memperkenankan itu.

Ada juga mahasiswa yang komputernya tiba-tiba restart. Ada juga mahasiswa yang datang dengan membawa notebook dan minta ijin untuk menggunakan notebook tersebut daripada menunggu giliran mendapatkan komputer. Saya perkenankan. Eh, ternyata akses wifinya tidak stabil. Jadi mereka harus mengulang ujian dua kali. Akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan komputer desktop yang mulai ditinggalkan oleh mahasiswa yang sudah selesai.

Poin yang ingin disampaikan adalah infrastruktur harus reliable.

Ada masalah besar dalam menyelenggarakan ujian online. Saya ingin ujiannya bersifat “closed book”, tetapi bagaimana caranya? Browser yang digunakan kan bisa diarahkan ke Google untuk mencari jawaban di internet. Lebih parah lagi, di sistem blended learning yang saya gunakan untuk UTS ini juga saya gunakan untuk menyimpan materi kuliah dalam bentuk berkas presentasi. Mereka dapat melihat berkas ini untuk mencari jawaban.

Untuk itulah saya memberikan instruksi di kelas bahwa (1) mereka hanya diperkenankan untuk membuka UTS saja, (2) mereka harus memiliki kejujuran 100%. Bagaimana cara untuk memastikan hal ini secara teknis? Saya tidak tahu. Saya hanya mengingatkan mereka bahwa nilai dari UTS ini nilainya tidak terlalu penting dibandingkan dengan nilai kejujuran mereka. (Bobot dari nilai UTS ini akan sangat kecil.) Dengan kata lain mereka ujian terhadap diri sendiri. Jika mereka tidak dapat jujur kepada diri sendiri di lingkungan kampus yang notabene steril, bagaimana mereka dapat jujur di luar nanti?

Ujian ini adalah ujian terhadap kejujuran. Luluskah Anda?


UTS Kuliah II3062

Hari ini saya menyiapkan soal-soal untuk UTS kuliah II 3062 (Keamanan Informasi) yang akan dilakukan besok pagi, 19 Juli Maret 2013. Bagi mahasiswa saya, silahkan lihat instruksinya di halaman kuliah di server Blended Learning (BL).


Jangan Cepat-Cepat Lulus

“Jangan cepat-cepat lulus”, demikianlah saran saya kepada mahasiswa di kelas. Mereka terbelalak. Tidak percaya saya menyarankan demikian. Saran ini ada alasannya.

Pertama, begitu Anda lulus maka akan ada tuntutan ini dan itu dari keluarga dan masyarakat. Tuntutan pertama adalah Anda harus menghasilkan uang. Bagaimana mungkin? Wong baru lulus kok harus menghasilkan uang. Ya, Anda dituntut untuk bekerja yang langsung menghasilkan uang. Ini merupakan tekanan bagi para lulusan. Percayalah.

Salah sendiri cepat-cepat lulus. Semestinya ketika Anda masih jadi mahasiswa Anda sudah mulai mencari pekerjaan. Atau sebetulnya lebih bagus lagi adalah Anda membuat portfolio sehingga pekerjaan yang mencari Anda. Lakukan itu ketika masih menjadi mahasiswa.

Kedua, begitu Anda lulus maka keberadaan Anda di kampus tidak dikehendaki oleh pimpinan atau pengelola kampus. You are not welcome. Apa status Anda? Anda kan bukan mahasiswa? Ngapain luntang lantung di sini. Sana pergi cari kerja. Padahal Anda di kampus ini dalam rangka mencari kerja.

Karena Anda tidak boleh di kampus, maka Anda akan sulit menggunakan fasilitas kampus. Tidak boleh! Padahal kampus adalah tempat yang paling cocok untuk memulai startup company. Lihatlah perusahaan-perusahaan startup yang sukses. Banyak yang dimulai dari kampus.

Maka dari itu, jangan cepat-cepat lulus.

Tetapi ingat juga, Anda harus tetap lulus. Jangan karena berlambat-lambat lulus dan akhirnya malah lupa lulus alias drop out. Wogh.


Kumpul Kelas Online

Tadi pagi, akhirnya jadi juga kelas saya kumpul online. Sebelumnya saya sudah memberitahu mahasiswa untuk kumpul di channel IRC tertentu. Pagi tadi banyak yang hadir.

(Mengapa kami memutuskan menggunakan IRC telah dibahas di tempat lain. Singkatnya, IRC dipilih karena ini merupakan platform yang paling stabil untuk diskusi dengan jumlah orang yang banyak dan dengan kebutuhan sumber daya yang tidak begitu besar. Mahasiswa kelas saya ini jumlahnya sekitar 170 orang.)

Masalah pertama yang kami hadapi adalah identitas di IRC. Repot untuk mengasosiasikan identitas di IRC, dalam hal ini adalah nick name, dengan identitas mahasiswa sesungguhnya di kampus. Untuk itu disepakati untuk menggunakan id “NAMA-NIM”. Adanya NIM sangat membantu untuk menghubungkan kedua identitas tersebut.

Sebetulnya bisa juga digunakan “NIM-NAMA” (NIM duluan), tetapi nampaknya kurang elegan. NIM di belakang juga tidak apa-apa. Yang penting nanti dapat digunakan regular expression untuk memisahkan NIM dari identitas tersebut. Tinggal buat sebuah program untuk membuat konversi ke spreadsheet.

Masalah kedua adalah cara untuk menggantikan “mengangkat tangan” (polling) dalam bentuk digital. Misalnya, saya ingin bertanya seberapa banyak mahasiswa yang menggunakan WEB sebagai cara untuk mengakses IRC. Kalau ada mekanisme “angkat tangan digital” tentunya sangat memudahkan. Tinggal dihitung saja. Sekarang ini tidak ada. Mungkin harus membuat sebuah bot untuk melakukan hal tersebut. Jika mekanisme voting ini dilakukan di luar platform IRC maka akan repot bagi yang mengakses IRC dengan menggunakan handphone misalnya. Dia harus menjalankan aplikasi lain lagi hanya untuk voting dan kemudian kembali lagi ke IRC. Tidak natural.

Hal ketiga … IRC itu sangat “cerewet” (verbose). Mahasiswa ingin menyimak (membaca) tulisan saya saja. Mereka tidak ingin melihat ada tulisan yang mengatakan si-abc login / logout. Nah. Mungkin harus dibuatkan FAQ (frequently asked questions) terkait dengan penggunaan IRC sebagai mekanisme kumpul kelas. Hmmm…


[10:27] * FT__ (caf9191a@gateway/web/freenode/ip.202.249.25.26) has joined #kuliah-br
[10:28] * evecrest (~androirc@120.168.1.10) has joined #kuliah-br
[10:28] * pltobing (~patricklt@202.152.202.103) has joined #kuliah-br
[10:28] * stephanie182 (b6092e79@gateway/web/freenode/ip.182.9.46.121) has joined #kuliah-br
[10:28] * stephanie182 (b6092e79@gateway/web/freenode/ip.182.9.46.121) Quit (Client Quit)
[10:29] * evecrest (~androirc@120.168.1.10) Quit (Client Quit)
[10:29] * mgemaakbar (~mgemaakba@202.152.202.103) has joined #kuliah-br
[10:29] * mario_135 (c0ace279@gateway/web/freenode/ip.192.172.226.121) Quit (Ping timeout: 245 seconds)
[10:29] * damiannmm_135 (27d59e76@gateway/web/freenode/ip.39.213.158.118) has joined #kuliah-br

Demikian cerita pengalaman singkat kumpul kelas online.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.586 pengikut lainnya.