Category Archives: Menulis

Mengetik Dalam Kegelapan

Tulisan ini dibuat karena judulnya terlalu keren untuk dilewatkan, tidak dijadikan judul tulisan. Ini sebetulnya bermula dari kejadian sesungguhnya. Tadi malam saya membuka notebook untuk memeriksa email. Karena semalam hujan dan banyak laron, maka tempat saya menggunakan notebook itu lampunya dimatikan. Maka saya bekerja di tengah kegelapan, hanya ditemani dengan nyalanya layar notebook.

Ternyata mengetik dalam kegelapan itu tidak mudah. Padahal sebetulnya tidak gelap 100% karena masih ada cahaya dari layar notebook, tetapi kenyataannya memang masih sulit bagi saya. Kadang kalau mengetik saya masih membutuhkan orientasi dari jari. Entah ini perasaan saja atau sesungguhnya terjadi karena pada saat tulisan ini saya buat, saya mengetik juga tanpa melihat jari saya di atas keyboard. Saya hanya melihat di layar saja. Semestinya tanpa lampupun saya dapat mengetik ya? Mungkin kegelapan itu yang membuat saya tidak percaya diri. Entahlah.

Dalam hal lain, judul ini – kalau diubah sedikit menjadi “menulis dalam kegelapan” – dapat menjadi topik yang lebih menarik untuk dibahas. Banyak orang yang menulis asal-asalan tanpa didukung dengan fakta. Itu boleh jadi kita sebut menulis dalam kegelapan. hi hi hi.


Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar

Saya sedang membuat sebuah materi presentasi tentang “business content”. Bingung mencari kata yang pas untuk terjemahannya. Sementara ini saya gunakan “bisnis konten”. Masih kurang mengena sih, tetapi lumayanlah.

Saya cek dengan KBBI ternyata “konten” itu belum ada di bahasa Indonesia. Sementara itu diskusi di tempat lain mengatakan terjemahan “content” memang sudah tepat menjadi “konten” (dalam kasus ini). Bagaimana menurut Anda?


Kurang Content

Tantangan pengembangan internet di Indonesia – dan mungkin di tempat lain juga – ada dua; (1) infrastruktur (terutama last mile) dan (2) kurang content. Akibatnya kita menjadi frustasi dan bosan. Akhirnya banyak juga yang terjerumus ke konten negatif.

Untuk masalah infrastruktur kita bahas lain kali ya. Kali ini saya ingin menyoroti masalah yang kedua, kurangnya content. Masalah infrastruktur itu masalah penyedia jasa atau pemerintah yang di luar jangkauan kita, tetapi masalah content adalah masalah yang dapat kita pecahkan.

Setelah sekian belas tahun, pertanyaan saya tetap sama;

  • situs apa saja yang Anda kunjungi secara rutin?
  • situs apa yang cocok untuk anak SMA? SMP? SD?

Situasi sekarang masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Kita masih mengandalkan platform dari luar negeri, seperti facebook dan twitter. Bahkan yang baru-baru pun, seperti path, juga masih dari luar negeri. Akibat dari itu maka bandwidth kita ke luar negeri butuh banyak. (Eh kok ke masalah infrastruktur lagi.)

Content yang kita lihat kebanyakan berupa “repost”, “retweet”, re-re lainnya. Kita comot berita atau foto dari sebuah tempat (katakanlah media massa) kemudian kita buat link-nya di halaman media sosial kita. Itu nampaknya yang terbanyak. Tidak banyak yang membuat tulisan / gambar / karya yang “orisinal”. (Saya beri tanda kutip “orisinal” karena sebetulnya tidak harus orisinal amat.)

Ketika kita mencoba mengarah kepada industri kreatif, maka mesin-mesin penghasil karya kreatif harus kita buat. Demikian pula sumber daya manusianya harus kita siapkan. Harus diajari dan harus praktek; menulis, menggambar, bermusik, bercerita, dan masih banyak lainnya lagi.

Hambatan (barier) untuk membuat sebuah karya sebetulnya sangat rendah. Untuk menulis, ya tinggal mengurutkan huruf-huruf saja bukan? Setidaknya, mulai dari sana. Kemudian mengurutkan kata-kata dan membuatnya menjadi alur yang menyejukkan seperti gemericiknya air sungai. Susah? Iya susah … he he he, tetapi bukan hal yang super susah sehingga tidak mungkin kita lakukan. Kalau harus membuat pesawat terbang mungkin tidak untuk kita semua, tetapi membuat tulisan ya semestinya kita bisalah.

Oleh sebab maka dari itu … mari kita menulis! Mari kita kreatif membuat karya-karya. Jreng!

 


Cerpen Mandheg

Mungkin banyak yang sudah bosan menanyakan bagaimana kelanjutan cerita “Jek & Sar” dan “Aku Tak Tahu Namamu”. Saya sendiri juga bosan bertanya kepada diri sendiri mengapa ini belum dilanjutkan juga. Jawabannya sebetulnya tidak sulit, yaitu saya lupa karakter-karakter yang ada di tulisan tersebut sehingga untuk melanjutkan ceritanya takut salah karakter.

Solusinya sebetulnya juga sudah jelas, yaitu saya membaca ulang tulisan tersebut dan mengingat-ingat kembali karakter-karakter di situ. Terus dari sana dikembangkan lagi. Hanya saja saya termasuk orang yang tidak suka membaca tulisan diri sendiri. Write and publish. That’s it. Tulis dan terbitkan.

Dahulu cerita tersebut dimulai dari situasi yang kemudian diisi oleh karakter-karakter. Jadi karakternya dikembangkan sambil jalan. Mungkin teknik seperti ini salah ya? Atau mungkin memang seperti ini tetapi kemudian jangkarnya menjadi karakternya. Mungkin saya terlalu berkonsentrasi kepada plot dan situasi.

Ini dia kalau “penulis” main hantam kromo tanpa mau belajar teorinya. he he he. Biar ah …


Parodi Superhero (2)

Hujan rintik-rintik membuat malam ini lebih dingin dari biasanya. Sebagian besar orang – dan bahkan nyamuk – memilih untuk mengurung diri di rumahnya masing-masing. Nampaknya tak ada kejahatan malam ini. Benar-benar sepi.

“Hatsyiii”

Kembali senyap. (Eh, suara bersin itu seperi apa sih ya?)

“Hatsyiiim. Hatsyiiiimmm”
(Alhamdulillah)

Bersin itu kembali memecah keheningan, tetapi tidak ada seorang pun yang mendengarkan.

Terduduk berselonjoran di atap gedung pencakar langit ini seseorang dengan memakai baju seperti laba-laba. Spiderman! Sebetulnya dia tidak ingin mebiarkan dirinya kehujanan. Dia ingin berteduh. Tetapi dia harus mengawasi kota ini. Sambil menggigil dia tetap terduduk.

“Sudah. Kamu pulang aja”, tiba-tiba terdengar suara di dekat situ.

Spiderman terkejut. Mencari asal suara sambil terheran-heran mengapa dia tidak mendengar suara orang mendekat. Mungkin hujan ini. Mungkin juga karena flu-nya. Samar-samar dia melihat bayangan hitam dengan jubah di belakangnya. Ooo, ternyata Batman. Sesama superhero. Pantesan tidak terdengar.

“Wah aku harus jagain kota”, kata Spiderman

“Biar aku yang gantiin”

“Ah, tapi ngapain pulang juga. Gak ada yang bisa kerokin”

“Serius? Kamu mau kerokan? Sini tak kerokin”

Spiderman kemudian berpikir. Gimana caranya kerokan pake baju superhero seperti ini. Harus buka baju. Kalau bajunya dibuka, nanti ketahuan siapa dia aslinya.

“Gak mau ah. Nanti aku ketahuan aslinya”

“Yah. Segitunya. Anonimity is so overrated“, kata Batman.

“Kata siapa? Buktinya pak Budi punya mahasiswa yang sedang meneliti soal anonimity ini”, kata Spiderman. Tahu-tahunya dia. (He he he. Numpang promosi. wk wk wk.)

“Jadi gimana? Mau kerokan gak?”

“Gak mau kalau sama kamu”

Mereka kemudian terdiam. Mikir. Batman kepikiran Spiderman bisa dikerokin sama Alfred, butler kepercayaannya. Jadi dia tidak perlu tahu siapa sesungguhnya Spiderman, tapi kalau begitu berarti Spiderman bisa tahu siapa dia aslinya dari menelusuri Alfred. Belum lagi nanti kalau dia tahu tempat persembunyiannya. Gak jadi ah.

“Gini aja. Kamu pulang, minum tolak angin aja”

“Minuman orang pintar ya?”, Spiderman nyengir sambil mengutip iklan tolak angin yang dibintangi Rhenald Kasali.

“Mau minum yang untuk orang bejo juga boleh”, Batman gak mau kalah. Keduanya terkekeh. Spiderman lebih susah ketawanya.

“Ya udah, aku pulang. Titip kota ya”, kata Spiderman.

Batman mengangguk. Spiderman merayap pulang. Sungguhan merayap karena nampaknya untuk berdiripun dia sudah gak sanggup.

“Hatsyiiimmm” …

[Seri parodi superhero: 1, 2, 3]


Data Tanpa Cerita

Ceritanya saya sedang membaca dan menilai beberapa tulisan (artikel). Satu hal yang berulang-ulang saya temukan dalam tulisan ini adalah terlalu banyaknya data tanpa cerita. Contohnya seperti berikut.

Ada sebuah tulisan tentang teknologi informasi dan komunikasi menampilkan data statistik tentang jumlah pengguna internet Indonesia, tentang penggunan telepon seluler, tentang GDP, dan seterusnya, tetapi saya tidak melihat ceritanya. Ada sih ceritanya tetapi monoton. Itu-itu saja. Yang menjadi masalah adalah data tersebut tidak mendukung ceritanya. Bukankah sebenarnya yang lebih penting adalah ceritanya? Kemudian data yang ditampilkan adalah yang mendukung ceritanya.

Suatu ketika di Bandung, yang temperaturnya 21 derajat selsius, ada seorang pemuda bernama Fulan.

Dalam contoh di atas, apa fungsi temperatur 21 derajat selsius itu ya? Gak nyambung. Terus, kalau “21″ memangnya kenapa? Dingin? Panas? Atau bagaimana?

Kasus tulisan/artikel yang sedang saya review memiliki masalah yang sama. Bosan membacanya. Penilaian saya? Tentu saja rendah.


Mau Menulis Saja Belum Cukup

Sudah beberapa hari ini saya mau menulis tetapi belum berhasil. Ada banyak ide yang mau ditulis tetapi ternyata untuk menulis itu butuh kerja keras di bagian risetnya. Jadi hanya sekedar “mau” saja ternyata belum cukup.

Contohnya begini. Sudah lama saya ingin menulis tentang album the Beatles yang berjudul Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band. Album ini sering dikatakan menjadi pemicu berbagai karya musisi lainnya. Bahkan ada beberapa tulisan yang mengatakan album-album musik progressive rock banyak yang diilhami oleh album ini. Album ini pun dapat dikategorikan progressive rock. Intinya itu saja, tetapi untuk bercerita lebih lanjut semestinya saya tambahkan dengan cerita, data, fakta, bumbu-bumbu lainnya. Kalau tidak begitu, pembaca akan tidak tertarik. Nah, untuk mencari tambahannya inilah yang membutuhkan upaya lebih banyak lagi.

Itu baru satu contoh. Di kepala saya ini ada banyak ide-ide lain yang seperti itu, ingin dituliskan tapi masih membutuhkan riset. Akhirnya, ide tetap menjadi ide saja. Wah.


Draft Buku Tentang Twitter

Baru saja saya upload draft tulisan (buku) tentang Penggunaan “Twitter Yang Baik Dan Benar“. Silahkan unduh dari tempat berikut:

http://www.scribd.com/doc/169350630/Twitter-Baik-dan-Benar

Selamat menikmati.

Oh ya, saya masih mencari tempat lain untuk upload draft buku ini. Ada saran? (Maunya yang bisa menimpa versi lamanya supaya versi yang terbaru yang didownload.)


Haus Guyonan Dan Tidak Kreatif

Membaca guyonan / joke / lawakan / lelucon tentang cara Vicky berbicara di berbagai media sosial akhir-akhir ini menunjukkan kepada saya bahwa

  1. masyarakat kita haus huyonan;
  2. kita tidak kreatif.

Mosok yang gitu saja dianggap sebagai guyonan (yang bagus karena di-broadcast ke mana-mana)? Padahal itu kan kelemahan dia (dan juga musibah bagi orang lain). Bagi saya, itu tidak lucu.

Ini juga menunjukkan bahwa kita tidak kreatif. Kita tidak bisa menciptakan bodoran-bodoran lain yang lebih lucu. he he he. Padahal katanya ini jaman kreatif dan kita adalah creative society.

Ayo dong, yang pandai membuat lelucon … turun tangan!

 


Serpihan Ide

Sejujurnya ini adalah catatan diri dalam berusaha untuk menulis. Tadi ada beberapa ide tulisan blog. Karena satu dan lain hal, saya menunda untuk menuliskannya. Sekarang, ide-ide tersebut buyar. Bertebaran. Mereka menjadi serpihan ide.

Kalau saya kumpulkan, serpihan-serpihan ide itu bertuliskan kata-kata seperti berikut.

makalah, deadline, grafik, set, foto, hash, rainbow, security, food, budget, seminar, laporan, dana, lambat, tanggung jawab, musik, raspberry pi, gitar, teori, praktek, dropbox, leadership, update, pemrograman, URL, generator, woles, kopi, mainstream.

Mungkin bisa dibuatkan sebuah program untuk membuat sebuah cerita berdasarkan kata-kata di atas? Hmm…


Kesabaran Dalam Menjelaskan

Salah satu kelemahan dari engineer – mungkin tidak hanya engineer ya? – adalah ketidaksabaran dalam menjelaskan. Seringkali mereka menuliskan data – yang kadang kala dalam jumlah yang banyak – tetapi tidak memberikan penjelasan apa maksudnya. Mereka merasa bahwa orang lain harusnya sudah tahu / mengerti apa yang terjadi dari data yang mereka berikan. Mosok begitu saja tidak tahu? Padahal sering kali tidak tahu.

Untuk menjelaskan hal yang teknis dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Seringkali pendengar atau pembaca belum (tidak) mengerti data yang kita berikan. Mereka bukan orang yang bodoh, tetapi belum mengerti saja. Misalnya, kalau saya berikan keluaran hasil scanning dari program nmap, orang yang pandai sekalipun – misal profesor di bidang Biologi – belum tentu dapat memahami maknanya. Mereka bukan orang yang bodoh, tetapi karena bukan domainnya, mereka tidak tahu. Jangankan kepada orang di bidang Biologi, orang di bidang Teknologi Informasi pun jika tidak menggeluti bidang security atau jaringan tidak akan paham keluaran dari program nmap. Setelah kita jelaskan, mereka akan paham.

port 21/tcp open …

Menjelaskan ini ternyata merupakan sebuah seni (art). Bagaimana kita dapat menjelaskan sesuatu kepada seseorang sehingga dia memahaminya, tanpa perlu harus terlalu dalam (dan lama) menjelaskannya dan pada saat yang sama tidak membuat penjelasan tersebut terlalu enteng (ringan, encer, watered down)? Kalau terlalu ringan jadinya malah diremehkan. Itu dia …

Ini semua yang membuat penulisan dokumen teknis (report writing) merupakan sebuah kemampuan yang langka.


Jika Lautan Terbuat Dari Kopi

Jika lautan terbuat dari kopi
Aku ingin dia seperti kopi tubruk, hitam dan pekat
Agar dia membuatku terjaga
Menjaga dunia ini

Jika lautan terbuat dari kopi
Dia sama seperti air garam
Tidak dapat kuteguk begitu saja
Ah, mengapa perutku demikian sensitif?

Jika lautan terbuat dari kopi
Aku rasa orang akan membuang sampah ke sana
Karena sampah tidak terlihat
Bahkan rasanyapun mungkin tertupi oleh rasa kopi


Krisis Penulis

Di tempat kami sedang ribut karena ada banyak pekerjaan tetapi kekurangan orang. Salah satu yang paling sering dikeluhkan adalah kekurang penulis. Technical writer. Untuk penulis yang bisa menulis dalam bahasa Indonesia saja sudah kekurangan apalagi yang bisa menulis dalam bahasa Inggris juga. Hadoh.

Kalau Anda dapat menulis dengan baik, pasti akan ada banyak kerjaan untuk Anda. Anda tidak kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. (Kalau honor, itu cerita lain. he he he. Just kidding.)

Kemampuan menulis tidak akan muncul secara instan. Dia harus diasah terus menerus. Saya saja yang sudah tahunan menulis sering merasa iri melihat tulisan orang-orang, terutama tulisan fiksi. Tapi ini cerita lain. Sebetulnya tulisan teknis maupun fiksi sama saja. Kemampuan untuk menulis memang harus diasah. Saya beritahu sebuah rahasia. Blog ini sebetulnya adalah tempat saya untuk belajar menulis. hi hi hi. There you go. Now you know a secret. (Kok kayak lagunya the Beatles saja.)

Kebanyakan orang yang memiliki kemampuan teknis sering tidak suka menulis. Mereka hanya fokus kepada data. Kalaupun disuruh menulis, hasilnya hanya satu baris atau bahkan hanya dalam bentuk point form. Untuk mengembangkan poin tadi menjadi tulisan susahnya setengah mati. Tentu saja ini disebabkan mereka tidak pernah berlatih. Coba saja mereka berlatih, pasti lebih mudah. Bukan gampang, tetapi lebih mudah.

Ada terlalu banyak alasan untuk tidak berlatih menulis. Alasan yang paling banyak digunakan adalah sibuk. hi hi hi. Sibuk? Tapi facebook-an kok masih sempat? ha ha ha.

Sementara itu nampaknya krisis ini akan masih bertahan …


… saya ingin bercerita

Baru saja saya nonton serial Castle di TV. Seru pokoknya. Ini cerita yang mana Castle akhir ketemu bapaknya tanpa direncanakan. Yang paling saya sukai justru pada bagian akhirnya, di mana si Castle berkata kepada ibunya, “You know mom, I have something to tell you.” dan kemudian berhenti. Hi hi hi. Pemirsa diharapkan melanjutkan sendiri.

Kalau di sinetron Indonesia, akhirnya tidak begitu tetapi sang jagoan (dalam hal ini si Castle-nya) berkata kepada ibunya: “Ibu, tahukah ibu bahwa saya ketemu bapak“. he he he. Semuanya harus dikatakan secara eksplisit. Patronizing. Tidak percaya kepada kita bahwa kita dapat memikirkan alur cerita yang lebih menarik di kepala masing-masing.

Padahal yang justru menarik adalah jika ceritanya dibuat menggantung. Ini memberikan kesempatan kepada pemirsa untuk mengkhayal. Bagaimana ya si Castle akan cerita ke ibunya? Bagaimana ya respon ibunya? Gembira? Sedih? Itu adalah hak yang pantas dinikmati oleh pemirsa. Hak untuk mengkhayal.

Jadi, begini ya para pembaca sekalian, saya ingin bercerita …


Gambar di Makalah

Salah satu kesalahan yang sering terjadi pada makalah (mahasiswa) adalah menggunakan gambar dengan seenaknya. Sebagai contoh ini adalah tampilan sebuah makalah yang sedang saya periksa. Apa kesalahannya?

tugas mahasiswa gambar

Gambar nampaknya diambil (di-scan atau di-screenshot) dari makalah lain. Terlihat latar belakang yang berbeda (berwarna gelap) dan tulisan (fonts) yang kabur. Seharusnya gambar ini dibuat ulang. Atau kalau memang ingin menggunakan gambar dari sumber lain, buat kualitasnya yang bagus sehingga masih terbaca. Apa gunanya gambar yang  tidak terbaca?

Kesalahan kedua, yang tidak dapat dilihat dari gambar di atas tetapi dapat dilihat pada makalah sesungguhnya, adalah penulis tidak menyebutkan sumbernya. Alih-alih ini dapat dianggap sebagai pelanggaran hak cipta atau malah plagiat.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.