Arsip Kategori: kuliah

Foto Kelas

Ini foto di awal kelas pagi (pukul 7 pagi!)

CIMG4161 kelas pagi 1000

Ini foto di akhir kelas (pukul 9 pagi)

CIMG4162 kelas akhir 1000

Ini belum semua mahasiswa hadir. Kadang ada yang duduk di lantai depan :)


Tidak Kultwit

Entah kenapa saya kok kurang sreg dengan kultwit, yaitu “kuliah” dengan menggunakan twitter. Tentu saja ini bukan seperti kuliah konvensional.

Apa ya yang membuat saya kurang sreg?

Yang pertama adalah ada perasaan kita “merendahkan” (watered down) materi yang ingin kita sampaikan. Bahkan dengan pertemuan tatap muka yang langsung mengajarkan materi saja sudah sulit diserap, ini apalagi dengan menggunakan medium yang hanya 140 karakter. Saya sebetulnya menyukai hal-hal yang baru, maju, terdepan, avant garde, tetapi ini sudah berlebihan.

Yang kedua, twitter adalah media yang sifatnya sekarang. Setelah itu, hilang. Maksudnya begini. Kalau kita ingin melihat catatan “kuliah” kita yang lalu bagaimana? Apakah kita menyimpan apa yang kita tuliskan 6 bulan yang lalu? Yang seperti ini lebih mudah dengan menggunakan blog, misalnya.

Yang ketiga, saya merasa banyak yang melakukan kultwit hanya bertujuan untuk menambahkan jumlah follower. Lah? Bukankah fungsi utama dari kultwit itu adalah “kuliah”? Yaitu mengajari.

Jadi gimana ya? No kultwit for me. At least, for now.


Bukti Hadir Secara Digital

Salah satu syarat untuk mengikuti ujian di perkuliahan adalah hadir minimal 80%. Nah, kalau kita menggunakan sistem e-learning, apa bukti kehadiran mahasiswa?

  • Mendownload materi? Apakah setiap hadir harus download?;
  • Check-in dengan mengunakan sebuah program/aplikasi tertentu (setelah itu check-out)?;
  • Menuliskan sesuatu di forum, daftar hadir online?;
  • Hadir di forum chat? (Berarti instruktur harus online juga);
  • Apa lagi ya? Mohon usulannya.

Atau memang syarat kehadiran sudah tidak diperlukan lagi? Jika demikian maka harus ada peraturan dari institusi untuk menyatakan hal itu.

Dua minggu lagi saya akan meminta mahasiswa saya hadir secara online. Sementara ini saya masih mencari cara untuk menunjukkan bahwa mereka “hadir” sebagai pengganti tanda tangan di daftar hadir konvensional.

Update. Saya lupa memberitahukan bahwa kelas saya ini pesertanya > 120 orang. Jadi rasanya tidak mungkin (dengan teknologi sekarang dan kualitas jaringan yang tersedia) kalau semuanya harus login dengan menggunakan video :). Untuk sekedar chatting dengan 120 orang saja sudah merupakan tantangan berat.


(Foto) Kelas Pagi Ini

Kalau kemarin saya lupa memotret situasi kelas, maka tadi pagi (eh kalau jam 11 itu sudah termasuk siang ya?) saya potret kelas Keamanan Informasi Lanjut (S2). Ini dia hasilnya.

Foto1626 mahasiswa 1000 Foto1627 mahasiswa 1000

Mahasiswa masih bisa tersenyum karena perkuliahan baru dimulai. Belum ada tugas-tugas. Nah mungkin minggu-minggu depan senyum mulai menghilang dan dinggantikan dengan sakit kepala. He he he.

Selamat belajara.


Kuliah Hari Ini

Hari ini adalah hari pertama kuliah. Mulainya pagi sekali, pukul 7 pagi. Berarti saya harus berangkat dari rumah pukul 6 pagi. Tidak terlalu masalah.

Yang menarik adalah kelas saya pesertanya banyak sekali. Menurut daftar yang saya miliki ada 161 mahasiswa! Ini sih jadi mini konser. he he he. Itu belum lagi ada tambahan mahasiswa yang mau mendaftar (via PRS).

Di kampus kami jumlah kelas dengan kursi yang banyak terbatas sekali. Akhirnya tadi ada beberapa mahasiswa yang duduk di lantai. Padahal tadi yang hadir hanya 141 orang. Nampaknya harus ada 30 orang yang tidak hadir baru kelas ini bisa beroperasi. 30 orang itu sama seperti satu kelas. he he he.

Sayangnya saya kelupaan untuk memotret tadi. Waaa.


(mahasiswa dan) Menulis Makalah

Saya sedang memeriksa tugas makalah mahasiswa sebagai bagian dari tugas mereka. Sayang sekali hasilnya tidak begitu baik. Misalnya masalah yang sering muncul adalah tidak mengerti bagaimana menggunakan referensi; tidak tahu cara mengutip dan menuliskan referensi. Padahal ini adalah bagian yang paling penting dalam dunia akademik.

Untuk mengetahui cara mengutip makalah dan menuliskannya dalam daftar referensi dapat dilakukan dengan membaca banyak makalah. Untuk mahasiswa pasca sarjana (S2, S3) tidak ada alasan untuk tidak membaca makalah. Kalau kita membaca banyak makalah, terbayanglah bagaimana pakem-pakem untuk menggunakan makalah. Kemudian kita baca aturan yang digunakan untuk kuliah / konferensi / jurnal yang bersangkutan. Ini semua ada aturannya. Tidang ngasal. Kalau tidak pernah baca makalah, ya bagaimana mau tahu? Setidaknya bacalah 100 makalah, gitu.

Mengutip juga harus dipelajari. Pengetahuan ini tidak dapat timbul dengan serta merta. Harus banyak berlatih. Salah mengutip dapat dianggap sebagai plagiat. Yang ini fatal akibatnya. Sayangnya hal ini sering dianggap remeh.

Mengutip itu tidak sama dengan menerjemahkan. Ada mahasiswa yang nekad mencoba menerjemahkan makalah. Memangnya tidak ketahuan? he he he. Ini sama dengan anak SD Indonesia yang mencoba menerjemahkan tulisan dari bahasa Perancis, misalnya. Ya bakalan ketahuanlah kalau menerjemahkan. he he he. Kalau hanya sekedar menerjemahkan sudah ada Google.

Di dunia akademik, Anda dinilai dari tulisannya. Tidak dapat menulis sama dengan tidak lulus. Titik.

Bagi mahasiswa saya yang sedang saya periksa tugasnya, silahkan perbaiki dahulu sebelum saya nilai.


My (intro to ICT) Class

As promised to my class, here are photos of the class.

This class is very small. The students are  from Pharmacy (international class).

To my students, don’t forget to do the assignments. Ok?

 

 


Computer User Interface

Kuliah Introduction to IT saya tadi siang membahas tentang perkembangan user interface (UI). Saya mulai dengan cerita tentang “command line“.

Pada awalnya, cara kita berkomunikasi dengan komputer pribadi dimulai dengan perintah-perintah yang kita ketikkan di atas keyboard. Di layar hanya ada urutan teks. UI ini sering disebut command line. Kelemahan command line adalah kita harus mengingat-ingat perintah yang digunakan. Misalnya, “DIR” untuk melihat isi direktori, dan seterusnya.

Kemudian muncullah “menu”. Berbagai perintah yang tadinya diketikkan oleh pengguna dapat dipilih melalui menu. Tampilan menu masih berupa teks biasa. Pada jaman itu tampilan grafis masih belum ada, atau lebih tepatnya terlalu mahal sehingga tidak umum. Belum lagi kecepatan komputasi dari komputer masih sangat terbatas. (Special graphic cards juga belum ada yang jualan.) Adanya “menu driven user interface” ini cukup membantu karena kita tidak perlu mengingat-ingat perintah.

Apple Macintosh muncul sebagai pendorong “graphical user interface” (GUI). Sebetulnya Apple bukanlah penemu awalnya, temuan ini sudah terjadi di Xerox Palo Alto Research Center, tetapi Apple-lah yang mempopulerkannya. Microsoft kemudian juga mengembangan Windows sebagai interface terhadap sistem operasinya.

Setelah GUI apa lagi? Berikutnya kemungkinan adalah UI yang menggunakan suara (speech). UI jenis ini cocok untuk perangkat yang sangat kecil sehingga sulit untuk menggunakan jari untuk memberikan perintahnya. Kita tinggal bicara dan komputer akan melakukan perintah yang kita berikan. Sekarang UI jenis ini mulai muncul. Siri anybody?

Setelah itu masih ada UI-UI lain yang baru lagi, seperti UI yang berinteraksi dengan bagian tubuh kita lainnya (mata, gesture, dan seterusnya). Bahkan ada yang mengusulkan dibuatnya alat yang langsung men-tap keinginan kita langsung dari otak, brain waves. Kita baru mikir, komputer sudah langsung mengeksekusi. Wah wah wah.

Demikianlah isi kuliah saya tadi siang.


Dosen Tanpa Jiwa Mengajar

Banyak orang yang mengira pekerjaan dosen itu gampang. Maka banyak orang yang bercita-cita menjadi dosen. Misalnya ada kawan yang bekerja di industri kemudian mengatakan bahwa dia ingin jadi dosen. Belum tahu bahwa jadi dosen atau guru itu tidak mudah.

Salah satu masalah yang dihadapi ketika menjadi dosen adalah konsistensi dalam mengajar. Untuk hadir satu atau dua kali di kelas itu mudah. Yang susah adalah datang 15 kali berturut-turut. Setiap minggu hadir di kelas! (Bahkan kalau jadi guru, setiap hari!) Ini tidak mudah. Banyak orang yang diundang untuk memberikan presentasi dalam seminar kemudian mengira dia akan berhasil untuk menjadi pengajar. he he he. Baru setelah mengajar sungguhan kerasa deh bahwa komitmen mengajar itu tidak mudah.

Mungkin karena itu atau alasan lain, ada dosen yang kemudian kehadiran mengajarnya belang bentong. Bukan itu saja, mengajarnya juga asal-asalan. Asal hadir. Asal memenuhi SAP. Dia tidak mengajar dengan passion. Tidak punya empati terhadap (maha)siswa. Jadi sang dosen menggerutu ketika hadir di kelas. Sementara itu pada saat yang sama, mahasiswa juga menggerutu hadir kuliah. Jadi kenapa keduanya tetap hadir di perkuliahan? Sama-sama menyiksa diri. he he he.

Jadi Anda masih ingin menjadi dosen / guru? Bagaimanakah dosen-dosen Anda sekarang? Apakah mereka memiliki jiwa mengajar?

Saya sih senang mengajar. Dalam hati saya berkata, “hari ini mahasiswa akan saya jerumuskan ke mana ya?” he he he.


Nilai (Masih) T

Hari ini adalah batas waktu pemasukan nilai untuk kuliah-kuliah semester ini. Hari ini terpaksa saya memasukkan nilai dengan sebagian besar masih mendapatkan nilai T (incomplete). Alasannya adalah karena saya sempat sakit beberapa hari (sehingga tidak dapat bekerja) dan mulai hari ini ada sidang S1/S2/S3 (yang mana saya harus mereview TA/thesis/disertasi mahasiswa lebih dahulu). Akibatnya proses penilaian kuliah menjadi terlambat. Mohon maaf atas keterlambatan nilai dari saya.

Sambil membereskan urusang sidang saya akan meneruskan proses penilaian sehingga nilai perbaikan cepat keluar. Bagi mahasiswa yang membutuhkan nilai segera, karena terkait dengan persyaratan sidang sarjana/thesis misalnya, mohon menghubungi saya sehingga nilai Anda akan saya prioritaskan dulu keluarnya.

Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatan ini. Semangat, semangat, semangat periksa final project (meskipun masih melayang dan kepala masih cenat cenut).


Kelas Saya Hari Ini

Berikut ini adalah suasana di kelas saya pagi ini. Ini adalah kelas II3062 – Keamanan Informasi. Jumlah mahasiswa waktu sebelum PRS adalah 100-an orang. Tadi saya lihat di daftar hadir sudah ada lebih dari 120 orang yang terdaftar. Yang hadir tadi pagi ada sekitar 110 orang. Wuih. Kelas padat :) Kursi … habis. Kalau semua hadir nampaknya ada yang harus berdiri atau duduk di lantai :)

[Tampak Kanan dari arah depan kelas. Agak kabur karena tangan bergerak.]

[Tampak Kiri] Mahasiswa memilih untuk menunjukkan “V” for “victory” :)


Makalah di Jurnal Syarat Kelulusan S1?

Baru saja saya mendengar berita (via email) bahwa katanya makalah di jurnal merupakan syarat kelulusan S1. Wah. (Link terkait ada di sini.) Bagaimana menurut Anda?

Menurut saya sih ini terlalu berat. Bagi S2 dan S3, ini tidak terlalu masalah. Bagi S1, hal ini terlalu memberatkan karena untuk terpublikasi di jurnal, kadang harus melalui proses review yang cukup lama. Kalau mau beneran terbitnya di jurnal, bisa-bisa S1 tidak lulus tepat waktu.

Atau maksudnya boleh terbit di jurnal-jurnalan? Begitu?


Selamat Ujian

Di kampus kami (ITB), ujian akhir semester (UAS) sedang berlangsung dan untuk kelas saya sudah berlangsung minggu kemarin. Selamat ujian kepada para mahasiswa. Jangan pernah mencontek. Di sekolah, salah itu boleh. Yang tidak boleh adalah curang (termasuk mencontek). Sukses!

Sementara itu para dosen harus bekerja keras untuk memeriksa dan memberi penilaian. Selamat bekerja untuk para dosen.


Kuliah Hari Ini

Kuliah secara resmi sudah selesai, tetapi hari ini saya memberikan kuliah tambahan. Yang mengajar hari ini bukan saya tetapi Zaki Akhmad. Topiknya adalah application security dan OWASP.


Ujian Sebagai Shock Therapy

Kemarin saya memberikan ujian, tepatnya ujian tengah semester, ketika mahasiswa sedang tidak siap. Bagi saya ini merupakan sebuah shock therapy bagi mereka. Supaya selalu siap diuji kapan saja.

Membuat soalnya tidak terlalu mudah karena saya harus memikirkan makna dari soal itu. Misalnya, satu soal membahas pemahaman mereka tentang sebuah konsep. Jadi soalnya sangat mudah bagi yang mengerti (malah mungkin menakutkan bagi mahasiswa kok terlalu mudah ya?) tetapi akan susah bagi yang tidak mengerti. Soal-soal seperti ini tidak bisa dipecahkan dengan hanya menghafal saja. Ini soal pemahaman.

Ada hal lain yang juga saya ujikan, yaitu hal-hal yang saya jelaskan di kelas. Jika mereka memperhatikan dan memahami apa yang dijelaskan maka sebetulnya mereka tidak perlu belajar lagi. Ya itu tadi, karena soalnya menjadi sangat mudah. Tetapi kalau mereka tidak mengerti, ya biarpun ujian dilakukan lain kesempatan tetap saja hasilnya akan buruk. Jadi selalu perhatian di kelas. Kalau tidak mengerti, tanya!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.592 pengikut lainnya.