Category Archives: music

Buka Lapak Musik di Bandung CFD

Tadi, kami buka lapak (start up) toko musik digital kami Insan Music Store (twitter: @insanmusic, facebook: insan music store) lagi di Bandung Car Free Day. Kali ini lokasinya di depan kantor BRI (depan hotel Patra Jasa). Kebetulan rekan-rekan di sana mendukung kegiatan ini. Terima kasih BRI.

Kali ini acaranya merupakan gabungan dari tiga kegiatan; (1) Insan Music Store saya, (2) C-generation-nya pak Suhono, dan (3) Kelompok robotnya pak Soni AVRG. Acara ini juga didukung oleh Telkomsel (dengan Simpati Loop-nya). Seru acaranya. Pak Suhono dan pak Soni nanti biar cerita yang lainnya, saya mau cerita tentang lapak musik digital saya saja ya.

IMG_4625 robot avrg 1000

Robot (hexapod?) karya mahasiswa ITB asuhan pak Soni AVRG.

Kesempatan kali ini kami manfaatkan untuk manggung. Saya dan anak (Luqman) manggung 2 lagu, kemudian dilanjutkan dengan band Kasmaran (4 lagu), dan band Memories (2 lagu). Sebetulnya kami menunggu band-band lainnya untuk ikut tampil, tetapi acara kali ini terlalu singkat. Jadi lumayanlah tadi. Tiga band saja sudah habis waktunya. Lain kali kita buat waktunya yang lebih panjang sehingga bisa lebih banyak yang manggung ya.

DSC_3417 LR BR 1000

Father and Son Music

IMG_4629 kasmaran band 1000

Kasmaran Band

DSC_3456 memories band 1000

Memories Band

Sebagaian foto  dapat dilihat di akun twitter dan halaman facebook Insan Music Store. Foto-foto lainnya menyusul.

Minggu ini fokus kami memang masih pada pengenalan toko musik digital kami dan mencari band atau artis yang ingin bergabung. Dua minggu lagi kami akan mulai melakukan penjulan dan tentunya masih juga mencari lagu-lagu yang akan kami jualkan.

Sukses! Jreng!


Insan Music Store

Progress dari toko musik digital kami.

Pertama, situs web sudah siap di www.insanmusic.com. Masih sederhana dan akan diperbaharui secara berkala. Yang penting up and running dulu. hi hi hi.

Kedua, hari Minggu ini (4 Mei 2014) kami akan buka lapak kembali di Bandung Car Free Day (CFD). Tempatnya di depan Bank BRI. Acaranya jam 7 pagi sampai jam 10 pagi. Jika Anda memiliki lagu dan siap untukj didistribusikan melalui toko musik kami, bawa langsung ke sana dan tanda tangan kontrak di sana.


Software Musik Open Source

Kemarin saya memberikan presentasi tentang software-software musik open source di acara ICrOSS 2014 (Indonesia Creative Open Source Software), yang diselenggarakan di hotel Bumi Surabaya. Pada intinya sekarang sudah banyak software untuk musik yang berbasis open source; mulai dari music player, composer, MIDI sequencer, sampai ke untuk rekaman dengan kualitas studio.

Salah satu yang kami demokan di acara itu adalah Ardour. Lihat situs webnya deh. Ini sebuah aplikasi yang komplit, yang dapat digunakan untuk merekam lagu dalam bentuk audio dan MIDI. Kualitasnya tidak kalah dengan yang proprietary. Saya sendiri lebih sering menggunakan Audacity, untuk merekam genjrengan sendiri atau bahkan untuk mengubah dari kaset ke MP3. Sayangnya tidak banyak studio yang tahu tentang aplikasi-aplikasi ini. Kebanyakan masih menggunakan software bajakan atau menggunakan versi gratisannya yang terbatas.

Di akhir presentasi ada tanya jawab. Salah satu pertanyaannya adalah adakah komunitas yang ngoprek software musik open source ini di Indonesia?


Karakteristik Bandung Car Free Day

Hari ini untuk kedua kalinya kami buka lapak toko musik digital kami (Insan Music Store) di Bandung Car Free Day (CFD). Tujuannya masih seperti sebelumnya, yaitu untuk memperkenalkan layanan kami. To test the market, sort of speak.

Saya melihat bahwa tujuan mayoritas dari pengunjung CFD adalah untuk berjalan-jalan. Berolahraga sambil rileks dengan keluarga atau teman. Tadinya saya pikir kebanyakan adalah duduk nongkrong beli ini dan itu. Ternyata mereka tidak membeli. Mereka berjalan. Saya perhatikan yang jualan minuman di samping stand kami tidak berhasil menjual minumannya. Sebetulnya terjual tetapi nampaknya tidak seperti yang dia harapkan. Di depannya, jualan es lilin, demikian pula. Samping kanan jauh, jualan otak-otak juga demikian. Ada yang beli tetapi tidak banyak.

Untungnya tujuan kami berada di sana bukan – belum – untuk berjualan tetapi justru untuk mendapatkan lagu-lagu dari artis / band yang sudah memiliki lagu dalam format digital. Nampaknya kalau untuk berjualan, mungkin CFD bukan tempatnya. Entahlah kalau kami nanti sudah mulai menggelar lapak digital kami; lengkap dengan access point dan notebook untuk mendengarkan musik. We’ll see.

Saya belum tahu apakah yang berjualan di Gasibu (sekarang seberangnya, yang lebih dekat ke Unpad) memiliki karakterisik yang sama atau tidak. Mungkin ada yang tahu? Sementara ini kalau Anda ingin berjualan dengan skala yang besar di CFD, pikir-pikir dulu.


Masih Soal Toko Musik Digital

Beberapa hari ini saya masih memikirkan soal toko musik digital kami. Hari Minggu – ya, betul, besok! – kami mau buka lapak di Bandung Car Free Day. Ini sih modal nekad saja. Pasalnya kalau tidak diniatkan dan dinekadkan begini mungkin tidak maju-maju. Jadi besok mau buka lapak saja.

Tujuan utama besok adalah untuk melihat situasi pasar, memperkenalkan diri, dan mencari band / artis / musisi yang berminat memasukkan lagunya di toko musik kami. Itu saja. Jadi hari ini saya masih kirim email ke sana ke mari untuk memberitahu soal ini. Dadakan juga sih. Soalnya hari-hari sebelumnya saya disibukkan oleh urusan kuliah dan sejenisnya.

Semoga lancar besok. Jreng!


Jual Beli Musik Digital

Setelah vakum (2 tahun?) saya akan mulai jual beli musik digital (MP3) lagi. Aplikasi sistem pengelolaan jual beli musik digital ini sudah siap dan hari Minggu ini akan kita cobakan di tempat Bandung Car Free Day. Bagi Anda (band, pemusik, dll.) yang telah memiliki lagu-lagu dalam format MP3 dan siap dijualkan, silahkan hadir di sana.

Insan Musik FAQ


Menemukan Sound System Lama (Pioneer, Sansui, Akai)

Bongkar-bongkar gudang, eh nemu sound system lama saya yang dulu saya gunakan ketika SMA sampai dengan mahasiswa. Sound system ini masuk gudang rumah orang tua saya ketika saya sekolah ke Kanada untuk waktu yang cukup lama. Terakhir saya pakai sound system ini di tahun 1987. Sudah lebih dari 20 tahun! Dan selama ini dia berada di gudang.

Peralatan sound system saya ini ternyata masuk kategori “vintage solid state”. Pastinya “vintage” karena sudah kuno. ha ha ha. Tetapi secara serius, peralatan ini cukup bagus untuk jamannya. Saya yakin suaranya juga lebih mantap dari ampli-ampli murahan sekarang.

Yang pertama adalah amplifier Pioneer SA-500. (Foto di bawah.) Suaranya boleh juga lah. Dia memiliki beberapa input yang bisa dipilih. Dulu saya gunakan untuk tape deck dan turn table (pemutar piringan hitam).

DSC_2207 ampli 1000

Yang kedua adalah equalizer Sansui SE-5. Dulu, Sansui ini cukup terkenal untuk equalizer.

DSC_2218 sansui 1000

Yang ketiga adalah reel-to-reel player Akai X-150D. Sayang sekali saya sudah tidak punya reel (pita yang digulung) yang bisa dipasang untuk perangkat ini. Kalau dijual berapa ya harganya? Oh ya, belum saya cek juga dia masih jalan atau tidak karena ini banyak mekaniknya. Dulu ini saya pakai untuk merekam. Lumayan, bisa 4 track … eh, atau hanya dua track tapi bisa rekam kiri dan kanan secara terpisah gitu?

DSC_2234 akai 1000

Sayang juga kalau sound system ini hanya teronggok di gudang ya. Dugaan saya, kecuali yang reel to reel player, mereka masih berfungsi. Nanti harus saya coba lagi. Kalau tidak jalan pun mereka masih bisa bermanfaat sebagai parts bagi yang membutuhkannya. Saya akan mencoba menyalakan amplifier dan equalizernya. Soalnya saya juga menemukan kembali turn table (pemutar piringan hitam) saya. Dia membutuhkan amplifier ini. Hanya saja turn table saya jarumnya sudah hilang. Hayah.

Vintage sound system memang keren euy.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.732 pengikut lainnya.