Arsip Kategori: Menulis

Menulis Itu Tidak Mudah

Baru saja saya menulis sebuah email. Tidak panjang. Ternyata habis waktu hampir 30 menit untuk menuliskan email tersebut. Padahal sebelumnya saya sudah memiliki catatan poin-poin yang ingin saya sampaikan dalam email tersebut. Kebayang kalau belum ada.

Mengapa bisa lama? Ada waktu untuk menuliskan kalimat, kemudian diubah kembali karena kalimatnya kurang cocok. Ada kalimat yang membuat orang tersinggung. Ada kalimat yang terlalu njlimet sehingga orang sulit untuk memahaminya. Atau ada juga kalimat yang kurang menggigit tetapi saya tidak tahu lagi harus diapakan. Dan seterusnya. Ini belum termasuk mencari kata yang pas. Yang ini sih saya sudah tahu jawabannya, sulit menemukan kata yang pas. Akhirnya saya tetap berjalan dengan kata yang seadanya – itulah sebabnya kumpulan kata saya tidak maju-maju. Tapi itu cerita lain.

Itu baru menulis email saja sudah kelimpungan. Bagaimana mau menulis yang lebih panjang, seperti menulis novel. Hi hi hi. Sudah terbayang banyaknya waktu yang dibutuhkan. Belum lagi memikirkan plot dan emosi yang ingin dibawa. Menulis data saja sudah susah. Apalagi menulis cerita. Tapi kalau memang mau menulis bagaimana lagi? Dilakukan saja ya.

Menulis itu memang tidak mudah. Ternyata.

Eh, tapi ini jangan dijadikan alasan untuk tidak menulis atau ngeblog. ha ha ha.


Mengkhayalpun Harus Disuapi

Salah satu kehebatan cerita di buku adalah kita bisa mengkhayal. Jika diceritakan tentang seorang yang tinggi dan besar, maka apa yang ada di kepala saya dan Anda akan berbeda. Demikian juga deskripsi tentang lingkungan yang ada juga dapat berbeda jauh. Berbeda dengan film, yang mana apa yang ditampilkan di sana merupakan visualisasi dari pembuat filmnya.

Perbedaan visualiasi ini mungkin justru yang membuat seseorang menyukai (atau membenci) sebuah cerita. Mungkin apa yang diceritakan itu nyambung dengan perjalanan hidupnya, yang ketika itu sedang bergembira ria (atau berduka). Perbedaan visualisasi ini terkait dengan latar belakang sang pembaca (atau penonton untuk film, teater, opera). Orang yang berasal dari lingkungan terdidik di luar negeri mungkin akan mudah menangkap cerita yang futuristik, terbang ke luar angkasa. Sementara yang lingkungannya seperti kita mungkin lebih mudah menerima cerita mistik. hi hi hi.

Ada yang menarik perhatian saya dalam cara orang Barat dan Indonesia bercerita. Dalam cerita-cerita di Barat, seringkali tidak semuanya diceritakan secara harfiah. Pembaca diharapkan mengisi sendiri dengan interpretasinya. (Ini sudah pernah saya ceritakan sebelumnya.) Misalnya seseorang yang menunggu lamaaa sekali. Maka yang ditampilkan adalah seseorang yang kusut penampilannya. Duduk. Berdiri. Ada beberapa kaleng minuman di dekat situ. Mungkin juga ada bungkus makanan. Atau kalau dia merokok, ditampilkan asbak dengan banyak puntung rokok. Sementara cara orang Indonesia bercerita beda lagi; ditampilkan orang itu dan dia berkata “aku sudah menunggu lama di sini”. hi hi hi.

Bagi saya cara yang terakhir itu sangat menyebalkan. Membunuh khayalan. Patronizing. Memangnya saya tidak dapat menarik interpretasi sendiri? Grrr. Tapi mungkin saya salah. Mungkin kultur di Indonesia memang demikian. Semuanya harus dituntun atau disuapi. Bahkan mengkhayalpun harus disuapi? Ya Tuhan … (OMG)


Gagal Ngeblog

Saya baru sadar bahwa beberapa hari ini gagal ngeblog. Alasan klasiknya adalah sibuk. Alasan sesungguhnya adalah … sibuk. hi hi hi. Beberapa hari terarkhir ini memang acara cukup padat. Misalnya, pulang dari Jakarta sudah lelah dan keesokan harinya harus ngajar pukul 7 pagi. Jadi malamnya menyiapkan kuliah sedikit. Lantas paginya pukul 6 sudah harus berangkat dari rumah. Nah kalau barusan, kecapekan main futsal sehingga ketiduran. Bangun-bangun, tengah malam. Langsung ngeblog ini.

Banyak orang yang gagal ngeblog karena kebingunan dengan topik yang mau dibahas. Writer’s blocked. Saya kadang mengalami hal yang sama, tetapi seringkali tidak. Kegagalan saya biasanya adalah karena mau menulis sebuah topik tetapi kurang data pendukung. Sebagai contoh, saat ini sebetulnya saya ingin menulis tentang “pinholes glasses”. Itu lho kacamata yang kacanya diganti dengan lubang-lubang. Hanya saja untuk menulis tentang ini sayang ingin menampilkan foto kacamatanya. Artinya saya harus memotret kacamata yang baru saya beli ini. Belum sempat motretnya. Mosok tengah malam gini jeprat jepret motret dulu? hi hi hi.

Ada beberapa topik lain yang ingin saya tulis, seperti misalnya saya memulai kelas dengan memutar musik. Musik apa yang saya putar? Atau tentang apa kaitannya antara kebutuhan internet cepat dengan security. Atau tentang buku yang menceritakan IDEO. Atau … Pokoknya banyak deh. Intinya, soal topik saya tidak kekurangan. Yang kekurangan adalah waktu untuk memiliki data atau cerita yang lebih rinci.

Saya biasanya ngeblog harus dalam suasana tenang, yaitu malam hari. Mungkin saya harus mencoba ngeblog di siang hari, di sela-sela kesibukan. Perlu dicoba.


Menarik dan Mengikat Perhatian

Sering saya berada pada sebuah presentasi – seminar, sidang mahasiswa, kuliah, rapat, dan sejenisnya – yang isinya bagus tapi penyampaiannya kurang menarik. Saya lihat sang pembicara kehilangan perhatian dari para pendengarnya. Ingin rasanya berteriak dan mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh sang pembicara ini penting, tetapi situasi tidak memungkinkan. Sang pembicara salah karena tidak dapat menarik dan mengikat perhatian pendengar. Di sisi lain, pendengar hanya memiliki rentang waktu perhatian yang sangat singkat. Salahkah mereka?

Kesulitan menarik dan mengikat perhatian juga terjadi pada buku, film, acara tv,  musik, dan juga blog. Ada banyak buku yang topiknya sangat penting dan menarik tetapi disampaikan dengan cara yang tidak menarik. Baru baca beberapa halaman sudah bosan. Akhirnya buku disimpan di rak saja. Blog pun demikian. Baru baca beberapa kalimat, langsung ditinggalkan ke situs lainnya.

Lantas bagaimana cara menarik perhatian pendengar, pemirsa, dan pembaca? Setelah itu, bagaimana pula untuk mengikat perhatian mereka? Jawabannya adalah saya tidak punya. ha ha ha. Lah, sayapun sedang belajar. Sebetulnya ada beberapa hal yang saya duga dapat digunakan, tetapi ini belum saya buktikan. Namanya juga dugaan.

Pemilihan kata-kata merupakan satu hal yang saya duga sangat penting. Namun sayapun sering kesulitan untuk mencari kata-kata yang pas. Diksi saya terbatas. Saya sering terkagum-kagum melihat kepandaian orang dalam merangkai kata-kata. Luar biasa. Dari mana mereka mendapatkan inspirasi seperti itu? Kreatif sekali.

Karena saya tidak memiliki kemampuan merangkai kata-kata yang indah, maka saya ambil pendekatan dengan kejujuran. Saya mengungkapkan apa adanya saja. Namun yang saya ungkapkan bukanlah data atau fakta saja tetapi dengan emosi. Yang saya maksud dengan emosi ini bukan marah-marah, sebagaimana kebanyakan orang Indonesia. he he he. Maksud saya mungkin lebih tepatnya adalah “emotion”, “feeling”, atau apa ya? Rasa? Nah, ini merupakan salah satu contoh kesulitan saya (dalam mencari kata yang pas) dan cara saya menyelesaikannya (dengan menceritakan apa adanya, kejujuran). Pendekatan kejujuran dan rasa ini cocok untuk saya. Banyak orang yang mendengarkan ketika saya bicara.

Dugaan saya lagi adalah cara yang digunakan oleh setiap orang boleh jadi berbeda. Cara saya belum tentu cocok untuk Anda. Anda harus mencari cara yang pas. Sementara itu, saya masih harus terus belajar merangkai kata-kata.


Keterpurukan Media Indonesia

Ini sebetulnya di luar jangkauan saya. Di luar kelas saya. Out of my league. Tetapi saya menjadi malu sendiri melihat kualitas pemberitaan di media kita. Yang saya maksud dengan media di sini adalah media massa seperti surat kabar dan televisi.

Ada banyak kasus di sini. Media yang tidak melakukan verifikasi terhadap kebenaran berita sehingga akhirnya menjadi bulan-bulanan. (Contoh: PM Singapura unfried SBY di Facebook. Padahal sumbernya dari situs guyonan.) Media yang “dibeli” oleh pemiliknya untuk memberitakan kegiatan pemiliknya dalam rangka pemilu. Yang ini tidak perlu saya sebutkan contohnya, bukan? Masih ada (banyak?) yang lainnya, tetapi sudahlah. Berharap mereka berubah sama dengan menunggu … (apa ya? godot?). Kalau kata orang sono, “if pigs could fly” atau “when hell freezes over”. wk wk wk.

Yang menyedihkannya adalah media yang dianggap pembaharu, yang menggunakan situs internet, sekarang juga sudah terjun bebas. Judul berita dibuat bombastis dan tidak nyambung sehingga orang mengunjungi situs tersebut. Mereka memilih untuk menaikkan kunjungan semu ke situsnya. Belum lagi teknik mereka memotong berita sehingga menjadi dua atau tiga halaman. Lagi-lagi untuk meningkatkan jumlah kunjungan, sehingga nantinya bisa diceritakan kepada pemasang iklan bahwa kunjungan ke tempat mereka itu sekian banyak. Padahal semu.

Pembacapun banyak yang salah. Baca berita hanya baca judulnya kemudian komentar, atau meneruskan (forward / share). Akibatnya berita yang salah pun makin menyebar. Waks.

Situs blog seperti punya saya ini – yang katanya berfungsi sebagai citizen journalism – juga belum mampu menggantikan kekuasaan media konvensional. Kenapa? Karena, lagi-lagi demi untuk meningkatkan popularitas, banyak yang menulis dengan mengambil sumber berita dari media konvensional. hi hi hi. Defeat the purpose. Padahal jumlah yang ngeblog dengan tulisan yang original juga tidak banyak. Semakin nihil pengaruhnya. hi hi hi. Kalau lebih kecil dari nihil apa ya? Negatif ya?

Kemarin saya diwawancara (untuk sebuah radio via telepon). Salah satu yang saya keluhkan adalah kurangnya content yang positif untuk dibaca. Apalagi untuk anak-anak ya? Masih sangat kering. Itulah sebabnya kita punya tanggungjawab untuk berkreasi dalam menulis. Kita tidak hanya mengeluh, ngomel-ngomel, tetapi juga memberikan solusi.

Mari …


Budaya Komentar

Melihat tampilan di media sosial seperti Facebook, saya melihat sebuah pola; kebanyakan orang menampilkan tulisan dari media lain (seperti Detik, Kompasiana, YouTube, dan lain-lan) dan kemudian memberi komentar. Ternyata kebisaan kebanyakan orang Indonesia adalah membuat komentar. Ini cukup memprihatinkan. (Ya, terpaksa saya menggunakan kata itu juga.) Komentar biasanya berukuran pendek, satu kalimat atau bahkan hanya beberapa kata saja.

Ini menunjukkan kurangnya kemampuan kita – orang Indonesia – untuk menulis dalam ukuran yang lebih panjang. Atau kalau mau kita generalisir, kemampuan analisis kita ternyata masih minim. Eh, jangan-jangan kita memang tidak mampu menulis. Maka dari itu kita harus banyak belajar dan berlatih untuk melakukan analisis dan menulis. Jika tidak, maka kita memang hanya jagoan komentar saja. Sayangnya di sekolah-sekolah, yang diajarkan adalah kemampuan menjawab pertanyaan, bukan melakukan analisis, sintesa, dan menulis. Bahkan untuk sekedar mengkhayal dan menuliskannyapun kita tidak mampu. Hadoh!


Mengulang Tulisan

Baru saja saya membuat sebuah tulisan. Setengah jalan, baru terpikir oleh saya bahwa kemungkinan saya sudah pernah menuliskan topik yang sama. Walah. Terus terang saya enggan untuk membaca tulisan saya sendiri. Ada perasaan “bagaimana” gitu. Maksudnya “bagaimana” itu kurang puas, malu, dan hal-hal yang negatif. Akibatnya nanti malah saya menjadi takut untuk menulis. Takut salahlah, takut kurang baik, dan takut-takut lainnya. Akhirnya saya ambil pakem tulis dan lupakan. hi hi hi.

Buruknya pendekatan ini ya seperti tadi. Saya menemukan diri saya menuliskan topik yang sama lebih dari satu kali. Kalaupun sadar, kadang sudah setengah jalan tulisannya. Hilang waktu terbuang dengan percuma. (Seharusnya sih tidak percuma karena ini dapat dilihat sebagai latihan.)

Jadi bagaimana? Jadi … saya beri peringatan kepada Anda, bahwa kapan-kapan Anda (sudah dan) akan menemukan tulisan saya yang berulang. Jangan heran. Biarkan saja. Maafkan sajalah. hi hi hi.


Tulisan Terlalu Pedas

Baru saja saya mengutarakan sebuah opini di mailing list. Tulisan saya mengeritik sebuah kebijakan di lingkungan kami. Setelah saya baca ulang, tulisan saya nampaknya terlalu pedas. Judulnya saja sudah “Aku Bukan Keledai”. hi hi hi.

Saya masih sulit untuk membuat tulisan yang pesannya keras tetapi dituliskan dengan bahasa yang lebih santun. Tulisan saya biasanya selalu langsung kepada pokok permasalahan. To the point. Kesannya menjadi menohok (pihak-pihak tertentu). Hadoh. Semoga tidak ada yang marah.

Blog ini sebetulnya merupakan salah satu cara saya untuk belajar menulis dengan lebih santun. Nampaknya saya masih harus banyak belajar karena tulisan saya tadi masih terlalu keras.

Belajar, belajar, belajas. Sinau, sinau, sinau …


Mengetik Dalam Kegelapan

Tulisan ini dibuat karena judulnya terlalu keren untuk dilewatkan, tidak dijadikan judul tulisan. Ini sebetulnya bermula dari kejadian sesungguhnya. Tadi malam saya membuka notebook untuk memeriksa email. Karena semalam hujan dan banyak laron, maka tempat saya menggunakan notebook itu lampunya dimatikan. Maka saya bekerja di tengah kegelapan, hanya ditemani dengan nyalanya layar notebook.

Ternyata mengetik dalam kegelapan itu tidak mudah. Padahal sebetulnya tidak gelap 100% karena masih ada cahaya dari layar notebook, tetapi kenyataannya memang masih sulit bagi saya. Kadang kalau mengetik saya masih membutuhkan orientasi dari jari. Entah ini perasaan saja atau sesungguhnya terjadi karena pada saat tulisan ini saya buat, saya mengetik juga tanpa melihat jari saya di atas keyboard. Saya hanya melihat di layar saja. Semestinya tanpa lampupun saya dapat mengetik ya? Mungkin kegelapan itu yang membuat saya tidak percaya diri. Entahlah.

Dalam hal lain, judul ini – kalau diubah sedikit menjadi “menulis dalam kegelapan” – dapat menjadi topik yang lebih menarik untuk dibahas. Banyak orang yang menulis asal-asalan tanpa didukung dengan fakta. Itu boleh jadi kita sebut menulis dalam kegelapan. hi hi hi.


Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar

Saya sedang membuat sebuah materi presentasi tentang “business content”. Bingung mencari kata yang pas untuk terjemahannya. Sementara ini saya gunakan “bisnis konten”. Masih kurang mengena sih, tetapi lumayanlah.

Saya cek dengan KBBI ternyata “konten” itu belum ada di bahasa Indonesia. Sementara itu diskusi di tempat lain mengatakan terjemahan “content” memang sudah tepat menjadi “konten” (dalam kasus ini). Bagaimana menurut Anda?


Kurang Content

Tantangan pengembangan internet di Indonesia – dan mungkin di tempat lain juga – ada dua; (1) infrastruktur (terutama last mile) dan (2) kurang content. Akibatnya kita menjadi frustasi dan bosan. Akhirnya banyak juga yang terjerumus ke konten negatif.

Untuk masalah infrastruktur kita bahas lain kali ya. Kali ini saya ingin menyoroti masalah yang kedua, kurangnya content. Masalah infrastruktur itu masalah penyedia jasa atau pemerintah yang di luar jangkauan kita, tetapi masalah content adalah masalah yang dapat kita pecahkan.

Setelah sekian belas tahun, pertanyaan saya tetap sama;

  • situs apa saja yang Anda kunjungi secara rutin?
  • situs apa yang cocok untuk anak SMA? SMP? SD?

Situasi sekarang masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Kita masih mengandalkan platform dari luar negeri, seperti facebook dan twitter. Bahkan yang baru-baru pun, seperti path, juga masih dari luar negeri. Akibat dari itu maka bandwidth kita ke luar negeri butuh banyak. (Eh kok ke masalah infrastruktur lagi.)

Content yang kita lihat kebanyakan berupa “repost”, “retweet”, re-re lainnya. Kita comot berita atau foto dari sebuah tempat (katakanlah media massa) kemudian kita buat link-nya di halaman media sosial kita. Itu nampaknya yang terbanyak. Tidak banyak yang membuat tulisan / gambar / karya yang “orisinal”. (Saya beri tanda kutip “orisinal” karena sebetulnya tidak harus orisinal amat.)

Ketika kita mencoba mengarah kepada industri kreatif, maka mesin-mesin penghasil karya kreatif harus kita buat. Demikian pula sumber daya manusianya harus kita siapkan. Harus diajari dan harus praktek; menulis, menggambar, bermusik, bercerita, dan masih banyak lainnya lagi.

Hambatan (barier) untuk membuat sebuah karya sebetulnya sangat rendah. Untuk menulis, ya tinggal mengurutkan huruf-huruf saja bukan? Setidaknya, mulai dari sana. Kemudian mengurutkan kata-kata dan membuatnya menjadi alur yang menyejukkan seperti gemericiknya air sungai. Susah? Iya susah … he he he, tetapi bukan hal yang super susah sehingga tidak mungkin kita lakukan. Kalau harus membuat pesawat terbang mungkin tidak untuk kita semua, tetapi membuat tulisan ya semestinya kita bisalah.

Oleh sebab maka dari itu … mari kita menulis! Mari kita kreatif membuat karya-karya. Jreng!

 


Cerpen Mandheg

Mungkin banyak yang sudah bosan menanyakan bagaimana kelanjutan cerita “Jek & Sar” dan “Aku Tak Tahu Namamu”. Saya sendiri juga bosan bertanya kepada diri sendiri mengapa ini belum dilanjutkan juga. Jawabannya sebetulnya tidak sulit, yaitu saya lupa karakter-karakter yang ada di tulisan tersebut sehingga untuk melanjutkan ceritanya takut salah karakter.

Solusinya sebetulnya juga sudah jelas, yaitu saya membaca ulang tulisan tersebut dan mengingat-ingat kembali karakter-karakter di situ. Terus dari sana dikembangkan lagi. Hanya saja saya termasuk orang yang tidak suka membaca tulisan diri sendiri. Write and publish. That’s it. Tulis dan terbitkan.

Dahulu cerita tersebut dimulai dari situasi yang kemudian diisi oleh karakter-karakter. Jadi karakternya dikembangkan sambil jalan. Mungkin teknik seperti ini salah ya? Atau mungkin memang seperti ini tetapi kemudian jangkarnya menjadi karakternya. Mungkin saya terlalu berkonsentrasi kepada plot dan situasi.

Ini dia kalau “penulis” main hantam kromo tanpa mau belajar teorinya. he he he. Biar ah …


Parodi Superhero (2)

Hujan rintik-rintik membuat malam ini lebih dingin dari biasanya. Sebagian besar orang – dan bahkan nyamuk – memilih untuk mengurung diri di rumahnya masing-masing. Nampaknya tak ada kejahatan malam ini. Benar-benar sepi.

“Hatsyiii”

Kembali senyap. (Eh, suara bersin itu seperi apa sih ya?)

“Hatsyiiim. Hatsyiiiimmm”
(Alhamdulillah)

Bersin itu kembali memecah keheningan, tetapi tidak ada seorang pun yang mendengarkan.

Terduduk berselonjoran di atap gedung pencakar langit ini seseorang dengan memakai baju seperti laba-laba. Spiderman! Sebetulnya dia tidak ingin mebiarkan dirinya kehujanan. Dia ingin berteduh. Tetapi dia harus mengawasi kota ini. Sambil menggigil dia tetap terduduk.

“Sudah. Kamu pulang aja”, tiba-tiba terdengar suara di dekat situ.

Spiderman terkejut. Mencari asal suara sambil terheran-heran mengapa dia tidak mendengar suara orang mendekat. Mungkin hujan ini. Mungkin juga karena flu-nya. Samar-samar dia melihat bayangan hitam dengan jubah di belakangnya. Ooo, ternyata Batman. Sesama superhero. Pantesan tidak terdengar.

“Wah aku harus jagain kota”, kata Spiderman

“Biar aku yang gantiin”

“Ah, tapi ngapain pulang juga. Gak ada yang bisa kerokin”

“Serius? Kamu mau kerokan? Sini tak kerokin”

Spiderman kemudian berpikir. Gimana caranya kerokan pake baju superhero seperti ini. Harus buka baju. Kalau bajunya dibuka, nanti ketahuan siapa dia aslinya.

“Gak mau ah. Nanti aku ketahuan aslinya”

“Yah. Segitunya. Anonimity is so overrated“, kata Batman.

“Kata siapa? Buktinya pak Budi punya mahasiswa yang sedang meneliti soal anonimity ini”, kata Spiderman. Tahu-tahunya dia. (He he he. Numpang promosi. wk wk wk.)

“Jadi gimana? Mau kerokan gak?”

“Gak mau kalau sama kamu”

Mereka kemudian terdiam. Mikir. Batman kepikiran Spiderman bisa dikerokin sama Alfred, butler kepercayaannya. Jadi dia tidak perlu tahu siapa sesungguhnya Spiderman, tapi kalau begitu berarti Spiderman bisa tahu siapa dia aslinya dari menelusuri Alfred. Belum lagi nanti kalau dia tahu tempat persembunyiannya. Gak jadi ah.

“Gini aja. Kamu pulang, minum tolak angin aja”

“Minuman orang pintar ya?”, Spiderman nyengir sambil mengutip iklan tolak angin yang dibintangi Rhenald Kasali.

“Mau minum yang untuk orang bejo juga boleh”, Batman gak mau kalah. Keduanya terkekeh. Spiderman lebih susah ketawanya.

“Ya udah, aku pulang. Titip kota ya”, kata Spiderman.

Batman mengangguk. Spiderman merayap pulang. Sungguhan merayap karena nampaknya untuk berdiripun dia sudah gak sanggup.

“Hatsyiiimmm” …

[Seri parodi superhero: 1, 2]


Data Tanpa Cerita

Ceritanya saya sedang membaca dan menilai beberapa tulisan (artikel). Satu hal yang berulang-ulang saya temukan dalam tulisan ini adalah terlalu banyaknya data tanpa cerita. Contohnya seperti berikut.

Ada sebuah tulisan tentang teknologi informasi dan komunikasi menampilkan data statistik tentang jumlah pengguna internet Indonesia, tentang penggunan telepon seluler, tentang GDP, dan seterusnya, tetapi saya tidak melihat ceritanya. Ada sih ceritanya tetapi monoton. Itu-itu saja. Yang menjadi masalah adalah data tersebut tidak mendukung ceritanya. Bukankah sebenarnya yang lebih penting adalah ceritanya? Kemudian data yang ditampilkan adalah yang mendukung ceritanya.

Suatu ketika di Bandung, yang temperaturnya 21 derajat selsius, ada seorang pemuda bernama Fulan.

Dalam contoh di atas, apa fungsi temperatur 21 derajat selsius itu ya? Gak nyambung. Terus, kalau “21″ memangnya kenapa? Dingin? Panas? Atau bagaimana?

Kasus tulisan/artikel yang sedang saya review memiliki masalah yang sama. Bosan membacanya. Penilaian saya? Tentu saja rendah.


Mau Menulis Saja Belum Cukup

Sudah beberapa hari ini saya mau menulis tetapi belum berhasil. Ada banyak ide yang mau ditulis tetapi ternyata untuk menulis itu butuh kerja keras di bagian risetnya. Jadi hanya sekedar “mau” saja ternyata belum cukup.

Contohnya begini. Sudah lama saya ingin menulis tentang album the Beatles yang berjudul Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band. Album ini sering dikatakan menjadi pemicu berbagai karya musisi lainnya. Bahkan ada beberapa tulisan yang mengatakan album-album musik progressive rock banyak yang diilhami oleh album ini. Album ini pun dapat dikategorikan progressive rock. Intinya itu saja, tetapi untuk bercerita lebih lanjut semestinya saya tambahkan dengan cerita, data, fakta, bumbu-bumbu lainnya. Kalau tidak begitu, pembaca akan tidak tertarik. Nah, untuk mencari tambahannya inilah yang membutuhkan upaya lebih banyak lagi.

Itu baru satu contoh. Di kepala saya ini ada banyak ide-ide lain yang seperti itu, ingin dituliskan tapi masih membutuhkan riset. Akhirnya, ide tetap menjadi ide saja. Wah.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.596 pengikut lainnya.