Category Archives: Menulis

Peran Bahasa Indonesia

Barusan membaca secara singkat tentang penelitian terkait dengan bahasa, yaitu bahasa mana yang dominan di dunia internet ini. Tentu saja yang paling dominan adalah bahasa Inggris. Pertanyaannya adalah setelah bahasa Inggris, bahasa apa? Kalau kita ingin belajar bahasa kedua, sebaiknya bahasa apa? [Silahkan baca di sini.]

Yang sedihnya adalah ternyata Bahasa Indonesia tidak termasuk bahasa yang dianggap penting. Setidaknya untuk dunia tulis menulis. Padahal jumlah orang Indonesia yang menggunakan internet sangat besar. Dugaan saya, jumlahnya sudah lebih dari 100 juta orang. Namun memang saya dapat mengerti peran 100 juta orang ini sangat sedikit dalam hal menyebarkan ide melalui tulisan. Orang Indonesia memang jarang membuat tulisan. Eh, ada … status di facebook dan twitter. hi hi hi.

Tulisan orang Indonesia kebanyakan ada di media tertutup dalam grup-grup seperti di WhatsApp, Telegram, BBM, Line, BeeTalk dan seterusnya. Yang begini memang sering tidak masuk hitungan dalam hal komunikasi ide. Seharusnya lebih banyak yang menulis di blog, tapi …

Ya begitulah …


Keseharian

Tadinya saya – dan banyak orang – selalu bertanya-tanya mengapa topik di blog ini tentang keseharian saya, yang menurut saya tidak terlalu menarik. Saya tetap menulis karena untuk menantang diri sendiri saja, bahwa saya mampu menulis setiap hari. Meskipun sekarang kata “setiap hari” itu semakin menjauh dari kenyataan. Setidaknya saya *berusaha* menulis setiap hari.

Sekarang saya sedang membaca buku “to kill a mocking bird”, karangan Harper Lee. Buku ini bercerita tentang keseharian seorang anak. Buku ini dianggap sebuah buku klasik di dunia literatur. Ah, ternyata keseharian pun masih tetap menarik. Ini merupakan sebuah pembenaran mengapa saya menulis tentang keseharian. Nah.


Tulisan Yang Tidak Selesai

Memiliki tulisan yang tidak selesai – eh, belum selesai – mungkin bukan masalah saya sendiri tetapi masalah umum bagi penulis. Apa yang dilakukan oleh para penulis terkenal dalam menghadapi hal ini ya?

Saya sih mengabaikannya. Kalau tidak selesai, ya tidak selesai. Hilang. Poof. Dissapear. Kalau memang tulisan itu layak untuk tayang, dia akan muncul kembali. Bahwa dia akan hadir melalui jemari saya atau orang lain, itu persoalan lain. Itu masalah keberuntungan saja. Itu masalah perang ego.

Yang membuat saya kesal adalah saya merasa potongan tulisan – atau bahkan sekedar potongan ide – luar biasa bagusnya. Bukan hanya sekedar pantas untuk dibagi, tetapi *harus* dibagi. Hanya saja dalam bentuknya yang potongan tersebut maknanya masih belum terkumpul secara sempurna. Ide yang ada di kepala saya tidak sampai kepada pembaca. Eh, bukankah itu hal yang bagus juga? Interpretasi yang berbeda merupakan hal yang menarik juga.

[contoh potongan prosa; unfinished poem?]


people are afraid of fading away

but, fading away we must

[soundtrack: Camel – Long Goodbyes …]


Sang Pecundang

Pecudang! Loser! Ingin kuteriakkan kata-kata itu kepadamu. Engkau belagak seperti seorang pemenang, padahal sesungguhnya engkau sudah kalah telak. Bahkan sebelum memasuki gelanggangpun aku sudah tahu engkau bakalan kalah. Namun aku tak ingin mendahului kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mengatakan bahwa engkau akan kalah.

Kalah atau menang itu tidak masalah. Itu hanya merupakan sebuah permainan belaka. You win some, you lose some. Namun bagaimana kau menyikapi kekalahan atau kemenangan itulah yang utama. Pecudang itu lebih tepat untuk diterapkan kepada sikap itu.

Pecudang! Loser! Tak jadi kata-kata itu kuteriakkan kepadamu. Rasa kasihan muncul melebihi rasa amarah. Aku kasihan melihat dirimu yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya engkau itu memang sudah kalah tetapi engkau merasa seharusnya engkau menang. Seharusnya? Justru memang engkau seharusnya kalah. Logika dan perasaan hati pun, keduanya, mengatakan engkau memang belum saatnya untuk memenangkan pertandingan tadi. Maka aku kasihan kepadamu karena engkau belum dapat menerima itu.


Parodi Superhero (3)

Spiderman baru sampai kamarnya. Rebahan sebentar ah. Capek. Sambil rebahan dia melirik pintu. Eh, ada kertas di bawah pintu. Nampaknya disodorkan ketika dia sedang pergi.

Sambil malas-malas dia bangun dan mengambil kertas itu. Ternyata ini undangan untuk pemilihan presiden. Wah dapat juga undangan nyoblos. Tertera namanya, spiderman. Sebetulnya dia sedang mikir juga, darimana KPU tahu dia tinggal di sini? Tetapi karena dia sedang senang untuk ikutan pilpres ini, dia tidak peduli. Sebelum-sebelumnya dia termasuk yang golput. Kali ini dia gagal golput. hi hi hi.

Zzz … saking lelahnya, spiderman tertidur dengan menggenggam kertas itu di tangannya. Menggenggam sebuah harapan.

Pagi hari menjelang. Spiderman melemaskan ototnya dengan sedikit berolah raga di atas atap gedung. Hari yang baik. Hari yang membuat perubahan. Nyoblos hari ini. Yeah, yeah, yeah. Loncat sana, loncat sini.

Jam 10 pagi spiderman mulai berangkat menuju TPS yang tertera pada kertas panggilan nyoblos. Tidak jauh dari tempat tinggalnya. Bisa jalan santai saja. Tidak perlu heboh loncat dari satu gedung ke gedung lainnya. Melenggang dia berjalan.

Sepanjang jalan dia melihat orang-orang ceria. Mereka nampaknya menuju TPS masing-masing. Beberapa di antaranya melambaikan tangan. Spiderman melambaikan tangan lagi. Aura perayaan hadir.

Sesampainya di TPS, spiderman menyodorkan kertas panggilan yang dia bawa kepada petugas TPS. Petugas TPS melihat nama yang tertera. Tertegun. Spiderman sudah merasa gede rumangsa (ge-er) dulu. Pasti petugas sudah tahu siapa dia. Petugas mengerutkan dahinya.

“Ada masalah?”, tanya spiderman. Waswas.
“Nganu. Mas bawa identitas tidak?”, jawab petugas.

Spiderman tersentak. Baru kali ini dia ditanya identitasnya. Bukankah sudah jelas?

“Ini mas”, kata spiderman sambil menunjukkan baju pakaiannya dari kepala ke kaki. Berharap sang petugas dapat menerima identitasnya.

Petugas menggelengkan kepala. “Tidak bisa mas”.

“Lho, kenapa? Kan saya sudah jelas saya spiderman”, jawab spiderman.

“Dan mereka juga”, kata sang petugas sambil menunjuk tiga anak kecil yang berpakaian spiderman. Menari-nari sambil menunjuk-nunjuk spiderman. Nampaknya mereka diajak oleh orang tuanya ke TPS dengan memakai pakaian spiderman.

Spiderman pusing … Ngelu … memikirkan cara untuk membuktikan bahwa dia benar-benar spiderman. Tadinya terpikir untuk membuka kedoknya dan menunjukkan bahwa dia adalah Peter Parker, tapi nanti jadi ketahuan siapa dia. Lagi pula yang diundang untuk pemilu adalah spiderman, bukan Peter Parker. Kemudian dia punya ide.

“Mas, tapi mereka kan gak bisa begini”, kata spiderman sambil meloncat ke gedung. Menjulurkan tangannya. Jala keluar dari tangannya. Berayun dia dari satu gedung ke gedung yang lain. Yiiihaaa … Orang-orang bersorak sorai. Spiderman mendarat kembali ke depan petugas.

“Bagaimana mas?”

Petugas celingukan. Melihat ke orang-orang di sekitar dan saksi. Semuanya mengangguk. Persetujuan.

“Ok mas spiderman. Silahkan menunggu panggilan”

Spiderman pun bernafas lega. Yaaayyy. Kali ini aku tidak lagi golput. Jayalah negaraku.

[Seri parodi superhero: 1, 2, 3]


Tidak Boleh Berhenti (Untuk Berbuat Baik)

Aku lelah
Ketika ku mencoba berbuat baik
Olok-olok yang kudapat

Aku ingin berhenti
Untuk berbuat baik

(namun)
Ketika ku lihat orang itu
Tidak lelah berbuat baik
Meski olok-olok yang dia dapat

Aku malu berhenti
Untuk berbuat baik

Aku tidak boleh berhenti
Untuk berbuat baik


Menulis Karya Ilmiah

Ya, saya masih memeriksa revisi tugas mahasiswa. Masih banyak – atau bahkan sebagian besar? – mahasiswa kita belum mahir menulis karya ilmiah. Mungkin dapat saya generalisir lebih lanjut, mahasiswa belum mahir menulis. Titik. Kejam amat ya?

Masalah utama bagi mahasiswa adalah mereka menyepelekan penulisan. Dianggapnya menulis itu hanya sekedar mengurutkan kata-kata. Atau lebih ekstrim lagi menulis itu mengurutkan huruf-huruf. a i u e o. Bagi mereka, memilih kata itu tidak penting. Padahal kata yang berbeda memiliki makna dan efek yang berbeda kepada pembaca. “Kamu salah!” atau “Anda kurang tepat” memiliki efek yang berbeda, bukan?

Menuangkan alur pemikiran dalam tulisan yang runut merupakan sebuah tantangan. Kita tidak dapat mencampurkan semuanya dalam satu bagian. Untuk makanan, gado-gado pun harus dipilih apa yang akan dicampur. Kalau gado-gado dicampur dengan cumi-cumi dan bajigur rasanya jadi kacau balau. he he he.

Bahkan untuk sekedar menuliskan dalam format yang konsistenpun ternyata banyak yang belum paham. Ngasal saja. Padahal tulisan yang tidak enak dipandang akan menghasilkan nilai yang buruk karena pembaca sudah antipati duluan. Seharusnya memang isi yang lebih penting, tetapi penampilan pada kenyataannya adalah yang membukakan pintu kepada pembaca. Setelah pintu terbuka, kita sodorkan isinya. Bagaimana pembaca atau penguji akan memeriksa tulisan kita jika “pintu” tertutup?

Lantas bagaimana caranya agar kita dapat menulis karya ilmiah yang baik (dan indah)? Latihan, latihan, dan latihan menulis. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar latihan-latihan ini menyenangkan sehingga kita melakukannya? Itu merupakan topik bahasan di lain kesempatan.


Atensi Kepada Detail (dalam menulis)

Menulis, seperti pekerjaan lainnya, mencerminkan pola kerja kita. Pada tulisan ada komponen isi dan ada komponen tampilan visual. Pasalnya, tulisan itu harus dibaca dengan menggunakan mata. Maka komponen visual itu menjadi penting. (Ada audiobook, tetapi itu menjadi bahasan terpisah.)

Komponen visual ini sering dilupakan oleh banyak orang. Akibatnya, membacanya menjadi melelahkan, membosankan, menyebalkan. Bahkan untuk karya ilmiah, format tulisan menjadi sangat penting. Huruf besar atau kecil, tebal (bold) atau tidak, diletakkan di tengah atau pinggir, dan seterusnya menjadi hal yang sakral.

Saya ambil contoh buruk tulisan mahasiswa untuk lebih jelasnya.

IMG_5131 tugas mhs 1000

Perhatikan komentar-komentar saya di tulisan tersebut. Ada banyak hal detail yang dilupakan oleh penulis pada bagian referensi. Hal-hal semacam ini *SANGAT MENGGANGGU* dalam hal visual dari tulisan. Bahkan untuk hal ini, nilai menjadi buruk. Jika ini sebuah buku thesis atau disertasi, sudah pasti akan ditolak.

Jadi, sekali lagi, perhatikan detail dari tulisan Anda. Ok?


Minimnya Kemampuan Berkarya

Melihat kondisi di media sosial, saya menduga bahwa kemampuan berkarya kita memang masih minim. Mari kita ambil contoh. Kebanyakan masih pada tahap mengambil link dari sana sini (dan itu juga tidak dicek kredibilitasnya), copy-paste, dan paling banter membuat komentar. Itu urusan tulisan. Untuk gambar, foto, apalagi video sangat jarang sekali. Inilah yang membuat saya menduga bahwa kemampuan berkarya kita itu minimal.

Sebetulnya dugaan saya ini mungkin salah. Kemampuan itu mungkin ada, tetapi kemauan yang tidak ada. Skill ada tetapi willingness yang tidak ada. Hasilnya yang juga sama, tidak ada atau minim. Tetapi penyebabnya berbeda.

Masalah kemampuan atau skill itu dapat diajarkan, tetapi kalau tidak ada kemauan ya susah. Tidak mau! Malas! Kenapa mesti repot? Itu yang harus dilawan.

Perlu ada upaya untuk membujuk orang Indonesia untuk lebih menghasilkan karya. Sehingga hasilnya bukan hanya sekedar komentar, copy-paste, atau comot sana sini tetapi karya-karya yang dapat dinikmati dengan lebih utuh.

Ini kita baru berbicara soal membuat dulu ya. Soal adanya dulu.  Soal kualitas itu menyusul. Kalau belum apa-apa sudah terbebani dengan kualitas, bisa-bisa hilang lagi kemauan itu. he he he. Makanya kadang saya juga merasa bagaimana gitu dengan tulisan saya yang hanya begini-begini saja. Tetapi saya tetap memaksakan diri agar kemauan itu tidak hilang. Begitu.


Tulisan Yang Akademik

Saat ini saya sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan mahasiswa terkait dengan tugas kuliah mereka, yaitu membuat makalah. Salah satu hal yang nampaknya mereka belum mengerti adalah bahwa makalah yang harus mereka buat harus bersifat akademik. Apa maksudnya “akademik” di sini? Nah itu dia.

Tingkat kesulitan dari makalah yang mereka buat kira-kira seperti ini. Jika makalah itu dikirimkan ke majalah komputer, maka makalah tersebut akan ditolak karena terlalu teknis. Pembaca akan pusing. Sementara itu jika makalah ini dikirim ke jurnal, maka makalah tersebut akan ditolak karena kurang aspek kebaharuannya atau kurang teknis. Jadi tingkat kesulitannya di antaranya.

Cara lain untuk mengukur apakah makalah kita itu akademik atau tidak adalah dengan melihat referensinya. Jika referensinya menggunakan artikel dari jurnal (yang kredibel), maka tulisan kita itu boleh jadi akademik. Jika referensinya tidak ada artikel jurnal, malah banyak menggunakan artikel majalah umum, maka ke-akademik-an dari makalah tersebut dapat dipertanyakan. Begitulah.

[Saya ingin memberi contoh yang lebih banyak, tapi belum sempat. Tulisan ini juga saya buat di dalam mobil di parkiran. hi hi hi]


Tekun

Salah satu topik obrolan kemarin dengan beberapa orang adalah tentang kesuksesan. Kerja keras harus dilakukan agar mencapai tingkat yang lebih tinggi, dari pekerja terus ke management terus ke owner. Saya bilang mungkin hanya sampai ke management saja ya. Soalnya menjadi owner itu mungkin jalurnya beda. Itu jalur entrepreneurship bukan jalur profesional. Hmm… benar gak ya?

Menurut saya, salah satu kunci kesuksesan – selain kerja keras – adalah tekun. Persisten. Terus menerus. Tidak menyerah. Istiqomah? Sering orang merasa sudah kerja keras dan sukses belum juga hadir. Dia kemudian menyerah. Padahal sedikit lagi saja dia bisa sukses. (Tahunya dari mana ya?)

Sebagai contoh ya blog ini. Banyak orang yang baru nulis satu, dua, sampai puluhan halaman blog, kemudian sudah menyerah. Maunya sukses seketika. Ya ndak bisa. Harus tekun. Tulisan ini adalah tulisan yang ke 4470. Yup, sudah lebih dari 4000 tulisan. Bayangkan kalau satu hari saya menulis satu tulisan, maka itu sudah lebih dari 10 tahun. hi hi hi. Kalau dijadikan buku, 4000 halaman itu setebal apa ya?

T e k u n . . .


Menulis Itu Tidak Mudah

Baru saja saya menulis sebuah email. Tidak panjang. Ternyata habis waktu hampir 30 menit untuk menuliskan email tersebut. Padahal sebelumnya saya sudah memiliki catatan poin-poin yang ingin saya sampaikan dalam email tersebut. Kebayang kalau belum ada.

Mengapa bisa lama? Ada waktu untuk menuliskan kalimat, kemudian diubah kembali karena kalimatnya kurang cocok. Ada kalimat yang membuat orang tersinggung. Ada kalimat yang terlalu njlimet sehingga orang sulit untuk memahaminya. Atau ada juga kalimat yang kurang menggigit tetapi saya tidak tahu lagi harus diapakan. Dan seterusnya. Ini belum termasuk mencari kata yang pas. Yang ini sih saya sudah tahu jawabannya, sulit menemukan kata yang pas. Akhirnya saya tetap berjalan dengan kata yang seadanya – itulah sebabnya kumpulan kata saya tidak maju-maju. Tapi itu cerita lain.

Itu baru menulis email saja sudah kelimpungan. Bagaimana mau menulis yang lebih panjang, seperti menulis novel. Hi hi hi. Sudah terbayang banyaknya waktu yang dibutuhkan. Belum lagi memikirkan plot dan emosi yang ingin dibawa. Menulis data saja sudah susah. Apalagi menulis cerita. Tapi kalau memang mau menulis bagaimana lagi? Dilakukan saja ya.

Menulis itu memang tidak mudah. Ternyata.

Eh, tapi ini jangan dijadikan alasan untuk tidak menulis atau ngeblog. ha ha ha.


Mengkhayalpun Harus Disuapi

Salah satu kehebatan cerita di buku adalah kita bisa mengkhayal. Jika diceritakan tentang seorang yang tinggi dan besar, maka apa yang ada di kepala saya dan Anda akan berbeda. Demikian juga deskripsi tentang lingkungan yang ada juga dapat berbeda jauh. Berbeda dengan film, yang mana apa yang ditampilkan di sana merupakan visualisasi dari pembuat filmnya.

Perbedaan visualiasi ini mungkin justru yang membuat seseorang menyukai (atau membenci) sebuah cerita. Mungkin apa yang diceritakan itu nyambung dengan perjalanan hidupnya, yang ketika itu sedang bergembira ria (atau berduka). Perbedaan visualisasi ini terkait dengan latar belakang sang pembaca (atau penonton untuk film, teater, opera). Orang yang berasal dari lingkungan terdidik di luar negeri mungkin akan mudah menangkap cerita yang futuristik, terbang ke luar angkasa. Sementara yang lingkungannya seperti kita mungkin lebih mudah menerima cerita mistik. hi hi hi.

Ada yang menarik perhatian saya dalam cara orang Barat dan Indonesia bercerita. Dalam cerita-cerita di Barat, seringkali tidak semuanya diceritakan secara harfiah. Pembaca diharapkan mengisi sendiri dengan interpretasinya. (Ini sudah pernah saya ceritakan sebelumnya.) Misalnya seseorang yang menunggu lamaaa sekali. Maka yang ditampilkan adalah seseorang yang kusut penampilannya. Duduk. Berdiri. Ada beberapa kaleng minuman di dekat situ. Mungkin juga ada bungkus makanan. Atau kalau dia merokok, ditampilkan asbak dengan banyak puntung rokok. Sementara cara orang Indonesia bercerita beda lagi; ditampilkan orang itu dan dia berkata “aku sudah menunggu lama di sini”. hi hi hi.

Bagi saya cara yang terakhir itu sangat menyebalkan. Membunuh khayalan. Patronizing. Memangnya saya tidak dapat menarik interpretasi sendiri? Grrr. Tapi mungkin saya salah. Mungkin kultur di Indonesia memang demikian. Semuanya harus dituntun atau disuapi. Bahkan mengkhayalpun harus disuapi? Ya Tuhan … (OMG)


Gagal Ngeblog

Saya baru sadar bahwa beberapa hari ini gagal ngeblog. Alasan klasiknya adalah sibuk. Alasan sesungguhnya adalah … sibuk. hi hi hi. Beberapa hari terarkhir ini memang acara cukup padat. Misalnya, pulang dari Jakarta sudah lelah dan keesokan harinya harus ngajar pukul 7 pagi. Jadi malamnya menyiapkan kuliah sedikit. Lantas paginya pukul 6 sudah harus berangkat dari rumah. Nah kalau barusan, kecapekan main futsal sehingga ketiduran. Bangun-bangun, tengah malam. Langsung ngeblog ini.

Banyak orang yang gagal ngeblog karena kebingunan dengan topik yang mau dibahas. Writer’s blocked. Saya kadang mengalami hal yang sama, tetapi seringkali tidak. Kegagalan saya biasanya adalah karena mau menulis sebuah topik tetapi kurang data pendukung. Sebagai contoh, saat ini sebetulnya saya ingin menulis tentang “pinholes glasses”. Itu lho kacamata yang kacanya diganti dengan lubang-lubang. Hanya saja untuk menulis tentang ini sayang ingin menampilkan foto kacamatanya. Artinya saya harus memotret kacamata yang baru saya beli ini. Belum sempat motretnya. Mosok tengah malam gini jeprat jepret motret dulu? hi hi hi.

Ada beberapa topik lain yang ingin saya tulis, seperti misalnya saya memulai kelas dengan memutar musik. Musik apa yang saya putar? Atau tentang apa kaitannya antara kebutuhan internet cepat dengan security. Atau tentang buku yang menceritakan IDEO. Atau … Pokoknya banyak deh. Intinya, soal topik saya tidak kekurangan. Yang kekurangan adalah waktu untuk memiliki data atau cerita yang lebih rinci.

Saya biasanya ngeblog harus dalam suasana tenang, yaitu malam hari. Mungkin saya harus mencoba ngeblog di siang hari, di sela-sela kesibukan. Perlu dicoba.


Menarik dan Mengikat Perhatian

Sering saya berada pada sebuah presentasi – seminar, sidang mahasiswa, kuliah, rapat, dan sejenisnya – yang isinya bagus tapi penyampaiannya kurang menarik. Saya lihat sang pembicara kehilangan perhatian dari para pendengarnya. Ingin rasanya berteriak dan mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh sang pembicara ini penting, tetapi situasi tidak memungkinkan. Sang pembicara salah karena tidak dapat menarik dan mengikat perhatian pendengar. Di sisi lain, pendengar hanya memiliki rentang waktu perhatian yang sangat singkat. Salahkah mereka?

Kesulitan menarik dan mengikat perhatian juga terjadi pada buku, film, acara tv,  musik, dan juga blog. Ada banyak buku yang topiknya sangat penting dan menarik tetapi disampaikan dengan cara yang tidak menarik. Baru baca beberapa halaman sudah bosan. Akhirnya buku disimpan di rak saja. Blog pun demikian. Baru baca beberapa kalimat, langsung ditinggalkan ke situs lainnya.

Lantas bagaimana cara menarik perhatian pendengar, pemirsa, dan pembaca? Setelah itu, bagaimana pula untuk mengikat perhatian mereka? Jawabannya adalah saya tidak punya. ha ha ha. Lah, sayapun sedang belajar. Sebetulnya ada beberapa hal yang saya duga dapat digunakan, tetapi ini belum saya buktikan. Namanya juga dugaan.

Pemilihan kata-kata merupakan satu hal yang saya duga sangat penting. Namun sayapun sering kesulitan untuk mencari kata-kata yang pas. Diksi saya terbatas. Saya sering terkagum-kagum melihat kepandaian orang dalam merangkai kata-kata. Luar biasa. Dari mana mereka mendapatkan inspirasi seperti itu? Kreatif sekali.

Karena saya tidak memiliki kemampuan merangkai kata-kata yang indah, maka saya ambil pendekatan dengan kejujuran. Saya mengungkapkan apa adanya saja. Namun yang saya ungkapkan bukanlah data atau fakta saja tetapi dengan emosi. Yang saya maksud dengan emosi ini bukan marah-marah, sebagaimana kebanyakan orang Indonesia. he he he. Maksud saya mungkin lebih tepatnya adalah “emotion”, “feeling”, atau apa ya? Rasa? Nah, ini merupakan salah satu contoh kesulitan saya (dalam mencari kata yang pas) dan cara saya menyelesaikannya (dengan menceritakan apa adanya, kejujuran). Pendekatan kejujuran dan rasa ini cocok untuk saya. Banyak orang yang mendengarkan ketika saya bicara.

Dugaan saya lagi adalah cara yang digunakan oleh setiap orang boleh jadi berbeda. Cara saya belum tentu cocok untuk Anda. Anda harus mencari cara yang pas. Sementara itu, saya masih harus terus belajar merangkai kata-kata.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.929 pengikut lainnya.